Mengenai Saya

Foto saya

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untuk semuanya tanpa terkecuali. Perkenalkan Saya... Dengan Nama asli: Toso Wijaya. D.  Nama Lahir saya: Djaka Tolos. Dan Akrab di panggil Wong Edan Bagu atau WEB dalam dunia Spiritual Laku Ketuhanan. saya lahir di lereng gunung ciremai Cirebon jawa barat. Pada hari Rabu Pon, tgl 13/08/1959, Anak kedua dari empat bersaudara, yang lahir dari kedua orang tua, Bapak Bernama: Matsalim dan Ibu Bernaman Dewi Arimi.  Mulai dari Nenek moyang hingga ke bapak ibu sampai ke saya sendiri. Kami Suka Berspiritual. artinya... suka mempelajari hal-hal yang ga'ib. Tapi bukan sembarang Ghaib, karena Ghaib yang saya pelajari, adalah Ghaib-Nya Dzat Maha Suci Hidup (TUHAN). Bukan yang lain.  Karena itu Sejak usia 9 tahun, saya sudah mempelajari ilmu-ilmu katikjayan, kususnya ilmu kanuragan dan ilmu jaya kawijayan Warisan dari para leluhur saya di telatah tanah pasundan. Sebagai bekal untuk mengembara dalam melacak jejak Dzat Maha Suci yang Gha'ib.  

Dan setelah melalui berbagai macan dan banyak lika liku proses kehidupan. saya berhasil menemukan intisari pati Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sebenarnya, dari semua dan segalanya tentang Hidup dan Kehidupan BerTuhan... dan sejak itulah, saya berhenti mengembara dan berpetualang. Lalu menekuni secara Khusus/Istiqomah Laku Spiritual Hakikat Hidup. Yang pelajarannya saya dapatkan, dikala puasa ngebleng di goa singabarong pulau nusa kambangan cilacap jawa tengah,  yaitu,,. Wahyu Panca Laku. Cara untuk Mempraktekan Wahyu Panca Gha'ib, yang hanya mempelajari Hidup dan kehidupan serta Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya... disamping terus belajar dan belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya... Karena saya tidak suka Neko-neko. Saya membuka Pengobatan dan Konsultasi Alternatif Tradisional, mempraktekan ilmu pengobatan spesialist Stroke. Dengan Cara Terapi Pijat Urut dan Jamu Herbal Ramuan Sendiri. Yang pernah saya Pelajari dari beberapa orang Guru saya... Dan semoga, apa yang saya lakukan ini. bisa dan dapat bermanfaat pada diri saya sendiri dan buat semua saudara-saudari saya tanpa terkecuali..... Itulah sekelumit tentang saya dan mohon maklumnya jika terkesan berlebihan; Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian... _/!\_

Rabu, 31 Desember 2014

CINCIN BERTUAH ZAMRUD:

CINCIN BERTUAH ZAMRUD:
TIDAK SELEMBAR DAUNPUN YANG JATUH KE BUMI INI TANPA KEHENDAK TUHAN.
Artinya; apapun yang terjadi, baik maupun Buruk, itu adalah Kehendak Tuhan. Namun... walau begitu, bukan berati kita harus pasrah total bongko’an pada Sang Tuhan. Karena kita di wajibkan untuk Berusaha dan berjuang mempertahankan Hidup kita yang merupakan Anugerah Tuhan tak terumpamakan ini, dalam Proses Kehidupan menujunya  sesuai Firman/Kehendaknya.

KARENA Itu... Saya Sediakan Sarananya:
Bagi siapapun yang suka dengan asesories Bertuah. Di maharkan... Cincin Bertuah ZAMRUD... Cincin Bertuah ZAMRUD ini memiliki daya kekuatan alami. Yang jika di pakai di jari tangan kiri, maka akan memencarkan daya  aura Pengasihan bagi siapapun yang memakainya. Sehingganya, siapapun yang melihatnya. Akan merasa Cinta dan Kasih. Jika di pakai di jari tangan kanan. Maka akan memancarkan daya aura kewibawa’an bagi siapapun yang memakainya. Sehingganya siapapun yang melihatnya. Akan merasa hormat dan segan.  Cincin Bertuah ZAMRUD  ini. Memiliki  Japa Mantera. Yang bilamana Japa mantranya di Baca. Maka Cincin akan beralih fungsi. Menjadi Sumber daya kekuatan Tarik sesuai kehendak Si Pemakainya...  Sangat Cocok jika di pakai Oleh: Seorang Pembisnis dan Pedagang atau Makelar yang berpropesi  jual beli apapun itu sebutannya.  Selain itu, Cincin ZAMRUD ini. Juga bisa memunculkan daya kekuatan Supranatural Setara dengan Hipnotis. Jika Japa Manteranya di baca. Sehingga... Berapapun harga jual yang kita tawarkan pada klayen. Langsung di DIEL. Bisa juga berfungsi untuk menangkal/menolak Serangan Hipnotis. Dari manapun arahnya.

Tanpa Puasa tanpa Rialat atau Ritual apapun. Langsung siap pakai. Untuk Super Kususnya; Tinggal Menghapal Japa Manteranya. Setelah Hapal. Langsung  siap Exsen.
Siapa Berminat di Persilahkan...
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
HP: 0858-6179-9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
Maharnya. Rp; 750.000 sudah termasuk ongkos kirim.  

TARING/SIUNG MACAN SILIWANGI:

TARING/SIUNG MACAN SILIWANGI:
TIDAK SELEMBAR DAUNPUN YANG JATUH KE BUMI INI TANPA KEHENDAK TUHAN.
Artinya; apapun yang terjadi, baik maupun Buruk, itu adalah Kehendak Tuhan. Namun... walau begitu, bukan berati kita harus pasrah total bongko’an pada Sang Tuhan. Karena kita di wajibkan untuk Berusaha dan berjuang mempertahankan Hidup kita yang merupakan Anugerah Tuhan tak terumpamakan ini, dalam Proses Kehidupan menujunya  sesuai Firman/Kehendaknya.

KARENA Itu... Saya Sediakan Sarananya:
Bagi siapapun yang suka dengan asesories Bertuah. Di maharkan... TARING/SIUNG MACAN SILIWANGI. Kalungnya terbuat dari Titanium anti karat. Yang memiliki daya aura alami untuk dapat menolak serangan hewan-hewan buas. Seperti; Buaya. Harimau. Ular dan sejenisnya. Karena titanium memiliki kandungan asam tinggi, sehingga hewan buas apapun yang melihat atau mencium, giginya akan terasa ngilu. Dan tidak berani mendekat.  TARING/SIUNG MACAN SILIWANGI ini memiliki daya kekuatan alami. Yang jika di pakai. Maka akan memancarkan daya aura kewibawa’an pada pemakaiannya. Sehingga siapapun yang melihatnya. Akan merasa hormat dan segan.  TARING/SIUNG MACAN  SILIWANGI ini. Memiliki  Japa Mantera. Yang bilamana Japa mantranya di Baca. Maka TARING/SIUNG MACAN  SILIWANGI beralih fungsi. Menjadi  Sumber  kekuatan Supranatural  Parewangan. Jika marah, amarahnya Bak Harimau lapar... Jika Musuh yang di hadapinya sangat berbahaya. Maka si pemakai bisa merubah wujudkan menjadi Macan Loreng/Siliwangi. Yang memiliki kesaktian sukar untuk di tandingi...  Sangat Cocok di pakai oleh Bodykart dan Asisten atau Para Perantau di daerah rawan preman dan pegal atau perampok.

Tanpa Puasa tanpa Rialat atau Ritual apapun. Langsung siap pakai. Untuk Super Kususnya; Tinggal Menghapal Japa Manteranya. Setelah Hapal. Langsung  siap Exsen.
Siapa Berminat di Persilahkan...
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
HP: 0858-6179-9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
Maharnya. Rp; 750.000 sudah termasuk ongkos kirim.  

CINCIN BERTUAH MIRAH SIAM:

CINCIN BERTUAH MIRAH SIAM:
TIDAK SELEMBAR DAUNPUN YANG JATUH KE BUMI INI TANPA KEHENDAK TUHAN.
Artinya; apapun yang terjadi, baik maupun Buruk, itu adalah Kehendak Tuhan. Namun... walau begitu, bukan berati kita harus pasrah total bongko’an pada Sang Tuhan. Karena kita di wajibkan untuk Berusaha dan berjuang mempertahankan Hidup kita yang merupakan Anugerah Tuhan tak terumpamakan ini, dalam Proses Kehidupan menujunya  sesuai Firman/Kehendaknya.

KARENA Itu... Saya Sediakan Sarananya:
Bagi siapapun yang suka dengan asesories Bertuah. Di maharkan... Cincin Bertuah MERAH SIAM... Cincin Bertuah MERAH SIAM  ini memiliki daya kekuatan alami. Yang jika di pakai di jari tangan kiri, maka akan memencarkan daya  aura Pengasihan bagi siapapun yang memakainya. Sehingganya, siapapun yang melihatnya. Akan merasa Cinta dan Kasih. Jika di pakai di jari tangan kanan. Maka akan memancarkan daya aura kewibawa’an bagi sapapun yang  memakaiannya. Sehingganya, siapapun yang melihatnya. Akan merasa hormat dan segan.  Cincin Bertuah MIRAH SIAM ini. Memiliki  Japa Mantera. Yang bilamana Japa manteranya di Baca. Maka Cincin akan beralih fungsi. Menjadi Sumber daya kekuatan TOLAK BALA... Sangat Cocok  di pakai Oleh:  Perantau dan Pengembara atau Para Musafir yang sering bepergian kerja di Luar daerah. Untuk Keselamatan. Tolak Bala. Sihir. Braja teluh tuju tenung. Santet dan ilmu mistik lainnya, selain tu, keistimewa’an Cincin MIRAH SIAM ini. Juga, bisa memunculkan daya kekuatan Supranatural Setara dengan AJI LEMBU SEKILAN, Jika Japa Manteranya di baca Sa’at menghadapi Bahaya mendadak.  Serangan apapun dan berupa apapun yang di arahkan untuk menyerang/mencelakai tidak akan sampai. Karena kurang sekilan/sejengkal.

Tanpa Puasa tanpa Rialat atau Ritual apapun. Langsung siap pakai. Untuk Super Kususnya; Tinggal Menghapal Japa Manteranya. Setelah Hapal. Langsung  siap Exsen.
Siapa Berminat di Persilahkan...
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
HP: 0858-6179-9966
http://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
Maharnya. Rp; 750.000 sudah termasuk ongkos kirim.  

Rabu, 24 Desember 2014

Kinilah Saatnya Menulis Takdir Yang Kita Inginkan

Kinilah Saatnya Menulis Takdir Yang Kita Inginkan
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014


Sebentar lagi... Kita akan Berjumpa dengan Tahun baru 2015. Dan di Tahun Baru! Inilah saatnya kita perlu merenungkan kembali takdir-takdir yang sudah kita lewati setahun kemaren ini. Lalu mari kita tuliskan di hari ini, apa yang ingin kita capai sepanjang tahun 2015 nanti.

Mulai Hari ini... Banyak umat nasrani berpesta Natal di rumah dan Gerejanya masing-masing. Seluruh dunia merayakan datangnya Nari Natal dan tahun baru. Entah mengapa, walau setiap tahun perayaan Natal dan Tahun baru ini diadakan, menyongsong datangnya harapan baru itu terus dilakukan.

Namun... Apakah, nasib mereka yang bernatal dan nasib semua  yang bertahun baru telah berubah? Apakah takdir kita terus bergerak menuju kebahagiaan dan impian yang kita idamkan?
Berapa banyak orang yang pada hari seperti ini, menuliskan impiannya?
Atau merevisi dan menuliskan tujuan hidupnya?

Banyak diantara kita yang terikat dan terpasung oleh rutinitas, oleh kebiasaan. Sesuatu yang dikendalikan oleh bawah sadar kita. Bahkan ternyata hal ini juga terjadi dalam ibadah-ibadah kita. Ketika Sembahyang/Shalat, misalnya, kita bahkan bergerak tanpa makna, tanpa jiwa. Bagai-bagai gerakan dan bacaan secara otomatis meluncur begitu saja persis mirip robot mainan anak-anak kita.

Jiwa kita tak lagi berkuasa. Kehendak dan harapan telah patah arang, tak berani bersuara. Bahkan kita begitu takut dan agak merasa berdosa untuk bercita-cita karena kita merasa akan “mendahului takdir-Nya”.

Padahal ketika kita takut dan pesimis seperti itu, bukankah justru tanpa sadar kita telah mendahului takdir itu sendiri?
Bukankah itu berarti kitalah yang memilih untuk tidak berubah?
Bukankah itu juga bermakna bahwa kita sendiri yang meminta agar takdir hidup kita tetap sama sampai tua!

Bila kita tidak membuat keputusan untuk berubah,
jangan salahkan Tuhan bila memang akhirnya takdir kita tidak akan berubah.

Menurtu saya Pribadi...
Inilah saatnya kita belajar membuat keputusan... Sebelum 2015 itu tiba.
“Say what you want” – katakan apapun yang Anda inginkan. SEKARANG!

Pada hari ini, paling tidak putuskan 3 hal yang paling kita inginkan sepanjang tahun 2014 ini:

To Be – Mau menjadi Apa Anda tahun 2015 nanti?
To Do – Apa yang ingin Anda lakukan?
To Have – Apa saja yang ingin Anda miliki?

Apapun itu, tuliskan. Ambil kertas lalu menulislah. Hati-hati dengan apa yang anda tulis, sebab ia memang bisa jadi kenyataan. Mengapa bisa begitu? Ketika kita menuliskan keinginan kita, itu berarti kita telah memberi perintah kepada “otoritas” bawah sadar. Mekanisme bawah sadar kita akan bekerja HANYA berdasarkan perintah-perintah kita. Bila kita tidak memberinya perintah, maka bawah sadar kita akan MEMBACA perintah (untuknya) itu berdasarkan kecenderungan pikiran-pikiran kita, yang umumnya tidak kita sengaja.

Tak perlu ragu untuk menuliskan berapa penghasilan yang ingin Anda dapatkan tahun 2015 nanti? Pekerjaan dan karir seperti apa yang Anda ingin peroleh?
Barang atau properti apa yang mau Anda beli?
Bagaimana dengan sikap atau attitude Anda di tahun 2015?
Bagaimana hubungan Anda dengan ayah/ibu, istri/suami, atau dengan adik/kakak Anda?
Apa prioritas Anda tahun 2015?
Dimana Anda akan tinggal?
Seberapa besar bisnis yang ingin Anda miliki?
Bla... Bla... Bla... Dll


Banyak sekali yang harus kita pikirkan dan kita tulis. Tak perlu mengkhawatirkan apakah nanti bagaimana? Apakah semua itu akan bisa kita capai atau tidak. Jangan pedulikan kritikan-kritikan dan komentar-komentar negatif otak kritis Anda. Lupakan saja masa lalu yang gelap hitam pekat yang selama ini kita berkubang di dalamnya. Songsonglah cahaya dari dalam diri Anda. Bukalah pintu lebar-lebar sehingga cahaya itu menguasai diri dan batin kita, dan yakinlah nanti ia akan menggerakkan urat nadi hidup kita...

Bismillah… dengan namaMu  ya Allah.
Dengan menyebut nama Tuhan.
Perkenankan aku menapaki jalan ini ya Allah…
Jazzakumullah Khoiran Katsiro.
Azza wa Jalla, Jalla Jalaluhu
Ya Mujjibassaailiiin…
GUSTI  INGKANG  MOHO  SUCI.
KULO  NYUWUN  PANGAPURO  DUMATENG  GUSTI  INGKANG  MOHO  SUCI.
SIROLAH  DATOLAH  SIPATOLAH
KULO  SEJATINE  SATERIYO.
NYUWUN  WICAKSONO  NYUWUN  PANGUWOSO.
KANGGE  TUMINDAKE  SATERIYO  SEJATI.
KULO  NYUWUN  KANGGE  HANYIRNA’AKE  TUMINDAK  INGKANG  LUPUT.

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2015..!!!
Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Brebes  Rabu tgl 24 Des 2014

Ternyata Perasaan Tenang Itu Juga Berbahaya lo.:-)

Ternyata Perasaan Tenang Itu Juga Berbahaya lo.:-)
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014


Ada satu persoalan yang akhir-akhir ini mengganggu saya. Tanpa saya sadari, selama ini saya telah terbuai oleh kesibukan sehari-hari dan merasa tenang-tenang saja dengan urusan Spiritual. Urusan yang sangat penting sebenarnya. Hari ini barulah saya “ngeh” ternyata Perasa’an tenang itu sangat berbahaya. Bagaimana tidak?

Karena merasa aman, saya pun lengah terhadap mara bahaya. Karena merasa terlindungi, saya pun kurang berjaga-jaga. Karena merasa benar, saya pun jarang bertaubat. Karena merasa sudah menjalankan ibadah rutin dan sesuai dengan firman Tuhan, saya pun jarang menyucikan diri.
Waow... He he he . . . Edan Tenan.
Apakah Anda juga pernah mengalaminya?
Entahlah, yang jelas, biasanya perasaan seperti ini memang tidak disadari secara sengaja.

Tapi mari kita mencoba merenung sejenak. Mari-mari kita menela’ah apa yang selama ini tanpa sengaja telah kita percaya dan kita lakukan secara otomatis begitu saja.

Pernahkah kita mempertanyakan paradigma-paradigma yang selama ini kita pegang teguh?
Apakah paradigma kita itu sudah benar?
Mempelajari secara mendalam keyakinan-keyakinan kita?
Mempertanyakan kebenaran ibadah-ibadah kita?
Memeriksa kembali sikap-sikap mental kita?

Ah’... Itulah memang masalahnya. Kita nggak sempat lagi. Sibuk oleh rutinitas kantor, urusan kuliah, cari uang, mengurus anak dan istri. Setiap hari berlalu dalam lingkaran yang sama dan mesin kehidupan itu terus berputar-putar meninabobokkan kita sampai akhirnya tak kita sadari, umur kita udah makin tua, mendekati liyang kubur yang membuat kita tidak punya waktu kesempatan lagi.

Tanpa kita sengaja secara sadar, jangan-jangan sebenarnya selama ini kita beragama itu hanya ikut-ikutan saja, mewarisi kebiasaan-kebiasaan yang telah dilatih sejak kecil. Saya merasa terpukul sekali tak mampu menjawab pertanyaan ini. Apakah saya benar-benar mengenal Allah SWT?

Seberapa banyak yang saya tahu tentang Tuhan?
Apakah ketika saya Sembahyang/Shalat, Semedi/Meditasi saya membayangkan “wajah” Tuhan? Wajah seperti apa yang dibayangkan?
Jangan-jangan selama ini, sebenarnya saya tengah menyembah Tuhan yang berbeda, Tuhan yang kita reka!... He he he . . . Edan Tenan.

Ketika mengucapkan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin“, “ Gusti Ingkang Moho Suci” apakah saya mengucapkannya datar, cepat atau mungkin sambil menguap?
Adakah perasaan bahwa saat itu sedang berada di hadapan-Nya, dan memohon, “Hanya pada Mu ya Allah kami beribadah, hanya kepada Mu ya Allah, kami memohon pertolongan.” Apakah benar itu permintaan saya?
Mengapa rasanya biasa-biasa saja?

Ketika mengakhiri shalat, saya pun mengucap salam, “Assalaamu’alaika  ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wabarakatuh“,”Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Mh Suci”. Mengapa saya tak menyadari bahwa saat itu saya sedang mengucapkan salam kepada baginda Rasulullah SAW, yang saat itu juga pasti beliau membalas salam saya? Bukankah saat itu tengah berada dalam sebuah majlis yang dihadiri oleh Rasulullah saw dan ruh-ruh suci lainnya?
Mengapa saya abaikan pertemuan-pertemuan indah itu?

Ya Allah, sungguh selama ini kami telah banyak menzalimi diri kami.
Tapi mengapa kok saya masih tetap saja merasa tenang?
Seolah-olah sudah yakin sekali bahwa akhir dari hidup yang singkat ini pastilah surga?
Kenapa saya begitu yakin?
Apakah karena sudah melakukan shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, naik Haji, berzakat, melakukan amal-amal shaleh, lalu kita merasa tenang dan yakin bahwa Allah ridha dengan kita?

Saya kira perasaan tenang yang seperti inilah yang memang amat berbahaya. Karena kita segera akan terjebak pada dosa yang sangat besar, yang bisa menghapuskan amal-amal shaleh kita. Muncullah perasaan takjub pada diri sendiri, kagum dengan seluruh amal yang sudah kita lakukan dan merasa jauh lebih baik dari orang-orang kebanyakan. Jatuhlah kita pada ‘ujub... He he he . . . Edan Tenan... Naudzubillahi mindzalik.

Lalu saya coba membaca beberapa buku tentang ujub ini. Ujub (al-’ujub) secara bahasa berarti kagum. Masuk ke dalam bahasa Indonesia muncullah kata takjub. Menurut kamus bahasa Arab Munjid, ujub adalah suatu keadaan kejiwaan yang sewaktu-waktu dapat kita ketemukan dalam diri kita. Umumnya memiliki beberapa indikator atau tanda-tanda tertentu, antara lain sombong, takabur, menolak dikritik orang, serta menganggap diri kita paling baik dan benar.

Al-Fahri menerangkan, ujub dalam aqidah, berarti kita merasa memiliki akidah yang paling benar. Orang lain yang berbeda akidah dengan kita dianggap sesat. Ujub dalam akhlak, berarti kita merasa bahwa akhlak kita jauh lebih mulia daripada akhlak orang lain. Dan ujub dalam amalan kita merasa bangga dengan amal-amal kita dan benar-benar bersandar pada amal itu. Kita yakin dengan amal itu kita dapat masuk surga.

Ternyata, ketiga jenis ujub seperti itu bisa menghancurkan amal-amal kita dan menghilangkan seluruh pahala dari amal kita.

Firman Allah SWT, “Katakanlah, apakah akan Kami kabarkan kepada kamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya? Itulah orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, tetapi mereka mengira mereka telah melakukan kebaikan. …… maka hapuslah amalan-amalan mereka dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi ayat 103 – 105)

Jangan-jangan saya termasuk orang beriman yang mengira dengan iman dan amal saat ini saya sudah merasa cukup. Itulah sebabnya saya pun merasa tenang. Jangan-jangan di dalam bawah sadar saya ada perasaan bahwa saya benar-benar sudah beribadah kepada Allah, berbuat banyak untuk Allah, sudah berbuat baik kepada Allah Ta’ala, lalu mengira dengan amal shaleh itu merasa memiliki hak atas Allah SWT... He he he . . . Edan Tenan... Nauzubillah min dzalik!

Mungkin itu pula sebabnya kita sering mempertanyakan, “Mengapa doa-doa saya tidak dikabulkan Tuhan?!!”
Seolah-olah Tuhan berkewajiban memenuhi doa dan hajat-hajat kita!!!
Betapa sering, ketika kita berdoa kita “memberi perintah” kepada Tuhan! Dan Tuhan berkewajiban memenuhinya... Edan Tenan.

Sungguh betapa banyak kebodohan yang kita perbuat selama ini. Bahkan untuk berdoa saja kita pun tak pernah belajar dengan benar. Bahkan lebih parah lagi, betapa jarang kita mengucapkan nama-Nya dalam desahan napas kita. Betapa jarang kita memohon taubat dan memohon ampun dari segala dosa. Seolah-olah kita ini sudah benar-benar suci.

“Janganlah kamu anggap dirimu suci. Allah mengetahui yang paling takwa diantara kamu.” (QS. An- Najm : 32)

Padahal Rasulullah SAW yang sungguh-sungguh secara nyata sudah disucikan Allah, betapa beliau senantiasa beristighfar kepada Allah. Diriwayatkan pada suatu malam, Ummu Salamah terbangun dari tidurnya. Ia mendengar Nabi Muhammad sedang istighfar sambil menangis di sudut kamar. Ummu Salamah bertanya, “Wahai Nabi Allah, mengapa engkau harus menangis dan merintih seperti itu padahal Allah telah menyucikan dirimu?”

Nabi menjawab, “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur …”

Dalam salah satu doanya, Rasulullah saw berkata, “Ya Allah, aku belum mengenal Engkau dengan pengenalan yang sebenar-benarnya. Aku belum beribadah kepada-Mu dengan ibadah yang sebenar-benarnya.”

Ach! Sungguh malu sekali rasanya. Mengapa kita masih bisa tenang-tenang saja? Hanya karena dasar alasan tersebut? Hanya dengan Rasa “ANA APA-APA KUNCI LANGKA APA-APA KUNCI” kita bisa tau tentang iya dan tidaknya. Hanya dengan  Laku Hakekat Hidup: “GALILAH RASA YANG MELIPUTI SELURUH TUBUHMU. DI DALAM TUBUHMU. ADA FIRMAN TUHAN YANG MENJAMIN HIDUP MATI DAN DUNIA AKHERATMU” kita bisa ngerti sudah dan belumnya. Maka... Rnungkanlah.
Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Brebes  Selasa tgl 23 Des 2014

Memahami takdir, mari kita diskusikan disini. Dengan Rasa Asah Asih Asuh Spiritual Hakikat Hidup:

Memahami takdir, mari kita diskusikan disini.
Dengan Rasa Asah Asih Asuh Spiritual Hakikat Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014

Salah satu rukun iman yang wajib kita pegang teguh adalah beriman kepada qadha dan qadhar. Sebagian lagi mengatakan beriman kepada takdir baik maupun takdir buruk. Karena adalah Kuasa Tuhan.

Pernah seorang teman mengeluh saat ia mendapat cobaan berkali-kali. “Mengapa ya Tuhan tidak bersikap adil kepada saya?
Sampai sekarang saya masih saja menderita. Takdir saya buruk sekali!
Mengapa Tuhan tidak kasihan kepada saya?”

Saat itu saya tidak mau menjawab persoalan yang tidak mudah ini. Saya hanya katakan agar ia bersabar terhadap ujian Allah SWT itu. Mudah-mudahan itu akan menjadi kafarat atas berbagai dosa dan jadi tabungan baik di akhirat kelak.

Namun tetap saja ia tidak puas dan masih tetap mengeluh, “Saya sudah lakukan semua perintah Allah. Setiap waktu yang telah di tentukan saya selalu Sembahyang/Sholat pless sunah dan hajat/tahajud. Setiap hari saya berdoa agar saya dilepaskan dari berbagai derita. Namun tetap saja Allah tak mendengar dan tak mau mengabulkan do’a saya.”

Bagaimana Anda menjawab persoalan pelik ini?
Bila suatu sa’at ada yang Curhat/Bertanya pada Anda?
He he he . . . Edan Tenan

Ini memang bukan teka-teki hidup yang mudah kita pahami. Banyak rahasia Allah SWT yang tidak bisa ditembus oleh ketinggian pengetahuan dan teknologi manusia. Apa arti dari semua peristiwa kehidupan ini?

Mengapa tiba-tiba turun bencana besar yang menghabiskan segalanya dan menewaskan ribuan manusia?
Mengapa Amerika dan Israel yang menguasai dunia?
Mengapa orang jahat lebih kaya dan lebih sejahtera hidupnya, sementara orang-orang baik dan suci menderita?
Mengapa koruptor besar itu dibebaskan?
Mengapa perbuatan baik kita tidak mendapat ganjaran sepadan?
Mengapa para Nabi bisa dibunuh?
Mengapa mereka tidak menang saja?
Apakah Tuhan tidak menolong mereka?
Dan Bla.... Bla... Bla... He he he . . . Edan Tenan.
Iya tidak Lur...?!

Pasti banyak pertanyaan-pertanyaan besar seperti itu yang susah untuk bisa kita jawab.
Sebelum saya melanjutkan diskusi ini, saya ingin mendapat masukan Anda semua, para penghadir membaca tiap postingan saya, baik di facebook, blog, wordpress atau google.

Silakan berkontribusi ya... He he he . . . Edan Tenan.
Sambil menunggu pendapat yang lain, saya coba kutip satu masukan menarik tentang apa itu takdir, yang saya peroleh dari buku “Anak, Antara Kekuatan Gen dan Pendidikan”, karangan Prof. Muhammad Taqi Falsafi yang saya kombinasikan dengan pengalaman pribadi saya sendiri.

Disitu diambil sebuah ilustrasi tentang seseorang yang mencoba menjatuhkan dirinya dari atas sebuah gedung bertingkat tinggi ke sebuah batu marmer yang keras. Orang tua itu berkata, “Kalau memang sudah ditakdirkan mati, maka saya akan mati. Dan jika ditakdirkan hidup, pasti saya akan tetap hidup.”

Menurut Prof. Falsafi,,, sungguh orang ini telah keliru besar memahami persoalan takdir. Katanya, Allah SWT telah mempunyai takdir-takdir paksa’an dalam masalah ini dan juga punya takdir ikhtiar di sisi yang lain.

Adapun takdir paksaan dalam masalah ini?
1. Qadha dan qadar Allah telah menjadikan marmer sebagai batu keras dan kuat

2. Tengkorak kepala manusia diciptakan (berdasarkan qadha dan qadar Allah) dari tulang yang lembut dan berpotensi untuk pecah.

3. Qadha dan qadar Allah telah menetapkan adanya hukum gravitasi yang akan membuat benda jatuh ke tanah.

4. Qadha dan qadar Allah memutuskan bahwa setiap orang yang melemparkan diri dari ketinggian ke tanah yang keras, niscaya tulangnya akan hancur berantakan dan otaknya berhamburan keluar.

5. Qadha dan qadar Allah juga memutuskan bahwa setiap manusia harus mati ketika otaknya hancur.

6. Qadha dan qadar Allah jua telah memutuskan bahwa manusia mempunyai kehendak dan ikhtiar/pilihan. Ia bisa menjatuhkan dirinya lalu mati, atau menahan diri untuk tidak melakukan bunuh diri itu, lalu turun menuruni tangga dengan selamat.

Lalu beliau mengutip satu riwayat dari Ibnu Nabatah, bahwa Ali bin Abi Thalib kw, pernah pada suatu hari berpindah dari satu tembok ke tembok yang lain. Para sahabat menegur beliau, “Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda lari dari qadha Allah?” Imam Ali menjawab, “Saya lari dari qadha Allah menuju qadar Allah Azza wa Jalla.” He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu Lurr....
Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Brebes  Rabu tgl 24 Des 2014

Kata-Kata Kita Adalah Mantera Bagi Diri Kita Sendiri. Dan Doa Bagi Orang Lain:

Kata-Kata Kita Adalah Mantera Bagi Diri Kita Sendiri.
Dan Doa Bagi Orang Lain:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014

Dalam bukunya “De grondsla-gen van Uw Succes”, WJ Brown menulis, “Kehidupan batin manusia ibarat gunung es: 1/3 bagian nongol ke permukaan laut, sedang 2/3 lainnya tak kelihatan, tersembunyi di bawah permukaan air”.

Manusia selalu berfikir. Ia senantiasa berusaha agar setiap hal yang ia lakukan diurus secara sadar, sepenuhnya. Namun tak semua kehendak mudah dicapai. Pada waktu-waktu tertentu, manusia sering dipengaruhi oleh sesuatu yang “gaib”, bawah sadar.

Misalnya? ketika kita sedang di marahi orang tua, ketika Kita tertarik pada seseorang. Tapi kita tak bisa menerangkan kenapa, hal apa yang menyebabkan timbulnya perasaan semacam itu. Atau suatu ketika, tiba-tiba muncul suatu perasaan tidak enak, gelisah, hingga jantung pun berdebar-debar. Kita tak mampu menjelaskan, kenapa demikian. Tahu-tahu beberapa saat, atau beberapa hari setelah itu, kejadian tak diinginkan betul-betul menimpa. Dari kondisi semacam itu terbukti, kekuatan bawah sadar dalam diri kita sedang bekerja.

Batin Manusia;
Para ahli telah sampai pada kesimpulan bahwa dalam batin manusia terpendam kekuatan bawah sadar. Sewaktu-waktu ia dapat muncul ke permukaan dan mempengaruhi rasa-sadar.

Kenapa?
Karena ada hubungan yang sangat erat diantara keduanya. Pusatnya terletak di otak. Pada bagian atas sumsum belakang terdapat sambungan yang langsung saling berkaitan dengan otak. “Jembatan” sumsum itulah yang menggetarkan “sinyal-sinyal” dari bawah sadar ke otak. Dari sini ia langsung mempengaruhi. Satu hal perlu dicatat, bahwa kekuatan bawah sadar menurut Mr. Brown tadi adalah 2 kali lebih dahsyat ketimbang kekuatan sadar!

Perbedaannya apa?
Pikiran sadar hanya bekerja selama manusia tidak tidur. Paling banter 16 jam sehari. Masa dinasnya terbatas. Dalam masa sesingkat itu, ia bertanggung jawab mengambil keputusan dengan segera mengenai soal-soal “kehidupan” dan lain sebagainya. Ia juga mengontrol situasi yang dihadapkan padanya. Kesan-kesan ia serap dengan cepat, namun secepat itu pula ia lupakan kembali.

Sedangkan “pikiran – bawah sadar” (Batin/Hati) tidak semalas itu. Ia bekerja terus-menerus selama 24 jam sehari. Tiada waktu istirahat sedetik pun. Ia akan selalu olah diri, melumat segala masalah. Malahan banyak pekerjaan yang tak terselesaikan oleh rekannya “pikiran – sadar” (Otak).  “pikiran – bawah sadar” (Batin/Hati) memborong dengan tuntas, memuaskan. Dan ini telah dilakukannya sejak detik pertama kelahiran kita!

Banyak lagi kelebihannya, diantaranya yang paling penting ialah “kejeniusannya”. Ia tak pernah pikun. Semua situasi, emosi, dan sensasi yang kita temui, selalu diingatnya. Tambahan lagi, kapasitas memorinya pun sukar diperhitungkan.

Makanya,,, apabila kita mampu mengendalikan kekuatan yang tersembunyi itu, kekuatan otak kita akan bertambah secara menakjubkan sekali. Hampir-hampir kita sukar mempercayainya. Kita sering mengalami problema yang sukar sekali dipecahkan. Kendati otak telah diperas berjam-jam lamanya. Esok harinya, setelah tidur dimalam hari, tiba-tiba muncul saja penyelesaiannya. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya.

Timbul pertanyaan, mengapa banyak sekali masalah yang sering dapat terselesaikan sewaktu kita tidur nyenyak? Sebabnya ternyata sederhana sekali. Problema yang sedang kita hadapi itu terlalu sulit buat “pikiran sadar”. Akhirnya ia tertimbun dalam “bawah sadar “. Malam harinya, tatkala sedang tertidur pulas, bawah sadar bekerja keras. Akhirnya ia berhasil memecahkannya.

Dalam ilmu kedokteran, peristiwa ini disebut “endopsychic process”. Diduga ia sangat vital sekali dalam kehidupan  kita sehari-hari. Hidup tanpa dia, semua tampak mustahil. Sampai saat ini para ahli yakin, bahwa dengan sedikit latihan, setiap orang mampu meningkatkan kekuatan terpendam itu.
Kalau sistem dari saya, yaitu dengan: “THE POWER KUNCI ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER” Kita BISA.

Jin Ifrid dalam Diri Anda;
Ada sebagian orang mempersonifikasikan pikiran bawah sadar itu dengan jin Ifrid. Jin ini tersohor dalam dongeng Lampu Wasiat Aladin. Ia patuh sekali. Apapun perintah tuannya, akan ia kerjakan dengan sempurna. Tak peduli baik atau buruk Baginya, semua titah itu baik dan benar. Kemampuan kritisnya lemah. Tapi kekuatannya luar biasa.

Persis seperti  komputer. Ia menampung semua data yang diprogramkan, padanya tanpa membantah. Lalu seluruh data itu ia susun dalam arsip yang rapi. Semakin banyak data, semakin pintar dan makin beragam pula tugas yang sanggup ia selesaikan. Penimbunan itu terus berantai. Arsipnya membengkak, begitu seterusnya.

Pianis yang mahir menekan tuts-tuts dengan otomatis, tanpa berfikir lagi, penggesek biola, penari, peniup saxophone juga tanpa berfikir lagi bermain dengan lincah sekali. Padahal dulu dengan susah payah, penuh konsentrasi, mereka berlatih berbulan-bulan lamanya. Sebetulnya, saat itu ia sedang memasukkan informasi kedalam memori “jin “ itu. Makin sering ia berlatih, makin berkembang data yang masuk, makin mahirlah dia. Terwujudlah suatu kebiasaan baru yang naluriah sifatnya. Otomatis! Pasti!

Begitulah semua kebiasaan manusia tercipta. Yang baik atau pun yang buruk. Otomatis, sifat perangai kita pun adalah hasil proses ini. Kebiasaan merokok, suka pacaran, gemar minum tuak, berjudi morfinis, atau apapun namanya semua akibat memori “jin ifrid” itu diisi kebiasaan yang terus menerus. Berulang dan diulang. Sehingga pada akhirnya jin itu “yakin” dan kemudian ia mahir, tagih, nyandu. Seperti itu pula halnya kebiasaan-kebiasaan baik. Suka menolong, dermawan, murah senyum, penampilan yang selalu rapi, optimis dan banyak lagi.

Tidak hanya sampai disana. Kita pun mampu membentuk kebiasaan baru, keterampilan baru, perangai baru, akhlak baru. “Habit is the second nature,” tutur orang Inggris. Dan itu pun kita bisa pilih: mau yang baik, mulia atau pun yang buruk. Semua tergantung kita. Dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan positif baik dan terpuji serta sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan jelek, otomatis terbentuklah tabiat baru. Semakin sering, semakin baik.

Terapi Mental;
Agaknya masih banyak orang yang sedang berpenyakit mental. Pikiran bawah sadarnya banyak kena “racun”. Malangnya, dirinya sendiri yang meracuni. Tanpa pernah ia sadari. Itulah mereka yang suka keluh kesah, senantiasa berputus asa, merasa tak sanggup melakukan sesuatu sebelum di lakukan, dsbnya... He he he . . . Edan Tenan.

Dari mulut mereka keluar “mantera-mantera”, tanpa sama sekali menyadarinya sebagai “mantera”. Kita sering mungkin (tanpa sadar) mengucapkan kata-kata “mantera” itu, seperti, “Ah malas! Nggak mungkin berhasil! Takdir saya memang begini, mau apa lagi!” Itulah mantera-mantera yang kemudian disimpan di bawah sadar kita, lalu “jin ifrid” itu mengganggapnya sebagai “perintah” kita. Jadilah diri kita persis seperti yang kita “mantera” itu.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika engkau beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkata-katalah (hanya) yang baik saja, (kalau tidak) lebih baik diam.”

Setiap ucapan yang keluar dari mulut, setiap tindakan yang kita kerjakan tak pernah dilupakan oleh sang bawah sadar. Apapun bentuknya. Kata-kata yang kita ucapkan akan terus direkam dalam memori Jin Ifrid (bawah sadar kita itu). Ya, tanpa sengaja kita telah memberi input “negatif” pada pikiran bawah sadar kita sendiri.

Kalau ini sering dilakukan, itu berarti kita berusaha meyakinkan “bawah sadar” kita. Jin itu akhirnya menganggukan kepalanya jua.

Kalau begitu,,, apakah pikiran bawah sadar itu berbahaya?
Hingga patut pula dibunuh?
Tidak usah. Janganlah berperang dengannya. Cobalah pandai-pandai berdiplomasi, bercengkrama secara santai, sehingga perlahan-lahan tapi pasti, terwujudlah suatu hasil yang positif. Ia akan cenderung menyedot hal – hal yang tak diinginkan. Ini jelas tidak menguntungkan.

Akhirnya patut disadari, jin Ifrid itu bukan makhluk lain. Ia adalah kemampuan besar yang misterius dari pikiran kita sendiri. Selama ini ia telah banyak membantu kita. Sejak kita lahir, ia senantiasa menunggu titah kita untuk ia kerjakan dengan patuh, demi kesuksesan kita. Ia bukan milik orang lain. Ini adalah milik kita. Kita lah tuannya, sang Aladinnya! Dan saya mengistilahkannya adalah “GURU SEJATI KITA” (HIDUP) Kita sendiri.
Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Brebes  Rabu tgl 24 Des 2014

SETELAH SAYA RENUNGKAN... Ternyata. SEMAKIN PINTAR - SEMAKIN CERDAS. SEMAKIN PANAS:

SETELAH SAYA RENUNGKAN... Ternyata.
SEMAKIN PINTAR - SEMAKIN CERDAS. SEMAKIN PANAS:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014

“Kalau Einstein lagi berpikir keras
maka ia pun terserang demam…….!”

Itulah sipat dan sikap manusia biasa, karenanya, jangan menjadi manusia biasa, jadilah manusia luar biasa. Sebab Tuhan menciptakan kita bukan sebagai manusia biasa, melainkan luar biasa. Bahan yang di jadikan untuk pencipta’an kita saja, tidak ada satupun yang sepele, semuanya pilihan dan luar biasa. Jadi,,, tidaklah pantas jika kita merasa atau beranggap sebagai manusia biasa.

Sensasi ini selalu ditiup- kobarkan oleh beberapa berita surat kabar, tatkala ahli bahasa, fikir, Fisika, Matematika ini mulai ramai diperbincangkan banyak orang. Namun bagi para Para laku spiritual fisiolog dan psikolog, hal itu tidak begitu mengejutkan.
Banyak para pemikir yang tekun, cepat menjadi panas dalam pekerjaannya. Siswa-siswa yang cerdaspun, badannya lekas panas, ketika perhatian telah tertumpu sepenuhnya pada suatu persoalan baru yang menarik hatinya. Makin pintar, makin panas. Makin Bodoh, makin dingin………!
Itulah pengalaman yang saya dapatkan akhir-akhir ini.

Timbul pertanyaan, apa yang akan kita lakukan seandainya ternyata badan tak mau panas dengan sendirinya, sewaktu menghadapi suatu pekerjaan/persoalan?
Perlukah digosok-gosok terlebih dahulu seluruh permukaan badan supaya panas ?
Ataukah pasrah begitu saja menerima kenyataan pahit bahwa memang kita ini bodoh seumur hidup dan dingin?

Berbagai jawaban dilontarkan Para guru pembimbing. Tapi jawaban-jawaban tersebut sarat dengan berbagai kekecualian. Ada memang orang yang idiot, otaknya beku dan dingin. Tapi, disamping itu juga banyak orang yang hanya “merasa” lalu percaya saja bahwa mereka tidak akan bisa lagi panas, padahal belum pernah mencobanya, apa lagi melakukannya.

Wong Edan Bagu. Optimis dalam bukunya yang berjudul “ THE POWER KUNCI ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER”  (Bagaimana melipatgandakan kesanggupan anda) menawarkan satu alternatif, yaitu “Warming Up”. Tujuan utama pemanasan ini ialah menajamkan perhatian (RASA). Ini berarti, membuang segala Karma dan Pikiran yang dapat mengganggu, yang mungkin timbul dari aktivitas sebelumnya. Saat itu terjadilah “penyetelan”   Rasa dan Perasa’an. Pikiran diarahkan lebih tajam dan perhatian lebih terpusat. Mata mulai diarahkan, letak sipat dan sikap kaki, lengan, tangan dan jari-jaripun diatur. Pikiran tertuju dan menuju pada laku/pekerjaan yang baru. Segala “ide mendadak” ditunda terlebih dahulu, karena itu akan membuyarkan konsentrasi. Tahan diri untuk tidak melakukan “hal-hal kecil”, seperti mencari-cari buku referensi, penggaris, dan sebagainya. Kan bisa disiapkan sebelumnya? Pendek kata, bersikaplah bagai prajurit yang tengah bertarung di medan pertempuran. Tiada alasan untuk permisi sebentar menjemput bedil yang tertinggal dimarkas, sementara bayonet telah mengancam didepan hidung.

Persoalan yang tampaknya sederhana ini ternyata juga menarik perhatian pribadi saya, sebagai Pelaku Spiritual yang sedang membimbing tidak sedikit anak didik... Bukan luar biasa bila kemudian saya mencurahkan segala perhatian saya terhadap persoalan ini selama tiga tahun sebelumnya.

Dan,,, sebagai hasilnya, inilah saran saya: Bila anda pada dasarnya sukar dan lambat menyesuaikan diri (kurang adaptif) dengan suatu tugas tertentu, maka usahakan mengasyiki pekerjaan tersebut agar anda cepat menjadi panas. Begitu pula, sebelum anda memulai pekerjaan, sebaiknya istirahatkan dulu otak barang sebentar, daripada nanti harus menunda pekerjaan akibat letih. Kelelahan bakal menyita segenap perhatian dan konsentrasi anda. Kemudian bila anda bekerja kurang bersemangat, tak ada kemauan, tahanlah diri untuk terus bekerja . Jangan beri kesempatan untuk “mengiyakan” perasaan malas tersebut. Dengan bekerja terus berarti anda menambah kapasitas diri sendiri. Dan, yang lebih penting, pekerjaan anda semakin lancar. Ini Bisa di Buktikan dengan: “THE POWER KUNCI ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER”

Hasil dari penelitian saya pribadi, dari ilmu-ilmu para orang jenius di masing-masing ungkapannya dalam bukunya yang pernah saya pelajari.  Badan yang panas tentu disebabkan pembakaran tubuh yang sedemikian cepat, sehingga arus syaraf pun dipercepat. Pada suhu biasa kecepatan itu kira-kira 135 meter per detik. Tapi jika badan didinginkan, sedemikian rupa hingga syaraf boleh dibilang tidak bekerja sama sekali, lalu diukur kecepatannya dengan memanaskannya berangsur-angsur, setiap kenaikan 10 derajat Celcius arus itu menjadi dua kali lebih cepat. Dengan kata lain, kenaikan temperatur satu derajat, arus syaraf akan dipercepat 10%.

Kenyataan ini sangat penting artinya. Terutama menyangkut kegiatan yang serba rumit, berpikir-keras, misalnya. Si pemikir boleh dibilang harus menempuh ribuan meter urat syaraf sebelum mencapai inti pemecahan persoalannya. Tata syaraf pusat mengandung berbiliun-biliun sel. Semuanya mempunyai cabang-cabang yang panjang nya mencapai beberapa meter, disamping berbiliun-biliun sel lainnya yang mempunyai cabang lebih pendek.

Untuk memecahkan masalah yang mudah semisal membagi angka 5.677 dengan 13, misalnya, diperlukan kiriman arus sepanjang beberapa ribu meter serabut syaraf. Orang tua yang tangkas, terbiasa dan berpengalaman, membutuhkan waktu lebih sedikit ketimbang yang kurang cerdas. Percobaan yang telah dilakukan di Jerman makin membuktikan hal ini. Bahkan dalam rapat perhimpunan Elektrokimia, O.H. Caldwell mengucapkan kata-kata, “Di kemudian hari kelak, pemanasan elektrik dari otak manusia akan menjadikan kita malaikat-malaikat!” Namun, tampaknya ini masih angan yang terlalu muluk.

Sayang sekali, kita kurang banyak yang menyadari kekuatan yang ada dalam diri kita sendiri. Yang kita kenal baru sedikit dari realitas yang sebenarnya. Sebetulnya patut kita berbangga dan bersyukur kepada Allah SWT atas kemampuan yang ia anugerahkan pada diri kita. Otak kita kini ternyata mampu menampung informasi 2,5 juta kali lebih banyak dari komputer terbesar didunia sekalipun.

Ada sedikit lagi pertanyaan lain. Apa sebenarnya perbedaan kita dengan tokoh-tokoh jenius seumpama Einstein dan kawan-kawannya itu?

Dr. Rudolph Wagner, membuktikan bahwa otak kita hampir semuanya sama. Jadi sesungguhnya tak ada perbedaan teknis antara otak Anda dan otak Albert Einstein. Yang memang kurang kita miliki adalah keinginan belajar dan berfikir yang menyala-nyala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang jenius itu. Dan lagi pula sebetulnya kreativitas itu bukanlah hanya milik segelintir pribadi-pribadi seperti Mozart, Rembrandt, Newton, dan Einstein saja. Kita semua juga memilikinya. Sayangnya kita tak mengaktifkannya. “PERCAYALAH”....  Dengan “THE POWER KUNCI ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER” Anda bisa... saya akan ajarkan secara langsung tanpa syarat yang berat dan mustahil bagi Anda. Bagaimana menurut Anda..?!

Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Brebes  Rabu tgl 24 Des 2014

SUARA/KATA HATI:

SUARA/KATA HATI:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014

Dengarkan Rasa/Suara/Kata hatimu...
Kendati memang hati adalah rahasia ilahi (Gaib), tetapi saya yakin, sesungguhnya hati adalah juga “pintu” kita dalam memahami segala sesuatu yang telah di Firmankan oleh Tuhan, dan bahkan sebenarnya “pintu rahasia” menuju sumber-sumber pengetahuan hakiki. Yang menjadi masalah kita sesungguhnya adalah, kita sering sekali tidak mendengarkan suara-suara (Kata) yang digumamkan hati kita. Kita menjadi “tuli” dan tak mengenalnya. Ia menjadi “seseorang” yang berbeda, bahkan melawan kita. Barangkali kita memang belum berhasil membangun hubungan yang baik antara Diri kita dengan “suara-suara (kata) Hati/Nurani” kita.

Saya pernah mendengar,,, beberapa ulama dan sesepuh di zaman dulu sering melakukan “puasa bicara” agar ia mampu “mendengar dengan jelas” bisikan-bisikan pengetahuan dan kebijakan yang keluar dari “Firman Tuhan” (Suara/Kata  ilahi).

Kini Sudah Saatnya saudara-saudariku untuk lebih serius mendengar suara/kata itu, sebelum terlambat. Karena kadang ia memberitahu kita akan adanya sesuatu yang masih misteri bagi kita. Kadang ia mengingatkan kita agar “istighfar” ketika tak sadar kita melakukan hal-hal yang tidak benar. Kadang ia mengajari kita memaknai berbagai peristiwa yang gaib.

Tapi kadang ia seperti melawan kita, atau mengkhianati kita. Karena itu, kita mesti belajar “bersahabat” dengannya, sehingga ia menjadi “sahabat baik kita”. Kita perlu mempelajari suara-suara/kata  apa yang disampaikan “alam nurani” kita ini. Saya berani  meyakinkan, disitulah bermuara semua pengetahuan kita, semua pengalaman kita, qitab/firman Tuhan, bahkan semua pemahaman atas/bawah sadar kita. Bukan di “otak”, tapi di hati itulah ia berada. Ia akan tetap hidup bahkan saat kita meninggalkan alam fana ini. Percayalah.... saya sudah membuktikan hal ini. Bukan Katanya... He he he . . . Edan Tenan.

Bahkan saya yakin juga, disanalah sesungguhnya pintu “pengetahuan hakiki” bisa kita masuki. Walau kita belum tahu cara membukanya. Karena itu... Laku KUNCIlah. Karena hanya KUNCI cara termudah dan tergratis untuk membuka pintu tersebut.
Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com
Brebes  Rabu tgl 24 Des 2014

Buang Jauh dan Singkirkan Kata “TETAPI/TAPI”

Buang Jauh dan Singkirkan Kata “TETAPI/TAPI”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014

Apakah anda sering mengalami hambatan dalam menemukan makna kehidupan?
Anda tahu apa yang Anda inginkan, namun sayang ada pula rintangan yang menghambatnya.

Berikut ini ada latihan menarik yang diajarkan Daniel H. Pink dalam bukunya A Whole New Mind. Katanya, coba tuliskan apa saja perubahan-perubahan penting yang ingin Anda buat, dan tuliskan pula penghalangnya.

Misalnya;
Saya ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarga saya, anak-anak didik saya, sahabat-sahabat saya, tetapi saya banyak bepergian dalam laku spiritual saya.

Saya ingin lebih sering membaca, tetapi saya jarang punya waktu untuk bisa duduk dengan buku di tangan.

Kata Daniel: gantilah kata “tetapi” tersebut dengan “dan”.

Contoh;
Saya akan lebih sering menghabiskan waktu dengan keluarga saya, anak-anak didik saya, sahabat-sahabat saya dan saya banyak bepergian dalam spiritual saya. Maka, saya perlu menemukan cara-cara untuk membawa semua itu, bersama selama spiritual saya.

Saya akan banyak membaca, dan saya jarang sekali mempunyai waktu untuk bisa duduk dengan membaca buku di tangan. Maka saya perlu merekam buku-buku tsb sehingga saya dapat mendengarnya di dalam mobil atau di tempat olah raga spiritual saya.

Menukar kata “tetapi” menjadi “dan” intinya adalah memindahkan cara kita yang terbiasa dalam pola pembuatan alasan, masuk ke pola pemecahan masalah. Sederhana sekali kan..?.:-) He he he . . . Edan Tenan. Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Brebes  Rabu tgl 24 Des 2014

Laku Spiritual Pikiran Manusia Hidup.

Laku Spiritual Pikiran Manusia Hidup.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu  tgl 24 Des 2014

Di Mana Pikiranmu?
He he he . . . Edan Tenan.

Sepertinya... mustahil kita tidak pernah melihat bayi atau bersama bayi walau sekejap pun. Entah itu di tempat tinggalnya sendiri atau di lain daerah. Apa lagi kalau sudah berkeluarga dan punya anak. Pasti tau kan? Hanya saja kita tidak pernah memperhatikannya secara spiritual. Hanya sekedar  perhatian, bukan memperhatikan. Padahal, jika kita memperhatikannya... tu ilmu nyata dari sang Maha Suci Hidup pada kita Sebagai orang tua yang bertanggung jawab atas si anak tersebut. Mari kita simak sejenak Sejarah Laku/Prosesnya. Saya ceritakan dengan Bait-Bait Puisi;

Masih bayi belajar berdiri
Pikirannya seputar kaki
Serasa ingin menjelajah negeri
Terasa goyah menginjak bumi

Tersenyum simpul balita gembul
Pikirannya sebatas dengkul
Berlari-lari terpantul-pantul
Minumnya susu buburnya bekatul

Akil baliq pun lewat
Pikirannya ke pisang dan donat
Pisang mencuat berdaun lebat
Donat bolong bertabur coklat

Masa remaja telah tiba
Pikirannya di antara paha
Pesona si dia menghapus norma
Hasrat berdua tanpa busana

Saat dewasa datang menjemput
Pikirannya berkutat di perut
Nafsu dunia membuat hanyut
Saling sikut ingin berebut

Kini rasanya mulai menua
Pikirannya di tangan dan dada
Terengah-engah dalam bekerja
Anak dan istri minta belanja

Rambutnya mulai beruban
Pikirannya di kerongkongan
Kata-katanya jadi panutan
Ini amanah atau kekuasaan?

Uban merata botak menganga
Pikirannya diam di kepala
Surut sudah kejayaanya
Menjadi kisah masa lalunya

Rambut tak rimbun mata pun rabun
Pikirannya beku di ubun-ubun
Katanya mbah sudah pikun
Mengunyah roti ternyata sabun

Sudah uzur napas tak teratur
Pikirannya lari ke kubur
Semeter dua sudah diukur
Tanah digali bukan sumur

Waktunya pulang ke liang lahat
Malaikat datang mendekat
Menagih pikiran amal dan niat
Semakin pucat mayat yang sesat

Dunia ini adalah alat simulasi - integrated - multiplayer - untuk manusia dalam belajar. Setiap manusia menjadi pengajar bagi yang lain melalui contoh jalan hidupnya. Benar maupun salah. Semua adalah pelajaran. Secara "akumulatif" tidak ada kejadian yang "salah" di dunia ini. Semua  layak berterimakasih pada Fir'aun atas pelajaran yg diperankannya untuk kita. Juga pada setan-setan dari golongan jin maupun manusia sebagai sparing partner.

Coret-coretan di atas adalah rangkuman kurikulum pelajaran tipikal untuk setiap manusia (dan jin?). Kekacauan sering diakibatkan orang-orang yang tertinggal pelajaran. Tingga kelas. Nunggak. Bodo ela-elo koyo kebo. Buta mata hatinya... Saat kurikulum pikirannya sudah di kerongkongan, kata-katanya jadi panutan anak buahnya. Berdehem jadi duit, batuknya jadi anak perusahaan, bersinnya jadi departemen... Kalau pikirannya telat "naik" sesuai kurilum, masih nyantol di urusan perut. Atau lebih parah... urusan di antara paha, di dalam hotel... Apa kata dunia?????
He he he . . . Edan Tenan.

Penggerak Manusia;
Saat melihat hiruk-pikuk aktivitas orang-orang, pernahkan terpikir "Ngapain saja sih mereka?
Apa sih maunya?"

Ada berbagai kegiatan mulai dari ongkang-ongkang, bekerja, mengemis, mencuri, makan, tidur, berdagang, berpolitik, ngebom, perang, FBan, dll. Berbagai aktivitas antar manusia memunculkan berbagai kesepakatan. Kesepakatan-kesepakatan umum kemudian lama-lama menjadi etika, tren, budaya, pola pikir, aturan, hukum dan berbagai konsekuensinya. Kemudian orang-orang beraktivitas dalam ikatan etika, budaya, aturan, hukum dan pola pikir itu. Dan begitu seterusnya... menjadi sebuah endless cycle.

Pernahkah selanjutnya terpikir...
Ngapain sih aku?
Ngapain sih binatang ini begitu?
Ngapain sih pohon ini tumbuhnya begini?
Ngapain sih cuaca ini?
Ngapain sih bumi ini?
NGAPAIN AJA SIH ALAM INI?

Well,,, ewel-ewel bel kedebel ketel-ketel... He he he  . . . Edan Tenan. Kayaknya kejauhan ya?!
 Ok, kembali ke urusan manusia aja...
 Ngapain aja sih KITA?
Apa tujuan kita begini-begitu?
Apa motifnya?

Nah... kayaknya mulai ada satu titik terang nih: motif. Nampaknya ini yang menjadi titik tolak berbagai kegiatan kita. Entah apa motifnya. Bisa batik atau kotak-kotak... He he he . . . Edan Tenan....

Motif... terus apa motif binatang begini-begitu?
Apa motif pohon?
Apa motif batu? (Batu???)
Apa motif cuaca?
Apa motif alam ini bergerak-gerak?
 Wah... Sepertinya,,,  menuju ke titik gelap lagi nih... ke tahi lalat! Wahahahhaha Edan Tenan....

Serius dong WEB!!!
Di Baca temenanan ko maleh ndrenges rakaruan.
Oke-oke, serius...  Sepertinya kita harus petakan dulu.
Di mana sih letaknya motif?
Di insting, keputusan akal, atau dorongan perasaan?
Apakah binatang punya akal? Punya insting?
Pohon punya perasaan? Batu? Air? Angin? Udara? Hmmm... Coba kita lihat Qitab Suci:

"Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).' ...(dst.)" (QS 16: An-Nahl: 68-69). Makhluk-makhluk lain nampaknya bergerak berdasarkan wahyu / ilham secara langsung. Apakah kita sama seperti itu? Padahal kita lebih mulia di banding makhluk lainnya loh..!!!


Lha terus,,, untuk golongan batu, air, angin? "Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa'. Keduanya menjawab: 'Kami datang dengan suka hati'. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya....(dst.)". (QS 41: Fushilat: 11-12) Apakah Kita sudah seperti Batu, air dan angin itu? Padahal kita lebih mulia di banding mahkluk lainnya lo..!!!

Lalu bagaimana dengan kita Manusia Hidup?
Yang di Firmankan Oleh Tuhan menjadi lebih mulia di banding makhkluk-makhkluk lainnya?
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya". (QS 91: Asy-Syams: 8-10).

Waow... kayaknya manusia memang kasus khusus. Manusia masih diberi kesempatan / pilihan untuk menyucikan atau mengotori jiwanya. Mungkin ini sisi "kekhalifahan" manusia, mandat, otonomi. Boleh memilih ilham-ilham mana yang perlu dibuang, atau akan disimpan jiwa untuk dimaterialisasikan, drealisasikan. Untuk itu diperlukan akal laku. Keputusan akal laku ini yang dipertanggungjawabkan. Anak-anak yang masih "kurang akal", orang gila yang "hilang akal", atau orang pikun yang "akalnya sudah lemah", dapat discount khusus. Dis-count, tidak dihitung. (Dalam  Laku Spiritual Pikiran Manusia Hidup)

Begitukah..?!
Secara gampangya begitu. Meskipun kalo dibahas lebih jauh nggak sesederhana itu.
Menurut Pertanyaan Besar. "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfuz)." (QS 6: Al-An'aam: 59).

Tapi bottom line-nya sudah mulai kelihatan. Motif, niat, yang diilhamkan kepada jiwa harus dipilah-pilah. Karena yang kita materialisasikan, kita realisasikan, baik atau buruk akan berbalik sesuai niatnya. Meskipun realisasi / hasilnya mungkin beda, sejak masih baru niat, besitan pikiran, ide, whatever namanya, harus difilter yang sipz. Dengan begitu endless cycle yang terjadi dalam semua aktivitas manusia, sampai menjadi pola pikir, budaya, aturan, bisnis, hukum maupun politik bergerak membaik.

"Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" (QS 20: Thaha: 114)
He he he . . . Edan Tenan...:-)

Spiritual WEB;
Mungkin bukan hal besar bagi kebanyakan orang. Apalagi bagi orang-orang yang tidak lagi mempermasalahkan surga dan neraka, mereka yang sudah cukup ikhlas untuk menerima akan ditempatkan di mana saja. Tapi hal ini sudah lamaaaa sekali mengganggu pikiran saya. Dan mungkin juga sebagian orang lain... Gimana sih hubungan antara Surga, Neraka dengan Amal, Takdir dan KeadilanNya? Kok rasa-rasanya ada pertentangan secara logika. Padahal pemahaman atau teori yang benar-benar benar, mestinya harus tetap benar untuk berbagai kondisi. Tanpa dualisme kontekstual sebagaimana teori fisika klasik dengan teori relativitas.

Makanya sampai sekarang banyak fisikawan yang mencoba menyusun teori dasar baru yang berlaku umum, istilah mereka unified field theory, atau theory of everything. Dan nampaknya, kalau terasa ada pertentangan dengan kitab suci, maka pemahaman kitalah yang belum pas. Masalahnya mbah termasuk yang tidak berkesampatan belajar kitab suci secara intensif. Yang sempat pun juga kadang-kadang ditanyai nggak memuaskan jawabannya, "pokoknya percaya aja!". Kata pokoknya sangat susah diterima akal. Padahal kita memang dibekali akal. Selain itu kita juga sudah diperingati untuk mempergunakan akal dan tidak sekedar mengikuti nenek moyang bulat-bulat. Mungkin ini yang dibilang orang taklid buta. Sedangkan orang yang hilang akal, atau anak kecil yang dianggap belum mempunyai akal mencukupi, tidak dimintai pertanggungjawaban urusan dunianya. Berarti sebaliknya, yang akalnya ada harus mempertanggungjawabkan kesaksiannya. Iya tidak?

He he he . . . Edan Tenan... Sedulur...  Mari kita coba kupas satu persatu... Mulai dari data-data yang ada. Dari yang mudah dulu...

Surga dan Neraka;

Apa sih surga dan neraka itu? Gitu aja ditanyain! ...
Memang nggak ada yang aneh di sub judul ini, cuman biar nyambung saja alurnya. Bisa dilewati langsung ke sub judul di bawah.

Nobody knows exactly;
Dalam kitab suci hanya sedikit dijelaskan, mungkin karena termasuk hal ghaib bagi manusia. Dijelaskan dengan cara apapun, tidak akan terasa tepat. Sebagaimana menjelaskan warna kepada orang buta, atau nada kepada orang tuli. Tapi minimal memberikan sedikit gambaran daripada blank sama sekali, atau terpaksa percaya pada "pokoknya" atau "katanya nenek moyangku". Dari sedikit informasi yang ada, bisa disimpulkan tentang surga dan neraka kurang lebih sebagai berikut:

Surga = kenikmatan luar biasa; Neraka = penderitaan luar biasa.
Keduanya bertingkat-tingkat kelasnya.
Kenikmatan di surga dan penderitaan di neraka hanya dijelaskan secara simbolik. Karena pada hakikatnya tidak dapat dibandingkan dengan yang ada di dunia, tidak terbesit oleh pikiran dan hati manusia (dalam wawasan manusia). Jadi untuk membayangkan realitanya saja tidaklah mungkin, namanya juga hal ghaib.

Surga diisi orang-orang "baik", neraka diisi orang-orang "tidak baik".
Karena nggak ada data lain, kita terima dulu ini sebagai raw data. Karena kita memang perlu menerima data yang ada sebelum ada data lain yang lebih valid, tanpa judging dulu. Percaya dengan data yang ada meskipun ghaib, lebih mending daripada menganggap suatu data bohong. Karena membuang data berarti menutup peluang, minimal mengurangi ketelitian riset. Dengan lebih banyak data, minimal secara statistik error analisisnya makin kecil. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa pikiran kita akan selalu penasaran membuat hipotesa-hipotesa sendiri.

Amal, Takdir dan Keadilan;
Sekarang tentang amal dan takdir. Di sini kebingungan dimulai karena takdir yang juga ghaib mulai bercampur dengan amal yang nyata. Bagi kebanyakan orang, amal yang dilakukannya adalah atas usahanya sendiri. Padahal, pada di tempat lain dikatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada selembar daun pun jatuh kecuali atas izinNya. Apalagi amal yang begitu kompleks, dengan banyak metode ritual, dan banyak pihak yang terkait. Tentunya jauh dari sekedar usaha seseorang! Berarti seseorang beramal tentu karena izinNya, berdasarkan takdirnya yang sudah ditentukan.

Ada juga pernyataan bahwa doa dapat merubah takdir. Tapi bukankah seseorang akan berdoa atau tidak, baik untuk dirinya maumpun orang lain, juga termasuk takdir?!
Jadi, di mana otonomi manusia sebagai khalifah, kalau kejadiannya sudah ditentukan skenario besar yang disebut takdir?

Di mana poin seorang pelacur yang dikatakan Nabi akan masuk surga hanya gara-gara memberi minum anjing yang setengah mati kehausan?
Berarti sejak awal kita sudah ditentukan akan masuk surga atau neraka dong?!
Lalu di mana keadilan Tuhan?
Untuk apa kita ditempatkan di bumi?
Untuk diuji?
Apanya yang diuji kalau sudah ditentukan?
Bukankah ini sangat wajar kalau mengganggu pikiran?

Dari ngelmu gothak gathik gathuk lain (moga-moga saya masih diberi umur panjang untuk bisa menulisnya lagi nantinya), untuk sementara saya simpulkan bahwa yang jadi otonomi manusia adalah menggunakan akal untuk mengatur suasana hati. Istilah kerennya memperbaiki akhlak. Seperti tujuan utama diturunkannya agama, 'dien', petunjuk, juklak, metode, faham, falsafah. Atau terserah istilahnya asal nggak malah menimbulkan perpecahan, karena masing-masing membaggakan kelompoknya dan merendahkan yang lain. Pengesahan kesimpulan sementara ini juga ada pada sabda Nabi;

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada sepotong daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan bila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, sepotong daging itu ialah hati." (HR. Bukhari - Muslim).

Sedangkan keadilanNya adalah justru dengan memberi pilihan dengan otonomi itu. Kalau ditentukan kan nggak fair. Coba kita bandingkan dengan permisalan seorang pegawai yang melakukan kesalahan fatal. Lebih fair dipecat tanpa pilihan, atau diberi pilihan: "pilih potong gaji untuk denda kesalahnnya, turun jabatan, atau cari pekerjaan lain dengan pesangon?".

Pilihan mana yang lebih fair? Dengan asumsi bahwa otonomi kita hanya untuk mengatur suasana hati, maka itu berlaku sama untuk semua orang, dari jaman ke jaman. Entah kaya, miskin, jelek, cantik, sehat, atau cacat, selama bukan cacat mental. Ingat kan, yang tidak berakal bebas dari tanggung jawab. Meskipun kelihatannya masing-masing berbeda tantangan, tapi asumsi ini cukup masuk akal. Tingkat kesulitannya mungkin sama. Bagaimana yang diberi kelebihan harus bersyukur, dermawan, memerangi kesombongan, tetap ingat bahwa yang dimilikinya hanya titipan, dll.

Sedangkan yang diberi kekurangan harus bersabar menerima dan terus berusaha, tidak iri, memerangi godaan untuk mencuri, mencari pertolongan jin, dll. Di alam ini pun, orang sudah bisa merasakan siksaan perasaannya sendiri, jika salah pilih rasa-rasa jelek. Apalagi kalau sampai jadi perbuatan jelek dan dihukum.

Analogi Ayat-ayat di Alam;
Bagi kita-kita yang tidak mendapat kesempatan mempelajari ayat-ayat tersurat secara intesif, ternyata disediakan ayat-ayat tersirat di setiap sudut alam ini. Karena seluruh alam ini juga termasuk ayat-ayat yang tidak akan cukup dituliskan jika seluruh daun sebagai kertasnya, dan tintanya sebanyak air laut. Gimana mungkin cukup kalau setiap sel daun saja mengandung banyak ayat?!

Kejadian-kejadian alam mengikuti sunnahNya, ayat-ayatNya, tanpa otonomi memilih. Tersebar di mana-mana bagi semua yang mau membacanya. Dan banyak orang-orang yang tidak menyadari bahwa mereka telah berhasil menyampaikan ayat demi ayat dalam bentuk teori ilmiah. Orang-orang ini sering disebut sebagai ilmuwan. Banyak yang atheis. Tapi mereka bersungguh-sungguh mencari kebenaran dengan cara mereka. Dan mungkin memang untuk itulah mereka diciptakan. Hasilnya memang tidak sedahsyat ayat-ayat yang tersurat. Tapi untuk yang masih ecek-ecek eyes seperti WEB ini, nggak mudheng kalau langsung ke ayat-ayat tersurat yang dahsyat. Silau man! Yang gampang-gampang aja dulu. Yang tersurat saya tempatkan sebagai kunci jawaban. Jiplakan untuk mengcross-check bacaan yang tersirat, yang mungkin saja tercampur dengan kepentingan penyampainya atau mengandung error.

Untuk memahami keberadaan surga dan neraka, gejala-gejala alam terbaca yang mungkin bisa dijadikan analogi (qiyas) antara lain ini:

Resonansi;
Kecenderungan like atract like dan keseimbangan.
Materi adalah getaran energi, kumpulan standing wave.
Pembiasan cahaya pada prisma.
Resonansi hati

Suasana hati akan mempengaruhi jalan pikiran. Jenis objek pikiran menentukan apa yang diputuskan, dikatakan, atau dilakukan. Orang yang memelihara rasa benci misalnya, pikiranya nggak akan jauh-jauh dari urusan balas dendam. Dan yang dilakukan akan mempengaruhi benda di sekitarnya, masuk ke pikiran orang-orang lain di sekitarnya melalui indra mereka, sampai akhirnya ke hati. Sering kita lihat dalam satu kelompok orang, jika ada satu yang marah, maka biasanya akan saling marah satu sama lain. Begitu juga jika ada yang memulai ketawa atau termehek-mehek. Yang lain mengikuti seperti reaksi berantai. Tapi jika frekuensi dasarnya tidak sama, orang tidak akan mudah terpengaruh. Mirip dengan gejala resonansi dalam fisika. Setiap orang pada dasarnya selalu mendakwahkan suasana hatinya melalui resonansi tanpa disadari. Orang perlu membiasakan diri cukup lama agar frekuensi dasarnya bergeser.

Like atract like dan keseimbangan;
Misalnya dalam suatu pesta prasmanan terdapat banyak tipe orang yang saling tidak mengenal. Kemudian satu dua orang mulai ngobrol. Pindah orang, ngobrol lagi, dst. Jika waktunya cukup, maka lama-lama akan terbentuk dengan sendirinya kelompok-kelompok orang yang merasa saling cocok. Kecendrungan ini tidak hanya pada manusia, tapi banyak juga ditemui dalam berbagai gejala alam. Bagaimana menggumpalnya kabut membentuk planet-planet, terbentuknya ekosistem tumbuhan maupun hewan, berbagai reaksi kimia, dan lain-lain.

Tetapi jika suatu gumpalan kelompok menjadi terlalu besar, akan berlaku hukum kesimbangan. Berubah atau hancur. Hal ini nampaknya diperlukan untuk menjaga dinamika kejadian. Berlangsungnya proses penciptaan. Kelompok besar akan pecah, atau bergabung dengan yang lain melalui suatu reaksi tertentu. Orang mengalami kebosanan pada keramaian kelompoknya dan pindah kelompok lain, bintang-bintang meradiasikan materinya dalam bentuk radiasi dan foton ke planet yang lebih kecil, kelompok predator yang menghabiskan mangsa akan mati kelaparan, kalor berpindah dari benda panas ke benda dingin, dan lain-lain.

Semua adalah getaran;
Dari dua fenomena di atas saja sudah cukup meyakinkan bahwa pada dasarnya semua adalah getaran. Gerakan naik-turun, mengembang-mengempis, berputar CW-CCW, fluktuasi dalam berbagai frekuensi yang bercampur, namun harmonis. Ada nada bass yang periodenya sangat lama sampai-sampai gerakannya tidak disadari, mungkin hanya bergetar sekali tiap jutaan tahun. Atau nada treble yang sangat tinggi sehingga tidak terdeteksi alat apapun. Ada yang mendengung dan ada yang ritmis. Setiap frekuensi dalam range spektrum tertentu menimbulkan fenomena yang berbeda-beda. Satu contoh fakta yang cukup menarik, bahwa warna hijau ternyata adalah frekuensi nada C pada oktaf ke 32.

Nuansa yang terbentuk dalam persepsi terasa mirip. Bahkan bumi mempunyai nada dasar, schumann frequency. Frekuensi gelombang otak juga menunjukkan kondisi seseorang, apakah sedang santai, semangat, atau tidur. Percobaan menggetarkan non-newtonian fluid pada berbagai frekuensi juga menujukkan fenomena yang unik. Menggambarkan pembentukan berbagai jenis materi, mendekati pola-pola platonic solids. Intinya, makin banyak penelitian yang membuktikan bahwa semuanya adalah getaran. Termasuk quark, bentuk terkecil materi yang sudah terdeksi saat ini, dicurigai hanya pusaran gelombang elektomagnetik bergetar, relatif diam di tempat, standing wave istilahnya. Bergesernya getaran kumpulan quark tersebut yang mebuat seolah-olah elektron yang dibentuknya bergerak mengorbit proton dan neutron, yang notabene tersusun dari quark-quark juga. Semua bertasbih dengan caranya masing-masing. Menjaga ayat-ayat untuk kita baca.

Sampai di sini kita perlu berhenti sejenak... Jadi, apa arti benda nyata?
Kenapa kita mesti terbius dengan perasaan memiliki atau kehilangan harta benda, yang ternyata hanya konser gelombang elektromagnetik?
Mana yang lebih nyata, materi atau persepsi kita?

Bagaimana kalau musiknya berubah, atau persepsi kita yang di-tuning ulang ke range frekuensi yang sebelumnya tidak terdeksi alat apapun? Tentunya semua yang ada seolah-olah akan lenyap, dan sesuatu yang tidak terbersit oleh pikiran dan hati manusia akan muncul!!!

Dalam film MATRIX, ada satu tokoh antagonis yang berkata "Ketidaktahuan (tertipu fenomena kenikmatan dalam dunia matrix) adalah suatu berkah", sambil minum anggur. Dia justru menyesal mengetahui bahwa rasa anggur yang diminumnya ternyata hanyalah sinyal-sinyal yang diinjeksikan ke dalam otaknya. Begitukah pilihan kita?

Hipotesis surga dan neraka;
Kembali ke permasalahan awal. Gimana sih logisnya pemahaman tentang kaitan keadilanNya, ketetapanNya, dengan masalah amal, surga dan neraka?
Apakah ketetapannya akan berubah karena doa kita?

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS [30]Ar-Ruum : 30)

He he he . . . Edan Tenan... Who's in charge?? You???
Pertanyaan BESAR bukan?
Ok deh,,, pertama kita harus mengakui bahwa kita not in charge, not even a thing! We are nothing!! Terus, ngapain coba?

Hehe.:-) ... Terus terang kita memang akhirnya harus pasrah dan ikhlas mau diapain aja. Tapi coba kita lihat the bright side, bahwa sebagian ketetapanNya yang pasti, sudah dibocorkan lewat ayat-ayatNya dalam berbagai simbol kejadian alam, dan kita dibekali juga kunci jawaban berupa ayat-ayat yang tersurat. Kunci ini yang akan mengiyakan atau menidakkan bacaan kita atas fenomena alam. Antara lain dikatakan bahwa manusia yang baik dan jahat akan dipisahkan nantinya. Tahap dahsyat ini yang disebut kiamat besar. Dan tahapannya juga tidak sekali jadi.

Ada berbagai tahap yang disimbolkan dengan padang ma'syar, shirotul mustaqim, pengadilan akbar, pelunasan dosa di neraka, dan mungkin ada banyak lagi informasi yang belum dibocorkan. Yang baik dikumpulkan dengan yang baik, dan sebaliknya. Ini masih matching dengan hukum like atract like. Pemisahan ini mungkin juga bisa dianalogikan dengan fenomena pembiasan cahaya yang melewati prisma. Suatu separator frekuensi yang akan mengelompokkan seluruh frekuensi-frekuensi di jagat ini. Termasuk berbagai frekuensi kebaikan dan kejahatan. Tahapanya juga sangat mungkin berulang-ulang, sejumlah macam alam nanti.

Sampai pada akhirnya, setiap kecenderungan jiwa menjadi terpisah dalam beberapa kumpulan yan masing-masing yang mendekati homogen. Seperti terpisahnya warna putih menjadi me-ji-ku-hi-bi-ni-u pelangi oleh prisma kiamat. Ke dalam situasi yang disebut sebagai tingkat-tingkatan surga dan neraka. Manusia juga dilipatgandakan seluruh aspek kehidupannya. Umurnya, persepsinya terhadap kenikmatan, kekuatan dan daya tahannya. Sampai bisa survive dan recover meskipun dibakar atau dipotong-potong. Kenikmatan dan kesakitan yang dirasakan juga berlipat ganda. Seandainya dalam kondisi seperti ini, dan dengan keadilanNya semua kelompok diberi modal yang sama, katakanlah mirip dengan dunia ini, agar mudah dibayangan... Apa yang kira-kira akan terjadi? Hayo....

Jika keadaannya seperti ini, tentunya kumpulan jiwa-jiwa baik akan saling mengasihi dan bahu-membahu membangun surga mereka. Sedangkan kumpulan jiwa-jiwa jahat akan saling marah, benci, perang, dan menyiksa satu sama lain. Mereka akan membuat neraka mereka sendiri. "Itulah ayat-ayat Allah,

“Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hambaNya." (QS [3]Al-Imron : 107). "Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS [43]Az-zukhruf : 76).

Cukup ya?
Rasanya hipotesis ini sementara cukup memuaskan kebingungan saya selama ini. Nggak tahu dengan sampeyan-sampeyan. Kalo ini dianggap mengada-ada ya monggo. Tapi maksud saya hanya sekedar mengurangi keraguan karena serangan kebodohan pikiran sendiri. Dengan menulisnya semoga bisa bermanfaat bagi yang punya keraguan yang sama. Yang perlu kita ingat lagi adalah: We are nothing!!  Karena itu juga kita hanya bisa meraba-raba. Tidak ada seorang pun yang tahu  yang sesungguhnya, kecuali dikehendaki. Itu pun kayaknya peluangnya tipis.

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS [31]Luqman : 34).

Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Brebes  Rabu tgl 24 Des 2014

Selasa, 23 Desember 2014

Mendaki Itu Memang Susah/Sulit:

Dari jaman ADAM HAWA (Purbakala) hingga jaman milinium sekarang ini.
Pasti tau lah, kalau yang di sebut Mendaki Itu Memang Susah/Sulit:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Selasa  tgl 23 Des 2014

Dalam membangun  cita-cita, saya sering berhadapan dengan realitas yang kurang menyenangkan. Bagaimana tidak, cita-cita yang mau saya bangun itu terasa masih terlalu jauh. Belum bisa memberikan sedikitpun “penghasilan”  “untuk “ Kehidupan saya  sekarang ini.

Apa akal?
Apakah saya harus lupakan saja  cita-cita itu?
Apakah saya mundur?
Menyerah?
Waow … saya akui itu memang solusi yang paling mudah.
Tapi,,, bukankah memang jalan mendaki itu pasti memang sulit?

Saya sering terinspirasi quote itu. Ketika saya menghadapi masalah, lalu begitu mudah saja penyelesaiannya, saya malah curiga, hasilnya nggak bener. Namun ketika ada persoalan, lalu saya rasakan makin sulit menyelesaikannya, saya malahan tambah gembira. “Ini pasti oyes hasilnya”.

Beberapa kali saya mengalami peristiwa-peristiwa yang membuktikan kebenaran hal itu. Yang paling terasa bila saya sedang berspiritual keTuhanan. Saya memang beberapa kali berhasil mencapai titik kesempurna’an dari laku spiritual untuk beberapa dimensi yang harus di lalui dan di lakukan oleh semua para laku spiritual... Saat saya memutuskan naik ke peringkat dimensi spiritual selanjutnya, saya sudah bilang pada diri saya, saya harus bisa berhasil menjadi  pencapai  pertama sebelum ada yang bisa mencapainya. Bukan yang kedua atau ketiga atau gagal. Lha buat apa saya gigih dalam laku spiritual, kalau niatnya cuma iseng-iseng dan memble aje. Kalau kata Si Almarhum gombloh... He he he . . . Edan Tenan.

Ketika saya memulai proses laku spiritual dengan kegigihan dan semangat  juang  45... He he he . . . Edan Tenan, justru  saya jadi stress berat. Tiba-tiba semua kemampuan saya mandul. Tiba-tiba ide-ide macet. Saya jadi heran juga. Mungkin karena targetnya terlalu tinggi, jadi malahan “nggak bisa” laku.

Tapi memang, alangkah mudahnya untuk memilih jalan menurun. Mudah sekali untuk mundur. Gampang sekali untuk menyerah, berhenti. Tapi biasanya kalau itu benar-benar saya lakukan, beberapa hari kemudian, akan timbul penyesalan. “Ah,,, seandainya dulu saya teruskan ….”

Dalam situasi begitu saya selalu teringat firman Tuhan, “Sesudah kesulitan pasti datang kemudahan“. Alhamdulillah datanglah “ RASA” yang menjadikan perasa’an saya kembali tenang, hingga munculah keyakinan, bahwa saya berada “on the right track“. Dan memang, hasilnya saya jadi pencapai pertama. Tiga kali saya laku mencapai tingkatan dimensi keTuhanan, tiga-tiganya alhamdulillah menjadikan saya sebagai pencapai  pertama, untuk beberapa dimensi laku spiritual Hakekat Hidup, sebelum ada yang yang mencapainya.

Karena itulah ketika saya menghadapi kesulitan demi kesulitan dalam membangun impian saya, tak ada yang lebih menghibur saya kecuali “ IMAN” “ RASA” dengan “ KUNCI” itu. Saya menyebutnya sebagai “principle of success“, sebagai sunnatullah menuju sukses. Memang itulah jalan yang benar menuju sukses.

Bagi saya,,, kesulitan-kesulitan yang saya alami, saya anggap sebagai “ciri-ciri” bahwa saya akan berhasil. Karena itu, semakin sulit, maka semakin saya semangat. Buat saya ia menjadi “tanda-tanda” bahwa apa yang sedang saya lakukan akan membuahkan hasil yang saya inginkan, sesuai FirmanNYA. Sungguh saya mengalaminya sendiri. Bukan katanya... Tapi saya kurang tahu apakah orang lain juga mengalaminya. Bisakah anda membagikan pengalaman anda..?
Silahkan Berbagi bersama dengan saya. . . Wong Edan Bagu:
Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com
Brebes  Selasa tgl 23 Des 2014