Mengenai Saya

Foto saya

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untuk semuanya tanpa terkecuali. Perkenalkan Saya... Dengan Nama asli: Toso Wijaya. D.  Nama Lahir saya: Djaka Tolos. Dan Akrab di panggil Wong Edan Bagu atau WEB dalam dunia Spiritual Laku Ketuhanan. saya lahir di lereng gunung ciremai Cirebon jawa barat. Pada hari Rabu Pon, tgl 13/08/1959, Anak kedua dari empat bersaudara, yang lahir dari kedua orang tua, Bapak Bernama: Matsalim dan Ibu Bernaman Dewi Arimi.  Mulai dari Nenek moyang hingga ke bapak ibu sampai ke saya sendiri. Kami Suka Berspiritual. artinya... suka mempelajari hal-hal yang ga'ib. Tapi bukan sembarang Ghaib, karena Ghaib yang saya pelajari, adalah Ghaib-Nya Dzat Maha Suci Hidup (TUHAN). Bukan yang lain.  Karena itu Sejak usia 9 tahun, saya sudah mempelajari ilmu-ilmu katikjayan, kususnya ilmu kanuragan dan ilmu jaya kawijayan Warisan dari para leluhur saya di telatah tanah pasundan. Sebagai bekal untuk mengembara dalam melacak jejak Dzat Maha Suci yang Gha'ib.  

Dan setelah melalui berbagai macan dan banyak lika liku proses kehidupan. saya berhasil menemukan intisari pati Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sebenarnya, dari semua dan segalanya tentang Hidup dan Kehidupan BerTuhan... dan sejak itulah, saya berhenti mengembara dan berpetualang. Lalu menekuni secara Khusus/Istiqomah Laku Spiritual Hakikat Hidup. Yang pelajarannya saya dapatkan, dikala puasa ngebleng di goa singabarong pulau nusa kambangan cilacap jawa tengah,  yaitu,,. Wahyu Panca Laku. Cara untuk Mempraktekan Wahyu Panca Gha'ib, yang hanya mempelajari Hidup dan kehidupan serta Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya... disamping terus belajar dan belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya... Karena saya tidak suka Neko-neko. Saya membuka Pengobatan dan Konsultasi Alternatif Tradisional, mempraktekan ilmu pengobatan spesialist Stroke. Dengan Cara Terapi Pijat Urut dan Jamu Herbal Ramuan Sendiri. Yang pernah saya Pelajari dari beberapa orang Guru saya... Dan semoga, apa yang saya lakukan ini. bisa dan dapat bermanfaat pada diri saya sendiri dan buat semua saudara-saudari saya tanpa terkecuali..... Itulah sekelumit tentang saya dan mohon maklumnya jika terkesan berlebihan; Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian... _/!\_

Senin, 23 Februari 2015

MANUSIA TERKADANG TAK PERNAH MEMIKIRKAN SISI BURUK TERPENTING DALAM HIDUPNYA, APAKAH ITU ....?

MANUSIA TERKADANG TAK PERNAH MEMIKIRKAN SISI BURUK TERPENTING DALAM  HIDUPNYA, APAKAH ITU ....?
MANUSIA SERING MENJADI HAMBA RASA DAN PERASAAN TANPA MENGKEDEPANKAN CITA RASA ORANG LAIN DALAM BERSANDING:

Anak-Anaka dan Murid-Muridku... Ketahuilah... Kenapa saya selalu sering berpesan untuk tetap laku dan terus laku tanpa henti. Karena,,, hanya yang terus lakul lah yang punya jaminan sampai ke titik finis. Bukan yang berhenti. Firman Allah Sudah jelas menjelasakan kepada semua dan untuk segalanya. Bahwasannya... Jika air laut di jadikan tintanya, dan seluruh dan semua daun di jadikan kertasnya. Tetaplah tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah. Diatas istana ada atap. Diatas atap ada bukit, diatas bukit ada langit, diatas langit masih ada lagi langit yang bersap-sap tak terhitung jumlahnya... begitupun Lakon dan Laku kita sebagai Manusia Seutuhnya yang di Titahkan oleh yang Maha Suci Hidup. Hingga sesuai dengan Firmannya yang Maha Benas, yaitu... “Semua yang berasal dariKU akan kembali kepadaKU”  Bukan pada yang lain.

Anak-Anaka dan Murid-Muridku... Ada Yang Lebih Tinggi dari Segala Lakon Kehidupan.  Yaitu Laku Perasa’an. Ada yang lebih Tinggi Lagi dari pada Laku Perasa’an itu. Yaitu Laku Rasa. Ada lagi yang jauh Lebih Tinggi di banding Laku Rasa. Apakah itu...? Cita Rasa...   Kenapa Cita Rasa di Sebut Lebih Tinggi di banding Lakon dan Laku yang tersebut diatas...?! Karena Cita Rasa adalah intisarinya. Cita Rasa Sudah Tidak Terikat lagi oleh Lakon dan Laku. Cita Rasa adalah Bersatunya dan Bertemunya Lakon dan Laku, Perasa’an dan Rasa. Kehidupan dan Hidup, Pencipta’an dan Sang Pencipta.  

Anak-anak dan murid-muridku…. Jadikan diriku sebagai cerminmu. Jadikan diriku sebagai cermin hati dan rahasia batinmu, sebagai cermin Laku Spiritual Hakikat Hidupmu!

Kemarilah.... mendekat kepadaku, anda akan melihat apa yang ada di dalam dirimu, sesuatu yang tidak bisa anda lihat ketika kalian jauh dariku. Jika anda punya hajat seputar agamamu, keluargamu, masyarakatmu, bisnismu dllmu, anda harus dekat denganku, karena aku tidak akan pernah menyembunyikan agama Allah Azza wa-Jalla. Tidak akan pernah mendustakan semua Firman-firmanNYA. Tak ada yang harus malu menyangkut agama dan Firman Allah Azza wa Jalla. Karena anda selama ini berada dalam pelukan kemunafikan. Tinggalkan duniamu yang ada di rumahmu, sejenak saja, mendekatlah kepadaku. Karena aku berdiri di pintu gerbang akhirat. Tidak lama lagi aku akan masuk, sebelum aku masuk, aku ingin anda tau tentang apa saja dan bagaimana di dalam akherat itu. Bersamalah denganku dan dengarkan kata-kataku, dan amalkanlah/lakukanlah sebelum maut menjemputmu.

Aku ingin anda, bersih dari hijab dan rentangan jarak denganNYA. Aku tidak ingin pintuNya tertutup bagi anda setelah aku sebelum anda mengetahui semua dan segala isi di dalamnya, sngguh aku tidak ingin pintu itu tertutup ketika anda ada pada selainNya.

Sebenarnya... Manusia Hidup di Kehidupan Dunia Fana ini. Banyak terjebak dalam area pemandangan yang terkesan mewah dan nyata-nyata mewah menurutnya, dalam bungkusnya. Akan tetapi hancur dalam kualiltasnya, jika di hayati dengan sadarnya kesadaran yang sebenarnya,  akan tetapi letak kepiawaian manusia akan keberuntunganya takkan pernah lepas dari jeratan takdir (KARMA) yang tak terlawan oleh pengaruh arus apapun dan manapun, yang perlu digaris bawahi bahwa orang pintar masih kalah dengan orang untung.
karna surga tempatnya orang untung bukan orang pintar ataupun orang alim. Karma neraka tempatnya orang pintar, bukan tempatnya orang berdosa atau durhaka, seandainya surga tempatnya orang pintar ataupun orang alim maka barseso masuk surga... Wahahahaha.... Edan Tenan.

Kegagalan bukanlah bagian dari kesuksesan, tapi kegagalan adalah bagian dari prosese mencapai kesuksesan,...intinya, kesuksesan adalah akhir perjalanan dari beberapa proses yang dahsyat, bukan sepele atau remeh, yang dilakukan dengan perbuatan sesuai dengan kebutuhan apa yang harusnya diperbuat, jika gagal, maka bagaimanakah kita keluar dari situasi kegagalan yang memaksa kita untuk berhenti sejenak, fikiran akan berbuat dengan tugasnya yakni berfikir menemukan solusi, karna proses adalah hasil dari upaya2 yang tak sebanding nilainya dengan kesuksesan itu, tinggal jalan dan arah serta caranya saja yang perlu kita pelajari,...karna kata bang rhoma, banyak jalan menuju roma... He he he . . . Edan Tenan.

Kemarilah... Mendekatlah... kepadaku. Lupakanlah sejenak dalam dasarnya deritamu......
Ingatlah sepihak sambut manis harapmu... Dalam buaian daratan fiktif imajinasi yang meronta terlena dalam hausnya air suci kedamaian.... Tingginya hayalmu melupakan rendahnya bumi berpijakmu... Semakin tinggi kau berhayal, semakin tiada hal yang terbayang kan.... Tenggelam bagaikan ikan yang bermimpi ingin keawan.... Janganlah engkau bermimpi untuk bersayap, sedangkan hatimu dipenuhi awan hitam yang kan menjatuhkanmu kejurang terjal kumpulan hewan liar.... dunia ini panggung sandiwara... Anda... Kamu... Kita dan Kita semuanya tanpa terkecuali adalah pemainnya... Maka, ketahuilah peranmu, naskahmu, agar kaum menjadi Bintang sang idolah penonton sandiwara. Tangis bukan duka.... tawa bukan suka... Maka menangislah dalam tawamu, dan tertawalah dalam tangismu.... Karna itulah yang kan menghantarkanmu dialam tawa dalam suka, dan berharap tiada tangis dalam duka... Lagi...

Pastikan semua jalan telah terang oleh sinar keimananmu yang tak kan luntur walau diterjang ampuhnya sunami, peliharalah budimu sebagai simbol mahkota kehormatan dikepalamau....
Remajakanlah ahlak santunmu yang penuh dihiasi budi bijak kemulyaanmu.... Hingga menualah ketika engkau penuh dengan remaja-remaja berbudi ahlak luhur.... Matilah disaat tuamu bisa menjadi bekal kepulanganmu ketempat asal usul sangkan paraning dumadimu.... yang telah menciptakanmu... Serta bangkitlah sebagai seseorang yang tenang dan menang akan introgasi kelakuan baikmu dimahsyar nanti... Serta masuklah dengan mengucapkan salam Kerumah Kedama Kanti Teguh Rahayu Selamat.

Sekali lagi... Anak-anak dan murid-muridku…. Jadikan diriku sebagai cerminmu. Jadikan diriku sebagai cermin hati dan rahasia batinmu, sebagai cermin Laku Spiritual Hakikat Hidupmu! Segeralah Kemari, mendekat kepadaku, masih terlalu banyak Inti-inti yang belum anda ketahui, belum anda pahami, belum anda mengerti. Karena itu.... Mendekatlah kepdaku sesegera mungkin, aku akan memberimu ilmu pengetahuan itu, selagi masih ada waktu, mumpung aku belum masuk, masih berdiri tegak di Pintu Gerbang Akherat karenamu dan untukmu sekalian yang aku cintai dan aku kasih sayangi.
HE HE HE . . . EDAN TENAN... SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENOG ke RASA dan BERMANFAAT  BAGI siapapun yang Membacanya...
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

MELIHAT KEBAIKAN DI SEGALA HAL:

MELIHAT KEBAIKAN DI SEGALA HAL:
(... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah: 216)

Bagaimana Melihat Kebaikan di Segala Hal..?!
Bagi Orang Beriman, Ada Kebaikan di Mana pun
Alasan Mengapa Orang Tidak Dapat Melihat Kebaikan
Teladan Kehidupan Para Nabi dan Orang-Orang Beriman
Janji Allah dan Pertolongan-Nya untuk Orang Beriman

Kesimpulan;
Kesalahpahaman Teori Evolusi.
Jika Anda dapat berhenti sejenak kemudian memikirkan tentang kehidupan Anda, Anda akan menyadari bahwa semua ingatan Anda walaupun mungkin terdiri atas beberapa dekade, akan berarti sebagai perbincangan beberapa menit saja. Apa yang pernah Anda pikir penting, atau yang benar-benar Anda kejar, atau yang coba Anda hindari, kini semuanya adalah bagian dari masa lalu. Apa pun yang mengingatkan kita pada pikiran-pikiran dan perasaan ini, itu hanyalah kenangan.

Bagaimanapun juga, dalam pandangan Allah, setiap kata yang Anda ucapkan dan setiap pikiran yang terlintas dalam benak Anda telah diketahui-Nya. Setelah mati, di mana masing-masing manusia telah ditetapkan waktunya, rekaman setiap tindakan kita akan dibeberkan di hadapan kita. Yang akan terlihat dari kehidupan kita hanyalah terdiri atas detik demi detik, tanpa terlewat satu bagian kecil pun. Dalam pandangan Allah, tak ada rincian hidup kita yang terlupakan.

Jika dalam setiap aspek kehidupan, Anda menghabiskan hidup dengan berserah diri kepada kekuasaan mutlak Allah, menerima tujuan penciptaan-Nya, kemudian menyadari kebaikan dalam segala hal, serta sadar akan kesempurnaan dalam setiap rencana Ilahiah yang ditetapkan oleh Allah, Anda dapat memastikan bahwa hasil akhir Anda akan baik.

Hal itu karena di saat kematiannya, manusia dihadapkan pada dua pilihan. Jika yang satu telah dijalankan dengan nilai-nilai yang dinyatakan oleh Allah, ia akan mendapatkan keselamatan abadi. Jika tidak, ia kan menderita kesengsaraan tak berujung. Akhlaq yang Allah meminta kita untuk melaksanakannya adalah berupa rasa syukur terhadap-Nya dalam setiap hal, tak peduli bagaimanapun kondisi dan keadaannya. Allah menginginkan agar kita meyakini bahwa pasti ada kebaikan dalam segala hal yang menimpa kita dengan menyadari bahwa semua itu berasal dari Allah.

Menerima apa pun yang menimpa kita dan meyakini bahwa ada kebaikan dalam setiap kejadian walaupun tampaknya merugikan, bahkan malah bersyukur untuk semua itu, bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan. Ia adalah kebenaran yang disadari melalui pemahaman akan kebesaran dan keagungan Allah. Seseorang hanya perlu mengenal Tuhan-Nya—Pencipta alam semesta—dan peristiwa apa pun yang terjadi di dalamnya serta bersyukur atas semua itu.

Sejak pertama kali seseorang membuka matanya di dunia, Allahlah yang menetapkan setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Allahlah Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Mahaadil. Semua diciptakan Allah dalam rangka memenuhi rencana-Nya dan untuk tujuan Ilahiah, sebagaimana difirmankan Allah dalam sebuah ayat Al-Qur`an, “Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (al-Qamar: 49) Dalam cahaya kekuasaan dan kehebatan Allah yang tiada batasnya, manusia hanyalah makhluk yang lemah. Tanpa kemurahan dan kasih Allah, ia tidak akan bisa bertahan. Melalui kemampuannya untuk memahami dan mempertimbangkan, manusia dapat memahami sesuatu hanya seluas apa yang diizinkan Penciptanya. Adalah sebuah keharusan bagi kita untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan maksud-maksud Ilahiah yang telah ditetapkan-Nya. Apa pun yang kita alami dalam hidup ini, kita harus tetap ingat bahwa Allah adalah Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta dan Dia mengetahui, melihat, dan mendengar apa yang tidak dapat kita ketahui, lihat, dan dengar; dan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang akan terjadi dan tidak kita sadari. Demikianlah, kita menyadari bahwa Allahlah yang menyebabkan terjadinya setiap peristiwa sesuai dengan tujuan ilmiah, yaitu untuk kebaikan kita.

Dengan meyakini hal ini, kita akan memiliki pandangan yang lebih baik. Dengannya, kita merasa bersyukur atas segala yang terjadi pada diri kita. Dengan kata lain, seseorang akan berupaya untuk melihat kebaikan dalam segala sesuatu yang didengarnya, dilihatnya, dan menimpanya. Dalam setiap fase kehidupannya, ia akan memahami kehidupan ini secara benar dan tepat. Ia dapat membuat keputusan yang benar antara apa-apa yang ditawarkan kepadanya. Dalam Al`Qur`an digambarkan, “Sesungguhnya, Kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insaan: 3) Kehendak manusia dan kehendak Allah mencapai hasil akhir yang mulia, yakni kehidupan abadi di surga.

Tujuan buku ini adalah untuk menebarkan indahnya cahaya kehidupan dengan menyadari bahwa ada kebaikan dalam setiap fase waktu dan peristiwa yang dialami seseorang, serta untuk mengingatkan diri kita akan keberkahan pandangan hidup ini, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan memaparkan apa-apa saja yang menghalangi seseorang untuk melihat kebaikan, buku ini dapat menolong dari “kematian” menuju cara berpikir yang diajarkan oleh Islam. Buku ini ditulis untuk mendorong seseorang agar mengadaptasi prinsip-prinsip moral yang dengannya, ia dapat berkata, “Ada kebaikan di dalamnya.” Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan hati. Ia menunjukkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan dengan penuh ketundukan dan rasa syukur, bukan hanya terus-menerus menderita dalam situasi demikian. Mengingatkan satu sama lain tentang kesempurnaan takdir yang telah dituliskan oleh Allah adalah ajakan bagi semua kaum mukminin agar menikmati indahnya penyerahan diri pada kebijaksanaan Allah yang tak terhingga.
HE HE HE . . . EDAN TENAN... SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENOG ke RASA dan BERMANFAAT  BAGI siapapun yang Membacanya...
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Melihat Kebaikan dalam Segala Peristiwa:

Melihat Kebaikan dalam Segala Peristiwa:
Sebenarnya, melihat kebaikan dalam segala hal merupakan ungkapan yang biasa. Dalam kehidupan kita sehari-hari, orang sering mengatakan, “Pasti ada kebaikan (hikmah) di balik kejadian ini,” atau, “Ini merupakan berkah dari Allah.”

Biasanya, banyak orang mengucapkan ungkapan-ungkapan tersebut tanpa memahami arti sebenarnya atau semata-mata hanya mengikuti kebiasaan masyarakat yang tidak ada maknanya. Kebanyakan mereka gagal memahami arti yang sebenarnya dari ungkapan-ungkapan tersebut atau bagaimana pemahaman itu dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada dasarnya, kebanyakan manusia tidak sadar bahwa ungkapan-ungkapan tersebut tidak sekadar untuk diucapkan, tetapi mengandung pengertian yang penting dalam kejadian sehari-hari.

Kenyataannya, kemampuan melihat kebaikan dalam setiap kejadian, apa pun kondisinya—baik yang menyenangkan maupun tidak—merupakan kualitas moral yang penting, yang timbul dari keyakinan yang tulus akan Allah, dan pendekatan tentang kehidupan yang disebabkan oleh keimanan. Pada akhirnya, pemahaman akan kebenaran ini menjadi sangat penting dalam menuntun seseorang tidak hanya untuk mencapai keberkahan hidup di dunia dan akhirat, tetapi juga juga untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang tak akan berakhir.

Tanda pemahaman yang benar akan arti iman adalah tidak adanya kekecewaan akan apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebaliknya, jika seseorang gagal melihat kebaikan dalam setiap peristiwa yang terjadi dan terperangkap dalam ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan, kesedihan, dan sentimentalisme, ini menunjukkan kurangnya kemurnian iman. Kebingungan ini harus segera dienyahkan dan kesenangan yang berasal dari keyakinan yang teguh harus diterima sebagai bagian hidup yang penting. Orang yang beriman mengetahui bahwa peristiwa yang pada awalnya terlihat tidak menyenangkan, termasuk hal-hal yang disebabkan oleh tindakannya yang salah, pada akhirnya akan bermanfaat baginya. Jika ia menyebutnya sebagai “kemalangan”, “kesialan”, atau “seandainya”, ini hanyalah untuk menarik pelajaran dari sebuah pengalaman.

Dengan kata lain, orang yang beriman mengetahui bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi. Ia belajar dari kesalahannya dan mencari cara untuk memperbaikinya. Bagaimanapun juga, jika ia jatuh dalam kesalahan yang sama, ia ingat bahwa semuanya memiliki maksud tertentu dan mudah saja memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam kesempatan mendatang. Bahkan jika hal yang sama terjadi puluhan kali lagi, seorang muslim harus ingat bahwa pada akhirnya peristiwa tersebut adalah untuk kebaikan dan menjadi hak Allah yang kekal. Kebenaran ini juga dinyatakan secara panjang lebar oleh Nabi saw.,
“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim)

Hanya dalam kesadaran bahwa Allah menciptakan segalanya untuk tujuan yang baik sajalah hati seseorang akan menemukan kedamaian. Adalah sebuah keberkahan yang besar bagi orang-orang beriman bila ia memiliki pemahaman akan kenyataan ini. Seseorang yang jauh dari Islam akan menderita dalam kesengsaraan yang berkelanjutan. Ia terus-menerus hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Di sisi lain, orang beriman menyadari dan menghargai kenyataan bahwa ada tujuan-tujuan Ilahiah di balik ciptaan dan kehendak Allah.

Karena itu, adalah memalukan bagi orang beriman bila ia ragu-ragu dan ketakutan terus-menerus karena selalu mengharapkan kebaikan dan kejahatan. Ketidaktahuan terhadap kebenaran yang jelas dan sederhana, kekurangtelitian, dan kemalasan hanya akan mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Kita harus ingat bahwa takdir yang ditentukan Allah adalah benar-benar sempurna.

Jika seseorang menyadari adanya kebaikan dalam setiap hal, dia hanya akan menemukan karunia dan maksud Ilahiah yang tersembunyi di dalam semua kejadian rumit yang saling berhubungan. Walau ia mungkin memiliki banyak hal yang mesti diperhatikannya setiap hari, seseorang yang memiliki iman yang kuat—yang dituntun oleh kearifan dan hati nurani—tidak akan membiarkan dirinya dihasut oleh tipu muslihat setan. Tak peduli bagaimanapun, kapan pun, atau di mana pun peristiwa itu terjadi, ia tidak akan pernah lupa bahwa pasti ada kebaikan di baliknya. Walaupun ia mungkin tidak segera menemukan kebaikan tersebut, apa yang benar-benar penting baginya adalah agar ia menyadari adanya tujuan akhir dari Allah.

Berkaitan dengan sifat terburu-buru manusia, mereka kadang-kadang tidak cukup sabar untuk melihat kebaikan yang ada di dalam peristiwa yang menimpa mereka. Sebaliknya, mereka menjadi lebih agresif dan nekat dalam mengejar sesuatu walaupun hal tersebut sangat bertentangan dengan kepentingan yang lebih baik. Di dalam Al-Qur`an, hal ini disebutkan,

“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Israa`: 11)

Meski demikian, seorang hamba harus berusaha melihat kebaikan dan maksud Ilahiah dalam setiap kejadian yang disodorkan Allah di depan mereka, bukannya memaksa untuk diperbudak oleh apa yang menurutnya menyenangkan dan tidak sabar untuk mendapatkan hal itu.

Walau seseorang berusaha untuk mendapatkan status finansial yang lebih baik, perubahan itu mungkin tidak pernah terwujud. Tidaklah benar jika seseorang menganggap suatu kondisi itu merugikan. Tentu saja seseorang boleh berdo’a kepada Allah untuk mendapatkan kekayaan jika kekayaan itu digunakan di jalan Allah. Bagaimanapun juga, ia harus mengetahui bahwa jika keinginannya itu tidak dikabulkan Allah, itu disebabkan alasan tertentu. Mungkin saja bertambahnya kekayaan sebelum matangnya kualitas spiritual seseorang dapat mengubahnya menjadi orang yang gampang diperdaya oleh setan. Banyak alasan Ilahiah lainnya—di antaranya tidak langsung disadari atau hanya akan terlihat di akhirat—dapat mendasari terjadinya sebuah peristiwa. Seorang usahawan, misalnya, bisa saja tertinggal sebuah pertemuan yang akan menjadi pijakan penting dalam kariernya. Akan tetapi, jika saja pergi ke pertemuan itu, ia bisa tertimpa kecelakaan lalu lintas, atau jika pertemuannya diadakan di kota lain, pesawat yang ditumpanginya bisa saja jatuh.

Tak ada seorang pun yang kebal terhadap segala peristiwa. Biasakanlah untuk melihat bahwa pada akhirnya ada suatu kebaikan dalam sebuah peristiwa yang pada awalnya terlihat merugikan. Meski demikian, seseorang perlu ingat bahwa ia tidak akan selalu dapat mengetahui maksud sebuah peristiwa adalah sesuatu yang merugikan. Ini karena, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, kita tidak selalu beruntung dapat melihat sisi positif yang muncul. Mungkin juga Allah hanya akan menunjukkan maksud keilahian-Nya di akhirat nanti. Karena alasan itulah, yang harus dilakukan oleh orang yang ingin menyerahkannya pada takdir Allah dan memberikan kepercayaannya kepada Allah adalah menerima setiap kejadian itu—apa pun namanya—dengan keinginan untuk mencari tahu bahwa pastilah ada kebaikan di dalamnya dan kemudian menerimanya dengan senang hati.

Harus disebutkan juga bahwa melihat kebaikan dalam segala hal bukan berarti mengabaikan kenyataan dari peristiwa-peristiwa tersebut dan berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi, atau mungkin menjadi sangat idealis. Sebaliknya, orang beriman bertanggung jawab untuk mengambil tidakan yang tepat dan mencoba semua cara yang dianggap perlu untuk memecahkan masalah. Kepasrahan orang yang beriman tidak boleh dicampuradukkan dengan cara orang lain, yang karena pemahaman yang tidak sempurna tentang hal ini, mereka tetap saja tidak acuh terhadap apa pun yang terjadi di sekitar mereka dan optimis tetapi tidak realistis. Mereka tidak bisa membuat keputusan yang rasional ataupun menjalankan keputusan tersebut. Ini dikarenakan yang ada pada mereka adalah optimistis yang melenakan dan kekanak-kanakan, bukan mencari pemecahan masalah.

Sebagai contoh, ketika seseorang didiagnosis menderita penyakit yang serius, keadaannya saat itu mungkin paling parah sampai pada titik fatal yang diabaikannya selama masa pengobatan. Contoh lainnya, jika seseorang tidak menyadari pentingnya mengamankan harta bendanya, walau ia pernah mengalami pencurian, besar kemungkinan akan menjadi korban lagi dari kejadian serupa itu.

Pastilah cara-cara tersebut jauh dari sikap menaruh kepercayaan kepada Allah dan dari “melihat kebaikan dalam segala hal”. Pada hakikatnya, sikap tersebut berarti ceroboh.

Kebalikannya, orang yang beriman harus berusaha mengendalikan situasi sepenuhnya. Pada dasarnya, sikap yang menuntun diri mereka ini adalah suatu bentuk “penghambaan”, karena ketika mereka terlibat dalam situasi tersebut, pikiran mereka dikuasai oleh ingatan akan kenyataan bahwa Allahlah yang membuat peristiwa itu terjadi.

Di dalam Al-Qur`an, Allah menghubungkan kisah para nabi dan orang beriman sebagai contoh bagi mereka yang sadar akan hal ini. Inilah yang harus diteladani oleh seorang mukmin. Sebagai contoh, sikap yang merupakan respons Nabi Huud terhadap kaumnya menunjukkan penyerahan total dan rasa percayanya yang kokoh kepada Allah, walaupun ia mendapatkan perlakuan yang buruk.

“Kaum ‘Aad berkata, ‘Wahai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.’ Huud menjawab, ‘Sesungguhnya, aku menjadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus.’ Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya, Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Huud: 53-57)
HE HE HE . . . EDAN TENAN... SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENOG ke RASA dan BERMANFAAT  BAGI siapapun yang Membacanya...
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa:

Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa.
Secara umum, manusia cenderung memisahkan peristiwa yang terjadi dalam istilah “baik” dan “buruk”. Pemisahan tersebut sering bergantung pada kebiasaan atau tendensi peristiwa itu sendiri. Reaksi mereka terhadap peristiwa tersebut berubah-ubah tergantung pada kepelikan dan bentuk kejadian tersebut; bahkan apa yang akhirnya akan mereka rasakan dan alami biasanya ditentukan oleh kebiasaan sosial masyarakat.

Hampir semua orang memiliki sisa-sisa mimpi masa kecil, bahkan dalam hidup mereka selanjutnya, walaupun rencana-rencana ini tidak selalu terjadi sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan. Kita selalu cenderung kepada kejadian-kejadian yang tidak diharapkan dalam hidup. Peristiwa tersebut dapat sekejap saja melemparkan hidup kita ke dalam kekacauan. Ketika seseorang berniat untuk menjalankan hidupnya dengan normal, ia mungkin berhadapan dengan rangkaian perubahan yang pada awalnya terlihat negatif. Seseorang yang sehat bisa dengan tiba-tiba terserang penyakit yang fatal atau kehilangan kemampuan fisik karena kecelakaan. Sekali lagi, seseorang yang kaya bisa saja kehilangan seluruh kekayaannya dengan tiba-tiba.

Hidup seperti menaiki roller-coaster. Reaksi orang berbeda-beda ketika menaikinya. Jika kejadian yang muncul menyenangkan, reaksi mereka baik-baik saja. Akan tetapi, ketika dihadapkan pada hal-hal yang tidak diharapkan, mereka cenderung kecewa, bahkan marah. Kemarahan mereka itu bisa memuncak, bergantung pada sejauh mana mereka berhubungan dengan peristiwa tersebut dan pencapaian mereka dalam masalah ini. Kencenderungan ini biasa terjadi dalam masyarakat yang tenggelam dalam kebodohan.

Ada juga di antara mereka yang saat kecewa berkata, “Pasti ada kebaikan di dalamnya.” Bagaimanapun juga, kalimat yang diucapkan tanpa memahami arti sebenarnya hanya semata-mata kebiasaan masyarakat saja.

Masih ada sebagian orang yang memiliki keinginan untuk memikirkan maksud Ilahiah dalam setiap peristiwa, apakah yang mungkin terdapat dalam kejadian-kejadian yang sepele. Akan tetapi, ketika mereka dihadapkan pada peristiwa yang lebih besar, yang sangat mengganggu, tiba-tiba mereka melupakan niat tersebut. Sebagai contoh, seseorang mungkin tidak akan tertekan saat mesin mobilnya rusak tepat ketika ia harus berangkat ke kantor dan ia berusaha berprasangka baik terhadap kejadian tersebut. Akan tetapi, jika keterlambatannya itu membuat bosnya marah atau menjadi alasan hilangnya pekerjaan, ia lalu mencari-cari alasan untuk mengeluh. Dia mungkin akan bersikap sama jika kehilangan perhiasan atau jam mahal. Contoh-contoh ini menunjukkan kepada kita bahwa ada beberapa kejadian kecil yang menyebabkan orang bereaksi dengan wajar atau mereka mau berbaik sangka bahwa hal tersebut mengandung kebaikan. Akan tetapi, contoh-contoh lainnya yang tidak biasa dapat membuatnya mencari pembenaran atas keangkuhan dan kemarahan mereka.

Di sisi lain, sebagian orang hanya menghibur diri dengan berpikir demikian tanpa memiliki pegangan makna yang benar terhadap “melihat kebaikan dalam segala hal”. Dengan sikap demikian, mereka percaya bahwa hal tersebut dapat menjadi cara untuk menciptakan kenyamanan bagi mereka yang tengah tertimpa masalah. Misalnya yang terjadi pada anggota keluarga yang bisnisnya tengah berantakan atau seorang teman yang gagal dalam ujian. Bagaimanapun juga, jika kepentingan merekalah yang dipertaruhkan dan mereka terlihat tak sedikit pun memikirkan kebaikan apa yang ada di balik peristiwa tersebut, mereka telah berlaku bodoh.

Kegagalan untuk melihat kebaikan dalam peristiwa yang dialami seseorang muncul dari hilangnya keimanan seseorang. Kegagalannya untuk memahami bahwa Allahlah yang menakdirkan setiap kejadian dalam kehidupan seseorang, bahwa hidup di dunia ini tidak lain hanyalah ujian, inilah yang menghalangi dirinya untuk menyadari kebaikan apa pun dalam setiap peristiwa yang terjadi padanya.

Dalam bab berikut, kita akan menggali ide itu, yaitu memiliki keyakinan bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi pada kita dan faktor-faktor tersebut penting sekali untuk kita lihat.
HE HE HE . . . EDAN TENAN... SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENOG ke RASA dan BERMANFAAT  BAGI siapapun yang Membacanya...
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Bagaimana Melihat Kebaikan dalam Segala Hal yang Terjadi:

Bagaimana Melihat Kebaikan.
dalam Segala Hal yang Terjadi,
Menyadari bahwa Allahlah yang Telah Menakdirkan Semua Hal dalam Setiap Detailnya
Kebanyakan orang merasa senang saat segala sesuatu terjadi sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi, orang beriman tidak boleh cenderung kepada perasaan seperti itu. Di dalam Al-Qur`an, Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia telah menentukan setiap peristiwa demi kebaikan hamba-Nya dan hal tersebut tidaklah menimbulkan rasa sedih ataupun masalah bagi mereka yang benar-benar beriman.

Seseorang yang menyadari kebenaran ini di dalam hatinya akan merasa senang terhadap apa yang dihadapinya dan ia melihat karunia yang tersimpan di balik apa yang terjadi.
Banyak orang bahkan tidak ingin repot-repot berpikir bagaimana dan mengapa mereka ada di dunia ini. Walaupun kata hati akan menuntun mereka untuk menyadari bahwa keajaiban dunia dan penataannya yang sempurna ini memiliki pencipta, cinta yang luar biasa banyaknya yang dirasakan di dunia ini, keengganan mereka untuk melihat kebenaran, membawa mereka pada pengingkaran terhadap realitas keberadaan Allah. Mereka mengabaikan fakta bahwa setiap kejadian dalam hidupnya ditentukan sesuai dengan rencana dan tujuan tertentu; mereka malah menghubungkannya dengan ide yang sungguh-sungguh salah, yakni hanya sebatas kebetulan atau keberuntungan. Bagaimanapun juga, ini hanyalah sebuah pandangan yang menghalangi seseorang untuk melihat kebaikan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi dan kemudian menarik pelajaran dari peristiwa tersebut.

Ada pula mereka yang sadar akan eksistensi Allah dan mengerti bahwa Dialah yang telah menciptakan seluruh alam. Mereka mengakui fakta bahwa Allahlah yang menurunkan hujan dan meninggikan matahari. Mereka menyadari bahwa tidak mungkin ada zat lain yang melakukan semua itu. Saat terjadi peristiwa dalam jenak kehidupan mereka—detail kecil yang membentuk bagian kesibukan sehari-hari—mereka tidak dapat berpikir bahwa mereka terlepas dari Allah. Meskipun demikian, Allahlah yang menakdirkan seorang pencuri memasuki rumah di malam hari, sebuah rintangan yang menyebabkan seseorang terjatuh, sebuah lahan subur untuk ditanami atau dibiarkan gersang, jual beli yang menguntungkan, bahkan panci yang gosong sekalipun.

Setiap peristiwa terjadi dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas untuk menyelesaikan rencana-Nya yang agung. Sepercik lumpur yang mengotori celana kita, bocornya ban mobil, jerawat yang muncul, penyakit, atau kejadian yang tidak diharapkan lainnya. Semuanya terbentuk dalam kehidupan seseorang sesuai dengan rencana tertentu.

Sejak seseorang membuka matanya, tak ada satu pun yang dialaminya di dunia ini terjadi dengan sendirinya dan terlepas dari Allah. Segala yang ada secara keseluruhan diciptakan oleh Allah, satu-satunya zat yang memegang kendali alam semesta. Ciptaan Allah bersifat sempurna, tanpa cacat, dan sarat dengan tujuan. Ini adalah takdir yang diciptakan oleh Allah. Seseorang tidak boleh mengotak-ngotakkan peristiwa yang terjadi dengan menamai kebaikan pada sebuah peristiwa dan kejahatan pada peristiwa yang lain. Apa yang menjadi kewajiban seseorang adalah menyadari dan menghargai kesempurnaan dalam setiap peristiwa.

Kita harus percaya bahwa ada kebaikan dalam setiap ketetapan-Nya serta tetap menyadari kenyataan bahwa kebijaksanaan Allah yang tak terbatas ini telah direncanakan untuk sebuah hasil akhir yang paling sempurna. Bahkan mereka yang percaya dan mencari kebaikan dalam segala peristiwa yang menimpa mereka, baik di dunia ini maupun akhirat nanti, mereka akan menjadi bagian dari kebaikan yang abadi.

Hampir di setiap halaman Al-Qur`an, Allah meminta kita untuk memerhatikan hal tersebut. Inilah sebabnya mengapa ketidakmampuan dalam mengingat bahwa segalanya berjalan sesuai dengan takdir itu menjadi sebuah kegagalan yang mengerikan bagi seorang mukmin. Takdir yang dituliskan oleh Allah begitu unik dan dilewati oleh seseorang benar-benar sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan. Orang awam menganggap kepercayaan akan takdir semata-mata hanya merupakan cara untuk “menghibur diri” di saat tertimpa kemalangan. Sebaliknya, seorang mukmin memiliki pemahaman yang benar akan takdir. Ia sepenuhnya menganggap bahwa takdir adalah sebuah rencana Allah yang sempurna yang telah dirancang khusus untuk dirinya.

Takdir adalah rencana tanpa cacat yang dibuat untuk mempersiapkan seseorang untuk sebuah kenikmatan surga. Takdir penuh dengan keberkahan dan maksud Ilahiah. Setiap kesulitan yang dihadapi seorang mukmin di dunia ini akan menjadi sumber kebahagiaan, kesenangan, dan kedamaian yang tak terbatas di kemudian hari. “Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5) Ayat ini menarik kita pada kenyataan bahwa di dalam takdir seseorang, kesabaran dan semangat yang ditunjukkan oleh seorang mukmin, telah dituliskan sebelumnya bersama-sama dengan balasannya masing-masing di akhirat.

Sekali waktu mungkin terjadi dalam jenak kehidupan, seorang mukmin menjadi marah atau khawatir akan terjadinya hal-hal tertentu. Penyebab utama dari kemarahan yang ia rasakan adalah karena ia lupa bahwa semua itu merupakan bagian dari takdirnya dan bahwa takdirnya itu telah diciptakan oleh Allah hanya untuk dirinya sendiri. Walaupun demikian, ia akan merasa nyaman dan tenang ketika ia diingatkan akan tujuan ciptaan Allah.

Karena itulah, seorang mukmin harus belajar untuk terus mengingat bahwa segalanya telah ditetapkan sebelumnya. Ia harus mengingatkan orang lain akan hal ini. Ia harus bersabar saat menghadapi peristiwa-peristiwa yang Allah telah takdirkan untuknya dengan memberikan rasa percayanya kepada Allah dalam jarak waktu yang tak terbatas. Tak lupa, ia harus berusaha menemukan alasan-alasan di balik semua peristiwa tersebut. Jika ia berusaha memahami alasan-alasan ini, dengan seizin Allah, ia akhirnya akan berhasil. Bahkan walaupun ia tidak selalu berhasil menemukan maksud di baliknya, ia masih tetap yakin bahwa ketika sesuatu terjadi, pastilah semua itu demi kebaikan dan maksud tertentu.
Memahami sepenuhnya bahwa setiap makhluk, hidup ataupun tidak, diciptakan dalam kepatuhannya pada takdir.

Takdir adalah pengetahuan sempurna Allah atas semua peristiwa di masa lalu dan masa depan, laksana satu waktu saja. Ini menunjukkan kekuasaan mutlak Allah atas semua makhluk dan semua peristiwa. Manusia bisa saja berhati-hati agar tidak mengalami suatu peristiwa yang buruk, tetapi Allah mengetahui semua peristiwa sebelum hal itu terjadi. Bagi Allah, masa lalu dan masa depan adalah satu. Semua itu sama-sama berada dalam pengetahuan Allah karena Dialah yang menciptakannya.

“Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar: 49)

Ayat tersebut menyatakan bahwa segala yang ada di dunia adalah bagian dari takdir. Kebanyakan orang tidak sempat memikirkan takdir. Karena itu, mereka gagal menyadari bahwa hanya kekuatan Allah yang tak terbataslah yang akan eksis di balik keteraturan yang sempurna ini. Sebagian orang menganggap bahwa takdir hanya berlaku pada manusia. Kenyataannya, semua yang ada di alam semesta, mulai dari furnitur di rumah Anda sampai sebuah batu di jalan, rumput kering, buah, atau selai di rak supermarket, semua itu adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Allah. Takdir semua benda dan makhluk yang diciptakan telah ditentukan dalam kebijaksanaan Allah yang tak terhingga.
Setiap peristiwa yang dilihat seseorang, setiap suara yang didengarnya, merupakan bagian hidup yang telah diciptakan untuknya sebagai sebuah kesatuan. Tak ada bunga yang mekar dan layu dengan kebetulan. Tak ada manusia yang lahir dan mati secara kebetulan. Tak ada manusia yang sakit tanpa sengaja dan tidaklah penyakitnya itu bertambah tanpa ada yang mengendalikan. Dalam setiap kejadian, peristiwa ini khusus ditakdirkan oleh Allah sejak saat pertama kita diciptakan. Apa pun yang ada di muka bumi, di dalam lautan, atau jatuhnya sehelai daun, semua terjadi dalam rangka memenuhi takdir. Sebagaimana dinyatakan,

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’aam: 59)

Rasulullah Muhammad saw. pun bersabda bahwa tindakan setiap orang telah ditakdirkan oleh Allah,

“Allah Yang Mahaagung dan Mahamulia telah menetapkan bagi setiap hamba di antara ciptaan-Nya empat hal: kematiannya, tindakannya, tempat tinggal dan tempat ia berpindah, serta makanannya.” (HR Tirmidzi)

Akan tetapi, biasanya manusia tidak sadar akan kenyataan bahwa setiap detik waktu mereka telah ditakdirkan oleh Allah. Sebagian mereka tidak pernah menyadari bagaimana mereka diciptakan atau bagaimana mereka mendapatkan karunia yang mereka nikmati. Sebagian lainnya menganggap bahwa semua itu hanyalah kebetulan yang tak berarti, walaupun mereka mengetahui bahwa Allahlah yang menciptakan kehidupan dan kematian. Di dalam Al-Qur`an, Allah menyatakan kepada kita bahwa hal-hal kecil pun telah ditakdirkan oleh kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas dan semua itu berkaitan dengan tujuan-tujuan Ilahiah.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadiid: 22)

Setiap manusia harus memahami kenyataan ini. Hal ini karena takdir bagi segala sesuatu di alam semesta telah diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana. Karena itu, setiap hal kecil telah direncanakan oleh Allah dengan sempurna dan memiliki tujuan-tujuan tertentu. Segalanya dibuat dengan teratur sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw.. Orang yang memiliki kesadaran penuh akan kenyataan takdir akan mendapatkan manfaat—dengan perasaan gembiranya—akan setiap jenak waktu dalam kehidupannya, yaitu saat-saat yang baik dan saat-saat yang terlihat buruk. Alasan mengapa hamba-Nya berhasil menyadari hal itu adalah karena Allah telah menciptakan takdir mereka tanpa cacat. Mereka akan mengetahui bahwa menganggap sesuatu sebagai sebuah kemalangan adalah suatu kebodohan. Ini karena sesuatu yang dianggap kemalangan itu memiliki maksud-maksud tertentu dari Allah.

Pemahaman yang mendalam tentang takdir membuat mereka mampu melihat keberkahan yang terkandung dalam segala hal.

Menganggap bahwa apa yang terjadi bukanlah karena Allah melainkan karena seseorang atau sesuatu, berarti kita tidak mampu memahami takdir. Segala sesuatu yang kita anggap seharusnya tidak terjadi demikian, pada hakikatnya merupakan “pelajaran takdir”. Manusia harus sepenuh hati menanamkan dalam dirinya bahwa ada kebaikan dan maksud-maksud Ilahiah dalam setiap kejadian. Orang cenderung menganggap peristiwa yang tidak menyenangkan sebagai sebuah “kemalangan”. Bagaimanapun juga, tetap ada kebaikan dan maksud-maksud tertentu dalam apa yang acapkali dianggap sebagai sebuah “kemalangan”. Kejadian tersebut dianggap sebagai “kemalangan” karena kita menilainya demikian. Pada kenyataannya, hal itu adalah sebuah kemungkinan yang lebih baik karena ia adalah sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Allah.

Jika Allah telah menunjukkan kebaikan dan maksud sebuah kejadian yang merugikan, atau sebuah kesulitan yang menekan dan membuat kita gusar, kita akan mengerti betapa tidak berartinya kekecewaan kita. Dengan mengenali berkah dalam segala hal, seorang mukmin akan merasakan kesenangan, bukan tekanan. Karena itulah, kewajibannyalah untuk mencari dan mengidentifikasi kebaikan dan manfaat takdir yang terjadi, yakni bahwa dalam peristiwa yang terjadi tersimpan maksud Allah. Ia akan merasa senang dan menghargai manfaat mengetahui takdir.

Mengetahui bahwa Ada Keburukan dalam Peristiwa yang Tampaknya Baik dan Ada Kebaikan dalam Peristiwa yang Tampaknya Buruk.

Dalam bab sebelum ini, kita diyakinkan bahwa Allah Yang Mahabijaksana menciptakan setiap peristiwa dalam rangka menyempurnakan sebuah rencana. Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa hanya Allahlah yang mengetahui peristiwa-peristiwa yang baik dan yang buruk. Ini disebabkan kebijaksanaan Allah tidaklah terbatas, sedangkan pengetahuan manusia terbatas. Manusia hanya bisa melihat tampilan luar suatu peristiwa dan hanya mampu bersandar pada penglihatan yang terbatas dalam menilainya. Informasi dan pemahaman mereka yang tidak mencukupi—dalam beberapa kasus—dapat membuat mereka tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik untuknya, dan mereka bisa saja mencintai sesuatu, padahal itu merupakan sebuah keburukan. Untuk dapat melihat kebaikan itu, seorang mukmin harus menyerahkan rasa percayanya kepada kebijaksanaan Allah yang tak terbatas dan percaya bahwa ada kebaikan dalam segala hal yang terjadi. Allah berfirman,

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Di sinilah, Allah mengatakan kepada kita bahwa suatu peristiwa yang dianggap baik oleh seseorang dapat mengakibatkan kekecewaan, baik di dunia ini maupun di akhirat. Begitu juga sesuatu yang ingin benar-benar dihindarkan—karena diyakini merugikan—mungkin dapat menyebabkan kebahagiaan dan kedamaian baginya. Nilai hakiki peristiwa apa pun adalah pengetahuan mutlak Allah. Segala hal, apakah rupa yang buruk ataukah rupawan, ada sesuai kehendak Allah. Kita hanya menjalani apa yang Allah inginkan untuk kita. Allah mengingatkan kita tentang hal ini,

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

Maka dari itu, apa pun yang kita alami dalam kehidupan ini, apakah itu terlihat baik ataupun buruk, semuanya adalah baik karena hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, zat yang menetapkan akibat suatu peristiwa bukanlah seorang manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu, melainkan Allah, Zat yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, Yang menciptakan manusia, juga ruang dan waktu... HE HE HE . . . EDAN TENAN... SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENOG ke RASA dan BERMANFAAT  BAGI siapapun yang Membacanya...
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Kesalah pahaman Teori Evolusi:

Kesalah pahaman Teori Evolusi.
Setiap detail alam semesta ini menunjukkan sebuah ciptaan yang luar biasa. Sementara materialisme yang menafikan fakta penciptaan alam semesta tak ada artinya kecuali sebuah pemikiran yang keliru dan tidak ilmiah.

Sekali materialisme dinyatakan tidak sah, semua terori lainnya yang berbasis pada filosofi materialisme membuatnya tak berdasar. Terlebih lagi teori Darwin, yakni teori evolusi. Teori yang berargumen bahwa kehidupan berasal dari materi yang mati secara kebetulan ini telah dijatuhkan oleh penemuan bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Seorang astro-fisikawan Amerika, Hugh Ross, menjelaskan hal tersebut:

“Ateisme, Darwinisme, dan isme-isme lainnya yang berasal dari filsafat abad ke-19 sampai 20 dibangun atas asumsi yang salah yaitu bahwa alam semesta adalah tak terbatas. Keanehan tersebut telah membawa kita berhadapan dengan penyebab –atau yang menyebabkan- di luar/ di balik/ sebelum adanya alam semesta dan semua yang dikandungnya, termasuk kehidupan itu sendiri.”

1. Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan merencanakannya hingga detail terkecil. Karena itulah, mustahil teori yang berpendapat bahwa makhluk hidup tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan berasal dari kebetulan itu adalah benar.

Tak heran, ketika mempelajari teori evolusi, kita melihat bahwa teori ini dibantah oleh penemuan-penemuan ilmiah. Konstruksi kehidupan ini benar-benar rumit. Dalam alam benda mati misalnya, kita dapat melihat betapa sensitifnya keseimbangan atom. Kita dapat mengamati dalam konstruksi kompleks yang di dalamnya atom-atom tersebut menyatu. Bagaimana luar biasanya mekanisme dan struktur protein, enzim, dan sel.

Konstruksi yang luar biasa dalam kehidupan ini mematahkan teori Darwin di akhir abad ke-20.

Kita telah membahas masalah ini secara detail dalam beberapa studi lainnya, dan masih akan terus dibahas lagi. Bagaimanapun juga, kami memganggap bahwa akan sangatlah membantu jika dibuat ringkasan tentang subjek yang penting ini.

Runtuhnya Keilmiahan Darwinisme.
Meskipu doktrinnya bermula sejak zaman Yunani kuno, teori Evolusi dimodifikasi pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang membuat teori ini menjadi topik yang paling terkenal di dunia sains adalah buku Charles Darwin yang berjudul “The Origin of Species” (Asal Usul Spesies) yang diterbitkan di tahun 1859. Di dalam buku ini, Darwin menafikan bahwa spesies hidup yang berbeda di bumi ini diciptakan secara terpisah sendiri oleh Tuhan. Menurut Darwin, semua makhluk hidup memiliki nenek moyang yang sama dan mereka dianekaragamkan selama beberapa waktu melalui pengubahan secara berangsur-angsur.
Teori Darwin tidak didasarkan pada penemuan ilmiah yang konkrit.

Sebagaimana yang dikatakan Darwin, teori tersebut hanyalah sebuah asumsi. Terlebih lagi, ia menyatakan dalam salah satu bab dalam bukunya yang berjudul “Kesulitan Teori ini” bahwa teori ini jatuh karena banyaknya pertanyaan yang kritis.

Darwin menginvestigasi semua kemungkinan dalam penemuan ilmiah baru yang diharapkannya dapat menyelesaikan kesulitan teori ini. Namun sebaliknya, penemuan-penemuan ilmiah memperluas dimensi kesulitan tesebut.

Kekalahan Darwinisme oleh sains dapat dilihat lagi pada tiga hal mendasar:
1. Dengan cara apapun, teori tersebut tidak mampu menjelaskan bagaimana kehidupan bermula di bumi.
2. Tidak ada penemuan ilmiah yang menujukkan bahwa ‘mekanisme evolusi’ yang diajukan oleh teori tersebut. Temuan itu pun tidak memiliki kekuatan untuk berevolusi sama sekali.
3. Catatan fosil benar-benar menunjukkan kebalikan dari teori evolusi.

Dalam bagian ini kita akan mempelajari tiga hal dasar dalam bahasan umum:

Asal Usul Kehidupan
Teori evolusi menyatakan bahwa semua spesies makhluk hidup berevolusi dari sebuah sel tunggal hidup yang ada di bumi purba 3,8 miliar tahun yang lalu, di mana sebuah sel dapat menghasilkan miliaran spesies hidup yang kompleks. Jika evolusi itu benar-benar terjadi, mengapa jejaknya tidak terdapat dalam catatan fosil. Ini merupakan pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh teori Darwin. Bagaimanapun juga, hal pertama dan utama yang perlu dipertanyakan dari proses evolusi tersebut adalah: Bagaimana pertama kali kehidupan bermula?.

Karena toeri evolusi menafikan penciptaan dan tidak menerima intervensi supranatural apapun, teori ini tetap manganggap bahwa sel pertama terjadi secara kebetulan karena hukum alam, tanpa perencanaan ataupun pengaturan tertentu. Menurut teori tersebut, materi mati mestinya memproduksi sel hidup karena kebetulan semata. Ini adalah pernyataan yang tidak konsisten bahkan dengan hukum biologi yang paling tidak dapat disangkal.

Kehidupan Berasal dari Kehidupan
1. Dalam bukunya, Darwin tidak pernah mengacu kepada asal usul kehidupan. Pada masa Darwin, pemahaman sains yang primitif bersandarkan pada asumsi bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang sangat sederhana. Sejak abad pertengahan, teori penurunan spontan (spontaneous regeneration) telah diterima oleh masyarakat luas. Teori ini menyatakan bahwa materi tak hidup muncul bersama-sama untuk membentuk organisme hidup. Orang percaya bahwa serangga berasal dari makanan basi, dan tikus berasal dari gandum. Eksperimen-eksperimen yang menarik dilakukan untuk membuktikan teori ini. Sedikit gandum diletakkan pada sepotong pakaian kotor, orang meyakini tikus akan muncul dari sana.

Semikian pula, ulat yang muncul pada daging diasumsikan sebagai bukti teori tersebut. Bagaimanapun juga, hanya beberapa waktu kemudian dipahami bahwa ulat tidak muncul dengan tiba-tiba melainkan dibawa oleh lalat dalam bentuk larva yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Bahkan dalam saat Darwin menulis “The Origin of Species”, kepercayaan bahwa bakteri muncul dari materi tak hidup diterima luas di kalangan ilmuwan.

Dan bagaimanapun juga, lima tahun setelah publikasi buku Darwin, Louis Pasteur mengumumkan hasil eksperimennya setelah lama mempelajari. Eksperimennya membantah teori “Penurunan spontan” yang merupakan inti teori Darwin. Dalam kuliahnya yang gemilang di Sorborne pada tahun 1864, Pasteur berkata, “Doktrin penurunan spontan tidak akan pernah bangkit dari pukulan yang mematikan dari eksperimen sederhana ini.”

2. Para pembela teori evousi menolak penemuan Pastueur untuk waktu yang cukup lama. Bagaimanapun, seiring perkembangan sains mengurai kerumitan struktur sel makhluk hidup, ide bahwa kehidupan muncul secara kebetulan itu menghadapi kebuntuan yang lebih besar lagi.

Usaha-usaha yang Tidak Meyakinkan di Abad ke-20
Para evolusionis awal yang membahas subjek asal-usul kehidupan di abad ke-20 adalah biolog Rusia terkenal, Alexander Oparin. Pada tahun 1930an, ia mencoba membuktikan bahwa sel makhluk hidup dapat berasal dari kebetulan semata. Bagamanapun juga, studi ini kemudian gagal, dan Oparin harus mengakui hal ini: “Sayangnya, asal usul sel mungkin merupakan masalah yang paling tidak jelas di antara keseluruhan studi evolusi organisme.

3. Para evolusionis pengikut Oparin mencoba melakukan eksperimen untuk memunculkan masalah asal-usul kehidupan. Eksperimen yang paling terkenal dilakukan oleh seorang ahli kimia, Stanley Miller pada tahun 1953. Ia mengkombinasikan gas-gas yang diduga keras ada pada atmosfer bumi purba dalam sebuah eksperimen yang telah diatur sedemikian rupa. Dengan menambahkan energi pada campuran tersebut, Miller mensintesiskan beberapa molekul organik (asam amino) yang ada dari dalam struktur protein.

Baru saja beberapa tahun berlalu sebelum ditemukan bahwa eksperimen yang kemudian ditunjukkan sebagai sebuah langkah yang penting atas nama evolusi, tidaklah sah. Atmosfer yang digunakan dalam eksperimen tersebut sangatlah berbeda dari kondisi bumi sebenarnya.

4. Setelah cukup lama membisu, Miller mengatakan bahwa media yang digunakan dalam eksperimennya tidaklah realistis.

5. Semua usaha evolusionis sepanjang abad ke-20 untuk menjelaskan asal-usul kehidupan bermuara pada kesimpulan bahwa organisme hidup yang kelihatannya sederhanapun memiliki struktur yang kompleks. Sel makhluk hidup ternyata lebih rumit daripada semua produk teknologi yang dibuat oleh manusia. Bahkan kini, lab yang paling modern di muka bumipun tidak dapat menghasilkan sebuah sel hidup dengan menyatukan materi-materi tak hidup.

Kondisi yang diperlukan untuk membentuk sebuah sel sangatlah sulit untuk dijelaskan hanya dengan peristiwa kebetulan saja. Peluang protein (dinding pemisah sel) untuk disintesiskan secara kebetulan adalah 1:10950, karena sebuah protein biasanya terdiri dari 500 asam amino. Secara matematis, peluangnya kurang dari 1:1050, praktis tidak mungkin.

Molekul DNA yang tidak terdapat di dalam inti sel dan menyimpan informasi genetis ini adalah sebuah bank data yang menakjubkan. Diperhitungkan bahwa jika informasi yang dikodekan di dalam DNA ditulis, maka akan memenuhi sebuah perpustakaan raksasa yang terdiri dari 900 volume ensiklopedi yang terdiri dari 500 halaman.

6. Dari sinilah, sebuah dilema yang menarik muncul: DNA hanya dapat mereplika diri dengan bantuan protein-protein khusus (enzim). Bagaimanapun, sintesa enzim-enzim tersebut hanya dapat direalisasikan dengan informasi yang dikodekan di dalam DNA. Karena mereka bergantung satu sama lainnya, mereka haruslah ada dalam waktu yang bersamaan untuk penggandaan dirinya. Hal ini menimbulkan skenario bahwa kehidupan yang berawal dari dirinya sendiri menemui kebuntuan. Prof. Leslie Orgel, seorang evolusionis dari Universitas San Diego, California, mengakui fakta tersebut dalam sebuah majalah sains Amerika edisi bulan September 1994, “Benar-benar mustahil bahwa protein dan asam nukleat, yang rumit secara struktural, muncul dengan tiba-tiba di waktu dan tempat yang sama. Namun juga mustahil ada salah satu saja. Dan demikianlah, sekilas saja seseorang dapat menyimpulkan bahwa kehidupan tidak akan pernah bermula dari materi-materi kimia.”

7. Tak diragukan lagi, jika kehidupan mustahil bermula dari sebab-sebab alamiah maka harus diterima bahwa kehidupan diciptakan secara supranatural. Fakta tersebut dengan terang-terangan mematahkan teori evolusi yang tujuan utamanya adalah untuk menafikan fakta penciptaan.

Mekanisme Khayalan Teori Evolusi.
Hal kedua yang mematahkan teori Darwin adalah bahwa konsep yang diajukan oleh teori Evolusi sebagai ‘mekanisme evolusioner’ kenyataannya tidak memiliki kekuatan evolusi.
Darwin mendasarkan penyebutan teori evolusinya sepenuhnya pada mekanisme ‘seleksi alam’. Pentingnya ia mengajukan mekanisme ini adalah bukti atas nama bukunya: “The Origin of Species, By means of Natural Selection.” (Asal Usul Spesies Melalui Seleksi Alam).

Seleksi alam meyakini bahwa benda-benda hidup yang lebih kuat dan lebih sesuai dengan kondisi alam dalam habitat mereka akan selamat dalam perjuangan hidupnya. Misalnya, sekawanan kijang yang terancam serangan binatang buas. Mereka yang dapat berlari lebih kencang akan bertahan hidup. Karena itulah, sekawanan kijang akan dibandingkan dari kecepatan dan kekuatan masing-masingnya. Bagaimanapun juga, tak perlu dipertanyakan lagi, mekanisme ini tidak akan menyebabkan kijang berevolusi dan mengubah diri mereka menjadi makhluk spesies lain, misalnya kuda.

Maka dari itu, mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evolusioner. Darwin juga menyadari fakta ini dan menyatakan dalam bukunya “The Origin of Species”.
Seleksi alam tidak berarti apa pun sampai muncul perbedaan atau variasi inividual yang menguntungkan.

Pengaruh Lamarck
8. Jadi, bagaimana mungkin variasi yang menguntungkan ini terjadi? Darwin mencoba menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pemahaman sains yang primitif di masa dia hidup. Menurut biolog Perancis, Lamarck yang hidup sebelum Darwin, makhluk hidup mewarisi sifat untuk generasi selanjutnya yang didapatkan selama hidup mereka. Sifat yang terakumulasi dari satu generasi ke generasi lainnya menyebabkan terbentuknya spesies baru. Sebagai contoh, menurut Lamarck, jarapah berevolusi dari antelop. Karena mereka berusaha memakan dedaunan dari pohon yang tinggi, dari generasi ke generasi leher mereka mulai memanjang.

Darwin juga memberikan contoh yang sama dalam bukunya, “The Origin of Species”, misalnya dikatakan bahwa beberapa beruang yang masuk ke dalam air untuk mencari makanan berubah bentuk menjadi ikan paus setelah beberapa lama.

9. Bagaimanapun juga, hukum pewarisan yang ditemukan oleh Mendel dan dikuatkan oleh ilmu generika yang ditemukan di abad ke-20 benar-benar menghancurkan legenda bahwa sifat pembawaan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Jadi, teori seleksi alam gagal menolong mekanisme evolusionis.

Neo-Darwinisme dan Mutasi
Untuk mencari jalan keluar, pada akhir tahun 1930an para Darwinis mengembangkan “Teori Sintesis Modern” atau yang biasanya dikenal sebagai Neo-Darwinisme. Teori ini menambahkan mutasi, yaitu penyimpangan yang terjadi pada gen makhluk hidup karena faktor-faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan replika sebagai “penyebab variasi yang menguntungkan” dalam penambahan pada mutasi natural.

Kini, model yang berdasar pada evolusi adalah Neo-Darwinisme. Teori ini mempertahankan bahwa jutaan makhluk hidup yang ada di bumi terbentuk sebagai hasil dari proses yang darinya sejumlah organisme-organisme rumit seperti telinga, mata, jantung, dan sayap, mengalami mutasi (kekacauan genetis). Namun, ada fakta ilmiah yang sama sekali palsu, dan benar-benar meruntuhkan teori ini. Mutasi tidak menyebabkan munculnya makhluk hidup. Sebaliknya, mutasi selalu membahayakan makhluk hidup.

Alasannya sangat sederhana: DNA memiliki struktur yang sangat rumit dan efek acak pada DNA tersebut hanya akan membahayakan. Ahli genetika Amerika, B. G. Ranganathan menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

“Pertama, mutasi asli sangatlah jarang terjadi di alam ini. Kedua, kebanyakan mutasi berbahaya karena perubahannya yang acak, tidak teratur dalam struktur gen. Perubahan secara acak seperti apa pun dalam sebuah sistem yang sangat teratur akan mengakibatkan perubahan yang sangat buruk, tidak akan lebih baik. Sebagai contoh, jika gempa mengguncangkan sebuah struktur yang sangat teratur seperti sebuah bangunan, tidak akan ada perubahan secara acak atas bangunan tersebut dengan segala kemungkinannya, dan tidak akan terjadi perbaikan.”

10. Tak mengherankan, tak ada satu pun ditemukan mutasi yang berguna, yaitu yang menghasilkan kode genetik. Semua mutasi telah terbukti membahayakan. Telah dimengerti bahwa mutasi yang diajukan sebagai “Mekanisme evolusi” sebenarnya adalah sebuah perisitwa genetis yang membahayakan makhluk hidup, dan menjadikan mereka cacat. (Pengaruh mutasi yang paling sering terjadi pada manusia adalah kanker). Tak disangsikan lagi, mekanisme destruktif tidak mungkin menjadi sebuah “mekanisme evolusioner”. Sebaliknya, seleksi natural “tidak dapat melakukan apa pun” seperti yang juga diterima oleh Darwin. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada “mekanisme evolusioner” di alam. Karena tidak ada mekanisme evolusioner, tidak ada proses khayalan apa pun yang disebut evolusi itu pernah terjadi.

Catatan Fosil: Tidak Ada Tanda Bentuk-Bentuk Peralihan.
Catatan fosil merupakan bukti yang paling jelas bahwa skenario yang dibuat oleh teori evolusi tidaklah berlaku.

Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup telah bersumber dari pendahulunya. Spesies yang ada sebelumnya berubah menjadi spesies lain selama beberpa waktu dan semua spesies muncul dengan cara demikian. Menurut teori tersebut, perubahan bentuk ini berlangsung secara berangsur-angsur selama jutaan tahun.

Jika demikian halnya, maka sejumlah spesies peralihan harusnya ada dan hidup pada masa perubahan bentuk yang lama ini.

Sebagai contoh, sejumlah reptil setengah ikan yang menghasilkan sejumlah ciri reptil sebagai tambahan dari ciri-ciri ikan yang ada pada mereka, seharusnya hidup di masa lalu. Atau harusnya ada sejumlah burung-reptil yang menghasilkan ciri-ciri burung dalam ciri-ciri reptil yang ada. Karena makhluk-makhluk ini ada dalam fase peralihan, mereka seharusnya cacat, tidak sempurna, dan timpang. Para evolusionis menunjuk pada makhluk-mahkluk khayalan yang mereka yakini hidup di masa lalu sebagai bentuk-bentuk peralihan ini.

Jika binatang-binatang yang demikian pernah benar-benar hidup, seharusnya jumlah dan jenis mereka miliaran. Terlebih lagi, sisa-sisa makhluk aneh ini harusnya ada dalam catatan fosil. Dalam “The Origin of Species”, Darwin menjelaskan, “Jika teori saya benar, makhluk jenis peralihan yang tidak ditemukan –yang menghubungkan semua spesies dalam kelompok yang sama ini haruslah ada. Oleh karena itu, bukti keberadaan mereka dulu dapat ditemukan hanya di antara sisa-sisa fosil.”

Harapan Darwin Hancur.
11. Bagaimanapun juga, para evolusionis telah melakukan usaha yang sangat keras untuk menemukan fosil di seluruh dunia sejak pertengahan abad ke-19, namun tidak ada bentuk peralihan yang ditemukan. Tidak sesuai dengan harapan para evolusionis, semua fosil yang digali menunjukkan bahwa kehidupan muncul di bumi dengan tiba-tiba dan terbentuk dengan sempurna.

Seorang paleontolog Inggris terkenal, Derek V. Ager, mengakui fakta ini, walaupun ia adalah seorang evolusionis, “Masalah muncul saat kita memperlajari catatan fosil secara terperinci, baik dalam tingkat urutan ataupun spesiesnya. Kita akan menemukan bukan evolusi yang berangsur-angsur melainkan ledakan tiba-tiba sekelompok makhluk hidup saat makhluk jenis lain menghilang.”

12. Ini berarti bahwa catatan fosil semua spesies hidup tiba-tiba muncul dalam bentuk yang sempurna, tanpa adanya bentuk-bentuk peralihan di antaranya. Ini adalah kebalikan asumsi Darwin. Juga menjadi bukti yang kuat bahwa mahkluk hidup adalah diciptakan. Satu-satunya penjelasan dari munculnya spesies makhluk hidup secara tiba-tiba dan sempurna tanpa adanya bentuk-bentuk peralihan di antaranya adalah bahwa makhluk-makhluk tersebut diciptakan. Ini adalah kebalikan dari asumsi Darwin. Ini juga merupakan bukti yang kuat bahwa makhluk hidup itu diciptakan. Satu-satunya penjelasan yang memungkinkan dari munculnya makhluk hidup secara tiba-tiba dan dalam bentuk sempurna tanpa nenek moyang evolusioner adalah bahwa spesies tersebut diciptakan. Fakta ini juga diakui oleh biolog evolusionis, Douglas Futuyma, “Antara ciptaan dan evolusi ada penjelasan yang mungkin atas asal-usul makhluk hidup. Organisme yang muncul di bumi berkembang dengan sempurna. Jika mereka tidak berkembang sempurna, mereka pasti berkembang dari spesies yang belum ada melalui beberapa proses modifikasi. Jika mereka muncul dalam bentuk yang sempurna, sesungguhnya mereka tercipta oleh sebuah kekuatan cerdas Yang Maha Kuasa.”

13. Fosil-fosil menujukkan bahwa makhluk-makhluk hidup muncul di bumi dalam bentuk sempurna dan maju. Itu berarti bahwa “Asal-Usul Spesies” adalah berlawanan dengan anggapan Darwin, bukan disebabkan oleh proses evolusi melainkan karena ciptaan.

Dongeng Evolusi Manusia.
Masalah yang sering dimunculkan untuk membela teori evolusi adalah masalah asal-usul manusia. Klaim para Darwinis menyatakan bahwa manusia modern masa kini berevolusi dengan makhluk sejenis kera. Selama proses evolusi yang diperkirakan dimulai sekitar 4-5 tahun yang lalu, diklaim bahwa ada beberapa bentuk transisi antara manusia modern dan nenek moyangnya. Menurut skenario evolusiner khayalan ini, empat kategori dasarnya adalah:
1. Austrapithecus
2. Homo Habilis
3. Homo Erectus
4. Homo Sapiens
Para evolusionis menamakan nenek moyang manusia yang mirip kera ini dengan nama “austrapithecus” yang berarti “kera arika Utara”. Makhluk jenis ini sebenarnya tak lain adalah spesies kera purba yang sudah punah. Riset terhadap berbagai spesimen Austrapithecus yang dilakukan dua ahli anatomi terkenal dari Inggris dan Amerika bernama Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard telah menunjukkan bahwa tulang belulang itu adalah milik spesies kera biasa yang telah punah dan tidak memiliki kemiripan dengan manusia.

14. Para evolusionis mengklasifikasikan tingkatan evolusi manusia berikutnya sebagai “homo”, yang berarti “manusia”. Menurut klaim evolusionis, makhluk hidup dalam rangkaian homo lebih maju dibandingkan dengan Austrapithecus. Para evolusionis merencanakan sebuah skema evolusi yang menggelikan dengan mengatur fosil-fosil yang berbeda dari sejenis kera dalam urutan-urutan tertentu. Skema ini adalah khayalan karena tidak pernah terbukti bahwa ada sebuah hubungan evolusi antara kelas-kelas makhluk yang berbeda ini. Ernst Mayr, salah seorang pendukung teori evolusi menuliskan sebuah argumen yang panjang dalam bukunya, bahwa “terutama sekali teka-teki sejarah seperti asal usul kehidupan atau homo sapiens benar-benar sulit dan bahkan dapat menentang sebuah penjelasan yang sudah final dan memuaskan”.

15. Dengan mengggarisbawahi rangkaian hubungan dengan “Austrapithecus> Homo Habilis> Homo Erectus> Homo Sapiens”, para evolusionis menyatakan secara tidak langsung bahwa tiap spesies tersebut adalah nenek moyang satu sama lain. Bagaimanapun juga, penemuan terbaru para paleontologis telah menunjukkan bahwa Austrapithecus, homo habilis, dan homo erectus hidup di bagian bumi yang berbeda pada saat yang bersamaan.

16. Terlebih lagi, bagian tertentu manusia yang dikasifikasikan sebagai homo erectus hidup sampai masa yang sangat modern. Homo sapiens neanderthalensis dan homo sapiens (manusia modern) hidup bersamaan di daerah yang sama.

17. Keadaan ini cenderung mengindikasikan tidak sahnya pernyataan yang menyebutkan bahwa mereka adalah nenek moyang bagi satu sama lain. Seorang palaentolog dari Universitas Harvard, Stephen Jay Gould menjelaskan kebuntuan teori evolusi meskipun dirinya adalah seorang evolusionis:

“Apa yang bisa menolong kita jika ada 3 keturunan hominid (Austrapithecus Africanus, The robust austrapithecines, homo habilis) yang hidup bersamaan, dan tak ada satu pun yang berasal dari yang lain? Terlebih lagi, tak ada satu pun dari ketiganya menujukkan kecenderungan evolusioner selama hidup mereka di bumi.”

18. Singkatnya, skenario evolusi manusia yang dibuat dengan bantuan beragam gambar makhluk-makhluk “setengah kera-setengah manusia” yang muncul di media dan buku-buku, semua itu jelas-jelas hanya merupakan alat propaganda dan dongeng tanpa dasar ilmiah sama sekali.

Lord Solly Zuckerman, salah seorang ilmuwan yang terkenal dan dihormati di Inggris yang melakukan riset terhadap subjek ini selama bertahun-tahun dan secara khusus mempelajari fosil Austrapithecus selama 15 tahun, meskipun ia sendiri adalah evolusionis akhirnya berkesimpulan bahwa faktanya tidak ada garis keturunan dari makhluk sejenis kera kepada manusia.

Zuckerman juga membuat sebuah “spektrum sains” yang menarik. Ia membentuk sebuah spektrum sains yang membentang dari apa-apa yang cenderung ilmiah sampai apa-apa yang cenderung tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, yang paling ilmiah bergantung pada lapangan data sains adalah kimia dan fisika. Setelah itu ilmu biologi, terakhir ilmu pengetahuan sosial. Jauh di akhir spektrum, yang merupakan bagian yang dianggap paling tidak ilmiah adalah “persepsi inderawi-ekstra”, yaitu konsep seperti telepati, indera keenam dan “evolusi manusia”. Zuckerman menjelaskan alasannya: “Kita kemudian mulai pada tingkat kebenaran objektif tentang hal-hal yang dianggap sebagai ilmu biologi, seperti persepsi inderawi-ekstra atau interpretasi sejarah fosil manusia, yang bagi evolusionis sejati apa pun mungkin saja terjadi, dan yang bagi orang yang meyakini evolusionis terkadang dapat mempercayai beberapa pertentangan sekaligus.”

19. Dongeng evolusi manusia tidak membahas apa pun kecuali interpretasi bohong terhadap beberapa fosil yang digali oleh orang-orang yang setia pada teori mereka.

Teknologi Pada Mata dan Telinga.
Masalah lain yang tetap tidak terjawab oleh teori evolusi adalah sifat-sifat sempurna dari persepsi mata dan telinga.
Sebelum memasuki pembahasan mengenai mata, mari sekilas kita jawab pertanyaan “bagaimana kita melihat”. Cahaya datang dari sebuah objek yang jatuh berseberangan dengan retina mata. Disinilah cahaya ditransmisikan menjadi sinyal elektris oleh sel dan kemudian mencapai titik kecil di belakang otak yang disebut pusat pengelihatan. Sinyal-sinyal elektris ini diterima di pusat otak sebagai sebuah imej (gambar) setelah melalui serangkaian proses. Dengan latar belakang teknik ilmiah, kita berpikir.

Otak terisolasi dari cahaya. Itu berarti bahwa di dalam otak situasinya benar-benar gelap, dan cahaya tidak sampai ke otak. Yang dinamakan pusat pengelihatan adalah sebuah tempat yang benar-benar pekat dimana tak ada cahaya yang dapat masuk. Mungkin otak adalah tempat paling gelap yang pernah kita tahu. Anda mengamati dunia yang terang benderang dalam kegelapan total ini.

Gambar yang terbentuk di dalam mata sangatlah tajam dan jelas, bahkan teknologi abad ke-20 sekalipun tidak dapat menciptakan gambar yang sedemikian jelas. Sebagai contoh, buku yang Anda baca, tangan yang Anda pakai untuk memegangnya. Coba Anda angkat kepala dan lihatlah sekeliling Anda. Pernahkah anda melihat sebuah gambar setajam dan sejelas itu di tempat lain? Bahkan layar TV tercanggih yang dihasilkan oleh pabrik TV terbesar di dunia sekalipun, tidak dapat menghasilkan sebuah gambar yang tajam. Gambar yang didapat dari mata ini adalah gambar tiga dimensi yang berwarna dan sangat tajam. Lebih dari seratus tahun ratusan insinyur telah mencoba mendapatkan ketajaman gambar seperti ini. Pabrik-pabrik dan gedung-gedung raksasa dibangun, banyak riset dilakukan, rencana dan desain telah dibuat untuk tujuan ini. Sekali lagi, lihatlah layar TV dan buku yang Anda pegang. Anda akan melihat ada perbedaan yang sangat mencolok pada ketajaman dan kejelasannya. Terlebih lagi, layar TV hanya dapat memberikan gambar tiga dimensi, sementara dengan mata Anda bisa melihat perspektif tiga dimensi yang memiliki kedalaman.

Selama bertahun-tahun, puluhan dari ratusan insinyur telah mencoba membuat TV tiga dimensi, dan mencapai kualitas gambar seperti yang dihasilkan oleh mata. Ya, mereka berhasil membuat TV tiga dimensi, tetapi tak mungkin melihatnya tanpa menggunakan kacamata. Terlebih lagi, gambar tersebut hanyalah gambar tiga dimensi buatan. Latarnya lebih buram, gambar depannya muncul seperti latar kertas. Tidak mungkin menghasilkan gambar yang tajam dan jelas seperti yang dihasilkan oleh mata. Kamera maupun TV tidak sempurna kualitas gambarnya.

Para evolusionis mengklaim bahwa mekanisme yang memproduksi gambar yang tajam dan jelas ini terbentuk secara kebetulan. Sekarang, jika seseorang mengatakan bahwa TV di ruangan Anda terbentuk secara kebetulan, bahwa semua atom yang membentuknya terjadi begitu saja, bersatu menciptakan alat-alat yang memproduksi gambar ini, bagaimanakah menurut Anda? Bagaimana mungkin atom-atom tersebut melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia?

Jika sebuah alat yang menghasilkan sebuah gambar saja tidak mungkin terjadi secara kebetulan, maka ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa mata dan gambar yang terlihat oleh mata tidak mungkin terbentuk secara kebetulan. Hal yang sama terjadi pada telinga kita. Telinga bagian luar menangkap suara yang ada dengan daun telinga dan mengirimkannya ke telinga bagian tengah, kemudian getaran suara ini dikirimkan dengan menguatkannya. Telinga bagian dalam mengirim getaran ini ke otak dengan menguatkannya menjadi sinyal-sinyal elektrik. Seperti halnya mata, tindakan mendengar berakhir di pusat pendengaran di otak.

Hal yang terjadi pada mata juga terjadi pada telinga. Otak terisolasi dari suara seperti halnya cahaya; tak ada suara di dalam otak. Karena itu, tak peduli betapa bisingnya di luar, di dalam otak benar-benar hening. Meski demikian, suara-suara yang paling tajam diterima di otak. Di dalam otak Anda yang terisolasi dari suara, Anda mendengarkan simfoni sebuah orkerstra, dan semua kebisingan di tempat ramai. Bagaimanapun juga, jika tingkat suara di dalam otak Anda diukur dengan alat pengukur pada saat itu, akan terlihat bahwa otak Anda benar-benar sunyi.

Seperti halnya gambar, telah dilakukan usaha-usaha selama beberapa dekade untuk menghasilkan suara yang benar-benar asli. Hasilnya adalah rekaman suara, sistem rekaman yang sangat teliti dan asli, serta sistem untuk mendeteksi suara. Meskipun semua teknologi ini dan ratusan insinyur serta ahli telah berusaha keras, tak ada satu pun suara yang dihasilkan memiliki ketajaman dan kejernihan suara yang diterima oleh telinga. Coba pikirkan sistem rekaman dengan kualitas terbaik yang dihasilkan perusahaan industri musik terbesar. Bahkan dengan peralatan itu, ketika suara direkam, sebagiannya ada yang hilang. Atau jika Anda menyalakan sebuah rekaman, Anda akan selalu mendengar suara mendesis sebelum musik dimulai. Bagaimanapun, suara-suara yang dihasilkan oleh tubuh manusia benar-benar tajam dan jelas. Telinga manusia tidak pernah menerima suara yang disertai desisan seperti halnya rekaman. Telinga manusia menerima suara tepat seperti suara itu, tajam dan jernih.

Demikianlah yang terjadi sejak penciptaan manusia.
Sejauh ini, tak ada alat penghasil gambar dan perekam yang diproduksi manusia memiliki data sensor yang sesensitif dan sehebat mata dan telinga manusia.

Bagaimanapun juga, semakin kita mengamati tindakan melihat dan mendengar, semakin besar fakta yang tersembunyi di balik hal-hal tersebut.

Milik Siapakah Kesadaran yang Melihat dan Mendengar Di dalam Otak?
Siapakah yang mengamati sebuah dunia yang memikat di dalam otak, mendengarkan simfoni dan kicau burung, serta harumnya mawar?

Rangsangan yang datang dari mata, telinga, dan hidung manusia berjalan ke otak sebagai impuls syaraf elektris-kimiawi. Dalam ilmi biologi, psikologi, dan biokimia, Anda dapat menemukan banyak rincian tentang bagaimana gambar buku terbentuk di otak. Anda tidak akan pernah menemukan fakta yang penting tentang hal ini: Siapakah yang menerjemahkan impuls syaraf elektris-kimia ini sebagai gambar, suara, bau, dan peristiwa sensorik di otak? Ada kesadaran di dalam otak yang menyerap semua itu tanpa memerlukan mata, telinga dan hidung. Milik siapakah kesadaran ini? Tak ada lagi keraguan bahwa kesadaran ini bukanlah berada di dalam saraf, lapisan tebal, dan neuron yang membentuk otak. Inilah mengapa materialis-Darwinis yang yakin bahwa segala sesuatu diperbandingkan dengan materi, tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Itu karena kesadaran ini adalah ruh yang dicitakan Allah. Ruh yang tidak membutuhkan mata untuk melihat ataupun telinga untuk mendengar suara. Lebih jauh lagi, ruh ini tidak membutuhkan otak untuk berpikir.

Setiap orang yang membaca fakta ilmiah yang jelas ini harus merenungkan kekuasaan Allah, harus takut dan memohon perlindungan pada-Nya. Ia yang memasukkan seluruh alam dalam bentuk tiga dimensi yang berwarna, berbayang dan bercahaya ini dalam sebuah tempat yang sangat gelap sebesar hanya beberapa sentimeter kubik.

Keyakinan Materialis.
Informasi yang telah kami sajikan sejauh ini menunjukkan bahwa teori evolusi adalah sebuah penyataan yang jelas terbantah dengan penemuan-penemuan ilmiah. Pernyataan teori ini tentang asal-usul kehidupan adalah tidak sejalan dengan sains. Mekanisme evolusioner yang diajukan tidak memiliki kekuatan evolusi, dan fosil yang menunjukkan bahwa bentuk-bentuk peralihan yang diperlukan oleh teori itu tidak pernah ada. Jadi, teori evolusi haruslah dienyahkan sebagai gagasan yang tidak ilmiah. Karena banyak gagasan seperti model bumi sebagai pusat alam semesta telah dikeluarkan dari agenda ilmiah sepanjang sejarah.
Teori evolusi tetap memaksa untuk menjadi agenda ilmiah. Beberapa orang bahkan mencoba mengajukan kritik untuk menyerang sains. Mengapa?

Alasannya adalah bahwa teori evolusi adalah seluruh keyakinan dogmatis yang sangat diperlukan oleh sebagian orang. Mereka dengan membabi buta mengabdi pada filasafat materialis dan mengadopsi Darwinisme karena itu satu-satunya penjelasan yang dapat dibuat atas pertanyaan keberadaan dan peristiwa alam.

Dengan cukup menarik, mereka juga mengatakan hal itu dari waktu ke waktu. Seorang ahli genetik terkenal dan evolusionis yang vokal, Richard C. Lewontin dari Universitas Harvard menyatakan bahwa dirinya pertama-tama adalah seorang materialis, kemudian seorang “lmuwan”.

Bukanlah cara-cara dan institusi-intitusi ilmiah yang mendorong kita untuk menerima penjelasan tentang dunia fenomena, tetapi sebaliknya, kita dipaksa oleh ketaatan kita pada penyebab-penyebab yang bersifat materi untuk menciptakan alat investigasi dan membuat konsep-konsep yang menghasilkan penjelasan-penjelasn yang bersifat material, tak peduli betapa kontra-intuitif dan membingungkannya orang-orang yang belum tahu. Terlebih lagi, bahwa materialisme adalah absolut sifatnya, jadi kita tidak memasukkan Tuhan di dalamnya.

20. Ini adalah pernyataan yang eksplisit bahwa Darwinisme adalah dogma yang tetap hidup hanya demi kepatuhan pada filsafat materialis. Dogma ini mempertahankan bahwa tidak ada makhluk yang menolong materi. Karena itu, dogma ini bertahan bahwa materi yang tidak hidup dan tidak memiliki kesadaran telah menciptakan kehidupan. Teori ini tetap “ngotot” bahwa jutaan spesies hidup yang berbeda; misalnya burung, ikan, jerapah, macan, serangga, pohon, bunga, ikan paus, dan manusia berasal dari interaksi antara materi seperti hujan, kilat, dan sebagainya, yaitu berasal dari benda mati. Ini adalah ajaran yang berawanan dengan akal dan sains. Namun Darwinisme tetap membelanya begitu saja demi tidak memasukkan campur tangan Tuhan di dalamnya.

Siapa pun yang tidak melihat asal-usul makhluk hidup dengan prasangka materialis, akan melihat bahwa bukti ini benar. Semua makhluk hidup adalah karya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Pencipta ini adalah Allah Yang Menciptakan seluruh alam semesta dari ketiadaan, merencanakannya dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan melengkapi semua makhluk hidup.

“Mereka menjawab, ‘Maha suci Engkau ,
tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang
telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
(al-Baqarah: 32)
HE HE HE . . . EDAN TENAN... SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI... SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENOG ke RASA dan BERMANFAAT  BAGI siapapun yang Membacanya...
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com