Hakikat Tidak Ada Guru Dan Murid di Dalam Laku Murni Menuju Suci:

Hakikat Tidak Ada Guru Dan Murid di Dalam Laku Murni Menuju Suci:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jateng. Hari Rabu. Tanggal 1 November 2017.

Ketika hati mulai bercahaya, ketika jiwa mulai merasakan, ketika akal silau dengan pancaran Nur-Nya. saat itu lidah terasa kelu untuk bersuara, perasaan lenyap entah kemana, raga hampir-hampir tak berdaya, bahkan jiwa raib di dalam kegaiban-Nya.

Samudera ketenteraman telah menghanyutkan dirinya dan  menghempaskan batinnya pada karang-karang kesempurna'an dan membawanya kepada sebuah pulau kesadaran murni.

Mereka-mereka yang telah sampai pada kesadaran murni, itu telah melepaskan segala sesuatunya, terbebas dari semua kemelekatan,  apa saja, baik dirinya lahir batin maupun yang diluar dirinya.

Pandangan Syuhudnya hanya lah Dzat Maha Suci, yang tiada jarak dan tiada antara.

Telah dilewatinya Pos-pos atau warung-warung atau toko-toko jiwa mulai dari Pos-warung-toko roh,   sampai kepada Pos-warung-toko Roh Suci.

Disini baginya sesuatu yang berpasangan telah lenyap dari pengetahuan di dirinya.

Tiada lagi kata serba dua apalagi banyak pada pandangan batinnya. Pembimbing yang menyampaikan dirinya kepada Tuhan nya pun sudah tidak terpandang lagi.

Baginya guru dan murid itu satu, pembimbing dan yang di bimbing itu sama. Yang dikatakan Guru  itulah Murid, dan yang dikatakan Murid, itulah Guru.

Batinnya satu dengan Gurunya, sehingga dia juga yang disebut Guru dan dia jugalah yang disebut Murid.

Jika Guru dan Murid sudah satu dalam pandangan Batinnya.

Dimanakah Guru...?! Dan...
Dimanakah Murid...?!

Tentu...!!!
Jika sudah Satu meliputi, maka tidak ada lagi Guru dan tidak ada lagi Murid, yang ada hanyalah Penguasa yang menguasai Guru dan Murid.

Dialah Dzat Maha Suci Hidup.
Itulah maqom atau ranah atau dimensi kesadaran tertinggi, yang sering saya sebut sebagai kesadaran murni.

Dan... Itulah.
Hakikat  dari Sabda Pangandikaning Romo Semono  Sastrohadijoyo, yang sering di gunakan untuk melempar saya di medsos. Berbunyi; Ora Ono guru lan murid.

Lengkapnya Sabda;
Ora ono bapak, ibu, anak, sedulur, ora ono bojo ugo ora ono agomo, ilmu, kepercayaan, ora ono murid, ora ono guru, hanane mung urip pribadi.

Istilah Pribadi juga, sudah dialih fungsikan sesuai modusnya masing-masing. Padahal; Pribadi yang di maksud disini. Adalah sipat dan sikapnya Hidup. Jelasnya; Sipat Sikapnya Hidup, itu pribadi. Bukan karena Blang genthak loloba apapun, begitu maksudnya...

Panjenengan sudah seperti yang saya uraikan diatas...?! Jika sudah, berati Sudah tidak ada guru dan murid bagimu. Sudah tidak ada pembimbing dan yang di bimbing. Karena Guru dan Murid atau Pembimbing dan yang di Bimbing, sudah menyatu jadi satu kesatuan. Yang ada hanya Shang Hyang Menguasai Guru Dan Murid. Yaitu Dzat Maha Suci Hidup.

Dimana pada maqom atau ranah atau dimensi itu. Anda tidak terikat oleh sesuatu lagi, tidak membangga-banggakan akan sesuatu lagi, dan tidak menonjolkan akan sesuatu lagi.

Kemerdekaan dan kemandirian bersama Dzat-nya telah mengisi kekosongan jiwanya, sehingga kemana saja ia pergi, dimana saja ia berada tidak ada yang ada hanya Dzat Maha Suci meliputi disetiap gerak dan diamnya.

Pada Maqom atau ranah atau dimensi kesadaran tertinggi ini, Dzat Maha Suci telah mendudukan ia pada posisi Tenteram, karena ia telah berhasil melewati tahapan ke “AKU” an didirinya.

Tenteram bisa saya gambarkan seperti ini; Tidak ada apa-apa. Seandainya ada apa-apa. Tetap tidak apa-apa.

Jika ke “AKU “an dirinya saja sudah lenyap/Fana dari pandangan, bukankah segala yang di luar dari dirinya juga akan lenyap/Fana...?!
Kenapa masih sempat-sempatnya risau pada saudara-saudari kita yang masih belajar dan membutuhkan seorang guru  pembimbing...?!

Apabila mereka yang mengaku telah benar-benar sampai kepada Tuhan-nya. Dzat-nya. Tentu sudah seharusnya ia tidak bersandar lagi kepada sesuatu apapun bukan...?!
Sudah tidak risau oleh apapun itu...!!! Kok masih... Berati Bulsiiiit.

Jika masih bersandar akan sesuatu, sedangkan ia menyatakan telah sampai kepada Maqom Robbani, Atau Ranah/Dimensi Dzat. Maka sesungguhnya ia belumlah sampai dengan sebenar-benarnya sampai.

Pada saat itu ia masih sampai di  batasan Ilmu rasa perasaan, belum sampai kepada yang punya Ilmu rasa perasaan. He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Alamat; Desa. Gintung Lor. Blok. 1. Rt/Rw. 006/001. Kec. Susukan. Kab. Cirebon. Jawa Barat. Cirebon Indonesia 45166.
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
www.wongedanbagu.com
http://putraramasejati.wordpress.com
http://facebook.com/tosowidjaya

Tidak ada komentar