Biografi Sejarah Perjalanan Ilmu  Kesempurnaan Hidup dan Mati (Ilmu Tingkat Tinggi Leluhur Jawa Kuno) Bagian 2:

Biografi Sejarah Perjalanan Ilmu  Kesempurnaan Hidup dan Mati (Ilmu Tingkat Tinggi Leluhur Jawa Kuno) Bagian 2:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di...
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 11:05. Hari Jumat. Tanggal 7. Maret 2019.

Para pengembang ajaran islam di
Pulau Jawa tempo dulu adalah; Wali 9, yang kala itu, tidak menolak tradisi jawa tersebut, justru malah
memanfaatkannya sebagi senjata dakwahnya.

Para Wali menyusun ilmu-ilmu jawa dengan tatacara lelaku menjadi keislaman, misalnya puasa, wirid mantra berbahasa campuran arab-jawa, yang intinya adalah berdo’a kepada Tuhan.

Mungkin alasan mengapa mantranya tidak disusun seluruhnya berbahasa Arab, adalah;
Agar supaya orang jawa tidak
merasa asing dengan ajaran-ajaran yang baru mereka kenal, yaitu; Islam.

Di Indonesia/Nusantara, khususnya orang jawa, pasti mengenal Sunan Kali Jaga, yang bernama asli Raden Said, dan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang yang bernama asli Sayyid Abdul Jalil

Nah...
Mereka berdua inilah yang paling banyak mewarnai Islam Jawa, yang dianut orang-orang jawa jaman dulu hingga saat ini.

Syekh Siti Jenar menjadikan ilmu Jawa sebagai kendaraan dakwahnya, sedangkan Sunan Kali Jaga, menjadikan kesenian dan budaya jawa sebagai kendaraan dakwahnya.

Salah satu kendara'an Syekh Siti Jenar adalah Ilmu-ilmu Jawa, yang berhasil di kemasnya menjadi Ilmu Manunggaling Kawula Gusti, sedangkan Sunan Kali Jaga dalam penyebaran ajarannya, adalah;  melalui tembang/kidung dan gamelan.

Kidung-kidung yang di ciptakan, oleh Sunan Kali Jaga mengandung ajaran ke-Tuhan-nan yang bersifat  tasawuf, tarekat dan makrifat yang sangat luar biasa.

Ajaran islam yang luwes dan
menerima berbagai perbedaan, menjadikan agama-agama pendatang mengalami kemudahan dalam penyebarannya;
Syekh Siti Jenar berhasil menciptakan lelaku Manunggaling Kawula Gusti, sedangkan Sunan Kali Jaga berhasil menciptakan Kidung Rumeksa Ing Wengi.

Yang keduanya menurut saya Adalah; Adalah Ilmu Islam Jawa Kuno yang memiliki daya kekuatan Supranatural tingkat tinggi, sebab karena...
"AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI"
Yang telah berReinkarnasi untuk yang ke'enam kalinya sebagai Ilmu Sangkan Paraning Dumadi yang menjadi acuan Utamanya.

Karena itu, siapapun orang yang mampu mengamalkan Ilmu ini, baik yang persi Asli Jawa maupun yang persi Islam Jawa, bisa di pastikan memiliki berbagai kekuatan atau kemampuan spiritual dan supranatural tingkat tinggi.

Aji Mundi Jati Sasangka Jati ini, memiliki 20 tingkat, termasuk
Tingkat awal dan Tingkat akhir, dan
masing-masing sebagai berikut;
Tingkat Awal, yaitu Japa Mantera untuk lelakunya;
Seperti Doa niyat mandi keramas, doa sebelum puasa dan sesudah puasa, doa ketikan melakukan pati geni, kungkum, ngebleng, doa sebelum berbuka dan sesudah berbuka puasa dll. Seperti Contoh berikut ini;

NIYAT MANDI SEBELUM PUASA;
Niyat ingsun arep adus, angedusi badan kayun, manggih tuya robani, dus lali dus mani, badan adus den dusi pada badan, roh adus den dusi pada roh, sukma adus den dusi pada sukma, dzat teles sukma ngalam, dzat urip tan kena kewoworan, urip sajerone karsa, ingsun adus banyu saking kudratullah, byur njaba suci sajronig badan robani, allah sakarsa allahu ngalaihi was-salam….bismillaahi rohman nirohim…..3.x.

NIYAT PUASA;
Niyat ingsun nutup rasa, sang sir rasa payungana ingsun, rasa mangan cahya, cahya mangan rasa, langgeng ing ciptaku, tetep madep mantep tan kena owah,…..bismillaahi rohman nirohim…3.x. Sup rasa sup sari ram sari wenang tininggal, budug basuh sira mungkura, mengko yen wis tumekane dong, tek adepna maring Negara karang panjang, ngenteni sepeken sepuluh dina.

NIYAT PUASA MUTIH;
Niyat ingsun arep puasa mutih, mutihake badan kang reget, putih kaya dene bocah mentas lair, dipun ijabahi dening gusti allah.

NIYAT PUASA NGEBLENG;
Niyat ingsun arep puasa ngebleng, perlu kanggo manjingake…….ilmu saka gusti allah kang agung, sababe karma allah ta’ala.

NIYAT PUASA PATI GENI;
Niyat ingsun arep puasa patigeni, amateni hawa napsu amarah ing badan ingsun,Bamateni genine angkara murka, karana allah ta’ala,…….bismillaahi rohman nirohim….3.x sir sari rasa maut. ima ilang nang napsune ingsun dewe, sir langgeng urip tanpa rusak salawase, tetep idep tetep madep tetep mantep.

DOA MANDI SA’AT PUASA;
Wenang wening sari wening sarining bayu, aci wening acining bayu, roh wening rohing bayu, miyak mega cunduk lintang, cahyaku kaya lintang kamiyullah, masup tangan kiwa mancring cahaya, masup tangan tengen mancring syahadat, ashadzu ala ilaaha illallah wa ashadzu anna muhamadur rosullullah, juhri binta saw.

DOA MAKAN atau MINUM atau  TIDUR selama PUASA;
Niyat ingsun arep dahar atau nginum atau sare, ora dahar/nginum/sare, rowangingsun tapa kang dahar/nginum/sare, ora sare/nginum/dahar, rowangingsun tapa kang sare/nginum/dahar, krana ingsun iki wis kawengku ing alam nasut, malakut jabarut yaiku kang dahar/nginum/sare, jagate sahir kabir, cahya mangan rasa, rasa mangan cahya, cahya mulya rasa sempurna……bismillaahi rohman nirohim…3.x.

NIYAT TAPA PENDEM;
Was-syahadzu muaya dua, illallah ngansaiji, pangeran sowan allah, ing kana ana jenenge dat lanang pengeran kudratullah, ing kana ana jenenge dat wadon, rasa kudratullah, ing kana ana jenenge ngelmu, syahadzat kalimah loro, apa waktune di gapar,……….astaghfirullahal adzim………..3.x.

NIYAT TAPA KUNGKUM;
Bismillaahi rohman nirohim, ya aku sejatine manungsa, kang teguh ing banyu, nur ing allah, nur ing rosul, nur Muhammad nur ing pengeran, nur gusti kang mengkoni, kun faya kun, cahya wis aneng saliraku, allah rosul Muhammad kang pilenggah ana sajerone saliraku,
( trus kungkum sambil membaca ).
As-salamu alaikum wr/wb, putih-putih ing mripatku sayyidina qhidir, ireng-ireng ing mripatku kanjang sunan kalijaga, telenging mripatku kanjeng nabi Muhammad.

NIYAT TAPA NGALONG;
Bismillaahi mustikaning roh, ya allah kang masta lungguha pangandikaning roh, masjid agung cecantele ki jaka tawa, kang lungguh ing intil-intil, ingsun anjubleg sira tangia, bisa’a teka.
Dll...

Itu beberapa diantara Japa Mantera di tingkat Awal atau Pertama dari Aji Mundi Jati Sasangka Jati, sedangkan 1 hingga tingkat akhirnya, berupa Japa Mantera Ilmu-ilmunya sebagai berikut;

1. Tingkat Satu;
Ilmu Aji Petak Ambyah.
2. Tingkat Dua;
Ilmu Aji Gajah Wulung.
3. Tingkat Tiga;
Ilmu Aji Arya Bangah.
4. Tingkat Empat;
Ilmu Aji Anjan Kumayan.
5. Tingkat Lima;
Ilmu Aji Cinde Amoh.
6. Tingkat Enam;
Ilmu Aji Nalagati.
7. Tingkat Tujuh;
Ilmu Aji Dipa.
8. Tingkat Delapan;
Ilmu Aji Lembu Sekilan.
9. Tingkat Sembilan;
Ilmu Aji Welut Putih.
10. Tingkat Sepuluh;
Ilmu Aji Begananda.
11. Tingkat Sebelas;
Ilmu Aji Braja Mukti.
12. Tingkat Dua Belas;
Ilmu Aji Pupuh Bayu.
13. Tingkat Tiga Belas;
Ilmu Aji Supi Angin.
14. Tingkat Empat belas;
Ilmu Aji Halimunan.
15. Tingkat Lima belas;
Ilmu Aji Serat Jiwa.
16. Tingkat Enam belas;
Ilmu Aji Karang.
17. Tingkat Tujuh belas;
Ilmu Aji Panca Sona.
18. Tingkat Delapan belas;
Ilmu Aji Rawa Rontek.
19. Tingkat Sembilan belas;
Ilmu Aji Bandung Bandawasa.
20. Tingkat Dua Puluh;
Ilmu Aji Pengasihan/Kamasutra.
Dan Tingkat Akhir nya Adalah;
"AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI"

Dan di setiap tingkatannya, itu memiliki 7 tingkatan lagi.

Contoh misal;
Ilmu Aji Braja Mukti, itu memiliki tujuh tingkatan, tingkat pertama, rambut atau kukunya tidak mempan di potong, tingkat kedua, kulitnya tidak bisa di lukai atau kebal senjata, tingkat ketiga bisa menghancurkan senjata, tingkat empat bisa melarutkan senjata dll.

Misal contoh lagi;
Ilmu Aji Pengasihan/Kamasutra.
Ada Semar mesem, Semar kuning, Semar Ireng, Semar Putih, Jaran Goyang dll.

Yang masing-masing nya itu, memiliki Japa mantera sendiri-sendiri dan fungsinya masing-masing, begitu juga dengan tingkatan-tingkatan ilmu lainnya, sama memliki tujuh tingkatan dan memiliki fungsi yang berbeda pula.

Sebab itu, separuh usia saya, habis untuk belajar tentang ini, karena tidak sedikit Doa atau Japa mantera yang harus di hapal, dan lelakunya, itu lebih cocok di sebut tapa, bukan tirakat, la wong sampai berbulan-bulan bahkan tahunan, kalau tirakat, kan cuma sehari dua hari tiga hari, puasa, maksimalnya sebulan, di tingkat awal saja, sudah memiliki banyak doa Japa mantera dengan fungsinya yang berbeda-beda.

Namun soal Japa Mantera nya, tidak usah saya sharekan ya... Sepertinya kurang etis, lagi pula, ini kan hanya sebagai tambahan pengetahuan saja.

Selanjutnya;
Walaupun dengan berbagai macam cara dan upaya yang telah di perjuangkan oleh para pendahulu kita, namun Aji Mundi Jati Sasangka Jati, tetap tidak bisa di miliki dengan cara mudah dan gampang.

Terlebih lagi, semakin moderen jamannya, semakin langka bahkan  tidak ada yang mampu bertapa, jangankan bertapa, tirakat saja, sudah kalap.

Dan luar biasanya...
Dzat Maha Suci Hidup, tiada henti-hentinya mencintai, mengasihi dan menyayangi makhluknya, terutama yang disebut manusia, sebagai makhluk paling sempurna di banding makhluk-makhluk lainnya.

Buktinya...!!!
DIA meReinkarnasi kan lagi Aji Mundi Jati Sasangka Jati atau Ilmu Kesempurnaan Hidup dan Mati ini, untuk yang ke Tujuh kalinya. Dan...

Manusia Pertama yang terpilih sebagai penerimanya adalah;
M. Semono Sastrohadijoyo, yang saat ini di kenal oleh kalangan umum sebagai Romo Semono. Beliau adalah;
Sang Putra Mahkota dari Majapahit yang terakhir, yang tidak mau menduduki Tahta Warisan Kerajaan, dan lebih memilih bertapa di Goa Singabarong Pulau Nusa Kambangan Cilacap.

Dan "AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI" Kembali Turun untuk yang Ke-7 Xnya.

Sebagai Wahyu Mahkota Rama atau Wahyu Mahkuto Romo, lalu seiring perkembangan jaman, berhasil di sempurnakan oleh beliau menjadi Wahyu Eka Buana atau Wahyu Eko Buono.

Yang kemudian berhasil berhasil lagi di Mijil-kan pada Tahun 1955 menjadi Wahyu Panca Ghaib (Laku Murni Menuju Suci).

Hingga sampai kepada kita-kita sebagai Pelaku Murni Menuju Suci nya Dzat Maha Suci sekarang ini.

Namun...
Tapi...
Lagi-lagi saya katakan sungguh teramat sayang beribu kali sayang, ada banyak yang menyalah gunakan Awal dan Akhir dari semua dan segalanya ini.

Semisal Contoh;
Di gunakan sebagai ilmu perdukunan, ilmu ramalan, ilmu klenik, di jadikan organisasi, golongan, kaum dan sejenisnya, ada juga yang menggunakannya untuk menarik atau memproses barang ghaib, seperti pusaka, harta karun, bahkan ada yang menggunakannya untuk merugikan dan menyakiti sesama hidup.

Sehingganya;
Walaupun sudah memiliki Intisari Pati dari Semuanya dan Puncak dari Segalanya, masih saja tetap asyik mencemooh dan membuli sesesama hidup, fitnah, benci, menilai, membedakan, sirik, iri, dengki, dendam masih selalu menjadi menu makanan dan minuman sehari-hari.

Saya Wong Edan Bagu yang merasa mengerti dan memahami serta mengetahui Wahyu Panca Ghaib yang sebenarnya, yang sesungguhnya, yang sejatinya, ketika menyaksikan secara langsung di TKP, tentang semua hal tersebut diatas dengan mata kepalanya sendiri, menjadi renungan terdalam.

Karena saya sendiri, ada kalanya melakukan hal yang sama seperti kebanyakan mereka itu, jika masa lalu saya terpancing oleh sesuatu yang tidak cocok dengan hatinya.

Lalu saya melakukan manekung, dan memperoleh ketegasan, bahwa Yang ke-7 Xnya ini, adalah yang terakhir, artinya, jika manusia Hidup gagal Nglungguhake Wahyu Panca Ghaib secara gelar/syariat lan Mijilake Wahyu Panca Ghaib secara gulung/hakikat.

Maka Wahyu Panca Ghaib akan diAngkat sebagaimana ketika Dzat Maha Suci Hidup mengAngkat Nabi Isa ketika di tolak oleh umat-Nya dan tidak akan pernah di Turun kan kembali ke Dunia. Artinya; Tamat lah riwayat dunia.

Mendapatkan ketegasan tersebut, lalu saya nekad Napak tilas pertapaan M. Semono Sastrohadijoyo di Pulau Nusa Kambangan Cilacap selama 91 hari.

Dan mendapatkan keberhasilan mengungkap sejati nya IMAN, yang selama ini di percaya sebagai keYakinan, yang tak lain dan tak bukan Adalah:
Wahyu Panca Laku;
1. Pasrah kepada Tuhan.
2. Menerima keputusan Tuhan.
3. Mempersilahkan kuasa Tuhan.
4. Merasakan kenyataan Tuhan.
5. Menebar cinta kasih sayang Tuhan.

Yang ternyata Adalah Satu-satunya Cara untuk Meng-ibadah-kan atau menjalankan atau mempraktekan Wahyu Panca Ghaib.

Dan ternyata berhasil;
Dengan Meng-ibadah-kan atau menjalankan atau mempraktekan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Kesadaran Wahyu Panca Laku yang selama ini disebut-sebut sebagai Iman.

Seiring berjalannya Waktu;
Sudah tidak terhitung jumlahnya Orang-orang di tempatnya masing-masing, sudah tidak lagi salin mencemooh dan membuli sesama makhluk hidup, fitnah, benci, salin  menilai, membedakan, memilih, memilah, sirik, iri, dengki, dendam dan sejenisnya, sudah mulai nampak sirna di berbagai telatah kepulauan.

Bahkan jika dirinya yang di  mencemooh dan membuli, di fitnah, di benci dan sejenis, memilih diam tidak membalas, malah di mohonkan ampunan kepada Dzat Maha Suci Hidup Sang Empu-Nya semua dan segalanya.  Terima kasih Romo...

Dan Dari Lubuk Hati❤️saya Yang Paling Dalam Mengucapkan Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayang❤️Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om - Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Tidak ada komentar