Longa-longo kaya Kebo:

SEPERTI sudah kebiasaan, setiap akhir tahun ajaran selalu saja terdengar bermacam sesambat di mana-mana. Mulai biaya pendidikan yang makin mencekik, masuk sekolah favorit sulit, ribut ujian nasional, nilai ijazah merosot, lulus sekolah cari kerja setengah mati, dan masih banyak lagi. Boleh jadi, gara-gara frustasi terhadap pendidikan kita yang, konon, semrawut itu, muncul berbagai sikap pendapat miring yang juga terkesan neka-neka dan kebablasan. Misalnya, ada kalangan yang mulai tidak percaya dengan pendidikan di Indonesia, kemudian menerbitkan buku yang berjudul Sekolah Itu Candu, Emoh Sekolah, dan lain-lain.

Contoh nyata hal itu terjadi pada teman saya yang terang-terangan menyatakan emoh menyekolahkan anaknya ke sekolah formal. Bagaimana saya tahu, kisahnya demikian. Ketika kira-kira pukul sepuluh pagi saya berkunjung ke rumahnya, yang menyilakan masuk anak laki-lakinya. Umur anak itu tiga belas atau empat belas tahunan. Ingat bahwa hari itu bukan hari libur, saya bertanya, Lho, jam segini kok sudah pulang?

Pulang dari mana?
Pulang sekolah...
Untuk apa sekolah?

Ketika saya masih tertegun mendengar jawabannya, teman saya keluar dan langsung memberitahu, Masa kamu nggak tahu? Sejak kecil dia tidak pernah saya masukkan sekolah, kan? Untuk apa? Belajar di rumah saja bisa. Ngapain repot-repot. Nyatanya, kepandaiannya nggak kalah dengan anak-anak yang sekolah setiap hari.

Dari pengakuannya pula saya tahu, bahwa dulu si anak memang pernah masuk kelas satu SD, tetapi mogok karena tidak mau mengikuti aturan sekolah yang ditetapkan. Dua tahun lalu si anak pun sempat didaftarkan ikut Ebtanas di SD setempat, sebab orang sekeluarga yakin ilmu pengetahuannya cukup untuk mengerjakan soal-soal Ebtanas. Tetapi, pihak SD tidak mengizinkan. Alasannya, Ebtanas hanya untuk siswa yang telah menempuh pendidikan kelas satu sampai kelas enam. Sambil bersungut-sungut, dia mengisahkan kejadian itu dengan nada tinggi. Itulah sekolah kita. Mereka tidak menghargai kepandaian anak, yang dilihat cuma duit, aturan, kebijaksanaan, undang-undang....

Lain kali saya menemukan kasus yang tak kurang anehnya pula. Ketika pada suatu siang mampir ke rumah teman yang juga sudah akrab, saya diajak makan. Anaknya yang yang baru satu, laki-laki dan umurnya lebih kurang empat tahun, nakalnya bukan main. Sambil setengah merajuk dia nimbrung makan bersama kami. Yang terasa janggal, cara makan si anak benar-benar tanpa aturan. Menyendok sayur langsung diminum, ngambil nasi dari cething langsung disuapkan ke mulutnya, makannya kadang pakai sendok, kemudian pakai tangan. Itu pun bukan dengan tangan kanan saja, tangan kiri pun ikut juga maju. Melihat perilakunya, saya menegur. Le, Nek maem sing apik, ta. Muluke nganggo tangan tengen wae, ora pareng nganggo tangan kiwa.

Nasihat saya tidak digubris sedikit pun, dan bapaknya malah membela. Sudahlah, Pakdhe. Biarkan saja apa maunya. Dia itu makannya sulit. Belum tentu sehari makan sekali. Apalagi kalau diganggu, salah-salah ngamuk, dua hari nggak mau makan...

Bagi saya, kasunyatan aeng yang saya alami itu sungguh luar biasa. Benar-benar kaelokaning jagad, sekaligus menandai wolak-waliking jaman. Dan kalau ingat kejadian itu, saya jadi ngengleng sendiri. Ternyata runtuhnya kepercayaan terhadap pendidikan, pengajaran, sekolah, nasihat, atau dalam bahasa Jawa: piwulang luhur, diam-diam mulai ada, dan kalau dibiarkan dapat menjelma penyakit baru dalam masyarakat.

Rasanya, apabila membiarkan sikap pendapat itu berkembang sama halnya melecehkan perjuangan Dokter Wahidin Soedirohoesodo pada masa lalu. Melecehkan jerih payah Ki Hajar Dewantara yang merintis landasan pendidikan nasional kita. Berdasarkan catatan sejarah, tahun 1906 Dokter Wahidin sempat keraya-raya melakukan perjalanan keliling Jawa, sowan para bupati, priayi, saudagar kaya, dan kaum terpelajar lain untuk mendukung usahanya mengumpulkan dana yang akan digunakan sebagai bea siswa bagi anak-anak pribumi. Artinya, mereka tidak rela anak-anak dibiarkan bodoh dan diejek: Bocah bodho longa-longo kaya kebo.

Dalam kasus pertama, mungkin saja kedua orang tuanya mampu mengajarnya untuk ilmu pengetahuan setingkat SD. Tetapi, apakah dia juga mampu mengajarkan ilmu pengetahuan untuk SMP, SMA, dan perguruan tinggi? Misalnya punya, apakah mereka juga memiliki kemampuan mengajar sebagus guru dan dosen? Selain itu, sekolah bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Tetapi juga tempat belajar srawung, mengenal dunia luar, dan lain-lain. Pada kasus kedua, keliru besar jika orang tua tidak memberikan nasihat serta piwulang yang baik dan benar kepada anak-anaknya. Karena seperti yang difatwakan Ki Hajar Dewantara, kepribadian setiap anak akan berkembang dengan cara niteni-nirokake-nambahi (N-3). Jadi, piwulang, pitutur, dan pamulangan mutlak perlu bagi anak-anak supaya nanti mereka tidak terkena ejekan: kacang mangsa ninggala lanjarane. ... He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr... 

Semoga Bermanfa’at. Amiin
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan

Tidak ada komentar