Mengenai Saya

Foto saya

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untuk semuanya tanpa terkecuali. Perkenalkan Saya... Dengan Nama asli: Toso Wijaya. D.  Nama Lahir saya: Djaka Tolos. Dan Akrab di panggil Wong Edan Bagu atau WEB dalam dunia Spiritual Laku Ketuhanan. saya lahir di lereng gunung ciremai Cirebon jawa barat. Pada hari Rabu Pon, tgl 13/08/1959, Anak kedua dari empat bersaudara, yang lahir dari kedua orang tua, Bapak Bernama: Matsalim dan Ibu Bernaman Dewi Arimi.  Mulai dari Nenek moyang hingga ke bapak ibu sampai ke saya sendiri. Kami Suka Berspiritual. artinya... suka mempelajari hal-hal yang ga'ib. Tapi bukan sembarang Ghaib, karena Ghaib yang saya pelajari, adalah Ghaib-Nya Dzat Maha Suci Hidup (TUHAN). Bukan yang lain.  Karena itu Sejak usia 9 tahun, saya sudah mempelajari ilmu-ilmu katikjayan, kususnya ilmu kanuragan dan ilmu jaya kawijayan Warisan dari para leluhur saya di telatah tanah pasundan. Sebagai bekal untuk mengembara dalam melacak jejak Dzat Maha Suci yang Gha'ib.  

Dan setelah melalui berbagai macan dan banyak lika liku proses kehidupan. saya berhasil menemukan intisari pati Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sebenarnya, dari semua dan segalanya tentang Hidup dan Kehidupan BerTuhan... dan sejak itulah, saya berhenti mengembara dan berpetualang. Lalu menekuni secara Khusus/Istiqomah Laku Spiritual Hakikat Hidup. Yang pelajarannya saya dapatkan, dikala puasa ngebleng di goa singabarong pulau nusa kambangan cilacap jawa tengah,  yaitu,,. Wahyu Panca Laku. Cara untuk Mempraktekan Wahyu Panca Gha'ib, yang hanya mempelajari Hidup dan kehidupan serta Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya... disamping terus belajar dan belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya... Karena saya tidak suka Neko-neko. Saya membuka Pengobatan dan Konsultasi Alternatif Tradisional, mempraktekan ilmu pengobatan spesialist Stroke. Dengan Cara Terapi Pijat Urut dan Jamu Herbal Ramuan Sendiri. Yang pernah saya Pelajari dari beberapa orang Guru saya... Dan semoga, apa yang saya lakukan ini. bisa dan dapat bermanfaat pada diri saya sendiri dan buat semua saudara-saudari saya tanpa terkecuali..... Itulah sekelumit tentang saya dan mohon maklumnya jika terkesan berlebihan; Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian... _/!\_

Rabu, 30 Maret 2016

NASEHAT Spiritual dan MOTIVASI Wong Edan Bagu:

NASEHAT Spiritual dan MOTIVASI Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 30 Maret 2016

Dengarkanlah baik-baik wahai Anak Cucuku, duhai Sanak Kadhangku. Masukkan dalam hatimu... lalu Kerjakanlah.

Jangalah tidur jika belum bersih tubuhhmu dan suci hatimu. Jangan berjalan bila tidak menyimpan kehidupanmu kepada Sang Khalik. Karena keburukan berbarengan dengan kebaikan. Lakulah yang memilih, mana yang akan dikuti...

Bersujud atau Manembah itu “Bukan Sekedar Kepada Saja” sujudkan Jiwa serta Ragamu. Tidak ada duanya, tidak ada samanya Gusti Ingkang Moho Suci. Engkau angkat tanganmu, lalu melepaskan kotak-kotak kepentingan dan keperluan duniamu, Karena Hyang Maha Suci Hidup, sudah menunggumu sangat lama, lalu engkau menyebut-Nya.

Raga/Wudhumu akan jadi pembersih Jiwa/Tubuhmu. Patrapmu akan jadi Pembersih hatimu. Lakumu akan jadi pembersih Pikiranmu.  Cinta Kasih Sayangmu akan menjadi pembersih kotak-kotak kepentinga dan keperluan  duniamu. Lilo Legowo, Sabar Narimo akan menjadi Pembersih ego akumu.
Biarlah geger Dunia, Becerai berai Negeri. Tetep Idep Madep Manteplah
Dalam Belajar/Berguru kepada Hyang Maha Suci Hidup.

Tiada hari tanpa Cinta Kasih Sayang, kita di ciptakan dengan Cinta Kasih Sayang, kita di besarkan dengan Cinta Kasih Sayang,  kita hidup dengan Cinta Kasih Sayang, bukan dengan kebencian, dendam atau fitnah. Selalu berlapang dada dan mengalah. Hidup ceria, bebas, leluasa dalam iman Cinta Kasih Sayang. Tidak ada satupun yang tidak bisa direlakan, karena semuanya itu adalah titipan. Tidak ada sakit hati yang tidak bisa dimaafkan. Tidak ada dendam yang tidak bisa terhapus. Jalanilah hidup ini dengan segala sifat positif yang kita miliki. Jalanilah kehidupan ini dengan sikap Cinta Kasih Sayang yang kita punyai. Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh. Jika hati seputih awan, jangan biarkan ia mendung. Jika hati seindah bulan, hiasi dengan Cinta Kasih Sayang.

Patrap, dapat membuat diri kita kuat. Kunci, dapat membuat diri kita murah hati. Paweling dapat membuat diri kita diberkahi. Asmo, dapat membuat diri kita sehat. Mijil, dapat membuat diri kita bijak. Singkir, dapat membuat diri kita  diridhai. Cinta Kasih Sayang dapat membuat diri kita mengerti dan memahami arti Hidup di dalam kehidupan dunia akherat.

Orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan, tetapi mereka di bentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Jangan menyerah hanya karena hal itu, karena itu adalah anak tangga yang harus kita tapaki satu persatu, sewaktu kita merasa seakan semua sulit untuk kita jalani, percayalah bahwa Hyang Maha Suci Hidup akan memberikan kemampuan kepada kita untuk menjalaninya. Bersama Hyang Maha Suci Hidup, kita menjadi orang yang hebat, lebih dari sekedar pemenang kompetisi.

Cinta Kasih Sayang adalah  buah yang tidak kenal musim, dapat di petik tiap orang kapan saja. Walau Cinta Kasih Sayang tidak selalu di balas manis, tetapi jangan pernah berhenti Menebar Cinta Kasih Sayang pada siapapun dan apapun. Hiduplah dalam Cinta Kasih Sayang, karena Cinta Kasih Sayang itu indah, membawa damai, nyaman, tenang, bahagia, sukacita dan harapan indah di setiap harinya.

Jangan menjadi palsu dengan meniru orang lain yang bukan diri kita yang sebenarnya. Kita adalah pribadi yang istimewa dan unik. Kita memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Banggalah menjadi diri sendiri. Jika kita tahu bahwa mengeluh tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna, untuk apa kita masih mengeluh?

Mari jalani hidup ini dengan sebuah tindakan nyata dan bukan keluhan semata. Tindakan kita lebih bernilai daripada keluhan kita. Sirami tanaman kita dengan Wahyu Panca Gha’ib, dan kita akan menuainya. Kembangkan potensi kita dengan Wahyu Panca Laku, dan kita akan berhasil.

Apa yang keluar dari mulut kita dengan Cinta Kasih Sayang, dapat menjadi berkah dan motivasi, atau sebaliknya dapat menjadi sebuah malapetaka. Hati-hati dengan mulut kita. Iri hati bisa timbul ketika kita kehilangan rasa syukur atas apa yang Hyang Maha Suci Hidup berikan. Kasih menjadi luntur, berganti Perasa’an tidak aman dan curiga. Jika kita mulai mengalaminya, waspadalah. Jangan buang waktu, segeralah Patra Kunci.

Di setiap langkah ada tujuan. Di setiap nafas ada kehidupan. Di setiap harapan ada kepastian. Di setiap doa ada jawaban. Di setiap laku ada kesempurna’an. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan benci agar kita tahu arti menyayangi. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan duka agar kita tahu arti senyuman. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan salah supaya kita tahu arti memaafkan. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan kesendirian supaya kita tahu arti kebersamaan. Hyang Maha Suci Hidup Mewahyukan Panca Gha’ib supaya kita mengerti arti Hyang Maha Suci Hidup. Panca Laku supaya kita paham Maksud Hyang Maha Suci Hidup. 

Dari air kita belajar ketenangan. Dari batu kita belajar ketegaran. Dari tanah kita belajar kehidupan. Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri. Dari padi kita belajar rendah hati. Dari Hyang Maha Suci Hidup kita belajar tentang Cinta Sasih Sayang yang sempurna.

Melihat ke atas, memperoleh semangat untuk maju. Melihat ke bawah, bersyukur atas semua yang ada. Melihat ke samping, semangat kebersamaan. Melihat ke belakang, sebagai pengalaman berharga. Melihat ke dalam, untuk introspeksi. Melihat ke depan, untuk menjadi lebih baik.

Ingat...!!! Hyang Maha Suci Hidup tidak pernah menjanjikan hari-hari kita berlalu tanpa sakit, berhias tawa tanpa air mata, berselimut senang tanpa kesulitan, lautan tenang tanpa badai. Tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk mengarungi kehidupan kita hari ke hari. Dan janji itu harus kita rengkuh dengan Wahyu Panca Gha’ib sebagai Hakikatnya dan Wahyu Panca Laku sebagai Syare’atnya. Tetaplah setia pada asal usul kita, yaitu Cinta Kasih Sayang, jadilah pemenang-Nya.

Mungkin ada banyak hal yang tidak dapat kita lakukan.  Tetapi kita dapat melakukan hal-hal yang dapat kita lakukan bukan...?! Jadi, tidak ada alasan untuk katakan tidak bisa.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin... Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com



Kamis, 24 Maret 2016

Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:

Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:
3 In 1; “Tri Tunggal” . “Tri Sula”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Wage. Tgl 25 Maret 2016

Keterkaitan Aji Mundi Jati Sasongko Jati Atau Wahyu Panca Laku.
Dengan Wahyu Panca Gha’ib;

Aji Mundi Jati Sasongko Jati adalah Puncak Ilmu dari Segala Ilmu di Tanah Jawa Dwipa, dulu, pada masanya, ilmu ini sangatlah rahasia dan dirahasiakan, serta hanya di miliki oleh seorang saja, yaitu si penciptanya ilmu itu sendiri, dan itupun tidak sampai ke titik finisnya, maksudnya, tidak sampai selesai, karena lelaku akhir dari ilmu ini, adalah penerapan Cinta Kasih Sayang “Nggelar Cinta Kasih Sayang” antar sesama makhluk hidup, sedang si pelaku/pencipta ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati, adalah seorang resi, yang awalnya merana dan kecewa, karena di khianati sang istri tercintanya, sehingganya, benci dan dendam serta sakit hati yang mendapat, mempersulit lelaku akhrinya, sebab tetap membengkas dihatinya, sukar di bersihkan, hal inilah, yang menjadikan Aji Mundi Jati Sasongko Jati yang dimilikinya kurang sempurna, dan hanya muncul sekejap saja di dunia Persilatan dan Spiritual keTuhanan, lalu,,, menghilang dan musnah kembali ke asal usulnya bersama sang penciptanya.

Namun sebelum musnah, konon Aji Mundi Jati Sasongko Jati, sempat di ajarkan secara paksa, pada seorang putera mahkota titisan dewa, yang kala itu sedang dilanda asmara dunia, namun tetap memiliki sipat dan sikap arif bijaksana, penuh Cinta Kasih Sayang, terhadap apapun tanpa terkecuali, karena dia adalah titisan dewa, dan putera mahkota inilah, yang berhasil mengusai Aji Mundi Jati Sasongko Jati, hingga ketingkatan sempurna.

Proses penyempurna’annya, cukup sederhana, bukan dengan bertapa atau melanglang buana dan sebagainya, seperti yang pernah dilakukan oleh sang resi sa’at lelaku menyempurnakan ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati cipta’annya, diluar kesengaja’an, karena sang putera mahkota titisan dewa itu, memiliki sipat dan sikap penuh Cinta Kasih Sayang terhadap apapun tanpa terkecuali.

Peribahasanya (jangankan terhadap sesama manusia, pada nyamuk yang menggigit dan menghisap darahnya saja, konon tidak di bunuhnya, melainkan di biyarkan hingga si nyamuk kenyang dan pergi dengan sendirinya).

Sehingganya, diluar kesadarannya, sipat dan sikap Cinta Kasih Sayang yang dimilikinya itu, menyelesaikan tahap akhir dari lelaku Aji Mundi Jati Sasongko Jati.

Dan setelah dimiliki oleh sang putera mahkota tersebut, tidak ada seorangpun  yang mampu mewarisi Puncak Ilmu dari segala Ilmu itu, karena tidak bisa menerapkan Cinta Kasih Sayang setepat Cinta Kasih Sayang yang pernah, di miliki oleh sang putera mahkota titisan dewa tersebut.

Karena pada masa itu “Cinta Kasih Sayang” hanya dimiliki oleh para Resi Ahli Pertapa, yang sudah tidak tertarik lagi, dengan urusan duniawi. Sehingganya, tidak berminat untuk mempelajari Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang konon, dulu sempat jadi buruan para jawara dan pendekar pilih tanding.

Kemudian Aji Mundi Jati Sasongko Jati, muncul kembali beserta ajaran Jowo  Sanyoto, Aji Mundi Jati Sasongko Jati digelar kembali, sebagai upaya para leluhur bangsa jawa, yaitu Naya Genggong Sabda Palon, untuk menjabarkan keada’an jati diri atau guru sejati.

Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang jawa, dengan tujuan agar supaya, kawruh lan ngelmu sejatining jowo sanyoto, lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa jawa, maka digunakanlah sanepo/sanepa, saloka/kiasan, perumpama’an atau perlambang.

Dalam acara ritual atau upacara tradisi. Perlambang, saloka atau sanepa ini, diwujudkan ke dalam wejangan Wahyu Panca Laku. Inti dari isi Wejangan Wahyu Panca Laku ini, menggelar arti dari kalimat kiasan (saloka Aji mundi jati sasongko jati), yakni perumpamaan mengenai suatu makna yang dimanifestasikan dalam bentuk peribahasa. Mulai dari eksistensi yang dicipta-Yang mencipta, eksistensi Hidup dan jiwa atau sukma, hingga eksistensi akal budi pekerti. Yang bisa meneguhkan keyakinan/iman  kepada Gusti Pengeran (Tuhan Yang Maha Suci. Maha dari segala Yang Maha Mulia).

Peribahasa dalam terminologi Jawa sebagai “PasemoN” atau kiasan. Kiasan diciptakan sebagai pisau analisa, di samping memberi kemudahan pemahaman akan suatu makna yang sangat dalam, rumit dicerna dan sulit dibayangkan dengan imajinasi akal-budi. Berikut ini adalah Wejangan Wahyu Panca Laku dari Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang pernah saya pelajari dan saya praktek-kan di TKP, yang digunakan dalam berbagai wacana falsafah Jawa Sanyata (Jowo Sanyoto). Warisan dari leluhur jawa Mbah Buyut Naya Genggong Sabda Palon.

Gigiring Punglu; Gigiring mimis;
Merupakan perumpamaan akan ke-elokan Zat Tuhan. Yakni perumpama’an hidup kita, tanpa titik kiblat dan tanpa tempat, hanya berada di dalam hidup kita pribadi.

Tambining Pucang;
Menunjukkan ke-elokan Zat Tuhan, ke-ada-an Tuhan itu dibahasakan bukan laki-laki bukan perempuan atau kedua-duanya. Dan bukan apa-apa, seperti apa sifat sebenarnya, terproyeksikan dalam sifat sejatinya hidup kita pribadi.

Wekasaning Langit; Batas langit;
Umpama batas jangkauan pancaran cahaya. Yakni pancaran cahaya kita. Sedangkan tiadanya batas jangkauan cahaya, menggambarkan keadaan sifat kita.

Wekasaning Samodra tanpa tepi; Berakhirnya samodra tiada bertepi;
Maksudnya ibarat batas akhir daya jangkauan rahsa atau rasa (sirr). Mengalir sampai ke dalam sejatinya warna kita.

Galihing Kangkung;
Galih  adalah bagian kayu yang keras atau intisari di dalam pohon) galihnya pohon kangkung (kosong), maksudnya, perumpamaan ke-ada-an sukma, yang merasuk ke dalam jasad kita. Ada namun tiada.

Latu sakonang angasataken samodra; Bara api setungku membuat surut air samodra;
Menggambarkan keluarnya nafsu yang bersinggasana di dalam pancaindra, dapat membuat sirna segala kebaikan.

Peksi miber angungkuli langit; Burung terbang melampaui langit;
Menggambarkan kekuatan akal budi kita yang bersemayam di dalam penguasaan nafsu, namun sesungguhnya akal budi mampu mengalahkan nafsu.

Baita amot samodra; Perahu memuat samodra;
Baita atau perahu kiasan untuk badan kita, sedangkan samodra merupakan kiasan untuk hati kita. Secara fisik hati berada di dalam jasad. Tetapi secara substansi jasad lah yang lebih kecil dari hati.

Angin katarik ing baita; Angin ditarik oleh perahu;
Menggambarkan pemberhentian nafas kita dalam jasad, sedangkan keluarnya nafas dari dalam jasad kita pula. Dalam jagad besar, prinsip fisika merumuskan angin lah yang menarik atau mendorong perahu. Sebaliknya dalam jagad kecil, rumus biologis maka badan lan yang menarik angin. Ini menggambarkan prinsip imbal balik jagad besar dan jagad kecil.

Susuhing angin; Sarangnya angin;
Menggambarkan terminal sirkulasi nafas kita berada dalam jantung.

Bumi kapethak ing salebeting siti; Bumi ditanam di dalam tanah;
Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.

Mendhet latu adadamar; Mengambil bara sambil membawa api;
Latu wonten salebeting latu; Bara di dalam bara;
Latu binesmi ing latu; Bara terbakar oleh bara;
Menggambarkan badan kita berasal dari bara api, selalu mengeluarkan api, keadaan untuk menggambarkan  sumber dan keluarnya hawa nafsu kita.

Barat katiup angin; Angin anginte prahara; Angin tertiup angin;
Menggambarkan wahana yang menghidupkan badan kita berasal dari udara, selalu mengeluarkan udara, yakni nafas kita.

Tirta kinum ing toya; Air tertelan oleh air;
Ngangsu rembatan toya; Menimba dengan air;
Toya salebeting toya; Air di dalam air;
Menggambarkan badan kita berasal dari air, selalu dialiri dan mengalirkan air,  maksudnya darah kita.

Srengenge pinepe; Kaca angemu srengenge;
Matahari terjemur; Kaca mengandung matahari;
Artinya bahwa adanya cahaya karena sinar dari sang surya. Surya itu sendiri berada di dalam cahaya. Hal ini menggambarkan keadaan indera mata atau netra kita ; mata itu seperti matahari, namun mata dapat melihat karena selalu disinari oleh sang surya.

Wiji wonten salabeting wit; Biji berada dalam pohon;
Wit wonten salebeting wiji; Pohon berada di dalam biji;
Dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).

Kakang barep adhine wuragil; Kakaknya sulung, adiknya bungsu;  
Menggambarkan martabat insan kamil, keadaan sejatinya diri kita. Hakekat kehidupan kita sebagai “akhiran” dan sekaligus sebagai “awalan”. Pada saat manusia lahir dari rahim ibu merupakan awal kehidupannya di dunia, sekaligusakhir dari sebuah proses triwikrama atau tiga kali menitisnya “Dewa Wisnu” menjadi manusia melewati 4 zaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga/mercapadha/bumi. Sedangkan ajal, merupakan akhir dari kehidupan (dunia), namun ajal merupakan awal dari kehidupan baru yang sejati, azali abadi.

Busana kencana retna boten boseni; Busana wrasta tanpa seret;
Gambaran jasad yang dibungkus kulit sebagai “busana”. Kita tidak pernah bosan biarpun tidak pernah ganti “busana” atau kulit kita. Kulit merupakan “busana” pelindung dari tubuh kita.

Tugu manik ing samodra;
Menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.

Sawanganing samodra retna; Pemandangan intan samodra;
Menggambarkan pintu pembuka kepada keadaan Tuhan. Tabir pembuka hakekat Zat. Yakni “babahan hawa sanga” atau sembilan titik yang terdapat di dalam diri manusia  sebagai penghubung kepada Zat Maha Kuasa. Disebut juga kori selamatangkeb; melar-mingkupnya maras atau membuka-menutupnya mulut).

Samodra winotan kilat; Samudra berjembatan kilat;
Dalam Islam disebut jembatan “siratal mustaqim”.
Menggambarkan pesatnya yatma sampai padangabyantaraning Hyang Widhi. Adapula yang mengartikan “jembatan kilat”, sebagai perlambang keluarnya ucapan mulut manusia.

Bale tawang gantungan; Rumah atau tempatnya langit bergantung;
(Dalam terminologi Islam disebut arsy atau aras kursi atau kursi kekuasaan Tuhan). Namun bukan dibayangkan sebagai singgasana yang diduduki Tuhan bertempat di atas langit (ke 7), imajinasi demikian justru memberhalakan Tuhan sebagaimana  makhluk-Nya saja. Dalam konteks ini, aras atau tawang gantungan adalah perumpamaan kekuasaan, yang menjadi “wajah” Tuhan. Hakekatnya sebagai “balai sidang” Zat, keberadaannya di dalam kepala dan dada. Sedangkan kursi, atau dilambangkan bale, merupakan perumpamaan singgasana (palenggahan) Zat. Letaknya ada di otak danjantung. Singkatnya, kepala dan dada sebagaitawang gantungan, sedangkan otak dan jantung sebagai bale-nya.

Wiji tuwuh ing sela; Biji tumbuh di atas batu;
Dalam termonologi Islam di istilahkan laufhul mahfudz loh-kalam. Loh/laufhul itu artinya papan atau tempat, sedangkan al makhfudz berarti dijaga/kareksa. Maknanya adalah tempat yang selalu dijaga Tuhann. Yakni hakekat dari “sifat” Zat yang terletak di dalam jasad yang selalu dijaga “malaikat” Kariban. Malaikat merupakan perlambang dari nur suci (nurullah) ataucahyo sejati. Cahyo sejati menjadi pelita bagi rasa sejati atau sirr. Sedangkan loh-kalam artinya bayangan atau angan-angan Zat letaknya di dalam budi, tumbuhnya angan-angan, dijaga oleh malaikat Katiban. Malaikat katiban adalah pralambang darisukma sejati yang selalu menjaga budi agar tidak mengikuti nafsu.

Tengahing arah; Titik tengahnya arah;
Ibarat mijanatau traju. Yakni ujung dari sebuah senjata tajam. Menggambarkan hakekat dari neraca (alat penimbang) Zat. Traju terletak pada instrumen pancaindra yakni; netra (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (pembauan), lidah dan kulit (perasa). Dalam pewayangan dilambangkan sebagai Pendawa Lima; Yudhistira, Bima/Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Makna untuk menggambarkanpanimbang (alat penimbang)  hidup kita yang berada pada pancaindra.

Katingal pisah; Terkesan pisah;  
Menggambarkan keadaan antara Zat (Pencipta) dengan sifatnya (makhluk) seolah-olah terpisah. Sejatinya antara Zat dengan sifat  tak dapat dipisahkan. Sebab biji dapat tumbuh tanpa cangkok. Sebaliknya cangkok tidak tumbuh bila tanpa biji. Biji menggambarkan eksistensi Tuhan, sedangkan cangkok menggambarkan eksistensi manusia. Kiasan ini  menggambarkan hubungan antara kawula dengan Gusti. Walaupun seolah eksis sendiri-sendiri, namun sesungguhnya manunggal tak terpisahkan dalam pengertian “dwi tunggal”  (loroning atunggil).

Katingal boten pisah; Tampak tidak terpisah;
Menggambarkan solah dan bawa. Solah adalah gerak-gerik badan. Bawa atau krenteg adalah gerak-gerik batin. Solah dan bawa tampak seolah tidak terpisah, namun keduanya tergantung rasa. Solah merupakan rahsaning karep (nafsu/jasad), sedangkan bawa merupakan kareping rahsa(pancaran Zat sebagai rasa sejati). Keduanya dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian idealnya adalah Solah harus mengikuti Bawa.

Katingal tunggal; Tampak satu;
Menggambarkan zat pramana (mata batin), dengan sifatnya yakni netra (mata wadag) tidaklah berbeda. Artinya, penglihatan mata wadag dipengaruhi oleh mata batin.

Medhal katingal;
Menggambarkan keluarnya sifat hakekat (Tuhan) ke dalam zat sifat (makhluk), yakni ditandai dengan ucapan lisan menimbulkan suara.

Katingal amedhalaken;
menggambarkan keluarnya nafas. Sedangkan kenyataannya menghirup atau memasukkan udara, yang seolah-olah mengeluarkan.

Menawi pejah mboten kenging risak; Bila mati tidak boleh rusak;
Ibarat sukma dengan raga. Bila raga rusak, sukmanya tetap abadi. Dalam terminologi Islam disebut alif muttakallimun wakhid. Sifat yang berbicara sepatah tanpa lisan. Berupa kesejatian yang berada dalam sukma, yakni roh kita sendiri.

Menawi karisak mboten saget pejah; Bila dirusak tidak bisa mati;
Perumpamaan untuk hubungan nafsu danrasa. Walaupun nafsu dapat kita dikendalikan, namun rasa secara alamiah tidak dapat disirnakan. Karena rasa dalam cipta masih terasa, terletak dalam rahsa/sirr kita pribadi. Berhasil menahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya; raganya tidak melakukan pemenuhan nafsu, tetapi rasa ingin memenuhi kenikmatan jasad tetap masih ada di dalam hati. Saloka ini untuk memberi warning agar kitawaspadha dalam “berjihad” melawan nafsu diri pribadi.  Karena kesucian sejati baru dapat diraih apabila keingingan jasad (rahsaning karep) sudah sirna berganti keinginan rahsa sejati (kareping rahsa).

Sukalila tega ing pejah ; sukarela dan tega untuk mati;
Menggambarkan orang mau mati, dengan menjalani tiga perkara; pertama, sikap senang seperti merasa akan  mendapat kegembiraan di alam kasampurnan. Kedua, rela untuk meninggalkan semua harta bendanya dan barang berharga. Ketiga,  setelah tega meninggalkan semua yang dicinta, disayang dan segala yang memuaskan nafsu dan keinginan, semuanya ditinggal. Mati di sini berarti secara lugas maupun arti kiasan. Orang yang berhasil meredam hawa nafsu dan meraih kesucian sejati hakekatnyaorang hidup dalam kematian. Sebaliknya orang yang selalu diperbudak nafsu hakekatnya orang yang sudah mati dalam hidupnya. Yakni kematian nur atau cahaya sejati.

Semua yang disebut; besar, luas, tinggi, panjang, lebih, ialah bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan keadaan Tuhan. Sebaliknya, semua yang disebut kecil, sempit, rendah, pendek, kurang, dan seterusnya ialah bahasa yang dugunakan untuk menggambarkan “sifat” yakni wujudnya kawula (manusia).
Gambaran menyeluruh namun ringkas mengenai keadaan Zat-sifat (kawula-Gusti) sebagaimana “cangkriman” berikut ini;

Bothok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong;
Bothok : sejenis pepesan untuk lauk, terdiri dari parutan kelapa, bumbu-bumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Bothok berbeda dengan pepes atau pelas, cirikhasnya ada rasa pedas. Campurannya menentukan nama bothok, misalnya campur ikan teri, menjadi bothok teri. Lamtoro, menjadi bothok lamtoro. Udang, menjadi bothok udang. Adonan bothok lalu dibungkus dengan daun pisang. Dan digunakan potongan lidi sebagai pengunci lipatan daun pembungkus.

Nah... Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati inilah, bahan untuk membuat bothok banteng. Sedangkan Bothok Banteng itu, adalah Wahyu Panca Gha’ib. Dibungkus dengan daun asem jawa, yang sangat kecil/sempit. Sedangkan tusuk penguncinya menggunakan alu semacam lingga terbuat dari kayu sebagai alat tumbuk padi. Alu itu panjang dan lurus, namun alu di sini bengkok. Jadi mana mungkin digunakan sebagai bothok.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati di atas. Menggambarkan keada,an yang tampak mustahil jika dipahami hanya menggunakan akal budi saja. Bothok banteng maknanya adalah menggambarkan adanya Zat, yang tidak lain adalah Hidup kita pribadi. Godhong asem, menggambarkan keada’an sifat, yakni sebagai bingkai Hidup  kita, kenyataan dari beragamnya manusia. Alu bengkong, menggambarkan afngal semua, yakni angan-angan, budi, pekerti dan panca indera hidup kita.

Singkatnya, berdirinya/adanya Hidup kita ini, asisinglon warna kita, tampak dari solah dan bawa. Selain makna di atas, bothok banteng diartikan sebagai Wahyu Panca Gha’ib. Godhong asem, adalah Wahyu Panca Laku. Alu bengkong adalah lelakunya “Anggelar Cinta Kasih Sayang”.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati. Puncaknya ilmu dari segala ilmu ini, pernah jadi buruan Raja-Raja Jawa, setelah dibawa lenyap oleh leluhur kita “Naya genggong Sabda palon” Karena dianggap satu-satunya Ilmu Kesempaurna’an yang paling Sempurna. namun sejauh pembelajarannya, tidak ada satupun yang berhasil.

Selama berabad-abad lamanya, Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, lenyap bak di telan bumi bersama “Naya genggong Sabda palon” leluhur jawa, menjadi mitos yang dianggap tidak nyata, karena siapapun yang mempelajarinya, dapat di pastikan gagal, sebab sudah kemomoran dengan  ajaran-ajaran baru yang di bawa oleh para pendatang/perantau dan berusaha menguasa Tanah/Bumi Jawa.

Kemudian muncul lagi dijaman Proklamasi. Dimiliki oleh seorang Opsir Angkatan Laut, yang masih keturunan Raja majapahit yang menghilang dari kedaton. Yang Pinilih lan Pininto oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk menjadi manusia Pertama, menerima Wahyu Panca Gha’ib. Dengan kesempurna’an Wahyu Panca Laku yang dibawanya sejak lahir. Bernama Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo.

Namun sayang,,, setelah sepeninggalan Beliau “Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo”. Hanya ada beberapa Pewaris saja, yang berhasil mencapai Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Selebihnya, baru sampai ditahapan Saring Sinaring Saring (Belum Tentu).

Di karenakan, tidak tepatnya anggapan bab Wahyu Panca Gha’ib, bahkan salah menafsirkan Wahyu Panca Gha’ib, dianggap itu, disangka ini dan itu ini dll. Sehingganya, jangankan bertemu dengan Wahyu Panca Laku, yang merupakan sistem pengguna’an atau penerapan Wahyu Panca Gha’ib. Untuk  Berproses Ke Sempurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Soal Wahyu Panca Gha’ib-nya saja, yang menjadi bibit sakawitnya, simpang siyur sesuai kepentingan pribadinya masing-masing.  

Dengan Pengalaman atau Pengetahuan Pribadi yang berhasil saya temukan ini. Saya berharap... Seluruh Manusia Hidup, khususnya Pewaris Wahyu Panca Gha’ib dimanapun berada. Bisa tergugah dan tergerak Hatinya/Rasanya, untuk mempertahankan dan menyebar luaskan. Kebenaran yang berhasil saya ungkap kebenarnnya ini, kepada siapapun tanpa terkecuali, dengan Iman Cinta Kasih Sayang, bukan dengan yang lainnya. Tapi,,, harus tau sendiri dulu, harus mengalami sendiri dulu, jika masih katanya saya, sebaiknya tidak usah neko-neko. Karena itu akan lebih mempersulit sikon pribadinya sendiri. Jadi, cukup simpan dan pertahankan, dan kalau sewaktu-waktu sudah tau buktinya sendiri, baru di sebar luaskan...
Hormat saya:
Wong Edan Bagu.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Minggu, 20 Maret 2016

Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan. Dan Kunci The Power:

Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan.
Dan Kunci The Power:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Wage. Tgl 20 Maret 2016

Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan;
Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian dimanapun berada. Secara umum, kebutuhan manusia hidup ada dua hal. Pertama kebutuhan biologis jasmaniah. Yaitu sandang, pangan, papan dan pasangan. Kedua kebutuhan psikologis bathiniah. Yaitu rasa aman, nyaman, bahagia, tenang dan damai.

Untuk memenuhi kebutuhan psikologis atau kebutuhan bathin ini, manusia mulai mencari sesuatu apapun bentuknya, yang dianggapnya mempunyai kekuatan yang luar biasa, yang bisa membantu atau menolong dirinya, yang bisa melindungi dirinya, sehingga dia merasa aman dan nyaman.  Sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan mistik itu, menjadi sesuatu yang dirindui, dipuja dan dipuji serta disembah oleh mereka.

Pada awalnya,,, manusia primitip mengakui hanya ada satu Tuhan Yang Maha Tinggi yang disembah. Namun dalam perkembangannya, karena Tuhan tersebut tidak pernah bisa hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari, maka mereka mulai menggantinya dari satu Tuhan menjadi beberapa tuhan yang mudah untuk dikenali dan mudah dijangkau oleh pola pikir mereka saat itu.  Keyakinan kepada beberapa tuhan dinamakan polytheisme.

Sejak saat itu dalam benak manusia, dalam pikiran manusia, muncul suatu konsep berTuhan. Konsep berTuhan itu, turun-temurun diyakini, walaupun yang ada di dalam pikiran manusia itu, bukan Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Seperti Firman-Nya dalam al-qitab dibawah ini;

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.  Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ( AL HAJJ 22 : 74 )

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu  (  YUSUF 12 : 40 )

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuknya, mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan hawa nafsunya
( AN NAJM 53 : 23 ).

Kita semua belum pernah berjumpa dengan Tuhan bukan?
Lalu bagaimana kita bisa kenal nama-Nya. Enak aja… He he he . . . Edan Tenan.

Tak jumpa maka tak kenal, tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang, tak sayang maka mana mungkin bisa iman... masuk akal tidak...?!  

Tuhan yang sebenarnya tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia, Dia tidak serupa dengan apapun yang di kira dan di sangka-sangka serta di duga-duga, tidak ada sesuatu apapun disisi-Nya,  Dia berdiri dengan sendirinya tanpa penolong.  Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan. Orang Arab atau orang Timur Tengah menyebut nama Tuhannya  Al-Ilah artinya yang disembah, akhirnya muncul kata Allah.  Berarti pada awalnya yang memberi nama Tuhan Allah adalah manusia juga.  

Kata Allah menurut gramatika bahasa Arab, berarti bentuk laki-laki (maskulin), Bapa, namun kata Al Dzat, berarti bentuk perempuan (feminin), Bunda. 

Jadi,,, kata Allah ini, sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim, sejak sebelum agama Islam muncul. Kemudian Nabi Ibrahim yang berpikiran kritis, berusaha mencari Tuhan tanpa alat-alat canggih. Di abad sekarang ini, kebenaran keberadaan Allah, kebenaran Al-Quran, mulai terbukti dengan adanya penelitian luar angkasa, penelitian atom dan energi, penelitian DNA, penelitian air dan bla...bla...bla...lainya.

Sejak zaman primitif, setelah manusia memiliki konsep berkeTuhanan, mereka kemudian membuat aturan-aturan dan tata cara penyembahan, tata cara peribadatan yang disebut Agama, yang berasal dari kata A artinya tidak dan gama. Yang artinya; kacau. Agama adalah aturan agar tidak kacau. Melalui keberagama’an inilah, diharapkan kehidupan masyarakat tidak kacau, aman tentram dan damai. 

Demikian juga Nabi Muhammad, membuat tata cara beribadah, tata cara sholat sebagai syareat Islam, setelah beliau bermukim di Madinah.  Seiring dengan perkembangan zaman, dari zaman purba sampai zaman sekarang, tata-cara keberagama’an pun banyak mengalami perubahan. Pada abad modern ini, hampir semua umat di dunia berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari polytheisme menjadi monotheisme.
                                                     
Pada zaman Nabi Ibrahim, Al-Ilah mereka adalah berhala-berhala yang kemudian dihancurkan oleh Nabi Ibrahim. Kemudian Ibrahim mengajarkan agama samawi, yaitu agama wahyu, menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Begitu pula pada saat zaman Nabi Muhammad, masyarakat jahiliyah tidak menolak nama Tuhan Yang Maha Tinggi adalah Allah, yang mereka tolak adalah karena Nabi Muhammad mengajak mereka dan melarang mereka menyembah Tuhan-Tuhan lainnya selain Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Pada zaman Pra Islam, Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim di dekat sumber air keramat Zamzam, adalah sebagai kuil untuk menyembah Allah, Tuhan Tertinggi bangsa Arab.  

Disekitar nya banyak berhala-berhala sebagai Tuhan-Tuhan yang lain. Mekah sudah dianggap sebagai kota suci, dimana dalam radius 20 mil dari Ka’bah, dilarang adanya segala macam kekerasan, perkelahian apalagi pertumpahan darah.  Pada saat itu, sudah ada kebiasaan tawaf dan ibadah haji yang dilakukan setiap tahun, pada saat musim gugur. Ibadah haji di awali di Ka’bah, kemudian diluar Mekah, untuk menghormati Tuhan-Tuhan yang lain, kemudian acara di Arafah, dan melemparkan batu ke arah tiga pilar di Mina. Pada musim haji ada gencatan senjata, setiap suku dijamin keamanannya, untuk melakukan ibadah haji di Mekah.

Sebagai bukti sederhana, bahwa kata Allah sudah tidak asing lagi di masyarakat Arab jahiliyah, adalah bahwa ayahanda Nabi Muhammad bernama Abdullah. 

Sesungguhnya, kita tidak tahu Tuhan itu apa, dan ada dimana, adalah rahasia. Nama diberikan bila sesuatu ada wujudnya. Segala sesuatu yang berwujud lebih dari satu, harus diberi nama agar kita tidak keliru, agar tidak salah alamat. Bukankah begitu...?! berawal dari sinilah, asma’ul husna di rancang.

Tuhan tidak punya nama, karena tidak berwujud. Namun Dia Yang Maha Esa adalah Dzat Wajibul Wujud, wajib adanya.  Dia juga Dzat Mumkinu Wujud, mungkin adanya. Dia adalah transenden, tak terjangkau oleh akal dan pikiran. Nama Tuhan yang sebenarnya, tidak bisa diucapkan dan tidak bisa dituliskan.  

Walaupun demikian, bila penyembahan semua umat tertuju kepada-Nya, tidak akan salah sasaran, karena Dia Maha Tunggal. Oleh karena Tuhan tidak punya nama, maka kita pun bebas memanggil atau menyebut nama Tuhan dengan nama apa saja. Boleh panggil Bapa atau Bunda atau Yesus atau Hyang Widi, pokoknya dengan nama apa saja, termasuk (Asma’ul husna) dll. Nggak masalah, jadi, nggak usah sewot atau cemburu jika ada yang menyebut Nama Tuhan dengan masing-masing seleranya…Tuhan juga tidak pernah marah akan hal itu. Seperti Firman-Nya dibawah ini;

Katakanlah: Seru-lah Allah atau seru-lah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai nama Al-Asma’ul Husna … ( AL-ISRA 17 : 110 ).

Kita pun yakin bahwa Tuhan Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bukan Tuhan Maha Pemurka. Tuhan tidak pernah menyusahkan umatnya, atau mempersulit umatnya. Semua Nama yang menggambarkan sifat-sifat dualitas-Nya dan saling bertentangan itu, berada dalam ke-Esa-an Dzat-nya.  Misalnya sifat Jamal ( Terang ) dan Jalal ( Gelap ), Al Hadi, Yang Memberi Petunjuk dan Al Mudzil, Yang Menyesatkan, tidak berarti Tuhan ada dua, Dia tetap Yang Maha Tunggal. Yang kita sembah bukan nama-Nya, tapi Dzat-Nya yang Essensi-Nya berada didalam setiap mahluk cipta’annya.

Karena Dialah Al Muhit, Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu.  Dia ada di mana-mana, namun dalam ke Esa-an-Nya. Dia tidak ke mana-mana, Dia berada di dalam diri kita semua. Kemana kita menghadap, disitulah wajah Tuhan. Dimana ada kehidupan, disitulah ada Tuhan. Kemana kita mengahadap, disitulah wajah Tuhan. Kepan kita menyebut, pada sa’at itulah Tuhan Berlaku.

Bagi saya, alam semesta seisinya, adalah guru saya, khususnya manusia hidup, karena itu, saya memperlakukan setiap orang, sama persis seperti saya ingin di perlakukan oleh orang. Hal ini bukan karena saya menghormatinya sebagai manusia hidup, akan tetapi, karena saya melihat ada Guru Sejati di setiap diri manusia hidup. Saya mengetahui ada Cahaya Tuhan, disetiap diri manusia hidup. Saya melihat Cahaya Tuhan bersinar di setiap diri manusia hidup.

Pembukti nyata inilah, yang membuat saya, semakin Cinta kepada semua makhluk hidup, yang membuat saya, semakin Kasih kepada semua makhluk hidup, yang membuat saya, semakin Sayang kepada semua makhluk hidup, terutama sesama Manusia Hidup. Bagi saya, mencubitnya, sama halnya saya mencubit Wujud Tuhan saya sendiri.

Kunci The Power;
Karena itu, saya berpesan penuh Cinta Kasih Sayang, kepada semuanya tanpa terkecuali, lebih baik berhati-hatilah. Tuhan ada dimana-mana, di makhluk  hidup, di tetumbuhan hidup, di hewan-hewan hidup, dan semuanya serta segalanya yang hidup, ada Tuhan di dalamnya, mencubitnya, menghinanya, menyakitinya, membencinya. Berati; mencubit, menghina, menyakiti, dan membenci Tuhan Hyang Maha Suci Hidup, yang sedang kita puja dan puji serta kita rindukan penyatuannya selama ini.

Sebab di semua diri manusia hidup, memiliki Hakikat keTuhanan. Artinya, semuanya manusia hidup, bisa dan bisa, Itu sebab saya berkeinginan, menunjukan bukti kebenarannya, kepada semuanya, karena semuanya juga bisa. Bisa apa? Bisa apa saja...

Dengan ini, saya beritakan sekali lai, saya sampaikan sekali lagi, saya tegaskan sekali lagi. Saya tidak bisa membantu siapapun Anda, dengan cara memberi apa yang Anda dibutuhkan/Perlukan, tapi saya bisa mengajari Anda untuk bisa mendapatkan apa yang Anda Butuhkan/Perlukan.

Dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Salah satu Ajaran Hakikat Hidup, yang sudah saya buktikan sendiri kemurniannya, bukan katanya. Yang lalu bukti-buktinya saya rangkai secara khusus, sesuai Pembuktian sa’at saya Praktek di TKP. Yang saya beri judul “Kunci The Power” siapapun Anda. Pasti “BISA” dengan Laku Hakikat Hidup “Kunci The Power” apapun yang Anda Butuhkan dan Anda Perlukan, bisa tercapai berdukun, berkiyai, bersuhu, tanpa uborampe, tanpa tumbal, tanpa puasa/tirakat, tanpa Efek dan Risiko Negatif apapun.

Hanya dengan Membeli Buku Bimbingan “Kunci The Power” (Bagi yang tidak bisa datang langsung menemui saya). Seharga Rp. 550.000. Anda bisa mengenal Jati Diri Pribadi. Bisa Memiliki Guru Sejati. Bisa Paham tentang Hal-hal yang bersipat Gha’ib. Bisa Mengerti Hyang Maha Suci Hidup (Tuhan).

Rp. 550.000. Sungguh bukanlah kerugian yang amat sangat besar. Karena dulu, saya belajar tentang hal ini, kalau di nilai hitung dengan uang, sungguh tidak ternilai dan terhitung jumlahnya, sebab bukan cuma uang saja, tapi juga anak istri keluarga dan pekerja’an bahkan harga diri, saya korbankan untuk bisa sampai mencapai ini.

Dan cobalah Anda telisik sendiri keluar sana. Berapa juta yang mereka habiskan untuk belajar di pesantren, padepokan, perguruan dll selama bertahun-tahun. Tapi hasilnya, masih tetap katanya. Berapa juta yang mereka habiskan untuk mencari pesugihan di tempat-tempat keramat, di tambah harus mengorbankan anak istri keluarga hingga tetangga, namun hasilnya belum tentu. Berapa juta yang mereka habiskan untuk berdukun, berembah, bersuhu, berkiyai, hanya demi penyakit, nomer togel, pengasihan dll, tapi hasilnya apa...?!

Hanya dengan Rp. 550.000 saja. Anda bisa menyelesaikannya sendiri, tanpa berdukun, bertapa, beritual dan ber bla...bla...lainnya, tanpa risiko negatif apapun, selain itu, bisa mengenal Jati diri/Guru Sejati dan ilmu-ilmu keTuhanan, yang sedang di gandrungi dan buru oleh miliyaran manusia pencinta Tuhan. Anda masih berpikir eman-eman dengan uang Rp. 550.000 itu, dan mamilih yang gratis dan yang lebih mahal, karena yang lebih mahal pasti lebih hebat dan bla...bla...lainnya. berati sungguh Anda telah di takdirkan oleh Tuhan, untuk menjadi manusia-manusia Hidup, yang selama Hidupnya, untuk di perbudak oleh sesama manusia hidup. Karena itu, saya tidak akan memaksakan kehendak saya.

Saya cukupkan sampai disini, ini artikel terakhir saya, tentang syi’ar “Kunci The Power” setelah ini, saya tidak akan menawarkan lagi, saya tidak akan mengajak lagi, apa lagi memaksa, karena kita sudah sama-sama tuanya, artinya, sama-sama bisa mikirnya, tau mana yang baik mana yang tidak. Waktu untuk bersyi’ar sudah habis, waktu untuk mengbarkan sudah selesai. Jadi, setelah artikel ini, saya tidak akan menceritakan atau mengungkap bab soal “Kunci The Power” lagi. Jika ada yang minta nomer togel. Minta ilmu pelet, pengasihan, penglarisan, penyembuhan, naik jabatan, atau bertanya tentang hal-hal gha’ib, guru sejati, jati diri dllnya, sungguh, dengan amat sangat sedih, saya tidak akan menanggapi lebih, karena saya sudah berulang kali memberikan peluang, menawarkan Kunci The Power, agar bisa sendiri, tapi dianggap meraup keuntungan pribadi. Saya Tinggal Ucapkan Lakum Dinukum Waliyadin.

Jadi.... Silahkan di pikir selogika mungkin, adakah yang semurah Wong Edan Bagu...?! Murah, bukan berati murahan, murah saya, karena Cinta Kasih Sayang. Adakah yang seterbukan Wong Edan Bagu...?!

Membeli buku Bimbingan Laku Hakikat Hidup “Kunci The Powr” semahar Rp. 550.000 itu, kalau dalam belajarnya, tidak bisa datang ke tempat saya, karena sibuk bekerja atau karena kepentingan lain-lainya, kalau bisa datang langsung ke tempat saya. GRATIS. Buku saya berikan secara Cuma-Cuma. Kurang apa coba...?!

Jika maunya, enjoy di rumah atau tetap bisa sibuk kerja ditempat, kumpul sama keluarga, tapi bisa sambil belajar, terus buku bimbingannya di kirim secara gratis. Dengan alasan, katanya syiar, katanya Cinta Kasih Sayang. Berati kan, harus rela mengirim buku gratis dan siap melayani bimbingan dari jarak jauh. He he he . . . Edan Tenan. Silahkan dipikir saja. Kira-kira menurut nalar Anda bagaimana...

Bagi yang sudah berhasil memiliki Buku Bimbingan “Kunci The Power”. Tolong...7x, berkomunikasihlah dengan saya selalu, agar tidak mengalami kesulitan, tanyakan jika ada yang tidak dipahami. Agar saya bisa menjelaskannya. Jangan sekali-kali merubah apa yang sudah saya Pakemkan dalam buku tersebut, karena semuanya sudah saya Racik Pas. Dan jangan karena sudah memiliki bukunya, lalu diam saja dan merasa cukup dengan buku tersebut. Saya ingin siapapun yang sudah berhasil memiliki Buku Bimbingan “Kunci The Power” bisa berhasil tanpa mengalami kesulitan apapun, hal ini, hanya bisa di lakukan dengan cara berkomunikasih selalu. Bukan diam saja. Seklian dan Terima Kasih.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Kamis, 17 Maret 2016

Curigo manjing warongko -Wahyu Panca Gha’ib; Warongko manjing curigo - Wahyu Panca Laku;

Curigo manjing warongko -Wahyu Panca Gha’ib;
Warongko manjing curigo - Wahyu Panca Laku;
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Legi. Tgl 17 Maret 2016

Seluruh manusia, dalam benaknya memiliki rasa keingintahuan tentang wujud Tuhan. Maka lazim lah manusia membayangkan bagaimana gambaran keadaan Tuhan itu sebenarnya. Dalam beberapa agama samawi, menggambarkan keadaan Tuhan adalah “ranah terlarang” atau ruang lingkup yang musti dihindari, tidak menjadi pembahasan dengan obyek dzat secara datail dan gamblang. Dengan alasan bahwa Tuhan sebagai dzat yang amat sangat sakral. Maka menggambarkan keadaan dzat Tuhan pun manusia dianggap tidak akan mampu dan akan menemui kesalahan persepsi, yang dianggap beresiko dapat membelokkan pemahaman.

Hal itu wajar karena menggambarkan Tuhan secara vulgar dapat mengakibatkan konsekuensi buruk. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi pembenda’an. Tuhan sebagai upaya manusia mengkonstruksi imajinasinya secara konkrit.

Maka atas alasan tersebut terdapat asumsi bahwa upaya manusia menggambarkan keada’an Tuhan denga cara apapun pasti salah. Namun demikian, lain halnya dengan agama-agama bumi dan ajaran atau kearifan-kearifan lokal yang berusaha menggambarkan keada’an Tuhan dengan cara arif dan hati-hati. Di setiap Patrap Wahyu Panca Gha’ib, tak kala saya memperoleh kesaksian nyata tentang Tuhan, atas dasar Cinta Kasih Sayang saya berusaha mengabarkan kepada sesama hidup, dengan penjelasan secara logic dalam asas hierarchis, sesuai dengan kemampuan nalar awam, akal budi pakarti pada umumnya, dan hati nurani yang dimiliki manusia keseluruhan.

Walau begitu, tentu saja tidak bisa lepas dari tempuhan Laku Spiritual Hakikat Hidup Pribadinya sendiri. Karena tanpa Laku Spiritual Hakikat Hidupnya sendiri, tidak akan bisa kalau hanya sebatas katanya saya, sebab, benar itu tau sendiri, mengerti sendiri, memahami sendiri (mengalami sendiri) bukan katanya apapun dan siapapun.

Pijakana Sasmita;
Dzat adalah mutlak, Jumenengnya Dzat Maha Wisesa kang Langgeng Tan Kenaning Owah Gingsir, dalam bahasa Timteng umumnya disebut Qadim, yang azali/abadi. Kalimat ini mempunyai maksud berdirinya sesuatu tanpa nama,  yang ada, mandiri dan paling berkuasa, mengatasi jagad raya sejak masih awang-uwung. Di sebut maha kuasa.

Artinya;
Dzat yang tanpa wujud, berada merasuk ke dalam energi hidup kita.
Tetapi banyak yang tidak mengerti dan memahami, karena keberada’annya lebih dari sekedar samar, tanpa arah tanpa papan (gigiring punglu), tanpa teman, tanpa rupa, sepi dari bau, warna, rupa, bersifat elok, bukan laki-laki bukan perempuan, juga bukan banci.

Dzat dilambangkan sebagai. Kombang anganjap ing tawang, kumbang hinggap di awang-awang, hakikatnya tersebutlah “latekyun” oleh karena keada’an yang belum nyata.

Artinya;
Hidup adalah sifat dari Hyang Maha Suci Hidup, menyusup, meliputi secara komplet atas jagad raya dan isinya. Tidak ada tempat yang tanpa pancaran Dzat. Seluruh jagad raya penuh oleh Dzat, tiada celah yang terlewatkan oleh Dzat, baik di luar maupun di dalam. Dzat menyusup, meliputi dan mengelilingi jagad raya seisinya. Demikianlah perumpama’an keberada’an Pangeran (Tuhan) Yang Maha Suci Hidup, ialah yang terpancar di dalam Hidup kita Pribadi.

Dzat merupakan sumber dari segala sumber, adanya jagad raya seisinya. Retasan dari Dzat Yang Maha Suci Hidup dalam mewujud makhluk cipta’an-Nya, dapat digambarkan dalam alur yang bersifat hirarkhis sebagai berikut;

Dzat; Hyang Maha Suci Hidup. Maha Kuasa.
Dzatullah;
Sumber dari segala sumber adanya jagad raya dan seluruh isinya.

Nalika awang-awang -uwung-uwung, dereng wonten punepe-punepe, Hyang Maha Suci manggen wonten satengahing kawontenan, nyipta dumadosing pasthi. Wonten swanten ambengung ngebegi jagad, kados swantening gentha kekeleng. Ingriku wonten cahya pacihang gumebyar mungser bunder kados antiga (tigan/endhog) gumandhul tanpa canthelan. Enggal dipun asta dening Hyang Maha Kawasa, dipun puja. Lalu meretaslah Kayyun.

1. Kayu/kayyun;
Yang hidup/atma/wasesa, menjadi perwujudan dari Dzat yang sejati, memancarkan energi hidup. Kayun yang mewujud karena disinari oleh Dzat sejati. Dilambangkan sebagai kusuma anjrah ing tawang, yakni bunga yang tumbuh di awang-awang, dalam martabatnya, disebut takyun awal, kenyata’an awal muasal. Segala yang hidup disusupi dan diliputi energi kayu/yang hidup.

2. Cahaya dan teja-Nur, nurullah;
Pancaran lebih konkrit dari kayun. Teja menjadi perwujudan segala yang hidup, karena disinari kekuasaan atma sejati. Dilambangkan sebagai tunjung tanpo telogo, bunga teratai yang hidup tanpa air. Berbeda dengan api, cahaya tidak memerlukan bahan bakar. Cahaya mewujud sebagai hakikat pancaran dari yang hidup. Di dalam cahaya tidak ada unsur api (nafsu) maka hakikat cahaya adalah jenjem-jinem, ketenangan sejati, suci, tidak punya rasa punya.

Hakikatnya hanyalah sujud/manembah, yang digerakkan oleh energi hidup/kayun, yakni untuk manembah kepada Dzat yang Maha Suci Hidup. Dalam martabatnya disebut takyunsani, kenyata’an mewujud yang pertama. Ruh yang mencapai kamulyan sejati, di dalam alam ruh kembali pada hakikat cahaya. Sebagai sifat hakikat malaikat.

3. Rahsa, rasa, sir, sirullah;
Sebagai perwujudan lebih nyata dari cahaya. Sumber rahsa berasal dari terangnya cahaya sejati. Dilambangkan isine wuluh wungwang.

Artinya tidak kentara/samar;
Tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan. Maka dalam martabat disebut akyansabitah. Ketetapan menitis, menetes, dalam eksistensi sebagai sir. Yakni menetes/jatuhnya cahaya menjadi rasa.

Roh, nyawa, sukma, ruh, ruhullah. Sebagai perwujudan dari hakikat rasa. Sebab dari terpancarnya rasa sejati, diumpamakan sebagai tapaking kuntul nglayang.

Artinya;
Eksistensi maya yang tidak terdapat bekas, maka di dalam martabat disebut sebagai akyankarijiyah. Rasa yang sesungguhnya, keluar dalam bentuk kenyata’an maya. Karena ruh diliputi rahsa, wujud ruh adalah eksistensi yang mempunyai rasa dan kehendak, yakni kareping rahsa (kehendak rasa).

Tugas ruh sejati adalah mengikuti kareping rahsa atau kehendak rasa, bukan sebaliknya mengikuti rasanya kehendak (nafsu). Ruh sejati/roh suci/ruhul kuddus harus menundukkan nafsu.

Nepsu, angkara, sebagai wujud derivasi dari roh, yang terpancar dari sinar sukma sejati. Hakikat nafsu dilambangkan sebagai latu murup ing telenging samudra. Nafsu merupakan setitik kekuatan “nyalanya api” di dalam air samudra yang sangat luas.

Artinya;
Nafsu dapat menjadi sumber keburukan/angkara (nila setitik) yang dapat “menyala” di dalam dinginnya air samudra/sukma sejati nan suci (rusak susu sebelanga). Disebut pula sebagai akyanmukawiyah, (nafsu) sebagai kenyataan yang “hidup” dalam eksistensinya. Paradoks dari tugas roh, apabila nafsu lah yang menundukkan roh, maka manusia hanya menjadi tumpukan sampah atau hawa nafsu angkara. Mengikuti rasanya keinginan (rahsaning karep).

4. Akal-budi, disebut juga indera;
Keberadaan nafsu menjadi wahana adanya akal-budi. Dilambangkan sebagai kudha ngerap ing pandengan, kudha nyander kang kakarungan. Akal-budi letaknya di dalam nafsu, di ibaratkan sebagai orang lumpuh mengelilingi bumi. Adalah tugas yang amat berat bagi akal-budi, yakni menuntun hawa nafsu angkara kepada yang positif/putih (mutmainah). Sehingga di umpamakan wong lumpuh angideri jagad, orang lumpuh yang mengelilingi bumi. Disebut juga akyanmaknawiyah. Kemenangan akal-budi menuntun hawa nafsu ke arah yang positif dan tidak merusak, maka akan melahirkan nafsu baru, yakni nafsul mutmainah.

5. Jasad/badan/raga;
Merupakan perwujudan paling konkrit dari ruh (mahujud), dan retasan berasal dari derivasi terdekatnya, yakni panca indera sejati. Jasad menjadi wahana adanya sifat. Jasad menjadi bingkai sifat, diumpamakan sebagai kodhok kinemulan ing leng. Kodhok personifikasi dari sifat manusia yang rendah, karena cenderung mengikuti hawa nafsu (rasaning karep), diselimuti oleh liang/rumah kodhok; liang adalah personifikasi dari jasad. Sifat-sifat manusia yang masih tunduk oleh jasad, merupakan gambaran Dzat sifat yang masih terhalang dan dikendalikan oleh sifat ke-makhluk-an.

Sifat-sifat Dzat Hyang Maha Suci Hidup, dalam diri manusia, masih diliputi oleh sifat kedirian manusia. Sebaliknya, pencapaian kemuliaan hidup manusia,  dilambangkan sebagai kodhok angemuli ing leng, kodok menyelimuti liangnya, apabila jasad keberada’annya sudah di dalam.

Artinya;
Hakekat manusia sudah diliputi oleh sifat Dzat Hyang Maha Suci Hidup.

Laku Menuju Dzat;
Ketetapan jasad ditarik oleh akal.
Ketetapan akal ditarik oleh nafsu.
Ketetapan nafsu ditarik oleh roh.
Ketetapan roh ditarik oleh sir.
Ketetapan sir ditarik oleh nur.
Ketetapan nur ditarik oleh kayun.
Ketetapan kayu/kayun ditarik oleh Dzat.

Sangkan Paraning Dumadi adalah anak Tangga untuk Bertemu Hyang Maha Suci Hidup:

Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa manusia memiliki dua kutub yang saling bertentangan. Di satu sisi, kutub badan kasar atau jasad yang menyelimuti akal budi sekaligus nafsu angkara. Jasad (fisik) juga merupakan tempat bersarangnya badan halus/astral/ruh (metafisik).

Di lain sisi. Manusia diumpamakan berdiri di persimpangan jalan. Tugas manusia adalah memilih jalan mana yang akan dilalui. Hyang Maha Suci Hidup,  menciptakan semua rumus (kodrat), sebagai rambu-rambu manusia dalam menata Hidup Sejati (Hidup yang Sebenarnya).

Masing-masing rumus memiliki hukum sebab-akibat (Karma). Golongan manusia yang berada dalam kodrat Tuhan, adalah mereka yang menjalankan hidup sesuai rumus-rumus Tuhan. Setiap menjalankan rumus Tuhan, akan mendapatkan akibat, berupa kemuliaan Hidup, sebaliknya pengingkaran terhadap rumus akan mendapatkan akibat buruk (dosa), sebagai konsekuensinya.

Misalnya; siapa menanam; mengetam. Rajin pangkal pandai dll.

Tugas manusia adalah menyelaraskan sifat-sifat kediriannya ke dalam gelombang Dzat sifat Tuhan Hyang Maha Suci Hidup. Dalam ajaran Kejawen lazim disebut manunggaling kawula gusti, dua menjadi satu, atau dwi tunggal.

Kodrat manusia yang lahir ke bumi adalah mensucikan jasad, jasad yang diliputi oleh Dzat sifat Tuhan, melalui tahapan-tahapan sebagai berikut;

Jasad dituntun oleh keutamaan budi, budi terhirup oleh hawanya nafsu, nafsu (rahsaning karep) diredam oleh kekuasaan sukma sejati, sukma diserap mengikuti rasa sejati (kareping rahsa), rahsa luluh melebur disucikan oleh cahaya, cahaya terpelihara oleh atma (energi yang hidup), atma berpulang ke dalam Dzat, Dzat adalah qadim ajali/abadi, hal ini hanya ada di dalam Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Untuk lebih jelasnya. Lihat dan baca artikel yang berjudul “Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku”.

Wahyu Panca Laku;
Wahyu Panca Laku, adalah ilmu Pengajaran tentang tata cara menghargai diri sendiri, dengan Wahyu Panca Gha’ib, untuk mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reserviornafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu dengan badan halus atau ruhani atau badan sukma.

Hakikat kesucian, badan wadag atau raga, tidak boleh pisah dengan badan halus, karena raga dan sukma menyatu “curigo manjing warongko”, pada saat manusia lahir dari rahim ibu. Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), jika mati kelak badan wadag, akan luluh melebur ke dalam badan halus yang diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Maha Suci Hidup, yang tetap ada dalam diri kita pribadi, bukan dimakan cacing tanah dll.

Maka dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, badan wadag melebur ke dalam badan halus. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan “curigo manjing warongko”; maksudnya badan halus masih berada di dalam badan wadag. Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut;

Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa pengikat Yang Maha Kuasa.

Sebagai contoh;
Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya, misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal  tersisa tali karsa atau kemauan.

Hal ini, untuk Para Sedulur dan Kadhang kinasih saya semuanya, yang kebetulan membaca artikel ini, dapat membuktikannya dengan cara menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup, tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh.

Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari badan wadag, dengan kata lain, orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian, sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen, percaya dengan rasa sukma ini.

Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan, masih bisa merasakannya.  Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan perjalanan ke alam barzah atau alam ruh.

Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
Sukma atau ruh (Ruhullah).

Wedaran diatas adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi, cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan perjalanannya menuju ke haribaan Hyang Maha Suci Hidup, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di mana suasana menjadi jengjem jinem, tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb.

Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.

Sebaliknya, ruh yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, masih memiliki tali rasa, misalnya rasa penasaran, karena masih ada tanggung jawab di bumi, yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau hutang yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran. Oleh karena itu dalam konsep Laku Hakikat Hidup “Wahyu Panca Gha’ib” Percaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup, yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyata’an bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur. Itulah sebabnya mengapa di dalam Laku Wahyu Panca Gha’ib terdapat tata cara Penyempurna’an arwah (penasaran) tersebut.

Karena mati penasaran, aalah kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Laku Wahyu Panca Gha’ib, mati dalam puncak kesempurna’an, adalah Selesai. Habis atau Tamat, tanpa sisa tanpa bekas apapun. Yakni warangka (raga) manjing curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi, dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi, sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci.

Oleh karena itu, menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha di Padang Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau antar suku dan adat dengan segala bentuk terorisme.

Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Laku, yakni mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yaknil rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah (narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama) Penuh Cinta Kasih Sayang. Adalah pitutur sebagai pengingat-ingat agar supaya manusia selalu eling atau selalu mengingat Hyang Maha Suci Hidup, untuk menjaga kesucian dirinya.

Seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini;
Jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso, rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi.

Artinya;
(jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

Maksudnya;
Bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis danmakrokosmis yakni “sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad raya.

Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian, manusia hidup harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan Jalan tembus menuju Yang Maha Suci Hidup. Adalah Memiliki lima Perkara dan Menjalankan Perkara lima dengan Iman Cinta Kasih Sayang. Yakni;

Wahyu Panca Gha’ib;
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

Dan.

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci - Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling - Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo - Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil - Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir - Sampurnaning Pati Urip.

Demikian lah... Pengertian untuk Memahami Curigo manjing warongko-Warongko manjing curigo. Wahyu Panca Gha’ib-Wahyu Panca Laku yang bisa saya jelaskan, untuk selebihnya. Sedulur dan Kadhang kinasih saya, harus Laku Sendiri, biyar tau sendiri, mengerti sendiri, paham sendiri, mengalamu sendiri, bukan hanya sebatas katanya.

Sebab pada dasarnya perilaku Hidup di dalam kehidupan dunia ini itu, ibarat suara yang kita kumandangkan, akan menimbulkan gema. Artinya; apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan Gema, berupa kebaikan yang lebih besar, yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa sebagai berikut;

Barang siapa menabur angin, akan menuai badai. Siapa menanam, akan mengetam. Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan. Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah. Rejekinya akan menjadi lapang. Orang pelit. Pasti pailit. Pemurah hati,. Akan mukti. Begitu juga jika kita gemar menebar Cinta Kasih Sayang, terhadap sesama mahkluk hidup. “Ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten sumerep ing suraosipun”

Bagi yang sudah memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku, sudah tentu dapat menerima ilmu “Sangkan paraning dumadi” dan menemui kemulia’an Sempurnaning Kawula Gusti, yang selangkah lagi bisa mencapai Sampurnaning Pati Urip.

Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya.

Artinya;
Siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan Hidup jiwa raganya sendiri.

Yang Pling mendasar adalah, kita harus selalu ingat, bahwa hidup ini, tidak akan menemui sejatinya ajal, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. Isi badan melepas kulit yang telah rusak, kemudian isi bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian. Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan isi. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi. Inilah sejatining Wahyu Panca Gha’ib. Maka, ketahuilah... sebelum terlambat. Terlambat...!!! tidak selamat.

Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan manembah kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai peleburan tertinggi, lebur dening pangastuti, yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci, di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama, yakni Sampurnaning kawulo gusti dan Sampurnaning Pati Urip.

Dengan Sarana “Wahyu Panca Gha’ib” dan sistem “Wahyu Panca Laku”. Menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Suci. Agung. Maha Kuasa diatas segala yang kuasa, yang disebut sebagai “Pangabekti Ingkang Langgeng” Laku Patrap tanpa kenal waktu dan kiblat, sambung-menyambung dalam satu irama nafas, selalu eling/ingat/sadar dengan Iman Cinta Kasih Sayang menyebut Dzat Yang serba Maha.

Patrap ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.

(Laku sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).

Jika Semua Manusia Hidup, dapat dan bisa melaksanakan Lima dari Lima ini, yaitu Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Secara benar dan tepat juga  bersungguh-sungguh, berkah Hyang Maha Suci Hidup, setiap orang dapat meraih kesempurna’an Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti di dunia wal kaherat. Tidak tergantung apa Agamanya dan berapa Amalnya.

Duh... Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai... Damai... Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup....._/\_..... Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 - 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com