"Kembange Wong Turu" yang Menatah Kehidupan:

DI manakah mimpi mesti ditempatkan dalam panggung kesadaran manusia Jawa? Sekadar kembange wong turu ataukah bisa menjadi semacam pambukaning warana (penguak tabir) atas peristiwa yang masih menjadi rahasia semesta lantaran belum tergelar? Mimpikah yang menginspirasi kehidupan, atau sebaliknya, kehidupanlah yang menginspirasi mimpi?

Demi menuruti rengekan Dewi Setyawati, Bagaspati harus keluar dari pertapaannya untuk mencari laki-laki yang pernah singgah dalam mimpi putri semata wayangnya itu. Malam-malam ketika tidur, Setyawati bermimpi bertemu dengan lelaki tampan perkasa bernama Narasoma.

Setyawati yakin, mimpinya bukan sekadar "kembange wong turu". Mimpinya adalah kenyataan yang mesti diwujudkan lebih wewentehan.

Bersusah payah Bagaspati mencari lelaki itu, meski bagi seorang begawan sakti macam dia, pasti selalu ada jalan untuk menunaikan permintaan sang anak. Benar, berhasil ia bertemu dengan Narasoma. Ketika dikatakan bahwa maksudnya memboyong Narasoma untuk dikawinkan dengan putrinya, ksatria itu menolak demi melihat sosok Bagaspati yang berwujud raksasa itu. Ia bayangkan, pastilah putrinya juga buruk rupa seperti bapaknya.

Dengan kesaktiannya, Bagaspati berhasil memboyong Narasoma ke hadapan putrinya. Setyawati berhasil mengubah mimpinya jadi kenyataan. Ia pun kemudian diperistri Narasoma, yang kelak berjuluk Prabu Salyapati, meski harus ditebus dengan nyawa Bagaspati. Itu lantaran Narasoma berpendirian, tak mungkin seorang ksatria bermertuakan raksasa.

Tak hanya kisah pewayangan, cerita rakyat dari Pati pun menampilkan mimpi sebagai penggerak cerita. Adalah Nyi Ageng Kiringan yang merasa galau setelah malam sebelumnya ia bermimpi diberi buah jambe oleh seorang laki-laki berperawakan tinggi yang mengenakan pakaian serbaputih. Karena itu, ia meminta suaminya untuk mengartikan mimpinya itu.

Merasa tak mampu memecahkan persoalan istrinya, Ki Ageng Kiringan nyorowidekake mimpi itu ke Kesunanan Muria, kepada Sunan Muria Kusumastuti. Kebetulan orang alim itu sedang menerima dua tamu, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Sunan Muria merasa tak mampu untuk memaknai mimpi Nyi Ageng. Sunan Bonang mengatakan, Nyi Ageng akan mendapatkan anugerah besar dari Yang Mahakuasa. Dan ramalan Sunan Kalijaga tak tanggung-tanggung: sebentar lagi dari rahim Nyi Ageng Kiringan akan lahir seorang anak laki-laki -sesuatu yang kemudin menjadi "kenyataan" dengan kelahiran Saridin.

Sistem Tanda;
Jika seorang perempuan yang sedang mengandung bermimpi mendapatkan burung, tak sedikit yang meyakini ia akan beroleh anak laki-laki. Jika seseorang bermimpi giginya tanggal, diyakini ada sanak saudaranya yang bakal meninggal. Jika seorang gadis mimpi digigit ular, itu tandanya ia akan segera mendapatkan laki-laki.

Bagi sebagian orang Jawa, mimpi memang telah menjelma sebagai semacam sistem tanda. Ia datang sebagai sebentuk semiotika atas rahasia alam ataupun takdir yang belum tergelar -sesuatu yang senantiasa membuat manusia penasaran dan ingin memperolehnya.

Sebagai sistem tanda, tentu ia juga memiliki semacam paradigma. Karena itu, dibutuhkan seperangkat bekal untuk menyibak rahasianya. Maka lahirlah apa yang disebut (ilmu) tafsir mimpi, yang disebut-sebut dimiliki oleh mereka yang disebut "wong pinter".

Kehadiran "kawruh impen" juga tak bisa dilepaskan dari ngelmu titen -sebuah paradigma yang begitu khas dalam alam pikir Jawa. Yakni "ilmu" yang mendasarkan diri pada hal-hal yang bersifat empirik yang kemudian menjadi ingatan kolektif (dititeni)

Meski demikian, tak semua yang hadir saat tidur pantas disebut sebagai impen. Ada yang betul-betul impen, tapi tak sedikit yang sekadar impen-impenen. Impen-impenen hanyalah gambaran atau adegan yang muncul karena siang sebelumnya membicarakan atau memikirkan hal itu. Sebaliknya impen, nyaris tak punya hubungan langsung dengan apa yang sedang dibayangkan atau baru saja dibicarakan olah yang bermimpi.

Mimpi yang dianggap mustajab adalah mimpi yang hadir pada waktu tertentu. Setiap penggalan waktu, dalam klasifikasi waktu khas Jawa, memiliki kadar yang berbeda atas kebermaknaan mimpi. Ada waktu yang tergolongkan sebagai titiyoni, ada yang disebut gandayoni, dan ada pula yang dinamai puspatajem. Yang disebut terakhir inilah yang dianggap waktu "keramat" untuk mimpi. Pada waktu itulah impian yang muncul bisa dianggap benar-benar sebagai impen.

Tak hanya kesadaran temporal, mimpi pun perlu di-setting dalam kesadaran spasial. Tak sedikit yang meyakini, tidur di tempat-tempat yang dianggap keramat, orang bisa mendapatkan wisik (petunjuk gaib) melalui mimpi. Karena itu, tak perlu heran jika di banyak makam keramat dan petilasan banyak orang yang nenepi (menyepi) dan tidur dengan harapan tidurnya menjadi ajang turunnya wisik. Termasuk pada beberapa tahun lalu ketika toto gelap masih menjamur, ia dipercaya bisa dijadikan sarana untuk mencari nomor buntutan.

Lebih dari kesadaran temporal dan spasial macam itu, "kualitas" tidur juga bisa menjadi tolok ukurnya. Orang yang suka tidur, bahkan tidurnya berjam-jam hingga melebihi batas kewajaran, mimpinya sering dianggap sebagai sekadar "kembangane wong turu". Tak punya arti apa-apa. Sebab, orang macam itu bukan golongan manusia yang bisa cegah dhahar kalawan guling.

Demikian pula pada orang yang belum bisa "tidur", melainkan baru "tertidur". Sebab, wisik dan isyarat ilahiah itu hanya hadir pada mereka yang turu eling, bukan pada mereka yang cuma turu lali atau tertidur. Hadir pada mereka yang sanggup "liyep layaping aluyup/ pindha pesating sumpena/ sumusing rasa jati".

Namun, ketika kemudian muncul anggapan bahwa yang akan benar-benar terjadi adalah berkebalikan dari yang hadir dalam mimpi, itukah awal dari ketidakpercayaan terhadap mimpi? Ataukah sekadar upaya untuk melakukan relativikasi terhadap mimpi? . ... He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu Lurr... 

Semoga Bermanfa’at. Amiin
Ttd: Wong Edan Bagu

Pengembara Tanah Pasundan

Tidak ada komentar