Mengenai Saya

Foto saya

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untuk semuanya tanpa terkecuali. Perkenalkan Saya... Dengan Nama asli: Toso Wijaya. D.  Nama Lahir saya: Djaka Tolos. Dan Akrab di panggil Wong Edan Bagu atau WEB dalam dunia Spiritual Laku Ketuhanan. saya lahir di lereng gunung ciremai Cirebon jawa barat. Pada hari Rabu Pon, tgl 13/08/1959, Anak kedua dari empat bersaudara, yang lahir dari kedua orang tua, Bapak Bernama: Matsalim dan Ibu Bernaman Dewi Arimi.  Mulai dari Nenek moyang hingga ke bapak ibu sampai ke saya sendiri. Kami Suka Berspiritual. artinya... suka mempelajari hal-hal yang ga'ib. Tapi bukan sembarang Ghaib, karena Ghaib yang saya pelajari, adalah Ghaib-Nya Dzat Maha Suci Hidup (TUHAN). Bukan yang lain.  Karena itu Sejak usia 9 tahun, saya sudah mempelajari ilmu-ilmu katikjayan, kususnya ilmu kanuragan dan ilmu jaya kawijayan Warisan dari para leluhur saya di telatah tanah pasundan. Sebagai bekal untuk mengembara dalam melacak jejak Dzat Maha Suci yang Gha'ib.  

Dan setelah melalui berbagai macan dan banyak lika liku proses kehidupan. saya berhasil menemukan intisari pati Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sebenarnya, dari semua dan segalanya tentang Hidup dan Kehidupan BerTuhan... dan sejak itulah, saya berhenti mengembara dan berpetualang. Lalu menekuni secara Khusus/Istiqomah Laku Spiritual Hakikat Hidup. Yang pelajarannya saya dapatkan, dikala puasa ngebleng di goa singabarong pulau nusa kambangan cilacap jawa tengah,  yaitu,,. Wahyu Panca Laku. Cara untuk Mempraktekan Wahyu Panca Gha'ib, yang hanya mempelajari Hidup dan kehidupan serta Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya... disamping terus belajar dan belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya... Karena saya tidak suka Neko-neko. Saya membuka Pengobatan dan Konsultasi Alternatif Tradisional, mempraktekan ilmu pengobatan spesialist Stroke. Dengan Cara Terapi Pijat Urut dan Jamu Herbal Ramuan Sendiri. Yang pernah saya Pelajari dari beberapa orang Guru saya... Dan semoga, apa yang saya lakukan ini. bisa dan dapat bermanfaat pada diri saya sendiri dan buat semua saudara-saudari saya tanpa terkecuali..... Itulah sekelumit tentang saya dan mohon maklumnya jika terkesan berlebihan; Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian... _/!\_

Rabu, 23 Desember 2015

TENTANG Syare’at, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah:

TENTANG Syare’at, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah: 
Apa itu Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah?
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Legi. Tgl 23 Desember 2015

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses selalu dari saya WEB, untukmu sekalian Para sedulur dan Kadhang kinasih saya, dimanapun berada tanpa terkecuali, pada kesempatan kali ini, bertepatan dengan Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, yang jatuh pada hari kamis pahing, tanggal 24 Desember  2015 atau 12/1437H. dan pada Hari yang tak kalah Besarnya pula, yaitu Hari Raya Natal yang Jatuh pada hari jumat pon, tanggal 25/2015, dan kemudian berlanjut ke detik-detik Penyambutan Tahun Baru 2016.

Dan saya akan membagikan ilmu pengalaman pribadi saya, yang pernah saya pelajari dari Para Pembimbing saya, dan pernah saya prakteknya sendiri di TKP. Sebagai Ucapan Syukur di Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW bagi yang memperingatinya. Dan Ucapan Selamat Hari Natal 2015 bagi yang sedang merayakannya serta Ucapan sambut Tahun Baru 2016.

Sedulur dan Para Kadhang Kinasih saya yang selalu diridhai ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Sajian kita kali ini, diTahun 2015 ini, adalah tiga masa dalam kurun waktu, yang selama hayat masih dikandung badan, pasti akan berkesempatan menemui dan mengalaminya lagi di tahun-tahun berikutnya. Namun,,, sepanjang sejarah tersebut, sudahkah kita mendapatkan berkahnya? Sudahkah kita memperoleh maknanya?

Secara singkat, Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasawuf, Ibadah dan Istiqomah. Adalah sebagai berikut: 

Para sedulur dan kadhang kinasih saya yang senantiasa diridhai Allah Azza wa Jalla. Ketahuilah, apapun alasan kepentingan tujuan dan maksudnya, tidak ada satupun waktu yang bisa terlepas dan lepas dari yang namanya; Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah. Karena, ke tujuh tahapan dimensi waktu inilah, yang menjadi ketetapan Hyang Maha Suci Hidup, yang harus di lalui oleh siapapun, jika hendak berbuat, bergerak, bertidak, bepergian, bermaksud dan terutama berniyat menuju kehadirat Hyang Maha Suci Hidup.

Kesama’annya: bila ingin mendapat titel. Sarjana, ir,dr dll, yang syah/resmi dan asli. Maka apapun alasannya, harus melalui sekaloh terlebih dahulu, berawal dari tk nol kecil, lalu naik ke tk nol besar, setelah berhasil melalui dua kelas di tk itu, baru naik lagi ke tingkatan sekolah dasar, dimulai dari kelas 1 hingga kelas 9/smp. Lalu setelah berhasil melalui itu, baru bisa berlanjut ke perguruan tinggi yang sesuai dengan bakat atau keahlian masing-masing diri.

Ketetapan dunia ini, tidak bisa di ganggu gugat, apapun alasannya, memang bisa, siapapun dia, asal punya uang, mendapatkan titel sarjana, ir, dr dll, memang bisa, tapi, coba pikirkan, apa manfaatnya, apa gunanya, apa untungnya, malah justru mencelakai diri bukan? Bagaimana tidak, la minimal masuk bui...

Begitulah gambaran tentang ketetapan Hyang Maha Suci Hidup, tersebut; Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah. Yang mau tidak mau, rela tidak rela, suka tidak suka, harus di lalui oleh siapapun yang menuju-Nya. Satu persatu, jika ingin jelas,,, mulus,,, ringan,,, mudah,,, dan enak. Melewatkan satu ketetapan saja, maka, harus siap samar, tersendat, berat, rumit dan tidak enak.

Tidak sedikit bukan, diantara kita, yang mengalami kesamaran, sendatan, berat, rumit, dan tidak enak di dalam belajar mengenal dan memahami Hyang Maha Suci Hidup. Sehingganya, keraguan muncul, kebingungan hadir, kebimbangan datang berkecamuk, berat sekali rasanya, sangat tidak enak, serba salah, tidak bisa-bisa, tidak sampai-sampai, tidak berhasil-berhasil, malah tambah bingung, pusing,,, pening,,, iman berubah jadi imron, spiritual morat marit, kepercaya’an/keyakinan jadi terapung, ada kabar yang terkesan gampang dan mudah, langsung tertarik, begitu dijalankan, sami mawon sama saja sulitnya, berbagai sangka’an dan duga’an bermunculan, sepertinya,,, jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan dan jangan-jangan lodeh, asem, opor, terus apa lagi ya... He he he . . . Edan Tenan. Iya apa iya? Hayo...!!!

Itu bukan di karena otak kita tidak mampu, tidak bakat, atau tidak kuat, bukan, itu di sebabkan, kita tidak melalui tahap aturan yang ada dan tersedia serta telah di tetapkan. Jika semuanya melalui tahapan yang ada dan tersedia, diatas tadi sudah saya beri gambaran persama’annya yang paling mudah untuk dipahami, targetnya jelas dan pasti, asalkan giat dan rajin belajar, sekian tahun, jadi sarjana, sekian tahun jadi insinyur, sekian tahun jadi dokter, setelahnya, silahkan tentukan, mau berexpresi dimana dan kemana... Anda akan di kaui oleh Bangsa dan Negara, sebagai Pewaris dan Penerus Keraja’an dunia yang Anda Pijak sa’at ini. Misalkan di Jakarta susah kerja’an, tinggal hijrah ke desa terpencil, nunjukin titel ir/dr. Bra ka dabra,,, dalam sekejap mata. Anda bisa jadi terhormat dan terpandang ditempat itu, bahkan bisa-bisa, di lantik jadi lurah, la wong ada kalanya, lurah di desa terpencil itu, buta huruf kok. He he he . . . Edan Tenan.

Lalu... Biyar mulus, jelas terang, mudah, tidak rumit dan sulit, supaya tidak ragu dan bimbing lagi dan cepat sampai alias berhasil dalam belajar. Bagaimana pak WEB...?!

Ya hanya dengan kembali awal, melalui tahapan yang ada dan tersedia, setahap demi setahap. Jika sudah merasa terlanjur ngiyak-nginyak tahapan itu, merasa waktu dan kesempatan serta usia yang tidak mendukung untuk memulianya dari awal, sehingganya, terpaksa pakai istilah singkat, ujug-ujug langsung ke kelas lima SD misalnya, atau ke SMP atau SMA. Ya jangan gengsi, jangan malu, jangan munafiq, akui dan terimalah serta tanggunglah risiko dari hal itu, jangan mau berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab, kan sudah jelas, kalau itu risikonya, bahwa yang namanya menyebrang jalan raya, jika tidak menggunakan rambu-rambut jalan, risikonya akan tertabrak kendara’an...!!!

Selama masih gengsi mengakuinya, malu menerimanya bin munafiq, karena suatu alasan, risiko itu, tidak akan pernah berhasil di lewati, semakin membingungkan dan memusingkan, semakin rumit dan sulit serta berat yang tiada habisnya, tambah bodrex tambah budrex, semakin banyak menambah bodrex, ya semakin tambah ringsex.

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasih saya yang senantiasa diridhai Allah Azza wa Jalla. Selain yang sudah saya jelaskan diatas, banyak diantara kita yang Paseh berbicara Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah, dengan masing-masing gaya bahasanya. Namun percayalah,,, yang banyak itu, belum tentu tau betul, mengerti betul dan paham betul tentang apa itu Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah. Dibawah ini, saya akan menguraikannya dengan singkat, padat, namun tetap bisa mudah untuk di pahami, asal,,, yang toto titi surti ngati-ngati bacanya njih...

Satu. Syariat; 
Syare’at... Adalah hukum dan aturan, yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia hidup, baik yang beragama maupun yang tidak beragama sekalipun. Selain berisi hukum dan aturan, syariat juga berisi penyelesaian masalah dari seluruh segi kehidupan. Maka oleh sebab itu, syare’at dianggap ilmu terpenting, khususnya bagi sebagian penganut Islam, karena syariat, merupakan panduan menyeluruh dan sempurnanya seluruh permasalahan kehidupan di dunia ini.
Sebab itu, syare’at,,, bukan saja berlaku untuk penganut islam saja, melainkan seluruh umat, diharuskan bisa tau seluk beluk detilnya, selagi belum mencapai ke tingkat Tarekat. 

Dua. Tarikat;
Tarekat berasal dari kata ‘thariqah’ yang artinya ‘jalan’. Jalan yang saya maksud di sini, adalah jalan untuk menjadi orang bertaqwa, apa itu taqwa? Taqwa itu, orang yang diridhai oleh Hyang Maha Suci Hidup. Secara praktisnya, tarekat adalah Lakon, lakon yang intinya berusaha untuk bersipat dan berikap, lahir dan batinnya, menjadi orang bertaqwa/diridhai.

Tiga. Hakikat;
Hakikat artinya, i`tikad atau kepercayaan atau keyakinan (mengenai Hyang Maha Suci Hidup), dengan itu, maka hakikat ini, disebut perkerja’an Hati, urusan Rasa, soal dan tentang Hidup. Sehingga tidak ada yang dilihat didengar dicium, dipikir selain Hyang Maha Suci Hidup, atau dalam arti lain, gerak dan diam, itu adalah kekuasaan Hyang Maha Suci Hidup.

Arti lebih dalamnya. Hakikat;  adalah  kebenaran,  kenyataan. Karena Hakikat   adalah menyaring  dan memusatkan  aspek-aspek  yang  lebih  rumit,  menjadi  keterangan  yang  gamblang  dan  ringkas, hakikat  mengandung  pengertian-pengertian  kedalam  aspek  yang  penting  dan  instrinsik  dari benda yang dianalisa/prediksi. 

Hakikat berasal dari kata arab haqqo, yahiqqu, haqiqotan, yang berarti kebenaran, sedangkan dalam kamus ilmiah, disebutkan, bahwa hakikat adalah: Yang sebenarnya; sesungguhnya; aslinya; keadaan yang sebenarnya.

(Partanto, pius A, M. Dahlan al barry, Kamus Ilmiah Populer, 1994, Arkola, Surabaya). Istilah bahasa hakikat berasal dari kata “Al-Haqq”, yang berarti kebenaran. Kalau dikatakan Ilmu Hakikat, berarti ilmu yang digunakan untuk mencari suatu kebenaran.

Empat. Makrifat;
Makrifat, Dari segi bahasa, Makrifat berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. yaitu perpaduan dari syariat-tarikat-hakikat, yang nantinya menuju kepada “Pengenalan terhadap Sang Khaliq. Pencipta semesta Alam Raya pless isinya, yaitu Allah alias Hyang Maha Suci Hidup.

Dan Maskrifat, adalah merupakan kode kelimuan alam semesta yang termuat dalam Al-Quran. Setelah berhasil melalui Syariat, Tarekat dan Hakikat,

Dalam makna lain.... Makrifat adalah tau/mengerti/paham melaksanakan pelaksa’annya (dengan sempurna). Sesuai Firma Hyang Maha Suci Hidup dan Sabdanya Hidup.

Sayangnya dalam fase ini (makrifat), nyaris tidak ada yang mampu mendekati makrifat, apalagi duduk dalam tahap/dimensi tersebut. Alasannya mudah saja, karena syarat mutlak makrifat adalah “mengusai ” Syariat, Tarekat, Hakikat.

Mengapa harus menguasai Syariat, Tarekat, Hakikat?
La mau lewat mana...!!! wong jalannya itu, itu... kalau sudah melalui Syariat, Tarekat, Hakikat dan berhasil mengusainya. Harus mendapatkan Wahyu.

Mengapa harus mendapatkan wahyu?
Jawabannya mudah saja, Makrifat, artinya pengetahuan dan pengalaman, yaitu perpaduan dari syariat-tarikat-hakikat, yang nantinya menuju kepada “pengenalan Hyang Maha Suci Hidup/Allah. Sebab Wahyu adalah; (kunci-kode) keilmuan alam semesta yang termuat dalam Al-Quran.

Maka,,, bagaimana akan makrifat bila tanpa wahyu?
Bagaimana menjadi makrifat? jawabannya adalah: “tidak mungkin.” Kecuali, Nabi. Karena. Nabi, pasti memperoleh Wahyu.

Bila sudah mendapatkan Wahyu. Pinilih apa tidak?
Apa itu pinilih? Pinilih itu, maksudnya, amanah apa tidak, jika tidak pinilih/amanah. Wahyu tidak akan di gunakan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, pasti Wahyu-nya di salah gunakan, buat korupsi, buat perdukunan, buat ngejar-ngejar setan penghuni terowongan kasablanca, lingkaran cadas pangeran dll, ngaku Malaikat. Ngaku Nabi. Bahkan ngaku Tuhan. He he he . . . Edan Tenan.

Jika sudah mendapatkan Wahyu dan Pinilih/Amanah. Terus, pininto apa tidak?
Apa itu pininto? Pininto maksudnya, di perintah apa tidak, kalau pininto/diperintah, diutus. Maka akan kuasa untuk bisa membimbing dan  mendidik serta mengabarkan kebenaran tanpa rekayasa bendera dan politik kotak apapun kepada siapapun tanpa batasan dan keterkecualian.

Jika sudah mendapatkan Wahyu dan Pinilih/Amanah, namun tidak pininto/terutus/terperintah. Maka akan memasukin tahap penyempurna’an lakon selanjutnya, yaitu Tasyawuf. Apa itu tasyawuf?

Lima. Tasyawuf;
Tasyawuf adalah...  Ilmu Teknologi Al-Qur’an, Tasyawuf merupakan ilmu halus yang sangat tinggi dan tidak bisa dengan mudah dipelajari. Kecuali telah berhasil menguasai Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makifat.

Tasyawuf bukan ilmu hapalan yang dipelajari dengan otak, akan tetapi merupakan ilmu praktek teknologi Al-Qur’an yang Maha Dahsyat. Hasil pengamalan tasyawuf akan melahirkan sipat dan sikap manusia-manusia berkualitas tinggi, karena di setiap gerak gerik tubuhnya, tidak pernah lepas sedetikpun hubungan dengan Hyang Maha Suci Hidup, sebagai sumber kebenaran dan kebaikan.

Salah satu tujuan Hyang Maha Suci Hidup, mengutus para nabi adalah untuk memperbaiki akhlak manusia hidup. Para nabi bukan sekedar menyampaikan firman Allah, akan tetapi juga berfungsi sebagai pembawa wasilah (wasilah carrier) sebagai media penyambung antara manusia dengan Tuhan. Nabi adalah teknolog Al Qur’an yang berwujud manusia hidup, yang di beri Wahyu mengetahui dan mengerti serta memahami, bagaimana menyalurkan power maha dahsyat, menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat untuk manusia.

Kita masih ingat sejarah nyata, tentang kemampuan nabi Musa membelah laut?  Kehebatan Nabi Isa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan segala jenis penyakit? dan Kehebatan Nabi Muhammad SAW membelah bulan?

Itu semua bukan terjadi dengan serta merta. Mereka diajarkan oleh Hyang Maha Suci Hidup teknologi Maha Dahsyat, teknologi metafisika dan siapapun menggunakan teknologi yang sama, maka hasilnya pasti akan sama. Kalau kita perhatikan bagaimana hebatnya teknologi fisika. Air yang tenang bisa diubah menjadi listrik lewat teknologi turbin. Air dipanaskan menjadi uap mampu menggerakkan gerbong kereta api yang beratnya ratusan ton. Air juga bisa mendongkrak mobil yang dengan memakai ujung jari, tentu saja lewat teknologi hidrolika. Air juga apabila di pisahkan inti atomnya akan terjadi ledakan sangat hebat, menjadi  sebuah bom yang daya rusaknya luar biasa.

Air sifat dasarnya memadamkan api bisa berubah menjadi bahan bakar yang hebat. Masih banyak teknologi lain yang hebat hasil penemuan manusia, jika  berbicara tentang teknologi al-Qur’an, alam metafisika tentu hasilnya berpuluh, beratus bahkan berjuta kali lebih hebat dari teknologi fisika. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu membelah laut seperti yang dilakukan oleh nabi Musa atau menghidupkan orang mati yang pernah dilakukan nabi isa.

Pada intinya. Tasawuf adalah; Adalah Jalan Menuju Hyang Maha Suci Hidup. Jika sedang melalui jalan yang menuju Hyang Maha Suci Hidup. Maka,,, bersiaplah, tentukan dengan Pasti Titik Finis Awal dan Akhir-nya.

Karena...
“Jika yang di cintai adalah Ilmu, maka Ia akan menjadi Ilmu. Jika yang di cintai adalah Harta, maka Ia akan menjadi Harta. Jika yang di cintai adalah Tahta, maka Ia akan menjadi Tahta. Jika yang di cintai adalah wanita, maka Ia akan menjadi Wanita. Kalau mencintai Batu maka Ia adalah Batu, dan kalau mencintai Hyang Maha Suci Hidup. Maka aku tidak bisa menjawab. Karena Aku khawatir, jika aku menjawabnya, kalian akan melempariku dengan batu“... He he he . . . Edan Tenan.

Demikian gambaran bagaimana Rahasia dan Tingginya Tasyawuf, yang diawali dengan keberhasilan menguasai empat tahap ketentuan Hyang Maha Suci Hidup, yaitu; Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

Enam. Ibadah;
Namun,,, masih belum berhenti di situ saja, tidak cukup dengan itu dan begitu saja. Karena... Sebab... Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf. Itu di tentukan Oleh yang Namanya Ibadah. Lalu... Pertanya’an selanjutnya. Apa itu Ibadah? He he he . . . Edan Tenan.

Ingat... jangan salah maksud disini, Sholat/sembahyang, haji, sedekah dll itu, bukan Ibadah. Karena Ibadah itu “Ta’at” jadi, jangan bilang saya habis melaksakan Ibadah sholat jum’at, karena itu artinya “saya habis melaksanakan ta’at sholat jum’at” dll. Sholat dll, bisa di sebut ibadah/ta’at jika atas Sabdanya Hidup, jika bukan atas Sabdanya Hidup, tidak bisa di sebut ibadah/ta’at. La yang sholat itu mayat hidup, bukan manusia hidup, iya to... apa ada sejarahnya mayat ibadah/ta’at. Mayat itu, yang harusnya tidak bisa apa-apa, kalau ada mayat bisa sholat, pasti ngedeni bocah, pak jentit lo loba, wong mati ora iso obah, yen obah ngedeni bocah... He he he . . . Edan Tenan.

Para Sedulur dan para Kadhang kinasih saya yang senantiasa diridhai Allah Azza wa Jalla, Ibadah adalah ta’at/patuh. Ta’at/Patuh apa? Ta’at/Patuh akan Sabdanya Hidup. Karena hanya dengan Ta’at/Patuh pada Sabdanya Hidup, kita bisa sesuai dengan Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Dan hanya dengan sesuai dengan Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf bisa di Lakoni dan Lakukan. 

Kalau tidak dengan Sabda-Nya Hidup, bagaimana kita bisa mengerti Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. La Cuma Hidup yang Tau, mengerti dan paham Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Selain Hidup, Cuma bisa meraba dan menebak-nebak bin meramal dan menduga saja. Kalau tidak sesuai dengan Firman-Nya/Pentunjuk Hyang Maha Suci Hidup. Bagaimana mungkin bisa melalui  Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, la yang memiliki ketentuan Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf itu, hanya Hyang Maha Suci Hidup. Bukan yang lain selain-Nya. Hayo.... silahkan di pikir, iya apa iya...?! He he he . . . Edan Tenan.

Tujuh. Istiqomah;
Ibadah/Ta’at yang di terima oleh Hidup, itu, adalah Ta’at/Ibadah yang Istiqomah. La.... apa itu Istiqomah? He he he . . . Edan tenan.

Istiqamah adalah anonim dari thughyan (melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan konsekuen, komitment. Tetep idep madep mantep. Apapun yang terjadi.

Arti sederhananya; Ibadah/Ta’at yang kontinyu atau apa itu, kalau bahasa inggrisnya, yang terus menerus dengan tetep idep madep mantep, tiada henti dan tak kenal putus, tidak tolah kanan tidak toleh kiri, bukan yang malam ini ngedo’a besoknya cuty, bukan yang hari senin Ibadah/Ta’at, hari selasanya istirahat, nanti hari rabu Ta’at/Ibadah, kamis jumatnya tidak, sabtu Ta’at/Ibadah, minggunya mbalelo, pagi tahu siang tempe sorenya oncom. Yo tangeh lamun rek. He he he . . . Edan Tenan.

WEB.:-)
Dengan semua penjabaran diatas, bisa terpikir kan, bahwasannya, tidak mudah untuk mencapai sebuah Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati itu... jika tanpa Hidup. Begitu sulit dan rumitnya, jika tidak dengan Hidup, bahkan bisa mustahil bisa melakonkan dan melakukan jika tanpa Hidup. Maka...

Renungkanlah dengan baik dan benar. Adakah pelajaran yang mengajarkan
Tentang Hidup?
Soal Hidup?
Bab Hidup?
Mengenai Hidup?
Selain Wahyu Panca Gha’ib..?!

Jika menolak Wahyu Panca Gha’ib, tidak mau dengan Wahyu Panca Gha’ib. Lalu mau dengan apa? Kalau jalannya, sudah jelas, yaitu... Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, sebagai Dunia Nyata dan Gha’ib serta semua isi tetek bengeknya. Ibadah itu tiyangnya/peyangganya. Sedangkan Istiqomah itu, tenaganya/energinya/powernya... tapi Sarananya. Hanya Wahyu Panca Gha’ib. Karena hanya Wahyu Panca Gha’ib-lah yang mengajarkan; Tentang Hidup. Soal Hidup. Bab Hidup. Mengenai Hidup. Jadi... Monggo, silahkan di renung. Karena keputusan dan kesimpulannya, ada pada masing-masing diri Anda... 
He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA  KALI  INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO....._/\_.....Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 – 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Kamis, 17 Desember 2015

UNGKAPAN RASA. Tentang WONG EDAN BAGU Yang Sekarang. Bukan WONG EDAN BAGU Yang Dulu Lagi:

UNGKAPAN RASA.
Tentang WONG EDAN BAGU Yang Sekarang.
Bukan WONG EDAN BAGU Yang Dulu Lagi:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Kliwon. Tgl 17 Desember 2015

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali  dimanapun berada. Sejak awal mengenal yang namanya internet, saya sudah menceritakan seluruhnya tentang siapa saya, bagimana saya, dan seperti apa saya, melalui artikel Biografi Pribadi saya. Secara langsung, selalu selalu menceritakan juga, kepada setiap orang yang pernah bertemu saya dan memiliki kesempatan untuk salin bercerita.

Bahwasanya, saya tidak berasal dari sesuatu yang baik dan benar menurut padangan umum yang mayoritas. Kalau saya orang yang baik, tidaklah mungkin, dulu bapak saya sampai tega mengusir saya, kalau saya orang benar, mana mungkin, dulu orang-orang menjauhi saya, membenci saya dan memusuhi saya, bahkan menganggap saya ini virus yang perlu di basmi. Itu semua sudah pernah saya ungkapkan melalui artikel Biografi Pribadi saya, dengan kejujuran hati saya yang apa adanya. Begitu juga dengan secara langsungnya. Sudah tidak terhitung jumlahnya, orang-orang yang pernah saya beritau tentang saya dan soal saya secara langsung, dan Biografi Pribadi sayapun, saya lihat sudah di lihat dan dibaca oleh hampir 2000 pengguna internet. Artinya. Sudah cukup banyak orang yang sudah tau Tentang siapa saya, bagimana saya, dan seperti apa saya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan masa lalu yang tidak baik dan tidak benar itu, saya merasa terhantar untuk menuju kehadirat Hyang Maha Suci Hidup. Karena itu, tidak sedikit daerah dan wilayah yang menjadi tempat tinggal orang-orang sakti, mumpuni dan berkaliber saya datangi, hanya demi untuk meneguk seteguk air pengetahuan yang mereka miliki. Sudah barang tentu, proses dari semuanya itu, tidaklah mudah, semudah saya membalikan telapak tangan saya sendiri.

Rintangan. Hambatan. Goda’an, saya temui disetiap langkah kaki saya. Pedih. Perih. Sakit. Sedih. Menderita. Bahkan Tersiksa pun, saya dapatkan disetiap gerak tubuh saya, di dalam mencapai dan meraih apa yang saya idamkan, yaitu, mengenal Hyang Maha Suci Hidup pless memahaminya secara keseluruhannya.
Hingga pada suatu sa’at, sekitar tahun 1989, setelah kenyang dan puas berpetualangan keliling jagat pramundita, saya terdampar dan bertemu dengan seorang guru bernama Mbah Dukut, dari osing banyuwangi jawa timur, yang juga merupakan juru Kunci goa pawon yang terletak di Desa Kramat Kecamatan Osing Banyuwangi, beliau mengajarkan seluruh ilmunya kepada saya, kecuali ilmu yang menurutnya tidak baik untuk saya, dan diakhir  pelajarannya. Beliau mengatakan, jika tujuan utamamu adalah mengenal Hyang Maha Suci Hidup, maka kau harus mengenal dirimu sendiri terlebih dulu. Untuk hal itu, simbah tidak bisa, kau harus mencari guru yang sudah berhasil mengenali dirinya sendiri, coba, berjalanlah ke arah barat selatan, mungkin disuatu daerah itu, kau akan menemukan guru, yang bisa membimbingmu untuk belajar mengenal diri.

Sesuai petunjuk guru, saya berjalan lagi, menyusuri panjangnya jalan dan luasnya jawa dwipa, di bawah terik panahnya matahari atau dinginnya hujan yang menyiram bumi, saya tertatih-tatih melangkahkan kaki menggerakan tubuh mencari sang empunya ilmu mengenal diri, hingga sampai akhirnya, sekitar tahun 1995, terdamparlah saya, di makam keramat Ki Ronggowarsito di Desa Palar Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Dibawah asuhan mbah Sewo, yang merupakan juru kunci Makam kramat Ki Ronggowarsito inilah, saya di wejang bab Ramalam Jaman Edan yang termuat dalam Kitab Kalatidha, peninggalan mendiang Ki Ronggowarsito. Dan sejak itulah, nama pengembara’an saya, yang awalnya Djaka Tolos, di ganti oleh Mbah Sewo, menjadi Wong Edan Bagu. Wong, berarti Manungso/Manusia. Edan berarti Merdeka/Terbebas, dan Bagu, yang artinya Bareng Gusti/Bersama Tuhan. Jika maknanya digabungkan. Menjadi. Manungso Bebas Bareng Gusti (Manusia Merdeka Bersama Tuhan).

Dan pada akhir pembelajarannya, Mbah Sewo tidak sanggup membimbing saya untuk mengenal Diri, menurutnya, mengenal diri, berarti mengenal apa yang di sebut Guru Sejati atau Hidup, sedangkan untuk mengenal Guru Sejati, harus melalui penyatuan sedulur papat kalima pancer terlebih dulu. Untuk itu, lalu saya di sowankan kepada Guru Mbah Sewo, yang usianya jauh lebih sepuh dibandingnya kala itu, beliau bernama Mbah Buyut Renggo. Lalu saya di beri salinan tiga Kitab, yaitu kitab Serat Sastrajendra Hayuningrat. Kitab Serat Manunggaling Kawula Gusti dan Kitab Serat Sangkan Paraning Dumadi.

Salinan dari Tiga kitab yang merupakan intisari Ilmu Tertinggi Kepercaya’an Jawa Sanyoto ini. Diserahkan kepada saya untuk di pelajari, hingga ketemu titik intisari patinya. Menurut Mbah Buyut Renggo, jika saya berhasil menemukan titik temu yang menjadi intisari ketiga kitab itu, maka saya akan berhasil memahami apa yang di maksud sedulur papat kalima pancer, jika sudah paham, maka  kenalah dengan sang diri sejati, lalu,,, tinggal menyatukan/manunggalkan saja, ketiga inti itu. Maka manunggal-lah apa yang di sebut sedulur papat kalima pancer. Jika sedulur papat kalima pancer sudah manunggal. Maka, apa yang di sebut Guru Sejati, akan Mijil/Keluar untuk mengenali diri sejati kita dan membimbing kita. Menuju Hyang Maha Suci Hidup.

Agar bisa fokus dalam mempelajari gabungan ketiga inti kitab tersebut, saya di beri tempat untuk menepi di goa Langse, yang terletak di Desa Giricahyo Kecamatan Purwosari Kabupaten Gunung Kidul Jawa Tengah. Dan selama mempelajari isi dari ketiga kitab itu di goa langse, saya harus bersipat dan bersikap tak ubahnya orang gila, lakon ini baru bisa disebut berhasil, jika semua orang yang melihat, benar-benar mengira/menganggap kita orang gila beneran.

Setelah tiga tahun, menjadi orang gila/edan yang menghuni goa langse, dan tak seorangpun yang mengira kalau saya sedang lakon ngedan. Saya berhasil menemukan intisaripati dari tiga kitab tersebut, dan berhasil pula menggabungkan ketiga intisaripati kitab tesebut.

Kejadiannya...
Tepat tengah malam, sa’at bulan purnama berada diatas kepada saya, ketika itu, saya sedang duduk semedi di atas sebuah lempengan batu, yang terletak disebelah barat mulut goa langse, setelah saya berhasil melalui goda’an yang bernama Ilmu. Harta. Tahta. Yang datang silih berganti, salin menawarkan untuk saya miliki, tiba-tiba,,, laut kidul mendadak tebelah menjadi dua bagian, diantara kedua bagian itu, nampak terbentang seperti jalan tol, membentang dari tengah samudera, menuju tempat dimana saya sedang duduk bersemedi kala itu.

Tidak lama kemudian, nampak sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah saya, semakin dekat, sesuatu itu semakin nampak jelas, dan ternyata, sesuatu itu, adalah sebuah Kereta Kencana Mewah yang berhias emas intan dan berlian yang berkilauan sangat indah, saya sampai tidak bisa menggambarkan keindahannya. Karena saking indahnya.

Namun menurut penglihatan mata saya, yang kala itu sama sekali tidak berkedip memperhatikan, kereta kencana itu, tidak bergerak/berjalan mendekati saya. Melainkan jalan yang tak ubahnya sebuah tol itulah, yang bergerak semakin memendek, sehingganya, jarak antara tempat dimana saya duduk bersilah dan Kereta Kencana itu, semakin dekat jaraknya.

Itu terbukti dari kaki-kaki ke empat kuda gagah yang menarik Kereta itu, saya lihat, tetap diam tak bergerak. Dan pemendekan jalan itu, berhenti setelah jarak antara tempat duduk saya dan kereta itu, tersisa sekitar 11 meter kurang lebihnya.

Kerata kencana itu, di naiki oleh lima wanita cantik, yang berwajah hampir sama, namun tak serupa penampilannya. Seteah berkomunikasih seperlunya, sayapun jadi tau, siapa saja kelima Wanita Nan Cantik Jelita itu, sungguh,,, jujur saya katakan, seumur hidup saya, selama saya berpetualang keliling dunia, belum pernah melihat wanita secantik dan seanggun kelima wanita diatas kerata kencana indah yang megah dan mewah itu.

Yang duduk diatas kursi gading mewah didalam kereta kencana itu. Bergelar; KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Yang lebih di kenal oleh kebanyakan orang dengan sebutan Dewi Samudera.

Yang berdiri tegak tepat di depan kursi gading sebelah kanan beliau. Bergelar; RATU ALAM AZRAK, beliau adalah tangan kanan Kanjeng Ibu Ratu Mas Sekar Jagat Wijaya Kusuma atau (Ratu Bilqist).

Sedangkan yang berdiri tegak tepat di depan kursi gading sebelah kiri beliau. Bergelar; RATU SEJAGAT, yang lebih di kenal oleh kebanyakan orang pada umumnya, dengan sebutan Ratu Mas Roro Kidul. Beliau adalah tangan kiri Kanjeng Ibu Ratu Mas Sekar Jagat Wijaya Kusuma atau (Ratu Bilqist) yang konon memiliki hubungan khusus dengan Raja-Raja jawa.

Sedang yang berdiri tepat di samping kanan dan kiri kursi gading beliau, adalah senopati apit. Yang masing-masing Bernama; RATU  DEWI  BATARI  KARTI, disamping kanan, dan yang disamping kiri Bernama; RATU DEWI ANDARA WATI.

Setelah berbicara seperlunya. Yang intinya memperkenalkan masing-masing diri. Tiba-tiba... KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Mengucapkan kata-kata dari bibirnya yang penuh pesona, suaranya merdu bergema mendamaikan, sekali lagi, jujur saya katakan, saya hampir tidak kuat, karena terpesona oleh getaran aura suaranya yang bergema  merdu mempesona bahkan membius.
Kata KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist); “Lakonmu dalam menyatukan sedulur papat kalima pancer telah berhasil, namun lakumu belum selesai. Untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, apakah engkau sanggup untuk kuat dan bersedia untuk mampu, dengan apapun yang akan terjadi?” Tanyanya kepada saya...

Sungguh saya telah terbius, terhipnotis, oleh getaran aura suaranya yang bergema begitu  merdu mempesona. sehingga tak sepatah katapun yang bisa keluar dari mulut saya. Kecuali anggukan kepala sebagai tanda setuju/sanggup.

Jikalau engkau sanggup, lanjutnya....
“Maka ketahuilah wahai keturunan leluhur parahiyangan.
Mengenal diri, artinya mengenal Hidupmu, mengenal Hidupmu, artinya mengenal Guru Sejatimu, mengenal Guru Sejatimu. Berarti mengenal Hyang Maha Suci Hidup, yang sedang engkau cari selama ini”.

“Untuk bisa memasuki ranah/dimensi itu, engkau harus membersihkan jiwamu terlebih dahulu, dari semua kemelekatan dunia, dan membebaskannya dari banyak hal yang dapat menodai lakumu, dengan cara tapa ngrame. Berbaur dengan semuanya tanpa terkecuali, namun tetap berjalan menuju Hyang Maha Suci Hidup tanpa adanya pengecualian”.

“Ketahuilah wahai calon pemilik kesempurna’an Hidup dan Mati. Guru Sejati itu, adalah Hidupmu sendiri, dan Hidup itu Suci. Suci itu tidak bisa di campuri dengan apapun dan tidak bisa tercampuri oleh apapun. Artinya,,, jika engkau hendak memasuki ranah/dimensi Suci itu, maka jiwamu harus Suci pula”.

“Kalau tidak, maka tidak ada alasan untuk bisa masuk ke ranah/dimensi suci.  Sebab itu, sebelumnya harus ada pembersihan terlebih dahulu, dan pembersihan itu, harus atas Firman Hyang Maha Suci Hidup, bukan dengan kehendak atau caramu sendiri”.

“Dan yang namanya Pembersihan itu, sangatlah amat menyakitkan untuk ukuran kaummu sebagai manusia penghuni dunia fana. Setelah mendengar penjelasan ini. Apakah engkau tetap hendak melanjutkan tujuanmu ke tahap selanjutnya?”

Karena masih dalam sikon terhipnotis, saya hanya bisa menganggu’kan kepala sebagai tanda jawaban iya atau setuju dan sanggup.

Biaklah kalau begitu... lanjutnya.
“Sejak awal tapa ngrame di mulai, maka sejak itu pula, pembersihan atasmu dimulai, selama menjalankan tapa ngrame, engkau akan mendapatkan hina’an, cacian, singgungan, sangkalan, cela’an, sindiran, fitnah, adu domba dari sesamamu, engkau juga akan mengalami kesedihan dan kesengsara’an yang mendalam hingga menembus sungsummu, panas, dingin, perih, sakit, pedih bahkan tersiksa dan menderita, karena semua yang engkau miliki dan segala yang ada padamu, harus engkau korbankan untuk itu”.

“Mungkin engkau akan kehilangan orang-orang yang engaku cintai, kasihi dan sayangi, termasuk temanmu, sahabatmu, keluargamu, saudaramu, anak atau istrimu, orang tuamu, kehormatanmu, harga dirimu, wibawamu, pengaruhmu, pekerja’anmu, jabatanmu, titel/pangkatmu dan lain sebagainya yang melekat pada jiwamu. Akan sirna tanpa dadi,  Suro Diro Joyonirat lebur dening pangastuti”.

“Dengan pemberitahuan ini. Apakah engkau tetap hendak melanjutkan tujuanmu ke tahap selanjutnya?”
   
Karena masih dalam sikon terhipnotis, saya hanya bisa menganggu’kan kepala sebagai tanda jawaban iya atau setuju dan sanggup.

“Bagus,,, jika engkau mampu dan berhasil. Maka semua dan segalanya akan menyertaimu/bersamamu, menjadi milikmu seutuhnya, engkau akan mendapat  Kesempurna’an Hidup sekarang dan jaminan Kesempurna’an Mati nantinya. Sekarang juga, beranjaklah meninggalkan tempat ini, dan carilah tempat dimanapun yang engkau suka, sebagai tempat untuk tapa ngramemu. Selamat tinggal Wahai Keturunan Leluhur Parahiyangan... Selama berpisah untuk smentara waktu Wahai Calon Pemilik Kesempurna’an Hidup dan Mati. dan sampai jumpa nanti dialam kesempurna’an yang sebenarnya, yaitu “ABADI”.
Lalu, sekejap mata saja, semuanya sirna/hilang, lenyap dari hadapan saya. Kembali seperti semula, yaitu hanya bongkahan batu-batu karang yang tajam dan deburan ombak sang pemecah kesunyian malam.

Sayapun segera bergegas meninggalkan goa langse, tanpa buang waktu lama. Sekitar tahun 1999. Setelah sowan kepada Mbah Sewo dan Makam Mbah Buyut Renggo, karena sepulangnya saya dari goa langse, Mbah Buyut Renggo telah meninggal dunia, saya berganti sikon menjadi seperti pada umumnya manusia Hidup, namun tetap menggunakan nama sebagai Wong Edan Bagu.

Dan di akhir tahun 1999 dan awal tahun 2000, saya berhasil mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib, di goa singa barong nusakambangan cilacap jawa tengah, yang kemudian, penyempurna’an saya temukan di pekalongan, dibawah bimbingan tiga Guru/kadhang sepuh saya bernama Bambang Handoyo. Bambang Setiyoko dan Bambang Hudiyoko.

Ketiga senior kakak beradik inilah, yang menyempurnakan Wahyu Panca Ghaib, hasil penemuan saya di goa singa barong nusakambangan cilacap jawa tengah, yang pada awalnya dinalar oleh seorang kadhang dari pekalongan juga, bernama Qosim.
Dan sejak itulah, bagi saya, tiada waktu tanpa berTuhan, tiada hari tanpa Laku, selama menjalankan praktek tapa ngrame, kenyataan demi kenyataan, kebenaran demi kebenaran dan pembuktian demi pembuktian, terungkap langsung secara nyata di depan mata kepala saya sendiri, bukan katanya.

Semuanya hasil praktek langsung sendiri, dan dengan hasil praktek itu, istilah katanya, insya Allah, semoga dan mudah-mudahan, yang tadinya membungkus iman saya, sehingga sulit untuk berkembang, mulai terkikis sedikit demi sedikit, hingga habis total dari jiwa dan raga saya.

Bersama’an dengan itu...
Saya mengalami hina’an, cacian, singgungan, sangkalan, cela’an, sindiran, fitnah, adu domba dari orang-orang yang tadinya adalah teman dekat saya, sahabat saya, dan ternyata,,, benar, apa yang di jelaskan oleh KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Rasa panas, dingin, perih, sakit, pedih bahkan tersiksa dan menderita itu, terasa menembus hingga ke sungsum. Namun saya tidak peduli dengan semuanya itu, saya tetep idep madep mantep pada tujuan saya, yaitu Hyang Maha Suci Hidup.

Dan bukan hanya itu saja, dan berhenti disitu saja, lagi-lagi, benar apa yang dikatakan oleh KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Saya juga kehilangan orang-orang yang saya cintai, kasihi dan sayangi, termasuk teman, sahabat, keluarga, saudara, anak dan istri, bahkan orang tua, kehormatan, harga diri, wibawa, pengaruh, pekerja’an, jabatan dan lain sebagainya yang melekat pada jiwa saya, semuanya tercampakan, serasa saya sedang di telanjangi secara total.

Namun saya tidak peduli dengan semuanya itu, saya tetep idep madep mantep pada tujuan saya, yaitu Hyang Maha Suci Hidup.

Dan dimulai dari sinilah...
Saya Percaya adanya Hukum alam, sebab akibat atau tebar tuai atau memberi dan menerima, yang lebih di kenal dengan sebutan Karma.

Sebab saya membuktikannya sendiri, mengalaminya sendiri, bukan katanya apapun dan siapapun.

Hukum Karma itu,,, benar-benar nyata ada dan berlaku untuk semua makhluk Hidup tanpa terkecuali.

Dan dimulai dari sinilah...
Saya yakin,,, bahwa Hyang Maha Suci Hidup itu, benar-benar ada dan nyata-nyata ada pless kekuwasa’annya yang Maha diatas segala yang Maha. Karena saya telah membuktikannya sendiri, bukan katanya apapun dan siapapun. Melainkan tau sendiri.

Karena saya tau sendiri dan sebab saya mengalaminya sendiri. Jadi,,, Kepercaya’an saya tentang Hukum Karma itu, apapun yang terjadi dengan alasannya, tidak bisa bergeser dari posisinya, walau hanya sejengkal saja. Keyakinan saya soal Hyang Maha Suci Hidup itu, apapun yang terjadi dengan alasannya, tidak bisa di ganggu gugat. Percaya dan yakin, seyakin-yakinnya. “Haqkul Yaqin” istilahnya.

Sebagai Manusia Hidup yang bertitah dan tertitah dengan Wahyu Panca Gha’ib, menjadi Putero Romo. Apapun yang terjadi dan apapun alasannya. Saya tidak bisa bergeser walau sejengkal, tidak bisa mundur walau setapak. Karena saya sudah mendapatkan bukti kebenaran nyatanya, sendiri, bukan katanya siapapun dan apapun. Karena itu, saya tidak peduli apapun yang di lakukan dan di perbuat oleh siapapun dan apapun tentang saya.

Saya akan tetap terus bergerak melangkah maju, sesuai tuntunan Firman Hyang Maha Suci Hidup, selaras dengan Sabdanya Hidup, mengikuti jejak Guru Sejati, hingga sudah undangan untuk pulang ke kampung halaman itu, tiba.  

Kejadian demi kejadian yang saya saksinya dengan mata kepala saya sendiri, sepanjang tapa ngrame, tentang pelajaran-pelajaran yang semu dan samar, tanpa kepastian, yang banyak membutakan, menulikan, membisukan bahkan melenakan, Saudara dan Saudari saya disana sini, sehingga mau tidak mau harus mengalami kebingungan jangka panjang, yang tak berkesudahan. Ini terbukti dari sipat dan sikapnya, yang mengaku tau, paham dan mengerti, yakin dan percaya, bahkan mengaku ahli spiritual, namun masih menggunjing, mencela, menghina bahkan mengfitnah, menebar kebencian antar sesama, mengadu domba. Sirik. Dengki. Ala. Pogal. Budreg. Jujur dari hati nurani saya yang paliiiiiiiiiing dalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam. Saya trenyuh...._/\_

Saya menjadi tergugah, untuk membagikan secara umum, semua kebenaran yang saya dapatkan sa’at praktek di lapangan, yaitu soal Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, serta tentang kebenaran Hyang Maha Suci Hidup, kepada siapapun yang mau dan bersedia, terutama mereka yang sangat saya kasihi dan sayangi.

Semakin sering dan semakin saya ingin mengabarkannya secara meluas, dimanapun dan kapanmu saya mendapatkannya, percaya atau tidak di percaya, di anggap atau tidak di anggap, saya sudah tidak peduli lagi, saya di sebut sombong atau ujub, sok tau atau kemingsung, saya sudah tidak peduli lagi, mau di anggap sesat atau murtad, saya sudah tidak peduli lagi, saya akan tetap terus melangkah maju, sembari hanya sekedar mengabarkan bukti benarnya soal Kesempurna’an Hidup/Mati dan bukti benarnya tentang Hyang Maha Suci Hidup, yang sudah berhasil saya dapatkan secara nyata, bukan katanya.
Selebihnya, terserah anda, toh, suatu ketika, jika anda terus melangkah maju, kemungkinan anda akan pinilih dan pininto, kalau sudah pinilih dan pininto, artinya anda pasti sampai, bila sudah sampai, berati pasti akan tau sendiri dan mengalaminya sendiri. Dan lagi,,, pasti anda akan mengatakan,,, O.... ternyata, apa yang dikabarkan/sampaikan WEB, itu benar adanya to...

Namun... apapun yang anda katakan tentang saya dan soal saya, sudah tidak ngaruh dan tidak ngefek lagi pada Wong Edan Bagu. Karena Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi... He he he . . . Edan Tenan.  INILAH Wong Edan Bagu Yang Sekarang.
PENGADUAN;
Pak WEB... ada beberapa akun facebook, yang menggunakan photo pak WEB, selain itu, juga menggunakan nama facebook bahkan nama asli pak WEB, apa yang mereka updatekan di status facebooknya, itu jauh menyimpang dari sipat dan sikap pak WEB yang sebenarnya, ada yang berbahasa cinta yang tak beretika, ada yang ngumpulin pertemanan dengan akun facebook milik wanita yang bergambar profil cantik bahkan porno.

Bahkan saya pernah di inbox untuk diajak kencan, awalnya, saya pikir itu pak WEB, tapi tidak mungkin, setelah selidik punya selidik, melihat akunnya yang serba di sembunyikan, dan nomer telephon, yang berbeda dengan nomer telephon yang pak WEB cantumkan di facebook. Saya berani mendampratnya, saya maki-maki. Sebagai anak didik pak WEB, saya tidak terima senang dengan hal itu, apa yang harus saya lakukan pak? dan apa sikap pak WEB dengan adanya  hal itu?

TANGGAPAN;
Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi. Sebagai Manusia Hidup yang percaya adanya Hukum Karma. Sebagai Putero Romo yang yakin adanya Hyang Maha Suci Hidup pless kuasanya yang Maha diatas segala yang Maha. Jawabannya... Sudah jelas bukan... jadi, biyarkan saja  mereka begitu, karena pada hakikatnya, mereka sedang membantu saya, menebus dan membersihkan karma saya, dan keluarga saya hingga ke para leluhur saya. Maka, akan saya ucapkan, terima kasih, karena sudah rela menyisihkan waktunya, untuk membantu saya, menebus karma. Karena Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi... He he he. . . Edan Tenan.

Dan untukmu, jangan lakukan hal ini lagi, karena dengan mengadukan hal ini kepada saya, apapun alasannya, sama halnya, kau sudah mengfitnah orang lain dan mengadu domba orang lain itu dengan saya, dan kamupun akan mendapatkan karma, jadi, jika tidak mau mendapatkan karmanya, biyarkan saja, jangan buang dan sia-siakan waktumu untuk hal-hal seperti itu, tetap fokus saja pada lakon dan laku pribadimu, dalam mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib.

PENGADUAN Lagi;
Maafkan pak WEB. Ada beberapa akun facebook yang bernada sumbang tentang pak WEB, bahkan ada yang terang-terang menghina, melecehkan, menfitnah, hingga nyumpain yang tidak baik jika di ungkap disini bahasanya. Intinya, benci dan tidak suka sama pak WEB, sebagai anak didik pak WEB, saya gatel, ingin melawannya, mengajaknya berduel jika perlu, tapi, ada rasa bersalah jika tidak mengatakannya terlebih dulu pada pak WEB, yang membimbing saya, kalau-kalau apa yang akan saya lakukan itu, adalah salah dan tidak benar. Untuk hal ini, apa yang harus saya perbuat pak WEB? Dan apa sikap pak WEB dengan hal tersebut?

TANGGAPAN;
Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi. Sebagai Manusia Hidup yang percaya adanya Hukum Karma. Sebagai Putero Romo yang yakin adanya Hyang Maha Suci Hidup pless kuasanya yang Maha diatas segala yang Maha. Jawabannya... Sudah jelas bukan.... istilah tidak suka atau benci kepada saya, artinya, mereka pernah akrab mengenal saya, kalau tidak akrab mengenal saya, tidak ada alasan untuk tidak suka atau benci kepada saya, dan 85%nya, orang yang mengenal saya secara akrab itu, adalah orang yang mengaku Ahli Spiritual. Percaya adanya Hukum Karma dan Yakin adanya Hyang Maha Suci Hidup, dengan gaya bahasa pribadinya masing-masing. Artinya....  

Disini, sudah cukup jelas jawabannya bukan... jika mereka melakukan itu kepada saya, berati pengakuan mereka tentang percaya karma dan soal Tuhan, serta spiritual yang di gembar gemborkannya itu, nol kecil, bukankah kita sama-sama percaya karma? yakin Tuhan? jika saya iya, seperti yang didakwahkan, pastinya, karma akan merenggut saya melalui kutukan-kutukan, yang mereka sumpakan kepada saya. Jadi,,, buat apa kita buang-buang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan untuk Lakon dan Laku Wahyu Panca Gha’ib?

Bukankah, karma itu memang benar-benar ada? Bukankah, Tuhan itu nyata-nyata ada? Maka, biyarkan karma itu berlaku dan Tuhan menunjukan kuasanya, kita tetap terus berjalan maju mencapai tujuan menggapai cita. Yaitu kesempurna’an Hidup dan kesempurna’an Mati.

Tidak usah hiraukan mereka, mereka sedang membantu saya menebus dan membersihkan karma saya dan keluarga saya hingga ke para leluhur saya, atas itu, sayapun, akan mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuannya itu. Karena Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi... He he he . . . Edan Tenan.

Dan untukmu, jangan lakukan hal ini lagi, karena dengan mengadukan hal ini kepada saya, apapun alasannya, sama halnya, kau sudah mengfitnah orang lain dan mengadu domba orang lain itu dengan saya, dan kamupun akan mendapatkan karma, jadi, jika tidak mau mendapatkan karmanya, biyarkan saja, jangan buang dan sia-siakan waktumu untuk hal-hal seperti itu, tetap fokus saja pada lakon dan laku pribadimu, dalam mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib. . . . Monggo... Silahkan Direnungkan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA  KALI  INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO....._/\_.....Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 – 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Selasa, 15 Desember 2015

Dua Laku dan Tiga Lakon Dasar Spiritual Hakikat Hidup untuk Mencapai Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib:

Dua Laku dan Tiga Lakon Dasar Spiritual Hakikat Hidup untuk Mencapai Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 16 Desember 2015

Para sedulur... Dan Para Kadhang Kinasih didik saya yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Atas Ridha-Nya. Kali ini, saya berhasil mengungkap Rahasia Spiritual yang sebenarnya. Yang sering menyulitkan banyak para pelaku Spiritual pada umumnya. Mari kita simak bersama wedarannya, dan saya mohon, bacalah dengan teliti/seksama hingga selesai, agar bisa mengerti dan bisa memahami, apa yang di maksud dan yang menjadi intisari patinya.

Para sedulur... Dan Para Kadhang Kinasih didik saya yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pada artikel lain, saya pernah wedar. Bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Kejawen. Aliran. Kepercaya’an. Kebatinan. Perguruan. Golongan. Partai atau Bla... bla... bla... Lainnya. Karena Wahyu Panca Gha’ib itu, adalah Hidup. Dan Hidup itu, terlepas dari semua dari Agama. Kejawen. Aliran. Kepercaya’an. Kebatinan. Perguruan. Golongan. Partai atau Bla... bla... bla... Lainnya. Tapi Wahyu Panca Gha’ib bisa untuk apa saja, bergantung dari Pangolah dan Pangrengganya. Bergantung dari Lakon dan Lakunya.

Artinya; jika Wahyu Panca Gha’ib dianggap Harta, maka akan menjadi harta. Bila dianggap ilmu, akan menjadi ilmu, jika dianggap agama, maka akan menjadi agama, bila dianggap kepercaya’an/kejawen, maka akan menjadi kepercaya’an/kejawen dll. Namun ingat...!!! Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani. Begitulah wedaran kelanjutannya yang saya wejangkan.

Ini buktinya, kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, bisa untuk apa saja;
Ada dua pilihan Laku di dalam Wahyu Panca Gha’ib. Dan kedua pilihan itu, harus di lalui dengan Wahyu Panca Gha’ib, artinya, harus sesuai dengan Sabdanya Hidup. Jika tidak sesuai dengan Sabdanya Hidup, maka akan terpelesed  jatuh, bahkan terpelanting jauh dan menyakitkan (gagal total alias tidak bisa). Karena itu, perlu saya tegaskan dengan jelas, hanya dengan Wahyu Panca Gha’ib, saya bisa pastikan, Pasti Bisa, kalau tidak dengan Wahyu Panca Gha’ib, saya juga bisa pastikan, Pasti Tidak Bisa, sebab saya sudah membuktikannya sendiri. Pilihannya.

Laku Pertama;
Proses Tangga Menurun.

Laku Kedua;
Proses Tangga menaik/mendaki.

Pilihan Pertama;
Proses dengan Anak Tangga Menurun.
Anak tangga ke satu; Hyang Maha Suci Hidup.
Anak tangga ke dua; Ilmu.
Anak tangga ke ketiga; Harta.
Anak tangga ke empat; Tahta.
Anak tangga ke kelima; wanita.

Pilihan Kedua;
Proses dengan Anak Tangga menaik/mendaki.
Anak tangga ke satu; Wanita.
Anak tangga ke dua; Tahta.
Anak tangga ke tiga; Harta.
Anak tangga ke empat; Ilmu.
Anak tangga ke lima; Hyang Maha Suci Hidup.
Kalau kita memilih Laku Pertama, dengan Proses Tangga Menurun. Berati; kita harus mengutamakan No. 1, yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Artinya; Fokus kita arahkan Ke Soal Wahyu Panca Gha’ib. No. 2-3-4-5 nya di nomer duakan.

Disini kita harus siap sedia, secara jiwa raga dan lahir bathinnya, merasakan sedikit kesedihan dan kepahitan, sebentar saja. Karena sebagai manusia wajar, yang sudah terbiasa serba ingin kecukupan dan keturutan, akan mengalami himpitan dan guncangan hidup. Karena kita sedang berada di dimensi Suci. Soal Suci itu bagaimana dan seperti apa, pada artikel lain, saya sudah pernah menjelaskannya. Yang intinya, Suci itu, tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun. Jadi, karena kita sedang ada di dimensi Suci, maka, apapun yang melekat pada jiwa raga kita, akan di sisihkan dan akan di bersihkan.

Mungkin akan mengalami tidak punya uang, tidak punya beras, tidak punya rokok, tidak punya kehormatan, tidak punya sesuatu yang bisa di banggakan dll, dihina, di rendahkan, di fitnah bahkan di kucilkan, tapi jangan lupa, itu hanya Proses dan hanya sedikit serta hanya sebentar saja, maksudnya, semuanya itu bisa kita lewati sepintas lalu saja, tidak pakai lama, jika Tetep Idep Madep Mantep (tetap IMAN). Maka jaminan atau garansi KESEMPURNA’AN  HIDUP  DAN  KESEMPURNA’AN  MATI, akan kita dapatkan. Dan yang No. 2-3-4-5nya, akan kita miliki seutuhnya dengan syah.    

Kalau kita memilih Laku Kedua, dengan Proses Tangga Menaik/Mendaki. Berati; kita harus menunda dan melupakan sejenak yang No. 1, yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Artinya; Fokus kita arahkan Ke No. 5-4-3 dan 2. Sedangkan yang No. 1nya, yaitu Hyang Maha Suci Hidup, kita tunda dulu nanti.

Disini, kita harus siap sedia lahir dan bathin jiwa raga, melupakan sejenak soal kesempurna’an, menunda tentang sedulur papat, tentang sedulur pancer/guru sejati, tentang semua urusan akherat dan kepentingan Hidup serta Hyang Maha Suci Hidup.   

Kalau sudah bisa siap sedia lahir bathin jiwa raga, melupakan Sempurna dan menunda urusan Hyang Maha Suci Hidup. Maka... Kamulia’an Hidup akan kita raih dan kita genggam. Dengan Wahyu Panca Gha’ib. Kita akan mendapatkan No. 5-4-3-2 dengan sangat mudah sekali. Tidak ada istilah dan kata rumit atau susah serta sulit. Tidak pakai lama lagi, tapi ingat...!!! Usia kita belum tentu cukup untuk berlanjut ke No. 1nya.

Jadi... Silahkan Tentukan Pilihan Laku Wahyu Panca Gha’ibmu sekarang juga, sebelum Terlambat... He he he . . . Edan Tenan.

Tiga Lakon Dasar Spiritual Hakikat Hidup untuk Mencapai, Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib: Lakon ini, berkait erat dengan Laku Pilihan yang Pertama, yaitu, dengan Proses Tangga Menurun.

1. Menjadi Manusia Yang Manusiawi (Seutuhnya)
2. Menyelesaikan Akun Sebab Akibat/memberi dan menerima (Karma).
3. Membuat Kemajuan Spiritual.

1. Menjadi Manusia Yang Manusiawi (Seutuhnya);
Maksud dari kalimat "Manusia yang manusiawi" adalah menjadi manusia yang baik dan benar, manusia yang baik dan benar itu, adalah manusia Hidup, yang seperti di sa’at awal pertama kali diciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup. 

Perlu kita ketahui, bahwasannya, suatu hal yang benar belum tentu sudah baik, begitupun sebaliknya, sesuatu yang baik juga belum tentu sudah benar. 

Perhatikan contoh percakapan berikut:
Si A: (berjalan dari arah utara)
Si B: (bertanya) "Pagi mas, dari mana?"
Si A: (menjawab) "Dari utara"
Si B: (bertanya lagi) "Oh,,, mau kemana atuh mas.? :) "
Si A: (menjawab lagi) "Ya mau ke selatan lah"

Benar?
Memang jawabannya benar.
Baik?
Sudah barang tentu tidak baik, sebab Si B yang hanya sekedar ingin basa basi menyapa, agar terlihat lebih harmonis sebagai sesama Hidup, akan terluka perasaannya bahkan Hatinya. 

Contoh lagi perhatikan peristiwa berikut:
Si A, mempunyai tetangga yang bisa dikatakan lebih miskin dari dirinya, dan Si A, ingin sekali bersedekah pisang goreng, sebab saat itu, istri Si A, kebeteulan baru saja menggoreng pisang. Namun cara Si A, bersedekah itu dilemparkan tepat di depan si miskin. Kita semua tahu, bahwa bersedekah itu, suatu hal yang sangat baik, namun jika caranya seperti itu, sudah pasti tidak benar bukan...

Nah, dari kedua contoh tersebut diatas, sudah bisa kita simpulkan, bahwa sesuatu yang benar itu, belum tentu sudah baik, begitupun sebaliknya. Jika kita bisa menyatukan keduanya, antara benar dan baik itu, serta baik dan benar tersebut, maka,,, pada saat itulah,  kita telah menjadi manusia seutuhnya, dengan jiwa yang fitrah (Fitri).

Jadi, makna sebenarnya dari kata fitri, adalah jiwa yang baik dan benar serta benar dan baik, saat itulah kita juga telah menjadi manusia yang manusiawi.

Berawal dari sinilah... Lakon dan Laku Spiritual Hakikat Hidup, terbuka untuk kita, secara disadari atau tidak disadari. Spiritual mulai tumbuh. Iman mulai  berkembang. Hidup mulai tergugah. Guru sejati mulai menuntun kita, ke Ranah sadar dan menyadari tentang segalanya soal Hyang Maha Suci Hidup. Sehingganya, apapun yang hadir di sekeliling kita, menjadi ilmu pengetahuan yang akan menarik kita, untuk mempelajarinya, dan apapun yang kita pelajari, akan selalu terarah keHadirat Hyang Maha Suci Hidup, jadi,,, tidak akan mungkin melesed dari titik sasaran yang benar.

Jadi,,, mari kita semua bersama selalu berbuat baik kepada sesama dan mari kita sama-sama melakukan baik tersebut dengan benar.

2. Menyelesaikan akun sebab akibat/memberi dan menerima (karma);
Di dalam kehidupan, kita mengakumulasi banyak akun-akun memberi dan menerima, yang merupakan hasil langsung dari perbuatan dan tindakan kita.

Akun-akun tersebut, mungkin berupa hal-hal positif atau negatif, tergantung sifat positif-negatifnya tindakan-tindakan kita tersebut. Pada hakikatnya, dalam era/kurun waktu saat ini, ada sektiar 65% dari kehidupan kita, telah diakibatkan (tidak berada dalam kendali kita) dan 35% dari kehidupan kita, diatur oleh kehendak bebas kita sendiri.

Semua peristiwa besar dalam hidup kita, telah diakibatkan oleh Peristiwa-peristiwa ini, termasuk kelahiran kita, keluarga di mana kita dilahirkan, orang yang kita nikahi, anak-anak yang kita miliki, penyakit serius dan waktu kematian kita. Kebahagiaan dan rasa sakit yang kita berikan dan terima dari orang-orang yang kita cintai dan kenali, merupakan bentuk sederhana dari kasus akun-akun memberi dan menerima sebelumnya, yang mengarahkan ke bagaimana hubungan antar sesama terungkap.

Bagaimanapun, akibat kita dalam kehidupan saat ini, hanyalah merupakan sebagian kecil, dari akumulasi akun memberi dan menerima, yang telah kita kumpulkan dalam banyak peristiwa kehidupan dan perjalanan hidup kita ini.

Dalam kehidupan kita, sembari kita menyelesaikan akun memberi dan menerima, serta akibat yang diperuntukkan kehidupan tertentu kita, pada saat yang sama, kita juga akhirnya membuat lebih banyak akun-akun dengan bertindak/berkehendak bebas.

Hal ini pada akhirnya, ditambahkan ke dalam keseluruhan akun memberi dan menerima, yang dikenal sebagai akun akumulasi. Sebagai hasilnya, kita harus terlahir kembali untuk melunasi akun-akun memberi dan menerima lebih lanjut dan terjebak dalam siklus kelahiran dan kematian.

3. Membuat kemajuan spiritual;
Puncaknya dalam perkembangan spiritual di semua Jalan Spiritual.
Adalah; kembali ke asal usul sangkan paraning dumadi, atau dalam istilah lain, menyatu dengan Tuhan. (inna lillaahi wa inna illaahi roji’un).

Menyatu' dengan Hyang Maha Suci Hidup,  berarti mengalami/memiliki Kesadaran Tuhan, di dalam diri kita dan di sekitar kita serta tidak mengidentifikasi diri dengan ke lima indera dan intelek.

Penyatuan ini, terjadi pada tingkat pencapaian spiritual 100%. Kebanyakan orang di dunia saat ini, berada pada tingkat spiritual 20-25%, itu di karenakan, akibat dari lebih suka dan memilih katanya, dari pada melakukan praktek spiritual sendiri/langsung di TKP, untuk mengembangkan spiritualnya dan membuktikan spiritualnya,

Mereka juga mengidentifikasikan diri mereka dengan ke 5 indera dan intelek. Hal ini tercermin dalam kehidupan kita, dimana fokus utama kita terletak pada penampilan fisik kita dan sikap kita, yang tidak apa adanya, tentang kecerdasan  atau kesuksesan spiritual kita.

Padahal, banyak bukti yang nyata, bahwa dengan melakukan praktek spiritual langsung di lapangan, bukan sekedar katanya, ketika kita tumbuh ke tingkat pencapaian spiritual 80%, kita terbebas dari siklus kehidupan dan kematian. Setelah tingkat pencapaian spiritual ini, kita dapat melunasi apapun yang tersisa dari akun-akun memberi dan menerima kita, dari alam-alam non-fisik/halus ke atas.

Tujuan Hidup atau arti Hidup;
Sering kali kita mendengar pertanyaan tentang ‘Apa arti dari hidup?’ atau ‘Apakah tujuan hidup itu?’ atau ‘Kenapa kita dilahirkan?

Dalam kebanyakan kasus, kita memiliki agenda masing-masing tentang apa yang menjadi tujuan dalam hidup kita. Namun dari sudut pandang spiritual, terdapat dua alasan dasar tentang mengapa kita dilahirkan, di artikel lain, saya sudah pernah mengungkap bab Mengapa Kita Dilahirkan. Bagi yang sudah membacanya, pasti tau alasannya, mengapa kita dilahirkan. Alasan inilah, yang mendefinisikan tujuan hidup kita yang paling mendasar.

Tujuan-tujuan ini diantaranya adalah;
Untuk menyelesaikan akun perhitungan memberi dan menerima atau sebab akibat (Karma), yang kita miliki dengan berbagai sesama hidup.

Untuk membuat kemajuan spiritual dengan tujuan akhir, kembali ke asal usul sangkan paraning dumadi, atau dalam istilah lain, bersatu dengan Hyang Maha Suci Hidup (inna lillaahi wa inna illaahi roji’un), dan dengan demikian keluarlah kita dari siklus kelahiran dan kematian.

Apa yang dimaksud dalam hal ini.
Mengenai tujuan Hidup/arti Hidup kita?
Sebagian besar dari kita memiliki tujuan Hidup/arti Hidup masing-masing. Tujuan Hidup ini, mungkin menjadi seorang dokter, menjadi kaya dan terkenal atau mewakili Negara dalam bidang tertentu atau bla... bla... bla... lainnya.

Apapun tujuannya, bagi sebagian besar dari kita, lebih banyak tujuan tersebut lebih dominan keduniawiannya. Sistem-sistem pendidikan kita yang ada telah tertata untuk membantu kita mengejar tujuan-tujuan duniawi itu. Sebagai orang tua kita juga menanamkan tujuan Hidup duniawi yang sama, pada anak-anak kita, dengan mendorong mereka untuk belajar dan masuk dalam profesi-profesi yang memberikan mereka manfaat keuangan lebih banyak, dibandingkan dengan profesi kita sendiri yang sebenarnya.

Seseorang mungkin bertanya, “Bagaimanakah memiliki tujuan Hidup duniawi ini, bisa sejalan dengan tujuan Hidup spiritual, dan alasan untuk kelahiran kita di Bumi?”

Jawabannya cukup sederhana. Kita berjuang untuk tujuan duniawi, terutama untuk mencari kepuasan dan kebahagiaan. Upaya untuk mencapai ‘kebahagiaan puncak dan kekal’ tersebut, pada hakikatnya, merupakan apa yang mendorong semua tindakan kita.

Namun, setelah kita mencapai tujuan duniawi kita, kebahagiaan dan kepuasaan yang dihasilkan, hanya bertahan sebentar/singkat, kemudian kita mengejar mimpi selanjutnya untuk bisa diraih lagi.

‘Kebahagiaan yang puncak dan kekal’ hanya dapat dicapai melalui praktek spiritual yang sesuai dengan ke tiga prinsip-prinsip dasar dari praktek spiritual, yang sudah saya uraikan diatas. Wujud kebahagiaan tertinggi yaitu Kebahagiaan abadi (Tenteram). Tenteram merupakan aspek dari Hyang Maha Suci Hidup.

Ketika kita bersatu dengan-Nya, kita pun merasakan Tenteram yang terus menerus (ABADI).

Ini bukan berarti, bahwa kita harus meninggalkan apa yang kita lakukan dan hanya fokus pada praktek spiritual saja.

Apa yang dimaksud, adalah,,, hanya dengan melakukan praktek spiritual bersamaan dengan kehidupan duniawi, barulah kita dapat mengalami kebahagiaan yang puncak dan kekal dalam arti sebenarnya, yaitu; Tenteram (Kebahagia’an Abadi).

Singkatnya, semakin tujuan Hidup kita berselaras dengan pesatnya perkembangan spiritual kita, semakin Hidup kita menjadi kaya, dan semakin sedikit Rasa sakit yang kita alami dari Hidup, hari demi hari di sepanjang kehidupan kita ini.

Namun terkadang, orang-orang di atas tingkat pencapaian spiritual 80%, biasanya, setelah berhasil dalam pencapaiannya, bisa saja memilih untuk dilahirkan ke Bumi lagi, untuk membimbing sesama manusia hidup, yang di kasihinya dalam Spiritualitas.

Pertumbuhan spiritual yang sempurna, hanya bisa terjadi melalui praktek spiritual langsung, yang sesuai dengan ke tiga prinsip-prinsip dasar dari praktek spiritual itu sendiri. Jalan spiritual yang tidak sesuai dengan ke tiga prinsip-prinsip dasar dari praktek Spiritual, menyebabkan stagnasi dalam pertumbuhan Spiritual seorang individu. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA  KALI  INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO....._/\_.....Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon:  0858 – 6179 - 9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com