Mengenai Saya

Foto saya

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untuk semuanya tanpa terkecuali. Perkenalkan Saya... Dengan Nama asli: Toso Wijaya. D.  Nama Lahir saya: Djaka Tolos. Dan Akrab di panggil Wong Edan Bagu atau WEB dalam dunia Spiritual Laku Ketuhanan. saya lahir di lereng gunung ciremai Cirebon jawa barat. Pada hari Rabu Pon, tgl 13/08/1959, Anak kedua dari empat bersaudara, yang lahir dari kedua orang tua, Bapak Bernama: Matsalim dan Ibu Bernaman Dewi Arimi.  Mulai dari Nenek moyang hingga ke bapak ibu sampai ke saya sendiri. Kami Suka Berspiritual. artinya... suka mempelajari hal-hal yang ga'ib. Tapi bukan sembarang Ghaib, karena Ghaib yang saya pelajari, adalah Ghaib-Nya Dzat Maha Suci Hidup (TUHAN). Bukan yang lain.  Karena itu Sejak usia 9 tahun, saya sudah mempelajari ilmu-ilmu katikjayan, kususnya ilmu kanuragan dan ilmu jaya kawijayan Warisan dari para leluhur saya di telatah tanah pasundan. Sebagai bekal untuk mengembara dalam melacak jejak Dzat Maha Suci yang Gha'ib.  

Dan setelah melalui berbagai macan dan banyak lika liku proses kehidupan. saya berhasil menemukan intisari pati Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sebenarnya, dari semua dan segalanya tentang Hidup dan Kehidupan BerTuhan... dan sejak itulah, saya berhenti mengembara dan berpetualang. Lalu menekuni secara Khusus/Istiqomah Laku Spiritual Hakikat Hidup. Yang pelajarannya saya dapatkan, dikala puasa ngebleng di goa singabarong pulau nusa kambangan cilacap jawa tengah,  yaitu,,. Wahyu Panca Laku. Cara untuk Mempraktekan Wahyu Panca Gha'ib, yang hanya mempelajari Hidup dan kehidupan serta Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya... disamping terus belajar dan belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya... Karena saya tidak suka Neko-neko. Saya membuka Pengobatan dan Konsultasi Alternatif Tradisional, mempraktekan ilmu pengobatan spesialist Stroke. Dengan Cara Terapi Pijat Urut dan Jamu Herbal Ramuan Sendiri. Yang pernah saya Pelajari dari beberapa orang Guru saya... Dan semoga, apa yang saya lakukan ini. bisa dan dapat bermanfaat pada diri saya sendiri dan buat semua saudara-saudari saya tanpa terkecuali..... Itulah sekelumit tentang saya dan mohon maklumnya jika terkesan berlebihan; Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian... _/!\_

Minggu, 16 Juli 2017

Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling. Tentang Guru Sejati. Bagian KeDelapan:



Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling.
Tentang Guru Sejati. Bagian KeDelapan:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Cirebon Jabar. Hari Senin. Tanggal 17 Juli 2017.

Firman Dzat Maha Suci dalam surat Luqman ayat 20. Yang artinya; “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat dzahir dan nikmat batin”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian....
Berdasarkan ayat di atas, diri kita sesungguhnya terbagi dua. Yang Pertama Diri Dzahir, yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata ini, dan dapat diraba oleh tangan, tersebut, wujud/tubuh/raga kita ini.Yang Kedua Diri Bathin, yaitu yang tidak dapat dipandang oleh mata, dan tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan secara nyata oleh panca indera kita.

Karena sedemikian pentingnya peran diri yang bathin ini, di dalam upaya untuk mengenal Dzat Maha Suci, itulah sebabnya Dzat Maha Suci menyuruh kita dengan firmannya, dalam surat az-Zariat ayat 21, agar supaya kita melihat ke dalam diri (introspeksi diri). Dzat Maha Suci memerintahkan kepada manusia, untuk memperhatikan ke dalam dirinya, disebabkan karena di dalam diri manusia itu, Dzat Maha Suci telah menciptakan sebuah mahligai, yang mana di dalamnya, Dzat Maha Suci telah menanamkan rahasia-Nya.

“Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu, mahligai, dan dalam mahligai itu, ada dada, dan di dalam dada itu, ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan di dalam mata hati (fuad) itu, ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu, ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) itu, ada rahasia (sirr) rasa, dan di dalam rahasia (sirr) rasa itulah Aku. Kata Dzat Maha Suci”.

Keterangan Satu;
Yang di maksud dari kalimat Mahligai, adalah kaliborasi Sedulur Papat Kalima Pancer, yang sedang berWahyu Panca Gha’ib Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Seperti di bawah ini Kronologinya;
1. Mutmainah – Menggunakan – 1. Kunci, untuk – 1. Pasrah kepada Dzat Maha Suci.
2. Aluamah – Menggunakan – 2. Paweling, untuk – 2. Menerima keputusan Dzat Maha Suci.
3. Hidup – Menggunakan – 3. Asmo, untuk – 3. Mempersilahkan kuasanya Dzat Maha Suci.
4. Supiyah – Menggunakan – 4. Mijil, untuk – 4. Merasakan keberada’an Dzat Maha Suci.
5. Amarah – Menggunakan – 5. Singkir, untuk – 5. Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci.


Keterangan Dua;
Sedang Yang di maksud dari kalimat...
Dada, adalah Rumah-nya.
Hati/Qalbu adalah Kamar-nya.
Mata Hati, adalah Pintu dan Jendala-nya.
Penutup Mata Hati, adalah Tirai atau kelambu-nya.
Nur Cahaya, adalah Bentuk atau Rupa-nya.
Sir atau Rasa, adalah Gerak-nya.
Dan di dalam Gerak-nya Sir atau Rasa” itulah Dzat Maha Suci berada.

Keterangan Tiga;
Kalau yang di sebutan Romo, adalah diri pribadi sejati, yang terdiri dari 5 isi tubuh kita, yaitu sedulur papat kalima pancer atau kawula gusti, yang sudah manunggal, sudah menyatu, sudah bersatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan lagi oleh apapun itu.

Sedulur papat kalau istilah ilmunya, kalau istilah spiritualnya empat anasir, kalau istilah kejawennya mutmainah, aluamah, supiyah, amarah, kalau istilah kebatinannya di sebut jibrail, mikail, ijroil dan isrofil ini. Jika sudah manunggal menjadi satu kesatuan, di sebut sebagai DIRI atau ruh/roh. Kalau sedulur papat kalima pancer yang manunggal, atau empat anasir dan hidup sudah manunggal, atau juga yang di sebut kawula gusti sudah manunggal, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, di sebut sebagai diri pribadi sejati atau kedirian sejati atau ROMO (Roh lan Komo atau Roh Mono yang maksudnya, adalah Rasa Manunggal/Menyatu), jadi, yang di maksud ROMO itu, manunggalnya atau menyatunya atau bersatunya kawula dan gusti atau empat anasir dan hidup atau empat malaikat dan rasul atau sedulur papat kalima pancer yang sudah bersatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Jadi,,, kalau diurut lapisan dimensinya seperti ini. Isinya wujud/jasad/raga kita sebagai manusia itu. Adalah ruh/roh yang terdiri dari sedulur papat, yang asalnya dari empat anasir, isinya ruh/roh. Adalah Ruh/Roh Suci atau Ruh/Roh Kudus atau Hidup, yang berasal dari Dzat Maha Suci. Sedangkan Isinya Ruh/Roh Suci atau Ruh/Roh Kudus atau Hidup yang berasal dari Dzat Maha Suci itu. Adalah Dzat Maha Suci itu sendiri. Sebab itu Dzat Maha Suci mengatakan. Bahwa Dia berada sangat dekat, bahkan teramat dekat, lebih dekat dari urat leher. Karena itu Dzat Maha Suci menegaskan. Kalau hendak mencari-Nya, carilah kedalam dirimu sendiri. Karena itu dan sebab itu Dzat Maha Suci menjelaskan. Jika ingin mengenal-Nya, kenalilah dirimu sendiri. Barang siapa mengenal dirinya. Nescaya dia mengenal Tuhan-nya.

Sebab itu dan Karena itu...
Kenalilah Raga/Jasad/Tubuh-mu dan Jiwa/ruh/diri-mu serta Hidup/Ruh/Guru Sejatimu, dan engkau akan mengenal Dzat Maha Suci Tuhan-mu. Pada umumnya, orang hanya mengetahui, bahwa manusia itu, hanya terdiri dari jasad dan ruh saja. Mereka tidak memahami, bahkan tidak menyadari, bahwa sesungguhnya, tanpa Hidup atau Ruh Suci, jasad dan tuh itu, tiada bisa berbuat apa-apa. Manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu. Raga/Jasad/Tubuh dan Jiwa/ruh serta Ruh suci/Hidup. Ini dapat dibuktikan di 3 firman Dzat Maha Suci dalam yang tersurat dalam al-qitab.

(1) Surah Shaad ayat (38:71-73) yang Artinya;
“Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya, maka Ku tiupkan kepadanya Ruh-Ku. Maka hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya”Lalu seluruh para malaikat itu bersujud semuannya.

(2) Pada ayat yang lain. Dzat Maha Suci menjelaskan tentang penciptaan jiwa (nafs). Surah Asy Syams ayat (91:7-10) , yang Artinya; “Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu, jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya”

(3) Pada ayat yang lain lagi. Dzat Maha Suci menjelaskan tentang proses kejadian jasad (jisim). Dalam Surah Al Mukminun ayat (23:12-14), yang Artinya;
“Dan sesungguhnya. Kami telah menciptkan manusia dari saripati tanah, Kemudian jadilah saripati itu air mani, yang disimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu, Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini/ Kami bungkus dengan daging. Kemudian. Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain, maka Dzat Maha Suci. Pencipta yang paling baik”

1. Tentang Jasad/raga/tubuh;
Jasad atau jisim, adalah angggota tubuh manusia terdiri dari mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan lain-lain sekujur tubuh kita ini. Ia dijadikan dari tanah liat, yang termasuk dalam derejat paling rendah. Keadaannya dan sifatnya dapat mencium, meraba, melihat. Dari jasad ini timbullah kecenderungan dan keinginan yang disebut Syahwat. Ini dijelaskan dalam Al-Quran Surat Ali
Imran, yang Artinya;


“Dijadikan indah pada pandangan manusia, merasa kecinta’an apa-apa yang dingininya (syahwat),yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang bertimbun dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatan ternakan dan sawah ladang,Itulah kesenangan hidup di dunia, dan kepada Dzat Maha Suci tempat sebaik-baik kembali”

Sungguh saya telah membuktikannya dengan Wahyu Panca Gha’ib, yang saya Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Dan hasil yang saya dapatkan, adalah Benar dan tepat.

2. Tentang Jiwa/ruh/diri (Nafs);
Kebanyakan orang mengaitkannya dengan diri manusia atau jiwa. Padahal jiwa berkaitan dengan derejat atau kedudukan manusia, yang paling rendah dan yang paling tinggi. Jiwa ini memiliki dua jalan yaitu. Pertama... Menuju hawa nafsu (nafs sebagai hawa nafsu). Kedua... Menuju hakikat manusia (nafs sebagai diri manusia).

Hawa nafsu lebih cenderung kepada sifat-sifat tercela, yang menyesatkan dan menjauhkan manusia dari Dzat Maha Suci. Sebagaimana Dzat Maha Suci berfirman, dalam surah (Shaad ayat; 26) yang Artinya;
“..... dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan kamu dari jalan-Ku” Kaitan hati dan hawa nafsu;
Hati memainkan peranan yang sangat penting dalam diri manusia, ia menjadi sasaran utama Syaitan. Syaitan berdaya upaya menutupi hati manusia dari menerima Nur llahi (Cahaya Dzat Maha Suci). Dan Lagi... Nafsu inilah yang disebut Setan/Iblis.

Sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud;
Jikalau tidak kerena syaitan-syaitan itu menutupi hati anak Adam, pasti mereka telah milihat keraja’an langit Allah (Maksudnya Kebenaran Dzat Maha Suci yang Maha Segalanya).

Itu sebab... Rasulullah pernah berpesan, setelah kembali dari perang Badar. Beliau bersabda;
Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu, yang berada di antara kedua lambungmu (Riwayat Al-Baihaki). Jihad yang paling utama adalah jihad memerangi hawa nafsumu sendiri. (Riwayat Abnu An-Najari)

Nafs atau setan atau iblis atau jiwa ini, sebagaian dari diri manusia, dan suatu yang paling berharga, bukan untuk di lupakan apa lagi di singkirkan, kerana Ia berkaitan dengan nilai hidup manusia, dan nafs atau diri atau ruh atau manunggalnya sedulur papat, yang diberi rahmat dan redha oleh Dzat Maha Suci. Sebagaimana firmannya dalam surah (Al-Fajr, ayat; 27-30 ) yang Artinya;
“Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah. Aluamah. Supiyah. Amarah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diredhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang beriman dan masuklah ke dalam Syurga-Ku”

Dan lagi dalam surah (Yusuf: 53) Dzat Maha Suci Berfirman, yang Artinya;
“Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, kerana sesungguhnya nafsu itu, selalu menyuruh ke arah kejahatan, kecuali nafsu yang beri rahmat oleh Tuhanku”

Firman diatas Berkaitan dengan sabda Rasulullah yang Artinya;
“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” dan saya sudah membuktikannya dengan menggunakan Wahyu Panca Gha’in yang saya ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku.

Firman dan Hadist yang saya ikut sertakan dalam artikel ini, menyatakan syarat-syarat untuk mengenal Dzat Maha Suci, adalah dengan mengenal diri. Dan diri atau nafs/ruh yang di maksud di sini, adalah empat anasir atau atau sedulur papat yang sudah manunggal, sudah menyatu, karena kalau sudah manunggal/menyatu, sudah tidak terpengaruh oleh guncangan sikon apapun. Setiap manusia mempunyai nafs/ruh/diri yang sama, hanya saja berbeda cara menerapkannya. Ada nafs/ruh/diri yang di gunakan untuk menuju jalan nur /cahaya ilahi. Dan ada nafs/ruh/diri yang di gunakan untuk menuju kepuasa sesaat.

Bagi nafs yang menuju kepuasa atau nafs tercela, ya tidak sempurna hidup matinya, andai kata bisa tenang/berhasil/sukses, tetap tidak sempurna, jadi, walau tenang, jika ada masalah pasti bingung, walau berhasil, kalau ada persoalan pasti gugup, walau sukses, jika ada kepentingan atau keperluan, sudah pasti akan ragu, bimbang, khawatir bahkan takut. Jangan-jangan... Jangan-jangan... dan jangan kangkung sambel trasi. He he he . . . Edan Tenan.

Para kadhang kinasihku sekalian, sungguh ini saya katakan dengan sangat jujur. Nafsu ini hanya dapat dikenali dan disaksikan, dengan kemampuan tertentu manusia, yaitu dengan Hati/Bathin yang murni. Sungguh saya telah membuktikannya dengan Wahyu Panca Gha’ib, yang saya Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Dan hasil yang saya dapatkan, adalah Benar dan tepat, kalau tidak, bisa saya pastikan, tidak akan tahu bahwa sesungguhnya Patrap atau Semedi atau Sembahyang/Sholat atau ibadahnya itu, Nafsu atau Bukan.

3. Tentang Ruh Suci/Hidup/Guru Sejati;
Ruh suci mempunyai dua arah pengertian umum, yaitu;
Pertama yaitu. Sebagai nyawa.Kedua yaitu. Sebagai suatu yang halus dari menusia (pemberi cahaya kepada jiwa/ruh atau yang menghidupkan jiwa/ruh dan raga/tubuh/jasad).

Saya gambarkan seperti ini.
Ruh Suci sebagai nyawa kepada jasad atau tubuh. Ia ibarat sebuah lampu yang menerangi ruangan. Ruh adalah lampu, ruangan adalah sebagai tubuh. Jika lampu menyala, maka ruangan menjadi terang. Jadi tubuh/raga/badan kita ini, bisa itu dan ini kerena ada Ruh Suci (Hidup). Didalamnya. Sebaliknya, jika lampu itu tidak menyala, sudah pasti, gelap gulitalah ruangan itu, jadi, tidak bisa apa-apa, dan ini, yang disebut mati.

Dalam Al-Quran kata ruh disebut dengan sebutan ruhul amin dan ruhul awwal atau ruhul qudsiyah. ruhul amin dan ruhul awwal atau ruhul qudsiyah ini, berasal dari empat anasir, bukan dari Dzat Maha Suci. Empat anasir itu, masing-masing tersebut; Air. Angin. Api dan Sarinya Bumi. Empat anasir ini, setelah menjadi ruh, disebut Jibrail. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil kalau istilah agamanya. Dan istilah kejawenya disebut. Sedulur Papat atau Kakang kawah. Adi ari-ari. Sedulur tunggal ketok Puser lan Getih. Kalau istilah spiritualnya, di sebut Mutmainnah. Aluamah. Supiyah dan Amarah.

Empat anasir ini, tak kala belum manunggal/menyatu. Disebut sebagai ruhul awwal, dan kalau sudah manunggal/menyatu, disebut ruhul qudsiyah, sedangkan sebutan ruhul amin atau Ar Ruh Al –Amin, adalah gelar istimewa baginya, yang di anugrahkan khusus untuk mereka berempat, setelah manunggal/menyatu. Dan ruhul qudsiyah inilah yang dimaksud sebagai diri atau ruh atau nyawa atau sukma bergelar ruhul amin.

Kesimpulannya;
Jadi, yang di sebut diri atau ruh atau nyawa atau sukma itu, adalah yang berasal dan berbahan dari empat anasir. Tersebut. Air. Angin. Api dan Sari Bumi, dalam istilah keilmuannya dan disebut Jibrail. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil kalau istilah kebatinannya, dan istilah kejawenya disebut. Sedulur Papat atau Kakang kawah. Adi ari-ari. Sedulur tunggal ketok Puser lan Getih. Kalau istilah spiritualnya, di sebut Mutmainnah. Aluamah. Supiyah dan Amarah. Bukan Ruh Suci atau Hidup, yang berasal dari Dzat Maha Suci.

Jadi, empat anasir yang dalam istilah kitabnya disebut ruhul awwal atau qudsiyah itu, berati bukan Ruh Suci atau Hidup atau Ruh Kudus, yang datang dari Dzat Maha Suci atau yang berasal dari Dzat Maha Suci, ruhul awwal atau qudsiyah atau diri atau ruh atau nyawa atau sukma yang berasal dari empat anasir ini, di bekalkan kepada jasad/raga/tubuh manusia, sebagai alat atau perisai atau sarana. Ia bercahaya empat warna yang khas, apabila nafsu telah sempurna. Maksudnya sudah manunggal/menyatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan oleh guncangan apapun (Bersih Hati), tersebut “DIRI” atau jati diri dengan gelar sebagai ruhul amin (ruh yang terberkati).

Hati merupakan raja bagi seluruh tubuh manusia. Perilaku dan perangai seseorang, merupakan cerminan hatinya. Dari hati inilah pintu dan jalan yang dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan-nya. Dengan demikian, untuk mengenal diri, harus dimulai dengan mengenal hati sendiri. Yang artinya, mengenal diri, berati mengenal Hatinya sendiri. Mencari jati diri, berati mencari sedulur papatnya sendiri, dan Mengenal diri atau Mencari Jati diri, berati mengenal Ruh sucinya sendiri atau Hidupnya sendiri atau Guru Sejatinya sendiri. Dan mengenal Ruh sucinya atau Hidupnya atau Guru Sejatinya sendiri, berati mengenal Dzat Maha Suci Tuhan-nya sendiri.

Hati mempunyai dua pengertian umum;
Pertama; Hati jasmani, yaitu sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, hati jenis Ini, hewan pun memilikinya. Jadi,,, tak ada istimewanya.

Kedua; Hati Ruhaniyyah, atau yang lebih di kenal dengan sebutan Bathin/Qalbu, yaitu sesuatu yang halus (isinya hati). Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake anane Urip kang nyata-nyata ana Rasane, yang bisa mengerti, mengetahui, memahami. Dinilai juga dengan Hati/Latifah Ruhaniyyah. Hati/Latifah Ruhaniyyah inilah, yang merupakan tempat iman dan tempat mengenal diri. Sebagaimana firman Dzat Maha Suci yang mengatakan. “Tidak akan cukup menanggung untuk-Ku, bumi dan langit-Ku, tetapi cukup bagi-Ku, hanyalah hati (qalb) qalbu hamba-Ku yang Suci/Bersih” Hati orang-orang beriman disebut sebagai Baitullah (Rumah Allah). Artinya; ya Dzat Maha Suci itu sendirilah isi dari hati itu.

Empat anasir atau yang dalam bahasa kitabnya disebut Ruhul awwal atau Ruhul qudsiyah, yang telah mendapatkan gelar sebagai Ruhul amin, adalah bukti kebenaran nyatanya Dzat Maha Suci, yang ada di dalam diri manusia. Dzat Maha Suci adalah sumber cahaya langit dan bumi dan Ruh Suci atau Hidup adalah sumber cahaya yang ada dalam hati/qalbu, yang digambarkan sebagai pelita, Sebagaimana firman-Nya dalam surah (An Nuur. Ayat. 35) yang Artinya;
Dzat Maha Suci (Allah/Gusti/Tuhan), adalah cahaya langit dan bumi. Perumpama’an cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tertembus oleh apapun dan dengan apapun, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita ini di dalam kaca, dan kaca ini seakan-akan bintang yang memantulkan cahaya seperti mutiara. Sedangkan ruhul awwal atau ruhul qudsiyah atau sedulur papat atau diri, yang bergelar sebagai ruhul amin, adalah sarana/alat untuk mengenalnya, mengetahuinya. He he he . . . Edan Tenan.

Namun sayang seribu kali sayang, kebanyakkan manusia sa’at ini, menganggap dan beranggap bahwa Hidup di dunia ini, hanyalah cukup makan, tidur, bangung, bergerak, mencari kemewahan, bekerja, beristri dan beranak pinak saja, mereka mengangap bahwa jasad kasar mereka itu, hidup dengan sendiri nya, yang membolehkan mereka melakukan kesemuanya itu, sehingga mereka tak ada pernah ada waktu untuk berfikir dan merenung, bahwa jasad mereka itu, sebenar nya hanyalah benda mati, yang tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak bisa bergerak dengan sendirinya, jika tanpa ada sesuatu yang menghidupkan-nya.

Mereka kira, mereka bisa punya istri cantik, karena mereka tampan, mereka bisa kaya, karena mereka giyat bekerja/berbisnis, mereka bisa beribadah, kerena mereka punya ilmu pengalaman agama, mereka bisa menyebut Allah dengan suara yang lantang dan bisa berdoa, karena mereka khusyu’, mereka bisa itu dan ini karena mereka sehat dan bisa dll. Padahal,,, tanpa adanya yang menggerakan di dalam dirinya. Yaitu Hidup, tidak peduli sehat atau sakit, cerdas atau bodoh, ahli bisnis atau apapun pengakuannya. Mereka tidak ubahnya seonggok mayat, calon santapan cacing tanah.

Para Kadhang Kinasihku sekalian....
Ketahuilah dengan sadar, tanpa yang hidup itu, jasad tidak ada arti-nya. Tetapi benda mati ini lah yang dijaga dan diutamakan oleh kebanyakan orang di dunia ini. Sedangkan semua tahu, bila mati kelak, jasad akan busuk dan di tanam atau di bakar. Ini menunjukkan mati, iyalah bila hidup yang menghidupkan jasad tadi, meninggalakan jasad/tubuh.

Inilah rahasia hidup kita, dan Diri inilah, yang digunakan untuk mengenali Ruh Suci atau Hidup atau Guru Sejati kita, selagi ada hayatnya di dunia ini. Ruh suci atau Guru Sejati atau Hidup ini, harus di kenal dan dirasakan sepenuhnya oleh kita, dengan sarana Diri atau sedulur papat kita. kerana ia mengandung dan memegang banyak rahasia Dzat Maha Suci, dan serba guna, baik di dunia maupun di akhirat. “Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, karena di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang
dapat menjamin jiwa raga, lahir bathin, hidup mati dan dunia akheratmu”

Kenal kah Diri itu dengan Ruh suci...?! Sudah tentu Kenal. Lalu... Kenalkah Ruh suci itu kepada Dzat Maha Suci Tuhan-nya...?! Sudah Pasti kenal, kerana dia datang dan berasal dari Dzat Maha Suci Tuhan, dari Sang Pencipta dan Pemilik asal usulnya semua dan Segalanya yang ada dan tiada.

Banyak lagi manfaat yang akan timbul apabila kita dapat mengenal Diri, yang Tersebut Sedulur Papat kita ini. Terutama yaitu Diri yang sebenar-benarnya diri kita atau ruh kita, karena dia merupakan esensi seluruh ilmu Tuhan, kita harus belajar dari Diri/ruh, untuk bisa mengenal Ruh suci yang menghidupkan jasad/raga kita ini, yang menjadikan kita bisa itu dan ini.

Dia mengetahui, kerana dia datang dari yang MAHA mengetahui. Dia bijaksana,kerana dia datang dari yang MAHA bijaksana. Dia lah sebaik-baiknya Guru, kaena dia adalah Sang Guru Sejati.

Kehidupan sebenarnya adalah di dalam, karena itu, masuklah kedalam, jangan Keluar, jika hendak mencari jati diri, guru sejati dan Dzat Maha Suci yang Maha dari segala yang Maha.


Kesimpulan;
Kenalilah hatimu jika ingin mengenal dirimu. Kenalilah dirimu/ruhmu/sedulur papatmu, jika ingin mengenal Ruh suci/Hidup/Guru Sejatimu. Kenalilah Ruh/Hidup/Guru Sejatimu, jika ingin mengenal Dzat Maha Suci Tuhan-mu. Silahkan dengan cara apapun yang kalian Suka dan bisa, apakah dengan ilmu, kebatinan, kejawen, perguruan, agama, golongan, kepercaya’an, politik, uang, harta, tahta, wanita/lelaki, atau Wahyu Panca Ghaib. Apapun boleh dan silahkan, karena itu HAM, hak asasi manusia. jadi,,, terserah. Yang penting kita suka dan bisa serta mau menjalankannya dengan benar dan sungguh-sungguh. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan karena ego dan gengsi.

Sebab lelaku atau usaha Mengenal Diri atau Jati Diri, adalah suatu HAM juga. Artinya, pengetahuan yang harus di ketahui oleh semua orang/manusia hidup tanpa terkecuali, dan tiap-tiap manusia hidup, membawanya di dalam jasad kasar mereka masing-masing.

“Barang siapa mengenal dirinya. Niscaya Akan Mengenal Tuhan-nya”

Kalimat yang sederhana diatas, bermaksud seperti ini "kenali dirimu, maka akan mengenal Tuhanmu" sederhana bukan, namun jangan menyederhakan, karena kalimat ini, merupakan sebuah sabdanya HIDUP. Harus kah penghidup jasad kita ini, kita biarkan begitu saja, tanpa mengenali dan merasakan buktinyatanya...?! Hanya semasa maut hampir datang menjemput, baru kita sadar dan sambat sumbut, bahwa dia akan meninggalkan jasad/raga kita. He he he . . .Edan Tenan.

Bahasa Spiritualnya; “Barang siapa mengenal dirinya. Niscaya Akan Mengenal Tuhan-nya”

Bahasa kitab-nya; "Man arofa nafsahu faarofa robbahu"

Kalau bahasa Wong Edan Bagu-nya;
“Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena didalam tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin jiwa ragamu, lahir bathinmi, hidup matimu dan dunia akheratmu”

Untuk Para Kadhang kinasih didikan saya, khususnya pemegang Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup “Kunci The Power” sekalian dimanapun berada, Al-khususnya untuk yang sudah sampai di tahapan Pengenalan Guru Sejati. Yaitu Dua Sabda yang sudah saya berikan. Tersebut Sabda Sateriya Sejati untuk bab Sedulur Papat dan Sabda Sejatine Sateriya untuk bab Guru sejati. Perlu saya ingatkan kembali mengenai kesadaran murni kita, disaat membaca uni/bunyinya Kunci. Yang pernah saya wejangkan secara langsung maupun secara tidak langsung. Karena kesadaran murni kita, disaat membaca atau menyuarakan uni/bunyinya Kunci inilah, yang menentukan cepat atau tidaknya pertemuan kita dengan Sang Guru Sejati kita.

KUNCI:
1. Ayat Pertama; “Gusti Ingkang Moho Suci” Maksudnya...
Sebelum Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menciptakan Alam-alam atau Dimensi-dimensi, termasuk Alam Semesta, Dimensi Arasy, Bumi dan Langit beserta isinya, yang ada hanyalah Dzat di Kesunyian Sejati Hyang Maha Suci. Alam Tunggal Sejati atau Alam Kumpul Nunggal Suci “KUNCI”. Dalam istilah lainnya “Ghaibul Ghaib”.

KUNCI:
2. Ayat Kedua; “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” Maksudnya...
Kulo itu sipatnya manusia. Nyuwun pangapuro itu sikapnya manusia. Dumateng itu jarak jauh dekatnya manusia dan Tuhan-nya. Gusti Ingkang Maha Suci itu. Dzat Tuhan/Allah. Pada hakikatnya, manusia itu, tidak bisa apa-apa, kecuali Nyuwun Pangapuro “Mohon Ampunan” atas sipat dan sikapnya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya.

KUNCI:
3. Ayat Ketiga; “Sirolah Datolah Sipatolah” Maksudnya...
SIR adalah Sabda-Nya, yaitu Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Singkir
“Wahyu Panca Gha’ib”. Dat itu Dzat “ Maha Suci”. SIFAT adalah bukti adanya kehidupan Hidup, pohon nyawa/sukma, wadah amal/ibadah, kubur/maqom sejati. Hidup-nya segala rupa dan wujud. Seluruh isi tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, asalnya dari satu cahaya saja, yaitu Cahaya Allah, yang lebih di kenal dengan sebutan Nurrullah, kemudian Nurrullah berkehendak, dan kehendak inilah, yang di sebut-sebut Nurr Muhammad. Jadi,,, artinya Nur Muhammad itu, adalah kehendak-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dalam kata lainnya Rasullullah, yang artinya “Utusan Maha Agung”. Maksud dari Utusan, adalah Cinta. Maksud dari Maha, adalah Kasih. Maksud
dari Agung, adalah Sayang.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang sedang bergerak sebagai/menjadi Nurrullah ini, kemudian berkehendak/Nur Muhammad. Kehendak yang di sebut Nur Muhammad inilah, yang menjadikan Alam Dunia dan isinya.

Dzat Maha Suci dan Nurrullah dan Nur Muhammad. Atau Cinta Kasih Sayang atau Sir Dat Sipat ini. Tidak bisa Pisah dan Tidak bisa Jauh. Karena ketiganya salin terkait dan berkait, dan hakikatnya adalah Satu. Itu Sebab di sebut “KUNCI” yang maksudnya Kumpul Nunggal Suci “Satu Kesatuan Suci”

Seperti Bentuk/Wujud Gula dan Rasanya;
SIR adalah Sebutannya Gula. DZAT adalah Manisnya Gula, SIFAT adalah bentuk/wujud Gulanya.SIR adalah Namanya Bunga. DZAT adalah Wanginya Bunga, SIFAT adalah Bentuk/Wujudnya Bunga. SIR dan DZAT serta SIFAT, adalah PASTI. TIDAK AKAN ADA SIR, jika tidak ada DZAT, tidak ada DZAT kalau tidak ada Sipat. Begitupun sebaliknya.

KUNCI:
4. Ayat Ke’empat; “Kulo Sejatine Sateriyo” Maksudnya...
Sir Dat Sipat atau Cinta Kasih Sayang ini. Jika bersatu/manunggal, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti pada hakikat awalnya. Yaitu “Dzat Maha Suci”.”Nurrullah”.”Nur Muhammad”. Maka akan mengeluarkan cahaya empat rupa. Yaitu; Merah, Kuning,Putih, Hitam, empat cahaya ini, lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat, tersebut kakang kawah, adi ari-ari, sedulur puser lan getih, atau Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah, atau malaikat empat, tersebut jibril, mikail, ijroil dan isrofil, dan empat cahaya inilah, yang disebut Nur Ilmu Muhammad.yaitu Hakikatnya Adam. Asal Dumadi Ananing Manungsa. Bibit untuk Alam Dhohir/Lahir. “Kulo Sejatine Sateriyo” adalah bekerja samanya atau manunggalnya atau menyatunya atau bersatunya Dzat Maha Suci. Nurrullah. Nur Muhammad atau Sir Dat Sipat atau Cinta Kasih Sayang yang di olah, maksudnya di pelajari. Jadi... “Kulo Sejatine Sateriyo” itu, adalah Nur Ilmu Muhammad-nya Nur Muhammad “Ilmu-nya Hidup”.

Untuk lebih singkat dan jelasnya. Yang di sebut Nur Ilmu Muhammad itu, adalah sedulur papat. Yang di sebut Nur Muhammad itu, adalah Hidup atau pancer. Yang di sebut Nurrullah itu, adalah yang menghidupkan atau yang memerintah atau yang menguasai. Dalam kata lain; Sedulur papat itu ilmunya Hidup, dan Hidup itu Utusan Dzat Maha Suci.

Kalau di kembalikan pada kalimat awal. Cinta itu Dzat Maha Suci.
Kasih itu Hidup. Sayang itu Sedulur Papat. Atau... Cinta atau Dzat
Maha Suci itu yang mengutus. Kasih atau Hidup itu yang di utus.
Sayang atau sedulur papat itu bekal ilmunya.

KUNCI:
5. Ayat Kelima; “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” Maksudnya...
Bukan memohon agar terlaksana maksud tujuan/hajatnya dan meminta kekuasa’an. Bukan... Maksud dari Ayat “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” Adalah; Nyuwun itu Laku. Wicaksono itu Nur Ilmu Muhammad atau sedulur papat “Sayang”. Panguwoso itu Nur Muhammad atau Hidup/Pancer “Kasih”. Tepatnya. Obah Polah atau Bergeraknya seluruh anggota badan/tubuh kita, yang di kendalikan oleh Nur Muhammad/Hidup, dengan menggunakan Sedulur Papat/Nur Ilmu Muhammad, sebagai alat/senjatanya. Amarah dari Daging, kuasanya keluar melalui Telingan. Aluamah dari Sungsum, kuasanya keluar menuju Mata. Supiyah dari Kulit, kuasanya keluar menuju Mulut. Mutmainah dari
Tulang, kuasanya keluar menuju Hidung.

KUNCI:
6. Ayat Ke’enam; “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati” Maksudnya...
Tumindak itu, perbuatan sipat dan sikap. Sateriyo itu, manusia. Sejati itu, Hidup. Jadi, maksud daripada “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati” adalah, perbuatan sipat dan sikapnya manusia Hidup, yaitu diri kita ini. Kalau di gabung atau di sambungkan dengan ayat kelima; “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso”. “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati”.

Maksudnya adalah;
Obah Polah atau Bergeraknya seluruh anggota badan/tubuh kita, yang di kendalikan oleh Nur Muhammad/Hidup, dengan menggunakan Sedulur Papat/Nur Ilmu Muhammad. Untuk Perbuatan sipat dan sikap-nya manusia Hidup, bukan manusia mati. Manusia Hidup. Pasti selamat. Sebab hakikat Manusia Hidup, adalah tidak bisa pisah dan tidak bisa jauh dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Seperti yang sudah diungkap pada bagian atas tadi. Jadi,,, tidak mungkin celaka.Kecuali jika berpisah jauh dengan Dzat Maha Suci. Karena hakikat dari berpisah dan jauh dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Itulah manusia-manusia mati. Jadi,,, sudah pasti hanya celakalah yang
merekan temui dan dapatkan.

Sir Dzat Sipat inilah, yang memangku/menopang Alam Semesta Dunia Seisinya, semuanya terliputi oleh tiga cahaya yang menyatu menjadi satu kesatuan. Yaitu; Sir. Dzat. Sipat. atau Cinta Kasih Sayang. atau Nurrullah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad. Atau Dzat Maha Suci. Hidup. Sedulur Papat.

KUNCI:
7. Ayat Ketujuh; “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindak Ingkang Luput” Maksudnya...
Luput itu tidak tepat/melesed. Jika kita Manusia Hidup, kita bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita, yang Maha diatas segala yang Maha. Mustahil melesed. Semua bala bencana yang melukai, segalah hiruk pikuk yang mencelakai. Akan sirna lebur tanpo dadi. Yang ada hanya kesempurna’an Iman Cinta Kasih Sayang yang mengglobal, bukan terpuruk dalam kotak dibawah bendera.

“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”
Semua umat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, wajib marifat, harus tahu tentang iman sejati, maksudnya iman yang sebenarnya ini, iman yang hanya menuju satu titik, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya. Agar tidak luput/melesed. Itulah maksud dari ayat ke tujuh yang berbunyi “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindak Ingkang Luput”

Para Kadhang kinasih didikan saya, khususnya pemegang Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup “Kunci The Power” sekalian dimanapun berada, Al-khususnya untuk yang sudah sampai di tahapan Pengenalan Guru Sejati. Yaitu Dua Sabda yang sudah saya berikan. Tersebut Sabda Sateriya Sejati untuk bab Sedulur Papat dan Sabda Sejatine Sateriya untuk bab Guru sejati. Ketahuilah dengan kesadaranmu. Bahwasannya;

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, hanya bisa dikenal, jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Jika Iman-mu kemomoran/terbagi, tidak murni, kita akan selalu melesed, tidak tepat, sehingganya, selalu capek, jenuh, ragu bahkan takut. Jika sudah melesed, kita tidak akan bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Nur Muhammad atau Roh Suci atau Roh Kudus atau sedulur Pancer atau Guru Sejati alias Hidup kita sendiri. Inilah jalan pulang yang paling sempurna.

“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada Sejatinya Hidup, sifat dan
sikap hidup yang sebenarnya harus di dapat. Sejatinya Hidup adalah bibit segala rupa. Samudra Ilmu dan Kehidupan. “Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi” INGAT ITU.

Sebab itu, mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo dawuh. “Kunci Keno Kanggo Opo Wae” artinya, kunci bisa untuk apa saja, bagaimana tidak, di dalam Kunci ada tiga INTISARIPATI segala dan semuanya. Yaitu Nurullah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad atau Sir. Dzat. Sipat atau Cinta Kasih Sayang. Tapi ingat,,, “Waton Ora Tumindak Luput” maksudnya, tidak melesed dari sasaran, yaitu; “Inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun” atau “Sangkan paraning dumadi” kita berasal dari Dzat Maha Suci dan Milik Dzat Maha Suci serta akan kembali hanya kepada Dzat Maha Suci. Titik. Tidak bisa di tawar. Menawar. Sakit. Bahkan celaka.

Memandang Hakikat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di Dunia dengan mata Bathin, maksudnya Rasa yang sadar dan sadar yang murni. Bila Qolbu manusia hidup, sudah menggunakan Nur Ilmu Muhammad, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat bersua, melihat/menemui/memeluk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dimanapun dan kapanpun, sehingga bisa merasakan secara nyata, nikmatnya tenteram yang sempurna dari Dunia sampai di Akhirat, tidak merasakan berpisah dengan Dzat Maha Suci. Lantaran ROMO, tiga wujud, yaitu Nurullah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad, telah menyatu/manunggal, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti pada awal mulanya terjadi.

Siang dan malam Qolbu kita ditempati oleh Sifat dan sikap Nurullah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad, untuk senantiasa bisa bersua, melihat/menemui/memeluk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bercumbu mesrah setiap saat. Bersambung Ke Bagian KeSembilan.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Kinasih Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://facebook.com/tosowidjaya
http://putraramasejati.wordpress.com/
http://webdjakatolos.blogspot.com/

Jeda Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling. Tentang Guru Sejati. Setelah Bagian KeTujuh sebelum Bagian KeDelapan:


Jeda Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling. Tentang Guru Sejati. Setelah Bagian KeTujuh sebelum Bagian KeDelapan:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Pautera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jateng. Hari Sabtu. Tanggal 15 Juli 2017.

TENTANG REINKARNASI

Para sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian... Ketahuilah.
Kamatian yang paling menyiksa, adalah reinkarnasi, kenapa saya sebut sebagai kematian yang paling menyiksa...?!

Reinkarnasi adalah dari bahasa Latin, yang artinya "lahir kembali" atau "kelahiran kembali, merujuk kepada kepercayaan, bahwa seseorang itu akan mati, lalu mempersiapkan dirinya sebelum ajal tiba dan mematikan diri, agar bisa lahir kembali, dalam bentuk kehidupan yang lain.

Alternatif ini, biasanya di lakukan oleh seorang pelaku spiritual, yang semasa hidupnya, gagal menemukan jatidiri untuk mengenal sang guru sejati, sehingganya, gagal pula dalam mengetahui Tuhan-nya. Lalu,,, dia bereinkarnasi, lahir kembali ke dunia ini, dengan bentuk kehidupan yang lain, tujuannya untuk menyelesaikan spiritualnya yang gagal itu.

Reinkarnasi, hakikatnya adalah mati bunuh diri, tapi lebih halus, kalau bunuh diri itu mematikan diri dengan keputus asaan menggunakan alat, dan tidak bisa lahir kembali, kalau reinkarnasi, itu mematikan diri dengan semangat menggunakan ilmu, dan bisa lahir kembali.

Heeeemmmm.... Bagaimana tidak menyiksa dan tersiksa, hidup sekali saja di dunia ini, pengapnya sudah minta ampun, apa lagi sampai dua tiga kali, dan lagi, iya kalau lahirnya itu lebih baik, kalau hidupannya jauh lebih buruk lagi...!!! Coba pikir. He he he . . . Edan Tenan.

Contohnya adalah Guru saya sendiri.
Berikut sekilas Riwayatnya;
Dulu, saya pernah belajar ilmu Manunggaling Kawula Gusti, kalau istilah islam jawanya, istilah islam arabnya, “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid agama, yang merujuk pada Firman Tuhan yang berbunyi; ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa, kecuali Dzat Maha Suci Allah, yang pernah di pelajari oleh seorang wali legendaris jawa, yaitu Syeikh Siti Jenar.

Syeikh Siti Jenar atau Syeikh Abdul Jalil adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy. Syeikh Siti Jenar atau Syeikh Abdul Jalil, yang bernama asli Sayyid Hasan Ali Al-Husain. Habib asal persia iran, masih keturunan Nabi Muhammad, Yang kala itu syiar dan tinggal di Caruban, sebelah tenggara Cirebon, lalu mendapatkan gelar sebagai Syeikh Siti Jenar atau Syeikh Lemah Abang atau Syeikh Lemah Brit.

Dan guruku ini, bernama Hamzah Fansuri, yang menurut pengakuannya, adalah murid kesayangan syeikh siti jenar, dan sudah pernah melakukan reinkarnasi hingga tiga kali, dia lakukan itu, karena di kehidupan kesatu, kedua dan ketiganya, dia gagal mengenal guru sejatinya, sehingga gagal pula mengetahui Tuhan.

Saat itu, dihapanku, secara empat mata denganku. Hamzah Fansuri guruku, mengatakan itu semua kepadaku, katanya, dulu dia adalah anak seorang demang di kasunanan pakungwati cirebon, pada masa kejayaan para wali 9, yang kebetulan memiliki kesempatan untuk bisa berguru di pesantren milik Syekh Siti Jenar yang terletak di Lemah Abang Wilayah Keraton Kasunanan Pakungwati Cirebon, yang kala itu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, dan yang bertahtah adalah Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung jati.

Pada saat guruku lahir sebagai anak demang, bernama Hamzah Fansuri, sehingga memiliki kesempatan untuk bisa berguru di pesantren mewah milik Syekh Siti Jenar, sebagai seorang murid kesayangan, sudah tentu memiliki pengetahuan yang luar biasa, namun mengalami kegagalan saat masuk kepelajaran bab pengenalan guru sejati, disebabkan Sang Guru Syeikh Siti Jenar meninggal dunia sebelum murid kesayangannya berhasil mencapai pengenalan guru sejati.

Karena kegagalan spiritualnya itu, lalu melakukan reinkarnasi hingga tiga kali, untuk bisa lahir kembali kedunia, demi suksesnya spiritual, di kelahiran kedua, lahir sebagai anak petani, dengan nama Hasanudin, sehingganya mengalami kesulitan belajar, karena keterbatasan ekonomi, karena gagal lagi, lalu lahir kembali untuk yang ketiga kalinya, sebagai anak tukang kayu, dengan nama muhammad shidiq, karena gagal lagi, lalu lahir kembali, untuk yang ke empat kalinya, sebagai anak penjual empal gentong, makanan khas cirebon, yang kebetulan agamanya kental, dan sedikit mampun, sehingga, bisa mesantren hingga lulus, di kelahiran yang ke empatnya ini, menggunakan nama Ahmad Murnawi, berbekal ilmu pesantren inilah, guruku Ahmad Murnawi, dituakan di desanya, dan tidak sedikit yang datang untuk memohon petuah dan berguru kepadanya, termasuk aku sendiri.

Dibawah ini Sekilas Riwayat Syekh Siti Jenar yang berhasil saya ketahui dari Guru saya bernama Hamzah Fansuri, yang di kehidupan ke empatnya, bernama Ahmad Murnawi, seorang anak pedagang empal gentong, makanan khas cirebon.

Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa, mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Muhammad Saw.

Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar;
Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya sendiri, yaitu Sayyid Shalih, dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an mulai dari usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, dia bawa ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka, dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah.

Saat itu. Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Hingga pada akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih (Ayah Siti Jenar) kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu masih berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang.

YAITU

  1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya.
  2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya.
  3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara.
  4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.
Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy. Dan kitab-kitab itu jugalah, yang di ajarkan kepada semua murid/santrinya tanpa tedeng aling-aling, maksud, bebas tanpa rahasia dan pilitik apapun.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun, dan ilmu itupun di ajarkan juga kepada semua murid/santrinya tanpa tedeng aling-aling, maksud, bebas tanpa rahasia dan pilitik apapun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid kesayangan Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy. Semoga Manfaat sebagai ilmu tanbahan pengetahuan sejaran.

Guru saya Hamzah Fansuri, yang pernah menjadi murid kesayangan Syeikh Siti Jenar, yang pernah melakukan reinkarnasi hingga empat kali, dan yang di kehidupan ke empatnya, bernama Ahmad Murnawi ini, mengalami trauma reinkarnasi, sebab itu, dia berusaha keras di kehidupan ke empatnya itu, untuk tidak gagal lagi, namun tanda-tanda kegagalanya sudah nampak, karena diusuianya yang sudah lanjut, masih juga belum berhasil mengenal guru sejatinya.

Menurut guruku Rama Ahmad Murnawi, dulu, sebelum Syeikh Siti Jenar gurunya mangkat, pernah medar bab iman. Bahwasannya. Tidak ada jalan dan tidak ada cara untuk bisa kembali ke hadiratullah atau asal usul sangkan paraning dumadi, kecuali dengan iman.

Artinya; Hanya dengan iman, kita bisa mengenal guru sejati, dan hanya dengan mengenal guru sejati, kita bisa mengetahui Allah. Kalau kita sudah mengetahui Allah. Tidak ada ghaib, tidak ada rahasia berkenaan tentang Allah.

Artinya; Kita bisa mengerti, memahami, mengetahui semua dan segalanya dengan jelas dan pasti asli, Iman-lah jalannya. Iman-lah yang merupakan gembox terbukanya pintu ghaib dan rahasia apapun mengenai dzat maha suci.

Agar supaya bisa berhasil masuk keranah tersebut, sehingga bisa melihat dan bertemu sang guru sejati, untuk mengetahui Sang Hyang Dzat Maha Suci, pelajarilah Hakikatnya Iman, jika sudah Paham, lalu beribadahlah dengan iman, apapun yang di ibadahkan dengan iman, pasti akan sampai kehadiratullah, karena Allah itu hanya ada dan berlaku bagi orang-orang yang beriman.

"Wejangan Syeikh Siti Jenar Bab Iman"

Kulitnya iman itu, yakin atau percaya, sedangkan isinya iman itu. Adalah;
1. Manembahing kawula gusti.
2. Manunggaling kawula gusti.
3. Leburing kawula gusti.
4. Sampurnaning kawula gusti.
5. Sampurnaning pati urip.

Kelak... Di kemudian hari, tepatnya di tahun 1955, hakikat iman akan terungkap secara umum, dan manusia yang bisa mengungkap hakikat iman secara umum itu, disebut Sateriya 55. Kulit dan Lima isi iman sudah aku sebutkan, sedangkan yang lima lainnya yang menjadi inti iman, masih rahasia dan bukan bagianku, melainkan bagianya yang tersebut Sateriya 55.

Cari dan pelajarilah hakikat dari isinya Iman itu. Kalau hati kalian bersih dalam belajar mencarinya, walaupun belum tahun 1955, kalian bisa menemukan hakikat isinya iman, yang sudah aku sebutkan tadi, termasuk lima lainnya yang menjadi intinya.

Tapi Ketahuilah...

Untuk bisa mencapai tingkatan ini, kau harus melalui 6 jalan ini;
  1. Tutuplah pintu kesenangan dan bukalah pintu kesengsaraan.
  2. Tutuplah pintu kesombongan dan bukalah pintu kerendahan.
  3. Tutuplah pintu bersantai dan bukalah pintu perjuangan.
  4. Tutuplah pintu tidur dan bukalah pintu bangun (sedikit) tidur.
  5. Tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu kemiskinan.
  6. Tutuplah pintu harapan dan bukalah pintu persiapan kematian.
Begitulah Kata Rama Ahmad Murnawi guruku, dari wejangan yang diterimanya saat berguru pada Syeikh Siti Jenar, dikehidupan pertamanya, yang kemudian, tidak berselang lama, beliau Syeikh Siti Jenar mangkat seda.

Lalu Secara pribadi denganku, beliau mengutusku untuk memecahkan teka teki hakikat isinya iman. Yaitu;
1. Manembahing kawula gusti.
2. Manunggaling kawula gusti.
3. Leburing kawula gusti.
4. Sampurnaning kawula gusti.
5. Sampurnaning pati urip.
Yang selama ini di pelajarinya hingga empat jaman kehidupannya, karena faktor usianya yang sudah tua, lalu menggantungkan harapannya itu kepadaku.

Rama Ahmad Murnawi;
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin mempelajarinya hingga empat jaman kehidupan, namun, jangankan yang lima, yang menjadi intisarinya iman, lima isinya iman saja, aku tidak berhasil menemukannya"

Lalu Beliau mengutusku untuk bersemedi di lima pusara tanah jawa dwipa. Ujung Timur. Ujung Selatan. Ujung Barat. Ujung Utara dan Tengah. yang intinya yaitu mengungkap hakikat isinya IMAN dan intisarinya IMAN.

Dan atas permohonan sang guru inilah, yang tentunya sangat menguntungkan bagiku juga, saya melakukan 6 lelaku;
  1. utuplah pintu kesenangan dan bukalah pintu kesengsaraan.
  2. Tutuplah pintu kesombongan dan bukalah pintu kerendahan.
  3. Tutuplah pintu bersantai dan bukalah pintu perjuangan.
  4. Tutuplah pintu tidur dan bukalah pintu bangun (sedikit) tidur.
  5. Tutuplah pintu kekayaan dan bukalah pintu kemiskinan.
  6. Tutuplah pintu harapan dan bukalah pintu persiapan kematian. 
Dengan cara Bersemedi di lima pusara tanah jawa dwipa. Ujung timur. Ujung selatan. Ujung barat. Ujung utara dan Tengah.

Al-hasil; Saya berhasil memperolah dua yang dimaksud dalam Wejangan Syeikh Siti Jenar. Pertama; Melalui seorang Kadhang, saya memperoleh Wahyu Panca Ghaib, yang merupakan Intisarinya Iman. Kedua; Saya menemukan sendiri Wahyu Panca Laku, yang merupakan hakikat isinya iman.

Kulitnya IMAN;
Yakin/Percaya.

Isinya IMAN;
1. Manembahing kawula gusti.
2. Manunggaling kawula gusti.
3. Leburing kawula gusti.
4. Sampurnaning kawula gusti.
5. Sampurnaning pati urip.

Hakikat Isinya IMAN;
1. Pasrah ingarsaning Dzat Maha Suci.
2. Narima kersaning Dzat Maha Suci.
3. Nyumangga'ake kuasaning Dzat Maha Suci.
4. Ngrasa'ake kasunyataning Dzat Maha Suci.
5. Nebar tresno welas asihe Dzat Maha Suci.

Initisarinya IMAN;
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

Dengan keberhasil ini, lalu di tahun 2014, saya kembali menemui guru saya yaitu Rama Ahmad Murnawi, untuk menyerahkan hasil lelaku yang berhadil saya dapatkan atas perintahnya. Yaitu; Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku.

Setelah berhasil di pelajari dan di praktekan. Sekitar jam 10 malam. Guru saya memanggil saya, untuk maduk diruang pribadinya, tempat biasanya beliau bertafakur, dan itu, adalah pertama kalinya saya masuk ke tempat tafakur sang guru.

Sesampainya di dalam, saya melihat Rama Guru Ahmad Murnawi, sedang duduk bersilah iatas sajadah, layaknya seorang muslim yang sedang bertafakur, dan Rama Guru Ahmad Murnawi berkata. Kalau di terjemahkan dalam bahasa indonesianya seperti ini;

Nak... Ini benar, inilah kebenaran yang nyata, inilah yang di maksud Sateriya 55 oleh Kanjeng Syeikh Siti Jenar guruku. Pertahankan sepasang Wahyu ini, jangan sampai musnah ditelan oleh apapun.

Dan syiarkan kebenaran ini kepada siapapun yang sedang lapar, jangan kepada yang tidak lapar. Karena memberikan makanan pada orang yang lapar, itu lebih baik dan tepat di banding memberikan makanan kepada orang yang tidak sedang lapar.

Lalu sambil tersenyum, beliau menoleh ke arah saya, yang saat itu sedang duduk di belakangnya. Sambil mengucap. "Terima kasih nak... Kau telah berhasil menyempurnakan lakuku" Lalu berbaring di pangkuanku, dan Inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun. Dengan senyum bahagia seorang kiyai sepuh umur 84 tahun, sang Guru saya Rama Yai Ahmad Murnawi mangkat dengan sempurna pada tanggal 13-3-2014 yang lalu, diatas pangkuan saya. Diruang tafakur pribadinya. Semoga bermanfaat..

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://facebook.com/tosowidjaya
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Rabu, 12 Juli 2017

Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling. Tentang Guru Sejati. Bagian KeTujuh:




Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling.
Tentang Guru Sejati. Bagian KeTujuh:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Cirebon Jabar. Hari Kamis. Tanggal 13 Juli 2017

Para kadhang kinasihku sekalian, masih ingatkah dengan wejangan saya terdahulu, yang pernah saya sampaikan melalui lisan secara langsung, baik itu di you tube, artikel atau di dalam Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup “Kunci The Power”, yang seperti di bawah ini. “Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang bisa menjamin jiwa raga-mu, lahir bathin-mu, dunia akherat-mu, hidup mati-mu” Firman apa dan seperti apakah yang ada di dalam tubuh kita itu..?! dan kenapa yang di gali kok rasa, bukan Firman..?! Katanya yang bisa menjamin itu, firman Tuhan, kok yang digali rasa, membingungkan... He he he . . . Edan Tenan.

Firman Tuhan yang di maksud ada di dalam setiap tubuh manusia, tiada lain selain Hidup, yang lebih di kenal dalam dunia spiritualnya, dengan sebutan Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati. (Dalam istilah Laku Murni menuju suci-nya, tersebut Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo atau Kanthi Warni/Rupi”) Dan Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo-Kanthi Warni/Rupi” ini, adalah bagian dari Dzat Maha Suci, yang diambil oleh Dzat Maha Suci itu sendiri, yang kemudian di sabdakan masuk kedalam tubuh manusia. Sebagai Rasul/Utusan Pribadinya. Sekaligus penghidup/penggerak/pemungsi/penjamin/penentu serta jalan dllnya, terkait antara manusia dan Tuhan-nya

Setelah Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo-Kanthi Warni/Rupi di sabdakan masuk kedalam tubuh manusia. Sebagai Rasul/Utusan Pribadinya. Dzat Maha Suci, tidak ambil tahu lagi tentang apapun itu, karena semua dan segalanya sudah di percayalah kepada Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo-Kanthi Warni/Rupi. Dia hanya mengetahui Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo-Kanthi Warni/Rupi, yang lainnya. Terserah Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo-Kanthi Warni/Rupi. Sebab itu Dzat Maha Suci berkata dengan sangat tegas “Sungguh Aku tidak mengenal doa dari siapapun, jika tidak melalui rasul-Ku/utusan-Ku”

Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo-Kanthi Warni/Rupi yang bahasa simpelnya atau sebutan singkatnya adalah Hidup, karena memang hakikatnya adalah Hidup, bukan bla,,,bla,,,bla,,, yang sudah saya sebutkan diatas, yang bikin pusing kepala itu. Sebab dia berasal dari Dzat Maha Suci. Karena dia bagian dari Dzat Maha Suci, maka dia mengetahui semua dan segalanya tentang Dzat Maha Suci dan mengenai Dzat Maha Suci. Antara Hidup Dzat Maha Suci, bagaikan pinang dibelah dua dalam istilah pujangganya, serupa namun tak sama, bisa saya gambarkan seperti ini “jika Hidup itu lembut dan halus, maka Dzat Maha Suci lebih lembut dan halus lagi”. Disitu letak bedanya, selain itu, semua dan segalanya sama.

Hidup itu berwujud, namun tak kasat mata dan tidak bisa disentuh oleh apapun, seperti halnya Dzat Maha Suci. Karena Hidup itu berasal dari Dzat Maha Suci, berati dia adalah suci, dan suci itu, murni, murni itu, tak tercampuri oleh apapun, dan tidak bisa di campuri dengan apapun, jika bisa dicampuri, berati bukan murni, melain tante murni tetangga saya dulu. He he he . . . Edan Tenan. Artinya, jika kita ingin mengenal Hidup, ingin bertemu Hidup, ingin bersua dengan Hidup, agar bisa mengenal Dzat Maha Suci, biyar bisa bertemu dengan Dzat Maha Suci, supaya bisa bersua dengan Dzat Maha Suci. Ya,,, tidak ada cara lain, mau tidak mau, suka tidak suka, bisa tidak bisa harus bisa murni. Maksudnya,,, di dalam laku, jangan ada yang lain, yang mengisi hati kita, selain Dzat Maha Suci. Jadi, cukup Dzat Maha Suci yang jadi tujuan dan cukup Dzat Maha Suci yang menjadi isi hati kita, bukan yang lain dan jangan yang lain. Kalau ada yang lain selain Dzat Maha Suci, berati tidak murni bin bukan murni, artinya, ya tidak bisa...Tidak ada Tapi Tuh...!!!

“Kenalilah dirimu sendiri. Sebelum engkau mengenal AKU”

“Sesungguhnya. AKU berada dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehermu”

“Barang siapa mengenal dirinya, Pasti mengenal AKU”

Maka AKU/HIDUP yang lebih di kenal dalam dunia spiritualnya, dengan sebutan Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati. (Dalam istilah Laku Murni menuju suci-nya, tersebut Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo atau Kanthi Warni/Rupi”) adalah suci, dan suci itu, murni, murni itu, tak tercampuri oleh apapun, dan tidak bisa di campuri dengan apapun. Jelas Bukan...?!

Berati... Mustahil kita bisa mengenal Dzat Maha Suci, bertemu dengan Dzat Maha Suci, bisa bersua dengan Dzat Maha Suci, apa lagi kembali kepada-Nya kelak. La wong mengenal dan menemui bagian dari-Nya saja, yang ada di dalam tubuh kita sendiri, yaitu Hidup, yang bisa mengantarkan kehadirat-Nya. Sulit dan Berat begitu... Hadeh.

Siapa Bilang tidak bisa...?!

Siapa Bilang Sulit dan Rumit...?!

Kita Berasal dari Dzat Maha Suci lo... Jangan lupa itu.

Artinya, duluuuuuuuuuuuuuu sekali, kita itu suci, berati, kita bisa to,,, masak iya, kalau di ibaratnya orang pergi merantau kerja, kemudian tidak bisa kembali/pulang, kan tidak lucu mas bro,,, iya kan mbak bro, tidak lucu kan... He he he . . . Edan Tenan.

Kesimpulannya...

Kita itu mau apa tidak, memurnikan hati, agar bisa bersih seperti duluuuuuuuuuu lagi, tanpa kebencian, tanpa iri dan dengki, tanpa dendam, tanpa fitnah, tanpa hasut dan adu domba, tanpa sikut sana sikut sini, sikat sana sikat sini, embat sana embat sini dan sejenisnya yang dapat mengotori hati kita. Membersihkan kotoran-kotaran hati yang sudah saya sebutkan diatas itu, kan, tidak perlu puasa, tirakat atau bertapa, tidap perlu hapal kitab, hapal dalil dan hasdit, tidak harus beragama itu atau ini, tidak perlu melek, pati geni 7 hari 7 malam atau apa kek, juga tidak pakai uang, gratis, tidak bayar alias tidak di pungut biaya apapun, iya kan... Mana ada undang-undang atau hukum yang menfatkahkan. Haeeeee... barang siapa yang mau membersihkan hati, mehingkan kebencian, iri dan dengki, dendam, fitnah, hasut dan adu domba, sikut sana sikut sini, sikat sana sikat sini, embat sana embat sini dan semua jenis kotoran hati, di kenakan biaya sekiyan ratus atau ribu atau juta, tidak kan...?!

Heeeemmmm... Untukmu sekalian Para Kadhang Kinasih didikan saya, yang memegang Buku Bimbingan Laku Spiritual “Kunci The Power” Khususnya yang sudah sampai di Tahapan Pengenalan Guru Sejati. Yaitu Sabda Sateriya Sejati dan Sabda Sejatine Sateriya. Simak dan Pelajari baik-baik dan seksama, karena melalui Artikel-Artikel Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling. Tentang Guru Sejati, mulai dari Bagian Kesatu hingga Bagian KeTujuh ini, dan Bagian KeDelapan dan Bagian KeSembilan nanti. Secara Perlahan. Panjenengan akan saya tuntun masuk keranah Ruh/Roh Suci atau Ruh/roh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati “Kontho Warno/Rupo-Kanthi Warni/Rupi, yang tak lain adalah Hidup Panjenengan Sendiri.

Para Kadhang Kinasihku... Ketahuiah dengan kesadaran murnimu, panjenengan akan kesulitan untuk bisa mengetahui Sang Guru Sejati yaitu Hidup, guna mengenal Dzat Maha Suci Tuhan-mu, jika panjenengan tidak menggunakan cara mengenal Dzat Maha Suci, dari segala sudut pandang, dan dari segala arah mana saja kau menghadap.

“Ke mana saja kamu memandang, di situ Wajah Allah” (Al-Qitab)

Maksud dari kata “Ke mana saja kamu memandang”, sekilas sama dengan akal atau khayalan, maka di situ Wajah Allah”. Terkesan membayangkan, seakan-akan wajah Allah itu ada di depan kita.

Ini bukan persoalan kita kenal atau tahu, ahli makrifat atau ahli fiqih, memang pandai berkata-kata dan mahir dalam berbahasa, berdalil, mumpuni dalam berhadist dan bla...bla...bla.. lainya, tapi itu tidak diperlukan, dan tidak penting dalam hal ini.

Lalu apa yang penting dan perlu...?!

Yang perlu dan penting, adalah, kesadaran murni akan diri kita, tentang Laku Spiritual pribadi kita sehari-hari, berkena’an dengan masalah pekerja’an dan keada’an (sikon) diri kita. Karena bagi yang sadar, cuma ada satu pandangan saja, yakni “Ke mana saja kamu memandang, di situ Wajah Allah” bukan sebatas akal atau khayalan, karena Dzat Maha Suci itu, bukan akal atau bayangan apa lagi khayalan.

Dalam bahasa awamnya, boleh dan bisa disamakan dengan istilah “sadar diri” maksudnya, sadar akan pekerja’an dirinya, sadar dengan keada’an dirinya (sikon) dirinya. Sebab...

Yang sadar akan pekerja’an dirinya, yang sadar dengan keada’an dirinya (sikonnya). Apabila dia di tanya, pasti akan berkata atau bertutur kata, mengikuti pekerja’an dirinya atau mengikut keada’an dirinya. Bukan dengan sangka-sangka’an ilmunya, bukan dengan cerita itu dan cerita ini, tetapi disampaikan mengikuti kesadaran yang berkena’an dengan pekerja’an dirinya dan keada’an dirinya. Itu pasti akan berkata dalam keadaan sadar diri dan bertutur dengan bahasa pekerja’an dan keada’an (sikon) dirinya. Seperti itu contoh misalnya.

Sedikit saya bercerita tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Ada dua orang, yang propesinya sebagai pedagang, lalu datang, kepada saya, untuk minta bantuan spiritual, agar usaha dagangnya menjadi laris, maksudnya, ramai pembeli, dan mendapatkan hasil yang lebih dari kata cukup. Lalu saya ajari Wahyu Panca Gha’ib yang di Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, kenapa harus Wahyu Panca Ghaib yang di jalankan dengan Wahyu Panca Laku, kok bukan ilmu penglarisan atau doa-doa pengesihan gitu...

Karena saya mengerti, tidak ada satupun jalan yang lebih baik, selain jalan yang hanya menuju kepada Dzat Maha Suci. Sebab saya paham, tidak ada cara yang lebih baik, selain cara Dzat Maha Suci. Sebab karena saya tahu. Hanya dengan jalan menuju kepada Dzat Maha Suci saja, dan menggunakan caranya Dzat Maha Suci-lah. Siapapun dia, tidak peduli status dan latar belakang keyakinan agamanya. Pasti akan menemukan dan mendapatkan “KESEMPURNA’AN” dan yang namanya Sempurna itu, melampaui segalanya. Artinya; Pasti sukses. Pasti berhasil.

Selang beberapa waktu kemudia, mereka datang lagi mengeluh kesulitan, dalam menjalankan petunjuk dari saya, tentang mempraktekan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Karena itu, mereka datang kembali kepada saya, untuk pasrah bongkok’an kepada saya, kalau istilah jawanya, pasrah dalam artian, menyerahkan laku spiritualnya kepada saya, mereka tau beres dan terima matengnya saja. Tidak ikut laku spiritual, cukup fokus ke soal dagang saja, dan saya yang bagian laku spiritualnya buat mereka, mereka berjanji kepada saya, akan menjamin kebutuhan saya dalam sehari-harinya, ada yang mau kirim uang tiap seminggu sekali dan yang satunya mau kirim uangnya tiap sebulan sekali. Sebagai bayaran atau imbalan dukungan laku spiritual dari saya. Namun saya menolaknya, bahkan tidak saya hiraukan. Kenapa begitu, karena Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi.He he he . . . Edan Tenan.

Sebab saya tahu, kalau itu saya iyai, berati saya telah memdodohi bahkan membohongi mereka. Karena saya mengerti, kalau itu saya sanggupi, berati saya telah menyesatkan mereka, dari jalan kebenaran. kebenaran yang nyata tentang Dzat Maha Suci, yang berlaku untuk semuanya dan segalanya, yang sesungguhnya harus di lalui oleh semuanya yang sedang menjalani kehidupan di dunia ini.

Pada hakikatnya, apapun yang di perbuat dan di lakukan oleh sekalian mahkluk hidup, adalah proses menuju kembali kepada asal usulnya, yaitu Dzat Maha Suci, karena siapapun dia, selagi masih di duduki hidup di dunia ini, pasti akan mati pada akhirnya. Kalau sudah mati, mau kemana lagi, kalau bukan kembali kepada asal usulnya, yaitu Dzat Maha Suci.

Bodoh namanya kalau dia menuju surga dan neraka, apa lagi pepohonan dan jembatan serta rumah kosong. Karena kita bukan berasa dari semua itu “Inna lillaahi wa inna illaaihi roji’un” kita berasa dari Dzat Maha Suci, kita milik Dzat Maha Suci dan Hanya kepada-Nya kita harus kembali pulang, bukan ke selain-Nya.

Coba pikirkan kalau saat menghadapi dua orang pedagang itu, saya dalam sikon tidak sadar, dan sadar saya tidak murni, sudah tentu saya embat deh... Inilah lo... yang harus panjenengan tingkatkan disaat Patrap Semedi Laku Sabda Sejatine Sateriya, bukan itu dan ini serta bla,,,bla,,,bla,,,lainnya, bukan. Kalau itu dan ini serta bla,,,bla,,,blanya, kan sudah dirangkum dalam Wahyu Panca Laku, jadi, tidak usah di ungkit-ungkit lagi, biyarkan mereka aman didalam Wahyu Panca Laku. Yang perlu kau tinggatkat itu, sadarmu,,, terus dan terus,,, sampai murni tan kemomoran dening opo wae, tak ternodai oleh apapun. Tak kala hatimu sudah bersih/murni, semuanya dan segalanya akan manunggal dengan sendirinya, secara otomatis.

Dan Proses manunggalkan semua dan segalanya ini. Panjenengan Pasti Tahu, la wong sadar, pasti terasa, la wong sadar. Hayo...?! He he he . . . Edan Tenan. BERSAMBUNG KEBAGIAN KEDELAPAN.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Kinasih Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. 
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://facebook.com/tosowidjaya
http://putraramasejati.wordpress.com/
http://webdjakatolos.blogspot.com/

Minggu, 09 Juli 2017

MISTERI DIBALIK RAHASIA HURUF “M” Yang Terletak Dibagian Depan. Nama; Romo Semono Sastrohadidjojo:




MISTERI DIBALIK RAHASIA HURUF “M” Yang Terletak Dibagian Depan.
Nama; Romo Semono Sastrohadidjojo:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Cirebon Jabar. Hari Minggu Kliwon. Tanggal 09 Juli 2017

Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku Sekalian...
Sejak kecil, saya selalu tidak merasa puas, jika mengenai sesuatu apapun itu, saya tidak mengetahuinya secara detail dan jelas, berawal dari sinilah, dibalik laku, kalau ada kesempatan, saya selalu mencari tahu, apa makna atau maksud dari aksara huruf “M” yang terletak dibagian depan nama Romo Semono Sastrohadidjojo, manusia pertama yang berhasil menyempurnakan Wahyu Panca Ghaib. Setelah sekian tahun lamanya, dengan modal Wahyu Panca Laku yang saya gunakan untuk mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib warisan dari-Nya, akhirnya dzat maha suci mengabulkan permohonan saya yang mustahil menurut umumnya seorang putero romo.

Dzat Maha Suci, memang benar-benar maha cinta kasih sayang, saya diberi kesaksian luar biasa mengenai apa yang ingin saya ketahui mengenai Aksara/Huruf “M”. Yang terletak dibagian depan nama Romo Semono Sastrohadidjojo yang selama ini membuat saya tidak puas. Dan dibawah inilah, profil kronologi dari misteri aksara/huruf “M” yang terletak dibagian depan Nama Romo Semono Sastrohadidjojo, manusia pertama yang berhasil menyempurnakan Wahyu Panca Ghaib. Dan semoga ini bisa menjadi Hikmah yang bermanfaat bagi seluruh Putero Romo yang juga ingin mengetahui detailnya sejarah Hidup Sang Penyempurna Pertama Wahyu Panca Ghaib.

Profilnya Seperti ini

Di sekitar tahun 1855an, ada guncangan masalah keluarga yang berusaha diredam di dalam Kraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono V, ditemukan tewas terhunus keris sakti miliknya sendiri, di salah satu ruangan istana. Usut punya usut, si pembunuh raja itu, ternyata sang selirnya sendiri, yaitu istri kelimanya, yang paling disayang, bernama Kanjeng Mas Hemawati.

Sri Sultan Hamengkubuwono V, naik tahta pada usia 3 tahun, namun digeser kedudukannya untuk kepentingan Belanda dalam Perang Jawa saat itu. Takhtanya diambil lagi, oleh pendahulunya, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono II (1750-1828), atas campur tangan dan kepentingan Belanda. Kehidupan Sri Sultan Hamengkubuwono V, ibarat kisah drama. Ia sempat disingkirkan, dan di benci keluarga dan sebagian rakyatnya, karena konflik internal yang terjadi di dalam istana saat itu, lalu ditelikung saudara kandung, hingga mati di tangan istri tercintanya.

Kronologinya seperti ini.

Sri Sultan Hamengkubuwono V, naik singgasana lagi setelah Hamengkubuwono II meninggal pada awal tahun 1828, namun pemerintahan Hamengkubuwono V, kehilangan banyak dukungan dari internal kraton, maupun sebagian rakyat Yogyakarta. Nama aslinya Sri Sultan Hamengkubuwono V, adalah Gusti Raden Mas Gathot Menol, yang kemudian bergelar Pangeran Mangkubumi, anak keenam, sekaligus putra mahkota Sri Sultan Hamengkubuwono IV, dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Kencono, yang lahir pada 24 Januari 1820 di Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sama seperti putra tersayangnya, hidup Sultan Hamengkubuwono IV juga berlangsung singkat, secara umum dan kasat mata, kisah kematiannya juga masih menyisakan misteri hingga sekarang ini, dan maafkan, “saya potong kisahnya dibagian ini karena suatu alasan yang tak bisa saya langgar”. Diduga, mangkatnya sang raja yang belum mencapai usia 20 tahun itu, karena diracun. Kematian mendadak Sultan Hamengkubuwono IV inilah, yang membuat putra mahkota harus segera naik tahta, meskipun masih berusia balita, kurang dari dua pekan setelah wafatnya sang raja. Di sekitar tahun1823, Gusti Raden Mas Gathot Menol dikukuhkan sebagai penguasa Yogyakarta yang selanjutnya dengan gelar Sultan Hamengkubuwono V.

Dari sinilah awal drama kehidupan Hamengkubuwono V. Sang sultan belia diturunkan dari singgasananya di sekitar tahun 1826. Raja yang pernah menjadi pendahulunya, yaitu Hamengkubuwono II atau yang berjuluk Sultan Sepuh, yang sudah tua renta, dinobatkan sebagai raja lagi, berselang sehari kemudian. Ini adalah kali ketiga Hamengkubuwono II naik takhta setelah periode 1792-1810 dan 1811-1812. Pada saat itu, pengaruh belanda sangat kuat dalam suksesi paksa ini. Belanda yang saat itu terlibat konflik melawan Pangeran Diponegoro, berusaha memecah-belah internal kraton dan rakyat Yogyakarta, sekaligus untuk menambah kekuatan. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Sri Sultan Hamengkubuwono III (1769-1814) yang memilih keluar dari istana dan tidak bersedia menjadi raja.

Naik takhtanya kembali Hamengkubuwono II, untuk menggeser Sultan Hamengkubuwono V, diusulkan langsung oleh Hendrik Merkus de Kock (1779-1845), perwira tinggi militer yang sempat mengampu jabatan sementara sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan merupakan tokoh berpengaruh dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan pasukan Diponegoro.

Sultan Hamengkubuwono II, sebenarnya masih menjalani masa pengasingan di Maluku, sebelumnya dibuang ke Pulau Pinang, hukuman yang dijatuhkan oleh pemerintah pendudukan Inggris pada 1812. Belanda, yang akhirnya berkuasa lagi di Hindia (Indonesia), memulangkan Hamengkubuwono II, tentunya dengan misi khusus, yaitu untuk menggantikan kedudukan Hamengkubuwono V.

Selain karena Hamengkubuwono V kurang cakap, karena masih belum cukup umur, Belanda ingin Hamengkubuwono II bertahta lagi, karena ia dikenal dekat dengan rakyat. Pengaruh Hamengkubuwono II sangat diperlukan untuk memecah dukungan rakyat yang sebagian besar berpihak kepada Diponegoro. Taktik licik itu cukup berhasil dan akhirnya tipu-daya Belanda pula yang mengakhiri perlawanan Diponegoro pada 1830.

Periode ketiga, era Sultan Hamengkubuwono II, akhirnya purna pada di sekitar tahun 1828, seiring wafatnya sang raja tua itu. Sebagai gantinya, Hamengkubuwono V didudukkan kembali ke tampuk kekuasaan Kesultanan Yogyakarta, kendati tentu saja pengaruh Belanda masih kuat dalam prosesi ini.

Sultan Hamengkubuwono V cenderung main aman selama berkuasa. Ia tidak ingin terjadi lagi pertumpahan darah yang harus mengorbankan rakyat, terutama setelah usainya Perang Jawa. Hamengkubuwono V juga meneken kontrak politik dengan Belanda yang berlaku bahkan hingga era Sultan Hamengkubuwono IX yang berakhir pada tahun 1988.

Pikir Sri Sultan Hamengkubuwono V. Ketimbang cari gara-gara dengan Belanda, Sultan Hamengkubuwono V, memilih fokus ke sektor-sektor lain, termasuk dalam hal kesenian dan kebudayaan. Selain itu, Hamengkubuwono V juga, menciptakan beberapa jenis tarian khas kraton, salah satu yang paling terkenal adalah Tari Serimpi, dengan berbagai variannya, termasuk Serimpi Kandha, Serimpi Renggawati, Serimpi Ringgit Munggeng, Serimpi Hadi Wulangun Brangta atau Serimpi Renggowati, dan lainnya.

Akan tetapi, ternyata tidak semua pihak sepakat dengan strategi kooperatif yang diambil oleh Sultan Hamengkubuwono V, termasuk saudaranya sendiri, yakni Gusti Raden Mas Mustojo. Pangeran ini adalah putra ke-12 Sultan Hamengkubuwono IV dari permaisuri Ratu Kencono atau adik kandung Sultan Hamengkubuwono V.

Oleh sebagian warga istana dan rakyat Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono V yang penuh cinta kasih sayang ini, dinilai lembek, pengecut, dan mempermalukan nama kraton, terlalu patuh kepada Belanda. Dukungan kepada Raden Mas Mustojo pun menguat, terlebih setelah ia berhasil menjalin ikatan kuat dengan Kesultanan Brunei, setelah memperistri putri dari kerajaan seberang pulau itu.

Di tengah situasi yang tidak menguntungkan, karena semakin kencangnya suara-suara ketidakpuasan yang dialamatkan kepadanya, Sultan Hamengkubuwono V, semakin terdesak dengan munculnya konflik internal antara sesama penghuni istana. Salah seorang istri sultan, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, disebut-sebut terlibat dalam polemik yang detailnya masih menjadi teka-teki itu.

Hingga akhirnya, tepat pada 5 Juni 1855, terjadilah aksi pembunuhan yang akhirnya mengubah alur trah kepemimpinan Kesultanan Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono V ditikam dari belakang dengan menggunakan keris pusakanya sendiri, oleh sang selir hingga tewas. Pihak kraton menutup rapat-rapat segala hal tentang kasus ini, termasuk tentang keberadaan Kanjeng Mas Hemawati, setelah menghabisi nyawa suaminya sendiri.

Sampai kini, alasan Kanjeng Mas Hemawati melakukan tindakan tersebut belum terkuak secara umum dan kasat mata, alias masih menjadi misteri tersendiri dalam riwayat sejarah raja-raja Dinasti Mataram Islam. Peristiwa tragis yang rincinya hanya diketahui oleh kalangan terbatas itu, dikenang dengan istilah “wereng saketi tresno” atau “mati di tangan yang dicintai”. dan sekali lagi mohon di maafkan, “saya potong kisahnya dibagian ini karena suatu alasan yang tak bisa saya langgar”.

Ketika insiden pembunuhan itu terjadi, permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono V, yaitu Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, sedang hamil tua. Dan, 13 hari kemudian, pasca mangkatnya Sultan Hamengkubuwono V tewas, lahirlah anak yang dikandungnya itu, dan seharusnya menjadi penerus tahta Yogyakarta. Putra mahkota Sultan Hamengkubuwono V tersebut, diberi nama Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.

Seperti yang telah diperkirakan, Raden Mas Mustojo dinobatkan sebagai Raja Yogyakarta berikutnya, bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono VI, kendati mulanya hanya sementara, sembari menunggu Sang Putra Mahkota Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad sudah siap memimpin sebagai sultan. Namun, yang terjadi kemudian bukan sesuai kesepakatan. Setelah Sultan Hamengkubuwono VI wafat sekitar tahun 1877, yang dinaikkan ke singgasana justru anaknya sendiri, yakni Gusti Raden Mas Murtejo, atau yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono VII (1839-1931).

Hal ini tentu saja mendapat tentangan dari Permaisuri Sultan Hamengkubuwono V, Ratu Sekar Kedaton, atas Puteranya Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad, yang seharusnya naik tahta. Keduanya lalu ditangkap dengan tudingan telah melakukan pembangkangan terhadap raja dan istana. Hukuman pun dijatuhkan, sekaligus untuk menghapus trah Sultan Hamengkubuwono V, demi melanggengkan kekuasaan Sultan Hamengkubuwono VII beserta keturunannya nanti. Ratu Sekar Kedaton dan Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad, menjalani hukuman buang ke Manado, Sulawesi Utara. hingga meninggal dunia di sana.

Namun,,, sebelum penangkapan Sang Permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono V, yaitu Ratu Mas Sekar Kedaton dan puteranya. Ratu Mas Sekar Kedaton berhasil menitipkan puteranya kepada seorang abdi dalem keputren bernama Ki Kasandi Kromo, dengan cara menukarnya dengan anak kandungnya Ki Kasandi Kromo. Maksudnya; Anak lelaki Ki Kasandi Kromo di Tukar dengan Sang Putra Mahkota yang kebetulan seusia. Lalu Ki Kasandi Kromo di beri pesangon yang lebih dari cukup dan di suruh pergi sejauh mungkin untuk menyelamatkan Sang Putra Mahkota Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad. Sedangkan Ratu Sekar Kedaton dan Putra Ki Kasandi Kromo yang di saramkan menjadi Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad, ditangkap dan di buang ke Manado, Sulawesi Utara. hingga keduanya meninggal dunia di sana.

Sementara Ki Kasandi Kromo bersama istrinya, membawa pergi Sang Putra Mahkota Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad ke hutan gunung damar wilayah pinggiran Purworejo. Yang kemudian, untuk keamanan dan kenyamanan serta keselamatan Sang Pangeran. Nama Sang Putra Mahkota Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad. Di ganti Menjadi Semono Sastrohadidjojo. Agar nama aslinya tetap terpakai, maka nama terakhir Sang Pangeran disertakan, dengan cara mencamtumkan satu Huruf terpenting, yang menurutnya memiliki teka-teki misterius, yang di yakini tidak sembarang orang bisa mengetahuinya. Tersebut: M. Semono Sastrohadidjojo.

Jadi,,, Misteri di balik Huruf/Aksara “M” yang terletak di bagian depan Nama Romo Semono Sastrohadidjojo itu, adalah sebuah kode rahasia yang bisa di gunakan untuk membuka pintu sejarah kehidupan masalalu Romo Semono Sastrohadidjojo. Sebagai seorang Raja yang seharusnya bertahta di kerajaannya. Yang Bernama Asli Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad (M. Semono Sastrohadidjojo)-(Muhammad Semono Sastrohadidjojo). Terima kasih Tuhan... Engkau sungguh luar biasa. Terima Kasih Terima kasih Terima Kasih atas cinta kasih sayang-Mu kepadaku, menunjukan hal yang selama ini mengganjal dalam rongga dadaku, yang menjadikanku sedikit kurang puas, dan sekarang, aku benar-benar sudah puas. Plong... lega. Tanpa ada lagi yang mengganjal walau hanya sebesar butiran debu, karena Engkau telah menjawabnya.

Dan semoga ini bisa menjadi Hikmah yang bermanfaat bagi seluruh Putero Romo yang juga ingin mengetahui detailnya sejarah Hidup Sang Penyempurna Pertama Wahyu Panca Ghaib. Kalau sejarah beliau terkait Wahyu Panca Ghaib, ada banyak termuat dalam buku yang di pegang oleh para Kadhang sepuh. Tapi sejarah sebelum terkait dengan Wahyu Panca Ghaib, tidak ada termuat dalam buku apapun, mungkin cerita yang simpang siur itulah, yang terkadang ada orang, bahkan putero romo yang di sadari atau tidak di sadari, terselip pertanyaan dalam benak. Siapa M. Semono Sastrohadidjojo yang lebih akrab di panggil Romo Smono itu...?! jawabannya; yang sudah saya uraikan diatas. Dan ini adalah anugerah yang sangat luar biasa yang pernah saya terima untuk yang kesekiyan kalinya dari Dzat Maha Suci atas cinta kasih sayang-Nya kepadaku. Terima kasih...7X.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
http://facebook.com/tosowidjaya
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Kamis, 06 Juli 2017

Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling. Tentang Guru Sejati. Bagian Ke’Enam:




Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling.
Tentang Guru Sejati. Bagian Ke’Enam:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Cirebon Jabar. Hari Kamis. Tanggal 06 Juli 2017.

Para Sedulur Dan Kadhang Kinasih saya sekalian...
Ketahuilah tanpa yang hidup, jasad tidak ada arti nya. Tetapi benda mati ini lah, yang dijaga dan diutamakan oleh kebanyakan orang di dunia ini. Sedangkan semua tahu bila mati kelak, jasad akan busuk dan di tanam atau di bakar. Ini menunjukkan, mati ialah bila hidup yang menghidupkan jasad tadi, meninggalakan jasad.

Kebanyakkan manusia pada umumnya, menganggap bahwa "Hidup" didunia ini, itu hanyalah cukup makan, bergerak, mencari kemewahan, menyelesaikan kepentingan, ngeseks sepuasnya, mencukupi kebutuhan dan keperluan, bekerja dll, mereka mengangap bahwa jasad kasar mereka itu, hidup dengan sendirinya, yang membolehkan mereka melakukan kerja, kerja harian mereka itu, tapi pernah kah mereka terfikir bahwa jasad mereka itu sebenarnya, ialah benda mati yang tidak dapat hidup dan bergerak dengan sendirinya, tanpa ada sesuatu yang menghidupkan nya?

Dimanakah letaknya yang di panggil hidup itu?
Yang mana dengan adanya yang hidup itu lah jasad kita ini hidup, dan sebenarnya ia diam di dalam jasad kita sendiri, dan dia lah yang di panggil "DIRI" sebenar "DIRI" atau ROMO dalam istilah Laku Hakikat Hidupnya, dan menghidupkan jasad kita ini. Tapi pernah kah kita terpikir tentang "DIRI/ROMO" itu? atau coba mencari dan mengenal nya.

Tentunya, soal yang akan timbul ialah dari mana "DIRI" itu, dimana letaknya "DIRI" itu, terdiri dari apakah "DIRI" itu, dan kemanakah perginya "DIRI" itu, apabila jasad mati atau dengan kata lain "DIRI" meninggalkan jasad??? dan yang paling penting sekali, bolehkah kita mengenal "DIRI" sebenar-benarnya "DIRI" kita itu.

BARANG SIAPA MENGENAL "DIRI"
NISCAYA KENAL LAH IA AKAN TUHAN NYA:

Benarkah bila kita mengenal "DIRI" maka kita akan mengenal Tuhan ??

Kita semua tahu bukan, bahwa ujudnya Roh!
Tidak ada seorangpun, yang dapat menafikan kenyataan ini, Karena semasa Hyang Maha Suci bertanya kepada sekelian Roh " siapa kah Tuhan kamu " dengan sepontan sekelian Roh menjawab " bahkan " yang membawa makna merekapun telah mengenal Tuhan yang esa.

Kisah Roh memasukki jasad Adam;
Setelah jasad Adam terbaring, maka Hyang Maha Suci memerintahkan Roh memasukki jasad Adam, tetapi sebelum itu, Roh telah bertanya " dimanakah harus aku masuki, ya ALLAH " dan ALLAH pun menjawab " masuk lah kemana saja yang kamu senangi " Maka, masuk lah Roh melalui hidung, dan dengan itu maka bernafaslah kita melalui hidung.

Ini menunjukkan bahwa sesudah Roh memasuki badan, maka barulah bermulanya kehidupan kepada jasad, dan terbukti di sini bahwa Roh-lah yang dikatakan penghidup kepada jasad, dan mati pada jasad ialah apabila Roh keluar, apabila sampai ajalnya tiba.

Jasad kasar kita ini terdiri dari 2 yaitu:

1. Dihidupkan;

Apakah maksud dihidupkan dan bahagian mana yang dihidupkan?
Yang dihidupkan ialah Jasad kasar kita ini, ia-nya di hidupkan oleh ""Roh"" yang berada di dalam Jasad. "Roh" memasukki jasad semasa kita 100 hari dalam rahim ibu kita. "Aku tiupkan sebagian dari Roh ku" begitulah kata firman Allah. Sejak itu lah kita hidup di dalam rahim ibu kita dan kemudian di lahirkan kedunia dan terus menjalankan kehidupan dari bayi hingga akhir hayat.

2. Menghidupkan;

Yang menghidupkan ialah Roh, yang datangnya (diciptakan) dari Hyang Maha Suci Hidup, yang memasuki jasad dan terus Hidup, tugas Roh ialah, menghidupkan jasad, tetapi sayang-nya, jasad tidak langsung terfikir bahwa Roh-lah yang Hidup sebenar-benarnya Hidup dan menghidupkan jasad yang bila mana Roh meninggalkan-nya, maka matilah dia dan di sebut mayat orang lalu di tanam atau di bakar.

MATI IALAH APABILA ROH MENINGGALKAN JASAD;
Jadi,,, siapakan yang berkepentingan disini, tentunya jasad, karena tanpa Roh, maka jasad tidak bermakna langsung. Jasad kita perlukan Roh, untuk Hidup, tapi kenapa Roh tidak dipedulikan sama sekali semasa hidup nya?

Perlukah Roh di kenali?
Tentu sangat perlu dong.... Kan peran pentingnya, sudah saya uraikan diatas. Tapi....
Sebelum mengenal Roh, haruslah kita mengenal "DIRI"

BARANG SIAPA MENGENAL "DIRI"
MAKA KENALLAH DIA AKAN TUHAN NYA:


APA KAH "DIRI" ITU"
Untuk semua ilmu pengetahuan, bahwa "DIRI" itu datang kemudian, setelah Roh memasukki jasad, mengapa bisa begitu?

Apabila Roh berada di dalam Jasad, maka perkembangan cahaya Roh itu yang memenuhi dalaman Jasad keseluruhan-nya, ini telah menyebabkan ujudnya "Diri" yang berupa saperti jasad-nya, memenuhi ruang dalaman jasad-nya. Maka ujudlah "Diri" sebenar-benarnya "Diri/ROMO" dan "DIRI/ROMO" ini lah yang harus di kenal. (kenal lah Diri, maka kenal Tuhan)

BAGAIMANA MENGENAL "DIRI/ROMO" SEBENAR-BENARNYA "DIRI/ROMO"
Ada berbagai cara dan kaedah digunakan untuk mengenal "DIRI" ini. Namun yang saya tahu dan sudah saya buktikan sendiri, hanya satu yang bisa menjamin bisa tepat dan pas sasaran, yaitu Wahyu Panca Gha’ib yang di ibadahkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Namun, bukan berati yang lain itu tidak benar, hanya saja, tidak bisa menjamin tepat dan pas pada sasarannya, itu saja.

Kenapa tidak bisa tepat dan pas pada titik finis yang menjadi sasarannya?
Karena, selain merupakan ilmu, juga dikarenakan adanya campuran dan embel-embel yang bertentangan dengan hal tersebut. Tapi Wahyu Panca Gha’ib, tidak begitu, karena yang digunakan oleh Wahyu Panca Gha’ib adalah Wahyu Panca Laku, yang lebih di kenal dengan sebutan Iman, dan iman atau wahyu panca laku itu, bukan ilmu atau kebatinan, atau agama, kepercayaan, kejawen dll,,, melainkan;

1. Pasrah kepada Tuhan.
2. Menerima kaputusan Tuhan.
3. Mempersilahkan kuasa Tuhan.
4. Merasakan kebenaran Tuhan.
5. Menebar cinta kasih sayang Tuhan.

Artinya, ya Roh itu sendiri, ya Diri itu sendiri, bukan yang lainnya. Jadi, mustahi dan tidak mungkin melesed.

Semua perguruan dan padepokan atau pesantren dan aliran apapun itu betul dan benar, dan ilmu apapun yang digunakannya juga benar dan betul. Hanya saja, mereka enggan berwahyu panca laku/iman, bahkan tidak mau telanjang, istilahnya. Dalam artian, di campuri dengan sesuatu yang dapat menghilangkan kemurnia dari ilmu yang digunakannya, ini lo, yang membuat jadi tidak tepat alias tidak pas bin melesed.

Ini adalah rahasia Hidup kita dan "DIRI/ROMO"
Ini adalah yang menghidupkan jasad, selagi ada hayatnya di dunia ini, "DIRI/ROMO" ini, harus di kenal dan dirasai sepenuh nya oleh kita, karena ia mengandungi banyak rahsia dan serba guna, multi fungsi di dunia dan akhirat.

Kenal kah "DIRI" tadi kepada Tuhan nya?
Sudah tentu, karena dia datang dari sana, dari Hyang Maha Suci Hidup, Sang pencipta dan yang Maha Kuasa diatas segala yang Maha.

Banyak lagi, persoalan yang akan timbul, apabila kita dapat mengenal "DIRI/ROMO" kita yang sebenar- benarnya "DIRI/ROMO" ini, kita harus belajar dari "DIRI/ROMO" ini sendiri, bukan yang lain, selain “DIRI/ROMO” ini sendiri.

Dia mengetahui, karena dia datang dari yang MAHA mengetahui.
Dia bijak, karena dia datang dari yang MAHA bijaksana.
Dia kuasa, karena dia datang dari yang MAHA kuasa.
Dia lah sebaik-baiknya Guru, karena dia datang dari yang MAHA guru. Sebab itu dia mendapatkan stempel/julukan Sang Guru Sejati, dan kehidupan sebenarnya, ada di dalam, karena kehidupan datang setelah kita Hidup.

Kesimpulan-nya;

Kenali lah "DIRI/ROMO" kita ini, karena, dia-lah sebenar-benarnya "DIRI" dan utamakan lah dia dalam segala urusan kita di dunia ini, sambil menunggu surat undangan dari Hyang Maha Kekal Abadi, jangan lupakan itu, kerana dia kekal karena di kekalkan.

Ilmu Pengetahuan Mengenal "DIRI" adalah satu-satunya ilmu pengetahuan yang wajib dan harus di ketahui oleh semua manusia hidup, tanpa terkecuali, tidak peduli agama dan latar belakang apapun, karena tiap-tiap manusia hidup, membawanya di dalam jasad kasar mereka, harus kah penghidup jasad kita ini, kita biarkan begitu saja, tanpa mengenali dan merasakan nya, hanya semasa maut hampir datang menjemput, baru kita sadar, bahwa dia akan meninggalkan kita?????

Para Sedulur Dan Kadhang Kinasih saya sekalian...
Sudah Anda mengenal “DIRI/ROMO” Anda dengan sebenar-benarnya Diri Anda..?! Sudah kah Anda Mengetahui “HIDUP” Anda dengan sebenar-benarnya Hidup Anda...?!
Para Kadhang Kinasih saya sekalian yang sedang Menjalankan Sabda Sejatine Sateriya...
Ikuti Terus Artikel Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling. Tentang Guru Sejati ini. Mulai dari Bagian Pertama hingga berikutnya nanti. Karena Anda sadari atau tidak Anda sadari. Anda akan saya giring masuk ke ranah dimensi Guru Sejati melalui Artikel Khusus ini dengan sempurna.

TIADA AKU, HANYA ALLAH ...
Kita kembali kepada Pokok semula yaitu, mencari DIRI SENDIRI yang berdiri dengan sendirinya itu.

Terus jalankan Laku Patrap Sabdo Sejatine Sateriyo tanpa putus, minimal sekali Patrap Semedi dalam sehari semalam, maksimalnya dua kali Patrap Semedi. Keberhasilan kita bergantung kepada pandainya kita menerapkan Wahyu Panca Laku saat bersemedi.
Wahyu Panca Laku/Iman;

1. Pasrah kepada Tuhan.
2. Menerima kaputusan Tuhan.
3. Mempersilahkan kuasa Tuhan.
4. Merasakan kebenaran Tuhan.
5. Menebar cinta kasih sayang Tuhan.

Hayati dan sadari benar akan hal ini, jangan Cuma di bibir saja, lakukan lahir bathin, sejujur jujurnya. Terus dan terus,,, tundukan ego dan kesombongan kita, akui kebodohan dan ketidak tahuan kita. Terus dan terus hingga berulang kali, sampai ngenox... Dengan semakin dalamnya kita Pasrah kepada Tuhan. Menerima kaputusan Tuhan. Mempersilahkan kuasa Tuhan. Merasakan kebenaran Tuhan. Menebar cinta kasih sayang Tuhan.

DIA akan bebas bergerak, kalau apa yang ada pada kita teleh dipunyainya dan dikuasainya, dengan pengertian kalau tadinya kita menganggap Dia kepunyaan kita, maka adalah sebaliknya yang terjadi yaitu JADIKAN KITA MENJADI KEPUNYAANNYA.

Setahu kita, DIA telah ada bersama kita dan adalah Dia itu kepunyaan kita, KARUNIA atau ANUGERAH yang Maha Esa lagi Maha Besar kepada kita. DIA datang dariNYA dan akan kembali kepadaNYA pula. Dan adalah kedatangannya kepada kita untuk Kesempurnaan Kejadian kita. Dan tidaklah sempurna kita rasanya, kalau kita tidak mengetahui, mengenal dan MENEMUInya.

Adalah DIA langsung dari Yang Maha Esa dan adalah keadaan kita dijadikan dari yang telah dijadikan. Tingkatnya juga lebih tinggi dari kita kerana DIA ASLI (original/murni/bersih/suci), dan kita dari yang dijadikan, sesungguhnya yang menjadikan kita itu Tuhan Yang Maha Esa juga.

Satu ASAL, tetapi berlainan KE-ADA-AN. DIA ada tetapi tiada, kita ada dan nyata, DIA yang telah berada bersama kita, bahkan terkandung didalam batang tubuh kita, kenapa kita tidak dapat menemuinya ? Tuhan telah memberikannya kepada kita untuk HIDUP bukan untuk MATI.

Jadi, nyatalah sudah ada KELEBIHANNYA dari kita dan Rahasia Hidup dan kehidupan kita padanyalah LETAKNYA. Dan kalau kita ingin hidup bahagia dan tenteram, tentu DIA MESTI KITA CARI dan KITA TEMUI, seperti telah dikatakan diatas, PADANYALAH TERLETAK RAHASIA HIDUP itu.

Untuk mengetahui dan MENEMUInya, tentu lebih dahulu harus kita pecahkan soal antara kita dengan DIA, dengan jalan MEMISAHKAN YANG SATU DENGAN YANG LAIN, yaitu antara BADAN dan DIRI atau antara DIA dan AKU.

Laku Patrap Sabda Sejatine Sateriya inilah, yang bahasa ilmunya, disebut mematikan badan sebelum mati atau mati sebelum mati, pada hakikatnya, ini sebenarnya mendatangkan PERMULAAN dan PERPISAHAN, kerana hanya dengan laku ini, maka tinggallah YANG HIDUP saja.

Jadi, inti Laku Patrap Sabda Sejatine Sateriya, adalah meninggalkan YANG HIDUP, dikarenakan, kita hendak mengetahuinya dalam KE – ADA-AN yang sebenarnya. Sebelum kita dapat menemui dan MENGUASAInya, kita tidak dapat yang sebenarnya.

Untuk itu hendaklah kita TERUS BERLATIH dan BERLATIH Laku Patrap Sabda Sejatine Sateriya. SAMPAI ADA PANCARAN KELUAR DARI UJUNG JARI JARI kita. Dengan dapatnya MERASAKAN PANCARAN YANG KELUAR DIUJUNG JARI JARI kita itu, berarti DINDING TELAH TEMBUS dan RAHASIA TELAH TERBUKA, dan tugas kita ialah MEMPELAJARInya lagi, dengan pengalaman-pengalaman yang sudah kita dapatkan itu. DIA adalah HAKMILIK kita, dan tiadalah orang lain berhak atasnya. Kenapa tidak kita pergunakan Hakmilik kita Yang Amat Berharga itu?

Diranah inilah, siapapun dia adal sadar, dengan sesadar sadarnya. Bahwa pendiriannya, (selama ini) adalah tidak tepat, kerana tidak berpegang pada DIRI barang yang hidup, melainkan kepada BADAN barang yang mati. Yang TERANG ada pada kita dan yang GELAP pun ada pada kita. Kenapa berpegang kepada itu yang GELAP ? SIANG ada pada kita MALAM pun ada pada kita.

SIANG adalah TERANG dan Yang Terang adalah DIRI dan MALAM adalah GELAP dan Yang Gelap ialah BADAN. Siterang letaknya DIDALAM dan Segelap letaknya DILUAR. MASUKKAN itu MALAM kepada SIANG dan MASUKKAN itu SIANG kepada MALAM. Datangkanlah itu YANG HIDUP dari YANG MATI dan YANG MATI dari YANG HIDUP. KELUARKANlah Yang Didalam dan KEDALAMKANlah Yang Diluar.

UNTUK itu REZEKI yang TIDAK TERDUGA-DUGA dan TERBILANG banyaknya yang akan kita DAPATKAN.

Semua orang takut mati, kerana SALAH MEMAHAMI HIDUP. Dia takut ditinggalkan Hidup. Dari itu makanya dia takut mati. Mereka SALAH PEGANG, salah tangkapan, berpegang pada Yang Mati. YANG DIANGGAPnya Yang Hidup.

Sebenarnya Hidup, tidak diperdulikannya selama ini. Bagi kita yang berpegang pada Yang Hidup, tidak akan takut mati, karena bagi kita, Yang Hidup itu mestilah TIDAK ADA MATInya. Adalah DIA itu KEKAL dan ABADI kembali menyatu bersama Hyang Dzat Maha Suci Hidup.

Pembawaan hidup mereka-mereka yang seperti itu, menuju kepada kematian dan perjalanan hidup yang di bawa menuju kepada hidup yang kekal dan abadi untuk kembali kepangkalan. Artinya; Perjalanan mereka KEBAWAH ( sedangkan ) perjalanan kita KEATAS. Mereka MENUJU KEMATIAN. Sedangkan kita MENUJU KESEMPURNA’AN HIDUP YANG KEKAL dan ABADI.

Perjalanan kita SEBENARNYA, iyalah kita telah mati sebelum dimatikan, telah pergi sebelum dipanggil dan AKU telah kembali dari SANA.

AKU telah MENEMUINYA setelah engkau menemui AKU dan BATAS Aku dengan DIA ialah seperti batas antara Engkau dengan Aku yaitu JAUH TIDAK BERANTARA dan DEKAT TIDAK BERBATAS. Engkau yang tadinya DINDING bagiku, untuk menghubungi dan MENEMUInya, kini telah dapat menghubungiku, dengan CARA PEMECAHANMU, maka TERBUKAlah JALAN bagiku, untuk menghubungi dan menemui NYA, karena pintu telah terbuka bagiku.

Engkau, Aku bawa serta, karena cinta kasih sayangku tertumpah padamu, dan adalah ENGKAU ITU BADANKU. Kita tidak akan berpisah kecuali kalau dipisahkan oleh Yang Maha Suci Hidup. Dari itu KUASAILAH AKU, supaya apa yang ada padaku menjadi KEPUNYAANMU.

Bagaimana cara menguasainya ?
Mudah saja. Cintailah, kasihilah dan sayangilah AKU. Bagimanakah cara mencintai, mengasihi dan menyayanginya ?
AKU tidak pinta apa yang tidak ada padamu, cukuplah kalau engkau SERAHKAN APA YANG ADA PADAMU KEPADAKU, (wahyu Panca laku/iman), dan untuk itu akan AKU serahkan pula apa yang ada padaKu, sehingga AKU menjadi kepunyaanmu dan engkau menjadi kepunyaanku.

Kedalam Engkau yang berkuasa, keluar AKU dimuka. Tadinya sebelum engkau mengenal Aku maka adalah AKU NYAWAMU. Setelah Engkau dapat mengenal AKU, maka tahu Engkau yang membawa AKU ini, sangat berguna padamu. Engkau ketahui bahwa seluruh kehidupanmu BERGANTUNG PADAKU. Setelah Engkau menemui AKU, maka Engkaulah lebih kenal padaku. AKUlah yang akan menjadi Engkau dan Engkaulah yang akan jadi AKU. AKU dan Engkau sebenarnya SATU dan memang kita satu. Ilmu pengetahuan yang memisahkan kita. Dan AKUlah kita, AKU LUAR dan DALAM.

Selama ini Engkau berjalan sendiri dengan tidak memperdulikan AKU. Sekarang setelah Engkau menemui AKU, apa lagi kita telah menjadi AKU, maka kalau Engkau berjalan ikut sertakanlah AKU, dan kalau AKU berjalan akan mengikut sertakan Engkau pula. Satu arah, satu tujuan dan satu tindakan. Selama ini kita berjalan pada jalan sendiri – sendiri.

Sekarang kita kenal mengenal satu sama lain. Selapik seketidur, sebantal, sekalang hulu, sehina, semulia, kelurah sama menurun, kebukit sama mendaki, sikit senang sama-sama kita rasai.

Apa yang tidak ada padaKU, ada padamu dan apa juga yang tidak ada padamu ada padaku.

Engkau selama ini sudah jauh berjalan sendiri dengan tidak mengikut sertakan AKU, walaupun Aku sentiasa berada bersamamu. Dalam banyak hal AKU menderita kerana AKU yang merasakannya.

Sekarang AKU berjalan dan Engkau Aku ikut sertakan. Tugasmu hanya menurutkan dan mempelajari hasilnya untuk kita. Engkau yang tadinya tidak tahu setelah mempelajari perjalananku akan banyak mendapat yang Engkau tidak ketahui selama ini.

AKU yang berbuat, Engkau yang melakukan dan hasilnya untuk KITA. Bahagiamu terletak PADAKU dan bahagiaku padamu. AKU sangat merasa bahagia kalau yang AKU perbuat dan lakukan besertamu menghasilkan yang memuaskan.

Lambat laun Engkau akan mengenal AKU yang sebenarnya. Dan adalah perbuatanku bagimu namanya ILMU. Oleh kerana Aku GHAIB sifatnya, maka namanya ILMU GHAIB.

Rahasia kandungan telah terbuka dengan hasil dari latihan latihan yang telah kita lakukan, yaitu keluarnya pancaran yang terasa betul pada ujung KUKU kita, ujung jari jemari kita. Dan kita telah melahirkan kandungan kita sendiri.

Yang melahirkan kita dan yang dilahirkan kita pula. Kita yang telah terlahir itu ialah DIRI YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA, bergerak dan berjalan dengan sendirinya, akan tetapi duduk ditempatnya.

Keluarnya dari badan kita melalui saluran saluran tertentu yang bernamakan pancaran yang setelah sanggup menebus alam sendiri akan sanggup pula menembus alam lain, kalau kita telah dapat menguasai dan mengetahui akan RAHSIANYA yang sebenarnya.

Ibu melahirkan kita sebagai seorang manusia lengkap dan sempurna, dengan pembawaan dan kelahiran kita, mengandung pembawaan itu untuk hidup. Untuk melanjutkan jalannya kehidupan kita, supaya dapat menikmati Kebahagiaan Hidup, maka, adalah tugas kita melahirkan kandungan kita ,yaitu pembawaan dari Rahim ibu.

Kebahagiaan hidup yang kita alami di Rahim ibu, semasa dalam kandungan ibu, iyalah dengan hidupnya bunda mengandung atau dengan dua keadaan hidup, yaitu pertama yang mengandung dan yang kedua yang dikandung.

Sebelum kita dapat melahirkan kandungan kita itu sampai akhir hayat kita, maka senantiasa akan panjanglah jalannya kehidupan kita yang kita rasai, karena melakukan hidup sendiri. Maka untuk kesempurnaan jalannya kehidupan kita, lahirkanlah kandungan sendiri. Kelahirannya mendatangkan HIDUP BARU bagi kita, dan seimbangkanlah jalannya kehidupan kita. Kita telah bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri, mengarungi lautan hidup yang tidak bertepi itu. Maka pergunakanlah jalan hidup yang baru kita dapatkan ini. Bila HIDUP tidak kita pergunakan, tidak perlu disesalkan kalau satu saat nanti kita ditinggalkannya.

Dengan telah melahirkan kandungan itu, kita telah menjadi manusia baru dengan tenaga baru, dan sebutan baru, yaitu; Manusia Hidup, bukan mayat Hidup....He he he . . . Edan Tenan. BERSAMBUNG KE BAGIAN KE TUJUH.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Kinasih Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. 
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”