Mengenai Saya

Foto saya

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untuk semuanya tanpa terkecuali. Perkenalkan Saya... Dengan Nama asli: Toso Wijaya. D.  Nama Lahir saya: Djaka Tolos. Dan Akrab di panggil Wong Edan Bagu atau WEB dalam dunia Spiritual Laku Ketuhanan. saya lahir di lereng gunung ciremai Cirebon jawa barat. Pada hari Rabu Pon, tgl 13/08/1959, Anak kedua dari empat bersaudara, yang lahir dari kedua orang tua, Bapak Bernama: Matsalim dan Ibu Bernaman Dewi Arimi.  Mulai dari Nenek moyang hingga ke bapak ibu sampai ke saya sendiri. Kami Suka Berspiritual. artinya... suka mempelajari hal-hal yang ga'ib. Tapi bukan sembarang Ghaib, karena Ghaib yang saya pelajari, adalah Ghaib-Nya Dzat Maha Suci Hidup (TUHAN). Bukan yang lain.  Karena itu Sejak usia 9 tahun, saya sudah mempelajari ilmu-ilmu katikjayan, kususnya ilmu kanuragan dan ilmu jaya kawijayan Warisan dari para leluhur saya di telatah tanah pasundan. Sebagai bekal untuk mengembara dalam melacak jejak Dzat Maha Suci yang Gha'ib.  

Dan setelah melalui berbagai macan dan banyak lika liku proses kehidupan. saya berhasil menemukan intisari pati Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sebenarnya, dari semua dan segalanya tentang Hidup dan Kehidupan BerTuhan... dan sejak itulah, saya berhenti mengembara dan berpetualang. Lalu menekuni secara Khusus/Istiqomah Laku Spiritual Hakikat Hidup. Yang pelajarannya saya dapatkan, dikala puasa ngebleng di goa singabarong pulau nusa kambangan cilacap jawa tengah,  yaitu,,. Wahyu Panca Laku. Cara untuk Mempraktekan Wahyu Panca Gha'ib, yang hanya mempelajari Hidup dan kehidupan serta Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya... disamping terus belajar dan belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya... Karena saya tidak suka Neko-neko. Saya membuka Pengobatan dan Konsultasi Alternatif Tradisional, mempraktekan ilmu pengobatan spesialist Stroke. Dengan Cara Terapi Pijat Urut dan Jamu Herbal Ramuan Sendiri. Yang pernah saya Pelajari dari beberapa orang Guru saya... Dan semoga, apa yang saya lakukan ini. bisa dan dapat bermanfaat pada diri saya sendiri dan buat semua saudara-saudari saya tanpa terkecuali..... Itulah sekelumit tentang saya dan mohon maklumnya jika terkesan berlebihan; Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian... _/!\_

Selasa, 29 Agustus 2017

PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP. DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu:

PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP.
DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Rabu. Tanggal 30 Agustus 2017.

MIJIL SOWAN:
Mijil Sowan. Adalah Praktek Mengabdikan Diri kepada Hyang Dzat Maha Suci, dengan penuh kesadaran Wahyu Panca Laku/IMAN. Jadi, mijil sowan itu, merupakan praktek pengabdian seorang mahluk kepada Tuhan-nya, seorang hamba kepada Tuan-nya, seorang abdi kepada Raja-nya. Yang proses cengkoknya wajib di mengerti, dan endingnya wajib di pahami, oleh siapapun yang sedang laku murni menuju suci. Agar supaya tepat sasaran, tidak melesed dari yang di tuju, yaitu Dzat Maha Suci.

PRAKTEKNYA:
Langkah Pertama... 
Adalah Patrap PALUNGGUH PAMBUKA;
Palungguh adalah upaya menenangkan rasa yang tidak dan perasa’an, yang tidak
nyaman, agar menjadi enak dan nyaman. 

Caranya,,, setelah berada di tempat/ruang semedi. Dalam keada’an duduk siap bersamadi, tempelkan telapak tangan kanan, ke dada sebelah kiri, dimana terdapat detak jantung. Seperti yang nampak pada gambar dibawah ini;
Lalu baca “PALUNGGUH PAMBUKA” 3x.
PALUNGGUH PAMBUKA;
Sedulur Papatku
Lungguho ingkang prayugo.
Ragane arso tentrem.
Sun sangoni basuki.
Kalis ing sambikolo.
Kanti teguh rahayu selamet.
Dibaca... 3x.

Lalu tarik napas panjang dan pelan serta dalam melalui hidung, lalu keluarkan napas panjang dan pelan serta dalam pula melalui mulut, lakukan cara ini hingga tiga kali berturut-turut, hingga terasa plong/lega. 

Langkah Kedua... 
Adalah Patrap KUNCI;
Robah Patrap Palungguh, menjadi patrap Kunci, dengan tetap duduk rileks dan santai
menikmati rasa plong/lega hasil palungguh tadi. Satukan dan pertemukan kedua telapak tangan, lalu letakan tepat didepan wajah, kedua ibu jari, menempel tepat dibawah kedua lubang hidung, sedangkan kedua jari telunjuk, tepat berada di tengah kening atau diantara kedua alis, sementara kedua siku tangan, lurus sejajar dengan pundak. Seperti yang nampak pada gambar dibawah ini;
Lalu baca “KUNCI” 7x.
KUNCI untuk Lelaki;
Gusti ingkang moho suci.
Kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.
Sirolah datolah sipatolah.
Kulo sejatine sateriyo.
Nyuwun wicaksono nyuwun panguwoso.
Kangge tumindake sateriyo sejati.
Kulo nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.
Dibaca... 7.x.

KUNCI untuk Wanita;
Gusti ingkang moho suci.
Kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.
Sirolah datolah sipatolah.
Kulo sejatine wanito.
Nyuwun wicaksono nyuwun panguwoso.
Kangge tumindake wanito sejati.
Kulo nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.
Dibaca... 7.x.

PENJELASAN;
Bacalah Kunci dengan perlahan dan santai/rileks, jangan terburu-buru, hayati setiap kalimat yang terbaca dalam hati, dengan penghayatan rasa, ingat...!!! dengan penghayatan rasa, bukan dengan perasa’an “sebab” di antara celah-celah baca’an Kunci, ada Wahyu Panca Laku/iman yang tersebut Manembahing Kawula Gusti, yang proses cengkok dan endingnya Manembahing Kawula Gusti tersebut, harus kita mengerti dan pahami serta kita ketahui, agar mengerti dan paham serta tahu, apa yang di sebut Kunci yang memiliki Laku manembahing kawula gusti tersebut.

Ingat...!!!
Patrap Kunci itu, pada hakikatnya, adalah Manembahing Kawula Gusti, karena itu, cara bacanya jangan terburu-buru, harus tawaduk, sopan santun, tata-titi-surti ngati-ati, santai, pelan dan penuh penghayatan rasa, yang semakin di hayati, akan semakin terasa prosesnya, yang detik demi detik, menjalar di sekujur tubuh kita, mengalir bersama aliran darah kita, terus rasakan, dan rasakan lebih dalam getarannya, di barengi dengan membaca
Kunci hingga selesai 7x.

Langkah Ketiga... 
Adalah Patrap PAWELING;
Setelah selesai membaca Kunci 7x. Robah Patrap Kunci, menjadi Patrap
Paweling, caranya; dengan tetap rilek dan santai, turunkan kedua tangan secara
bersama’an, secara perlahan, dengan tetap penuh penghayatan rasa, ke bawah, hingga
berada tepat di tengah dada. Seperti gambar yang nampak dibawah ini;
Lalu baca “PAWELING” 3x.
PAWELING;
Siji-siji - loro-loro - telu telonono.
Siji sekti - loro dadi - telu pandito.
Siji wahyu - loro gra’trahino - telu rejeki.
Dibaca... 3.x.

PENJELASAN;
Setelah selesai membaca Paweling 3x. Lalu diam sejenak. Rasakan Getaran dari tekanan kedua energi yang ada di kedua telapak tangan, dengan tetap penuh penghayatan rasa, terus rasakan dan rasakan terus hingga beberapa waktu lamanya. Ingat...!!! Patrap Paweling, pada hakikatnya, adalah Manunggaling Kawula Gusti, artinya, harus benar-benar merasakan kemanunggalannya kawula dan gusti tersebut. Jika kita mampu berhasil menghayati getaran dari tekanan kedua energi yang ada di kedua telapak tangan kita, maka kita akan mengerti, memahami dan mengetahui kemanunggalan kawula gusti kita.

Langkah Ke’empat... 
Adalah Patrap MIJIL SOWAN;
Setelah merasa cukup dalam merasakan proses cengkok dan ending serta klimaxnya Paweling yang hakikatnya adalah kemanunggalan kawula gusti, lalu robah patrap Paweling menjadi Patrap Mijil, dengan cara, tetap rileks dan santai, geser tangan kiri ke samping pinggul kiri,  sedangkan tangan kanan, tetap berada di posisinya semula. Ibu jari tangan kiri, menempel pada tulang rusuk yang paling bawah, yang paling pendek, sedangkan jari telunjuk tangan kiri, lurus mengarah ke pusar perut/wudel. Seperti yang nampak pada gambar di bawah ini;
Lalu baca “MIJIL SOWAN” 1x.
MIJIL SOWAN;
Asmo sejati. 
Jeneng siro mijilo.
Panjenengan ingsun kagungan karso.
Arso sowan ing ngarsane.
Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono.
Arso sowan bade nyuwun tambahe pangestu lan pengayoman.
Ugo sedoyo ingkang kulo aturaken.
Sageto kelaksanan kanti teguh rahayu slamet.
Dibaca... 1.x.

PENJELASAN;
Setelah membaca mijil sowan 1x. Lalu Diam... dan robah posisi kedua tangan, yang semula Patrap Mijil, menjadi seperti yang nampak pada gambar dibawah ini;
Lalu....
Buka Mata hati/bathin, tutup mata lahir, bebaskan semua Panca indera, pikiran, angan-angan, jangan sampai ada satupun tekanan atau beban, bebaskan dan merdekakan. Mungkin, pikiran atau angan-angan, teringat hal-hal di luar sana, misal, ingat pekerja’an, teman, pacar, anak, isteri, suami, hutang, motor, mobil dll, biyarkan, bebaskan, merdekakan untuk beberapa menit, maksimal lima menit. Jangan lebih. 

Setelah lima menit...
Lalu tarik napas panjang dan pelan serta dalam melalui hidung, lalu keluarkan napas panjang dan pelan serta dalam pula melalui mulut, lakukan cara ini hingga tiga kali berturut-turut, hingga terasa plong/lega atau tidak plong/lega. Maksudnya... setelah melakukan ini, bisa plong/lega atau tidak plong/lega. Ingat...!!! jangan sampai lupa. Bahwa Sejatinya Patrap Mijil, adalah Sampurnaning Kawula Gusti. Jadi....

Segera tundukan kepala, tundukan pula ego kita, tanggalkan semua bentuk takut dan ragu serta bimbang. Kemudian berkatalah secara sadar dalam hati, dengan nada lirih dan jujur apa adanya. Seperti Contoh Di Bawah INI;

“ Tuhan... saya salah, saya dosa, saya memang salah ya Tuhan, saya memang dosa, sungguh saya bodoh, tidak mengerti apa-apa, tidak paham apa-apa, tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa, tapi saya selalu sok ngerti, sok paham, sok tahu, sok bisa, sok pintar, padahal saya bodoh dan dungu, goblog, tidak punya kuasa apa-apa dan tidak bisa apa-apa, kini saya sadar dan bertaubat serta berserah diri hanya kepada-Mu wahai yang Maha Segalanya, sesembahan yang tiada duanya”

“Saya Pasrahkan anak-ku, istri/suami-ku, pacar/kekasih-ku, keluarga-ku, saudara/saudari-ku, masalah-ku, keperluan-ku, kepentingan-ku, kebutuhan-ku, hutang-ku, jiwa raga-ku, dunia akherat-ku, hidup mati-ku dan semuanya serta segalanya tentang-ku. Saya serahkan dan saya pasrahkan hanya kepada-Mu wahai Dzat Maha Suci sesembahan-ku yang tunggal dan Maha Segalanya, sungguh saya tiada daya dan upaya apapun jika tanpa-Mu, mulai sekarang, semua dan dan segalanya, terserah-Mu, apapun keputusan-Mu, aku terima, mulai saat sekarang ini. Saya akan tunduk dan turut hanya kepada-Mu saja”

“Karena saya berasal dari-Mu dan Milik-Mu, maka saya akan mengabdi dan kembali hanya kepada-Mu saja. Engkau jadikan apapun diri ini di dunia dan di akherat nanti, saya tetap siap sebagai abdi setiamu”    

(Pemberitahuan; Bahasa yang saya contohkan diatas, bisa diubah sesuai sikon pribadi masing-masing, yang pasti, kurang lebih intinya seperti yang saya maksud dalam contoh diatas)

Lalu Diam...
Jika Anda bisa berhasil berkata Jujur apa adanya kepada Dzat Maha Suci dan sungguh-sungguh pasrah dan berserah diri lahir dan bathin serta bertaubat kepada Dzat Maha Suci. Seperti yang saya contohkan diatas. Air mata Anda akan menetes/berlinang, membanjiri pipi, dada, hingga kedua kaki Anda yang sedang bersimpuh. Jika air mata mulai menetes, diawal atau di pertengahan ungkapan seperti yang saya contohkan diatas, jangan berhenti, terus dan terus katakan berulang kali, apa yang saya contohkan diatas, sampai selesai, sampai puas, sampai plong, sampai lega, hingga tak ada lagi yang bisa di katakan, kecuali linangan air mata. Nikmati dan Rasakan Linangan Air mata yang semakin di rasakan semakin berderai tersebut. Rasakan lebih dalam, dan lebih dalam lagi, terus rasakan dan nikmati dengan sadar, jangan hanyut dan terlena, berusahalah untuk tetap sadar. Tidak larut dalam tangisan. Jika Anda sadar, dan benar-benar sadar, sesadar-sadar. Makan Anda akan mengetahui Klimaxnya Patrap Mijil Sowan.  

Klimaxnya apa...?!
Klimaxnya adalah Tenteram.
Tenteram itu apa...?!
Tenteram itu Sampurna.
Sampurna itu bagaimana...?!
Sampurna itu semuanya dan segalanya.

Intinya,,, di dalam Patrap Semedi Mijil Sowan, adalah mempelajari cengkok dan endingnya Manembahing Kawula Gusti. Manunggaling Kawula Gusti. Leburing Kawula Gusti dan Sampurnaning Kawula Gusti. Agar supaya bisa mengetahui Klimaxnya Sampurnaning Pati Urip.

Kalau kita kisa berhasil mengetahui Klimaxnya Sampurnaning Pati Urip. Kita akan Memperoleh alias mendapatkan kesempurna’an dan Merasakan Sejatinya Tenteram, yang nantinya bisa Menenteramkan Kehidupan lahir dan bathin kita sendiri dan semuanya serta segalanya yang terkait dengan diri pribadi kita, seperti anak istri keluarga tetangga dll, termasuk kepentingan, kebutuhan, keperluan dan masalah apapun selesai, dengan sangat indah tanpa masalah.

Apa itu sejatinya tenteram...?! 
Seperti apa rasanya Tenteram?
Kok sebegitu pentingnya... 

Apa itu sejatinya tenteram...?! 
Tenteram adalah sikon asal usul kita sebelum dicipta menjadi menusia Hidup oleh Dzat Maha Suci Tuhan kita, dan di dalam sejatinya Tenteram itulah, Dzat Maha Suci Tuhan kita berada.

Seperti apa rasanya Tenteram?
Rasanya tenteram itu, seperti di waktu kita mencapai puncak klimax sa’at berhubungan badan (SEKS) dengan orang yang kita cintai/sukai.

Bisa ketebak kan...? 
Rasanya...?

Itulah Wujud Gambarannya Tenteram. Itulah RasaTenteram yang saya maksud. Saking Tentramnya, sampai-sampai disaat klimax, semuanya dan segalanya terlupakan, tak satupun yang di ingat saat klimax, bahkan dirinya sendiri, lelaki atau bukan, sudah tidak tahu lagi. Itulah tenteram, itulah intisari pati dari semua dan segalanya yang di cari dan di lakukan oleh semua makhluk hidup.

Dan Itulah yang dicari sa’at kita bersamadi menerapkan Wahyu Panca Ghaib. Gambaran Rasanya seperti di Sa’at kita klimax (seks), tapi Prakteknya tidak seperti sa’at klimax (seks), karena tenteram yang di hasilkan sa’at klimax (seks), membuat kita lupa diri, lupa semuanya, lupa segalanya.

Disini, dalam menerapkan Wahyu Panca Ghaib ini, kita mencari Tenteram yang sebenarnya, bukan yang semu, tidak lupa diri seperti di sa’at klimax (seks). Melainkan dengan sadar, sesadar-sadarnya, semakin kita sadar, semakin kita mengerti apa itu Dzat Maha Suci Tuhan, semakin murni kesadaranya, semakin memahami bagaimana itu Dzat Maha Suci Tuhan, semakin sering mengalami tenteram secara sadar dan murni, maka akan bisa mengetahui semua dan segalanya tentang Dzat Maha Suci Tuhan secara jelas dan nyata, detail serta PASTI. Bukan katanya atau nanti atau ghaib.

Caranya bagaimana? 
Caranya Ada tiga tahap atau level atau tingkatan, dan tingkat/level/tahap Pertama-nya. Seperti yang sudah saya Uraikan diatas, bukan yang lain. Yaitu Laku Murni Menuju Suci Alias Wahyu Panca Ghaib di Ibadahkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. 

Langkah kelima... 
Adalah Patrap “PALUNGGUH PANUTUP”
Kondisikan tangan kanan menempel di dada sebelah kiri, seperti langkah awal. secara  perlahan Sembari membaca PALUNGGUH PANUTUP tiga kali. 
“PALUNGGUH PANUTUP” 3x;
Asmo Sejati
Lungguho ingkang prayugo.
Ragane arso tentrem.
Sun sangoni basuki.
Kalis ing sambikolo.
Kanti teguh rahayu selamet.
Dibaca... 3x.
                  
Dan SELESAI. Lakukan Patrap Mijil Sowan ini, tiap hari atau tiap malam dengan MERDEKA, tanpa terikat waktu dan arah menghadap di saat Bersamadi. Sampai benar-banar mengetahui Klimaxnya Mijil Sowan yang sangat luar biasa seperti yang sudah saya maksud dalam uraian diatas.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
                                 
Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
www.wongedanbagu.com
http://putraramasejati.wordpress.com
http://facebook.com/tosowidjaya

Jumat, 25 Agustus 2017

Pemahaman Tentang KUNCI. PAWELING. ASMO. MIJIL. SINGKIR. (Didalam Wahyu Panca Gha’ib)



Pemahaman Tentang KUNCI. PAWELING. ASMO. MIJIL. SINGKIR.
(Didalam Wahyu Panca Gha’ib)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Sabtu. Tanggal 19 Agustus 2017.


1. Pemahaman Tentang KUNCI:
"Kunci"
Pengertian Kunci.
Adalah; Kumpul Nunggal Suci.
Kumpul itu... Mendekat. Nunggal itu... Bersatu/Menyatu. Suci itu... Murni/Bersih, tak tercampuri oleh apapun.


Hakikat Kunci;
Adalah; Anasir pertama, yang berasal dari Sarinya Air, yang lebih di kenal dengan sebutan Kawah/ketuban atau Mutmainah.


Lakunya Kunci;
Adalah; Manembahing Kawula Gusti.
Manembahing itu... Tunduk-nya. Kawula itu... Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu... Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.


Jadi...
Maksud dari Manembahing Kawula Gusti. Adalah tunduknya sedulur papat Kalima Pancer kepada Dzat Maha Suci.


Kesimpulannya;
Kalau Patrap Kunci dan Membaca Kunci. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus Tunduk Kepada Dzat Maha Suci.


Sebab itu...
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Pertama. Mengharuskan untuk Pasrah, menyerahkan semua dan segalanya kepada Dzat Maha Suci.


Karena yang namanya tunduk, ya pasrah, dan yang di sebut pasrah, tidak ada istilah menggerutu atau mendesah atau berkeming, apa lagi protes. Enak tidak Enak. Cocok tidak Cocok, harus tetap diam sambil senyum sendiko dawuh.


2. Pemahaman Tentang PAWELING:
"Paweling"
Pengertian Paweling.
Adalah; Panalangsan atau Keterenyuhan.
Maksudnya seperti ini. Ada hubungan yang tidak bisa kita lupakan, apapun alasannya, ada ikatan yang tidak bisa kita putuskan, apapun alasannya, ada komunikasi yang tidak bisa kita elak kan, apapun alasannya.


Yaitu;
Hubungan dan Ikatan serta Komunikasi antara Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad "atau" Sir Dat Sipat "atau" Cinta Kasih Sayang.
Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad "atau" Sir Dat Sipat "atau" Cinta Kasih Sayang.


Inilah, asal mula semua kejadian. Termasuk kita, manusia hidup.
Awalnya adalah kemutlakan dzat maha suci semata. Lalu dzat maha suci memecah dirinya. Menjadi tiga bagian. Yaitu; Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad "atau" Sir Dat Sipat "atau" Cinta Kasih Sayang.


Dan dengan menggunakan tiga bahan inilah, semua dan segalanya di cipta dan tercipta.
Di waktu kita masih belum terpisah, masih menjadi satu wujud sebagai dzat maha suci. Yang ada hanya Kebahagia'an dan Ketenteraman. Tidak ada suka duka, tak kenal masalah apapun.
Namun setelah terpecah menjadi tiga bagian tersebut, dan tercipta menjadi sebuah mahluk. Suka duka dan masalah mulai bermunculan.


Suka duka dan masalah inilah, yang melenakan kita, sehingga kita lupa dengan tri tunggal yang menjadi jatidiri kita, yang dulunya adalah merupakan satu kesatuan yang bahagia dan tenteram.


Ketika kita membaca Paweling. Siji-siji. Loro-loro. Telu-telonono. Kita di kembalikan ke hal ini dan tentang ini.


Bagaimana kita tidak rindu akan hal tersebut, bagaimana tidak terenyuh, selama ini kita telah lupa cinta kita bertiga, kasih kita bertiga, sayang kita bertiga, kita terlalu asyik bermain ketipung suka duka dan masalah.


Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Allah atau Sir atau Cinta kita sedang merindu.


Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Muhammad atau Dat atau Kasih kita sedang merindu.


Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Ilmu Muhammad atau Sipat atau Sayang kita sedang merindu.


Sungguh terlalu jika tidak Nelangsa... Tidak Terenyuh...
Tidak selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak-Nya. Apapun kejadiannya yang terjadi, kita harus mau bersedia menerimanya.


Karena syarat untuk bisa menjadi satu kembali seperti semula, kita harus mau bersedia menerimanya. Apapun itu...


Protes...?!
Menolak...?!
Tidak mau...?!


1. Siji: Nur Allah-Sir-Cinta.
2. Loro: Nur Muhammad-Dat-Kasih. 3. Telu: Nur Ilmu Muhammad-Sipat-Sayang.
Tidak akan pernah bisa Bersatu/Menyatu lagi seperti semula.


Hakikatnya Paweling;
Adalah; Anasir ketiga, yang berasal dari Sarinya tanah, yang lebih di kenal dengan sebutan Ari-ari atau Aluamah.


Lakunya Paweling;
Adalah; Manunggaling Kawula Gusti.
Manunggal itu... Bersatupadu. Kawula itu... Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu... Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.


Jadi...
Maksud dari Manunggaling Kawula Gusti. Adalah bersatupadunya sedulur papat Kalima Pancer dengan Dzat Maha Suci.


Kesimpulannya;
Kalau Patrap Paweling dan Membaca Paweling. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus Bersatupadu dengan Dzat Maha Suci.


Sebab itu...
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Kedua. Mengharuskan untuk Menerima apapun kehendak atau keputusan Dzat Maha Suci.


Kalau bisa menerima apapun kehendak dan keputusan dzat maha suci. Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad "atau" Sir Dat Sipat "atau" Cinta Kasih Sayang ini. Baru Bisa jadi satu.


Dan bersatunya Tri Tunggal ini. Berati dzat maha suci. Dan dzat maha suci. Adalah maha segalanya.


3. Pemahaman Tentang Asmo:
"Asmo"
Pengertian Asmo.
Adalah; Tanda atau Ciri, kalau bahasa jawanya. Tenger.


Tanda untuk siapa dan untuk apa...?!
Tanda untuk hidup dan supaya bisa disebut atau bisa di panggil dan bisa di temui.


La kalau Asmo Sejati...?!
Sejati itu... Yang sebenarnya atau yang sesungguhnya.


Hidup berasal dari dzat maha suci, yang di utus secara khusus, menempati tubuh manusia, hingga batas waktu yang telah di tentukan.


Jadi...
Maksud dari Asmo Sejati. Adalah Tanda yang sebenarnya untuk hidup, yang masih menempati setiap wujud yang masih hidup. Agar supaya bisa menyebut dan memanggil bahkan menemuinya kapanpun dan dimanapun, untuk hal apapun.


Karena hidup berasal dari dzat maha suci. Asmo di artikan juga, sebagai, Asale Manunggal, yang maksudnya (awalnya bersatu atau menyatu-dengan dzat maha suci).


Karena hidup itu utusan dzat maha suci, jadi, dia mengerti dan paham serta tahu semua dan segalanya tentang dzat maha suci dan seluruh ciptaannya.


Hakikat Asmo Sejati;
Adalah; Hidup atau Roh Suci/Kudus atau Guru Sejati atau Rasul/Utusan. Atau Pancer. yang berasal dari dzat maha suci.


Dan Hidup adalah satu-satunya Ruh Suci yang bisa berhubungan langsung dengan dzat maha suci, kapanpun dia mau. Karena selain utusan, hidup adalah kekasih terkasihnya dzat maha suci.


"sungguh aku tidak mengenal doa dari siapapun, jika tidak melalui rasulku/utusanku"


Lakunya Asmo;
Adalah; Leburing Kawula Gusti.
Leburing itu... Musnah-nya. Kawula itu... Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu... Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.


Jadi...
Maksud dari Leburing Kawula Gusti. Adalah musnah-nya sedulur papat Kalima Pancer.


Kesimpulannya;
Kalau Patrap Mijil Menyebut Asmo Sejati. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus musnah, harus tidak ada itu dan ini, semuanya musnah. Tidak ada sedulur papat, tidak ada Pancer, tidak ada kepentingan, tidak ada keperluan, tidak ada urusan dan masalah kemelekatan apapun, semuanya telah lebur/musnah, yang ada hanya dzat maha suci semata, lainnya itu, semu dan palsu.


Sebab itu...
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Ketiga. Mengharuskan untuk mempersilahkan dzat maha suci. Karena jika tidak di persilahkan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, sebab semua dan segalanya telah lebur/musnah menjadi semu/palsu.


Mau mempersilahkan dzat maha suci untuk mengambil alih semua dan segala tentang kita, maka semua dan segala kesemuan dan kepalsuan itu, akan di sempurnakan, dan di ganti dengan yang asli dan nyata-nyata asli.


4. Pemahaman Tentang MIJIL:
"Mijil"
Pengertian Mijil.
Ada dua titik, yang perlu kita tepatkan, yang satu miji, satunya midji, kalau miji, itu berati tumbuh, istilah jawanya, tuwuh atau tukul, kalau midji, itu berati menyatu, istilah jawanya ngumpul atau ngumpuli.


Kata menyatu atau ngumpul, ini menandakan ada beberapa sesuatu. Maksudnya, lebih dari jumlah satu. Karena lebih dari jumlah satu, maka di gunakan kata menyatu atau ngumpul.
Jadi, yang tepat. Adalah Midjil, bukan Mijil.


Midjilo...
Berarti, sesuatu hal yang jumlahnya lebih dari satu itu, menyatu keluarnya. Maksudnya, tidak keluar sendiri sendiri atau berpisah. Melainkan jadi satu wujud.


Mengapa bisa begitu....?!
Ketika kita menyebut Asmo Sejati. Semua dan Segalanya, itu menyatu menjadi satu kesatuan. Midji. setelah bersatu, semua dan segalanya itu, menjadi lebur, tidak ada apa-apa, kecuali dzat maha suci.


Djilo. Keluarlah. Semua dan segalanya yang sudah menjadi satu itu. Keluarlah... Ini adalah ghaib, maksudnya, tidak kasat mata.


Sebab itu, Wahyu Panca Laku atau Iman, yang keEmpat.
Mengharuskan kita untuk Ngrasak Ake ananing Dzat Maha Suci. Sebab, keleburan semuanya dan penyatuan segalanya itu, tidak kasat mata, keluarnyapun, yang sudah menjadi satu itu, tidak kasat mata pula.


Jadi, hanya dengan rasa, cuma dengan cara merasakan, kita bisa mengetahui keleburan dari semuanya itu, dan penyatuan dari segalanya itu, yang keluar jadi satu tersebut.


Hakikat Midjil;
Adalah; Anasir kedua, yang berasal dari Sarinya Angin, yang lebih di kenal dengan sebutan pusar/puser atau Supiyah.


Lakunya Midjil;
Adalah; Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurna itu... Kembali ke asal, kalau Sampurnaning, berarti. Kembali ke asalnya. Kawula itu... Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu... Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.


Jadi...
Maksud dari Sampurnaning Kawula Gusti. Adalah; Kembalinya sedulur papat Kalima Pancer ke asalnya, yaitu Dzat Maha Suci.


Kesimpulannya;
Kalau Patrap Midjil dan Membaca Midjil, Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Sudah tidak ada, karena sudah sampurna kembali ke asalnya, yaitu dzat maha suci.


Jadi...
Tidak ada doa lagi, kalimat, kata kata, permohonan, keluh kesah, takut, ragu, pikiran, duga menduga, rancangan.


Dan bla,,,bla,,,bla,,,lainnya. Yang ada hanya rasa, yang harus kita sadari secerdas mungkin, agar supaya bisa merasakan kasempurnaan yang nyata itu. Sehingganya kita tahu persis. Bahwa tidak ada yang lebih wah, di bandingkan dengan Pengampunan dari Hyang Maha Sempurna.


5. Pemahaman Tentang SINGKIR:
"Singkir"
Pengertian Singkir.
Adalah; Tidak menilai. Sing-Kir.
Sing itu... Dari bahasa Kawi, yang artinya mboten atau ora, bahasa Indonesianya, tidak. Kir itu... Dari bahasa Psikolog, yang artinya menganalisa atau mendeteksi atau memeriksa (menilai).


Hakikat Singkir;
Adalah; Anasir keempat, yang berasal dari Sarinya Api, yang lebih di kenal dengan sebutan Darah atau Amarah.


Lakunya Singkir;
Adalah; Sampurnaning Pati Urip.
Sampurna itu... Kembali ke asal, kalau Sampurnaning, berarti. Kembali ke asalnya. Pagi itu... Segala masalah yang berkaitan dengan Kematian atau Akhirat. Urip itu... Semua masalah yang berkaitan dengan Kehidupan atau Dunia.


Jadi...
Maksud dari Sampurnaning Pati Urip, Adalah; Kembalinya segala urusan akhirat dan dunia. ke asalnya, yaitu Dzat Maha Suci.


Kesimpulannya;
Kalau Patrap Singkir dan Membaca Singkir, apapun kejadiannya, apapun yang terjadi, sudah tidak lagi menilai, sudah tidak lagi menganalisa, memeriksa, membedakan, mengecek, mengira, menduga dan semua bentuk kira'an dan sangkaan.


Karena ketika kita Singkir, semua dan segalanya itu, telah sempurna, yang artinya, kembali ke asal usul Sangkan Paraning dumadi "Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji'un"


Jadi, untuk apa di nilai, untuk apa di analisa, untuk apa di pilah dan di pilih, di bedakan dan di bla,,,bla,,,bla,,, lainnya, bukankah semua dan segalanya itu berasal dari Tuhan dan hanya akan kembali kepada Tuhan.


Tidak selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak-Nya. Apapun itu dan bagaimanapun kejadian yang terjadi, bukan untuk di nilai, untuk di analisa, di pilah dan di pilih, di bedakan.
Yang ini baik, yang itu buruk, yang ini salah, yang itu benar, yang itu wajib di tiru, yang ini harus di tinggalkan dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya.


Apapun itu dan bagaimanapun kejadian yang terjadi, bukan untuk di nilai, untuk di analisa, di pilah dan di pilih, di bedakan dan bla,,,bla,,,bla... Melainkan untuk di sadari.


Bahwa itu semua berasal dari Tuhan, yang cocok tidak cocok, suka tidak suka, mau tidak mau, harus di mengerti, di pahami di ketahui dengan kesadaran iman.


Sebab itu dan karena itu. Wahyu Panca Laku atau Iman yang keLima, mengharuskan kita untuk menebar Cinta Kasih Sayang-Nya. Bukan mengharuskan kita menilai atau menganalisa apa lagi membedakan.


Karena semuanya dan segalanya itu, adalah satu/sama, baik dari Tuhan, buruk juga dari Tuhan, salah dari Tuhan, benar pun dari Tuhan dll. Karena Tuhan itu Esa/Tunggal.
Jika meyakini dan mempercayai bahwa Tuhan itu Esa/Tunggal, berati kita harus bisa menyadari, bahwa salah benar, baik buruk dan semua serta segalanya itu, berasal dari Tuhan.
Jika kita mengira bahwa baik itu dari Tuhan, dan menduga bahwa buruk itu dari iblis, berati kita belum Singkir.


Sebab, dengan kira'an dan dugaan itu, sama halnya dengan menduakan Tuhan, yang artinya Tuhan itu bukan Esa dan tidak Tuhan, melainkan ada dua Tuhan. Satu Tuhan yang berkuasa menciptakan baik. Yaitu Allah. Dan satunya Tuhan yang berkuasa menciptakan keburukan. Yaitu Iblis.


Apa lagi kalau sampai mengira bahwa Singkir itu untuk menyingkirkan musuh atau saingan atau apapun yang di anggap mengancam diri. Berati... Anda bukan saja belum berIman. Tapi juga belum berTuhan bahkan tidak berTuhan.


Maaf... Ini pemahaman yang paling mendasar secara umum dan awam, yang sesungguhnya, lebih dari sekedar yang sudah saya uraikan diatas.


Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Kinasih Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu

Rabu, 16 Agustus 2017

Semua Akan Indah Pada Waktunya

Semua Akan Indah Pada Waktunya:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Rabu. Tanggal 16 Agustus 2017.

Apapun alasannya dan siapapun dia, kalau sedang laku murni menuju suci. Suatu hari di dalam lakunya itu, akan mengalami suatu hal yang mungkin terjadi di luar kehendaknya, dan di saat seperti itu, lalu mempertanyakan hal-hal yang terjadi di luar kehendak itu.

Contoh;
Mengapa ini harus terjadi...?!
Mengapa Tuhan ijinkan aku mengalami semua ini...?!
Mengapa aku yang harus melaluinya...?!
Apa salahku, hingga aku harus mengalami hal ini...?!
Mengapa cobaan ini begitu berat...?!
Apa laku-ku tidak tepat...?!
Apa Doaku salah...?! Dll.

Para Kadhang Kinasihku Sekalian...
Jika ini terjadi pada dirimu, sadarilah dengan iman-mu, bahwa kita tidak sendiri. Baca baik-baik hingga selesai uraian saya di bawah ini. Dan saya akan mencotohkan diri saya sendiri.

Semua orang di dunia ini, termasuk saya sendiri dulu, pernah mengalaminya, tidak peduli dia sedang laku murni menuju suci atau tidak.

Ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan saya, tak henti-hentinya saya bertanya, dan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup saya, serta mencoba mencari pembenaran atas diri saya.

Namun Tuhan diam. Tidak ada jawaban, tak ada tanda dari langit atau bumi, apalagi tepukan hangat di bahu atau suara lembut membisik di telinga. Tidak...!!!

Hingga suatu ketika, saya menyadari, bahwa benarlah adanya, bahwa hidup ini, adalah misteri Illahi.

Artinya, kita tak bisa memahami semua peristiwa yang terjadi. Ada kalanya, kita hanya diijinkan untuk menjalaninya tanpa perlu bertanya apa-apa.

Sebuah firman mengatakan; Tidak selembar daunpun jatuh tanpa kehendak-Nya.

Sebuah pepatah lama berbunyi; Segala yang tersembunyi adalah milik Tuhan. Dan segala yang terbuka, dinyatakan adalah urusan kita.

Para kadhang kinasihku sekalian...
kita tidak perlu mengerti semuanya. Kita tidak perlu memahami semuanya.

Jika Tuhan tidak menyatakannya, biarlah hal itu tetap jadi misteri-Nya. Biarlah hanya Dia yang tahu, mengapa semuanya harus terjadi.

Kalau toh Dia tidak menjawab, tetap saja Dia tidak berhutang penjelasan apapun pada kita, karena kita hanyalah ciptaan-Nya.

Bagaikan tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah Tuhan berhak melakukan apapun tanpa perlu menjelaskan maksud dan rencana-Nya dalam hidup kita di kehidupan ini.

Pernah naik kapal terbang..?! Atau...
Pernahkan naik kapal laut...?!

Kalau Pernah...
Apakah Anda harus kenal dengan pilotnya sebelum penerbangan...?!

Apakan Anda harus kenal sang nahkoda sebelum memutuskan untuk berlayar...?!

Tidak, bukan...?!
Mengapa demikian...?!

Karena kita yakin, sang pilot atau nahkoda, tidak akan salah arah.
Sebelum menerbangkan kita, dia pasti punya jam terbang yang cukup tinggi, sehingga dianggap mampu untuk menghadapi keadaan apapun di udara.

Bukankah demikian Tuhan kita itu...?!

Kenapa kita harus tahu semua jawaban...?!

Kenapa kita harus memahami semua...?!

Serahkan Sajalah segala kekuatiranmu itu kepada-Nya...!!!
Pasrahkan Sajalah semua ketakutanmu itu kepada-Nya...!!!

Karena DIA yang memelihara kita. Tuhan lebih dari sekedar pilot atau nahkoda berpengalaman manapun. Bahkan samudera dan badai pun diam dalam hardikan-Nya.

Jalankan saja IMAN-mu (Wahyu Panca Laku-ku)
Membersihkan Hati dari noda, lalu merawat dan menjaganya agar tidak ternoda lagi, itulah urusan kita.
Kelak, pada saatnya, kita akan mengerti, bahwa semua indah pada waktu-Nya.

Sekarang mungkin Para kadhang belum mengerti, karena belum bertemu dengan Sang Guru Sejati, tapi tidak apa. Jalani saja tanpa bertanya. Namun saat nanti, jika sudah berhasil menemui Sang Guru Sejati. Apapun itu, akan dinyatakan kepada kita, dengan penuh Cinta Kasih Sayang.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
http://facebook.com/tosowidjaya
www.wongedanbagu.com