Belajar Toleransi Dari Ayam dan Anjing-ku:

Mengenal diri sendiri, adalah topik basi yang sudah di tulis oleh banyak orang. Pembacapun sepertinya sudah bosan untuk membacanya karena arah atau kesimpulannya nyaris bisa ditebak bukan? Namun kali ini Dongbud tetap ngotot untuk menampilkan tulisan dengan topik tidak kreatif ini. Kenapa? Enggak tahulah, mungkin karena gaya bahasa yang rada unik dan menggelitik, ringkas, sederhana dan mudah dipahami. Atau mungkin juga karena kesimpulannya yang Uedan tenan alias tidak nyambung,,, jadi klop dengan Nama penulisnya, yaitu Wong Edan Bagu ini yang memang uedan Tenan.... Selamat membaca.

Wahai manusia,,, Di dalam CINTA. Belajarlah ilmu kasih, ilmu toleransi, dan ilmu berbagi pada anjing2 dan ayam-ayamku ini..!!” Jangan Cuma Tumpakan. Icik2 eyes. Laqi. Ngewe thok yang kamu ketahui tentang CINTA... Wakakakkakakka.... Rasa saling pengertian, kerukunan, saling berbagi, saling asah-asih dan asuh yg seringkali di klaim sebagai buah dari kesadaran budi manusia itu ternyata bukan cuma milik manusia saja.

Kalau manusia pada umumnya hanya peduli pada sesama kelompoknya saja, baik itu kelompoknya yang disebut suku, kelompok bisnis, profesi maupun kelompok yang ngakunya paling berbudi karena seturut dengan perintah tuhannya (kelompok agama). Nah hewan-hewan peliharaanku ini yg jelas-jelas berlainan jenisnya yaitu mahluk yang disebut oleh manusia dgn sebutan anjing dan ayam ini malah bisa saling ASAH-ASIH dan ASUH tanpa saya ajari.


Anjing yang paling besar (si belang) merelakan jatah makannya dinikmati juga oleh 2 ekor anak anjing (si putih dan si coklat) yang bukan anak kandungnya. Bahkan anjing-anjing ini pun merelakan sebagian jatah makannya dinikmati juga oleh beberapa ekor ayam2ku. Mereka makan bersama, tanpa saling sikut apalagi saling sikat atau saling bantai.

Kita manusia perlu belajar ilmu kesadaran tingkat tinggi. Karena kita berasala dari tingkat tinggi, bukan tingkat rendahan. Kalau manusia-manusia di Mesir saling sikat, sikut dan saling bantai antar sesamanya karena berebut kue kekuasaan, maka mereka perlu belajar ilmu keikhlasan pada anjing dan ayam2ku ini. Kalau manusia beragama di negeri ini masih saling sikut, sikat dan saling bantai serta saling mengkafir2kan sesamanya seperti kasus ahmadiyah maupun syiah, maka mereka perlu merenungkan foto-foto ini sejenak. Renungkanlah dengan kejujuran hati dan kejernihan pikiran…….

Sungguh, hewan2 ini tidaklah pernah saya sekolahkan. Merekapun tidak beragama, tidak juga belajar etika .namun mereka sungguh punya kesadaran tingkat tuhan itu sendiri untuk berbagi dan makan bersama dgn damai. Walaupun yg mereka makan hanya nasi saja, tanpa lauk atau sayur apapun.

Smoga semua mahluk berbahagia... Dalam beragam budaya dan agamanya masing, namun 1 iman yaitu MAHA SUCI HIDUP... Salam Rahayu Lurr....
. . . . . . oo O oo . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Oke…. Dulu kukira mengenali diri sendiri itu yang gimana ya,,,duh…pasti susah. Apalagi kabar yang beredar bilang “Yg telah mengenali dirinya pasti mengenal Tuhannya”. Waauw…..pasti kelas berat.. nih,,,,hehe 

Rupanya sekarang baru paham saya, bahwa mengenali diri sendiri (salah satu, contoh yang paling gampang) adalah dengan mengerti ‘Apa yg dirasakan tdk enak buat diri jgn dikasi ke orang lain’ dan sebaliknya. Intinya toleransi.

Harapannya, dengan toleransi tinggi akan terjalin saling pengertian/saling jaga perasaan. Saling pengertian tersebut tentu membentuk keharmonisan. Keharmonisan akan memperkecil peluang perselisihan. Bila tak ada perselisihan tak akan ada perang. Tak ada perang berarti tak ada korban. Tak ada korban tak ada yg berduka, bersedih dan mendendam. Tujuan akhirnya, dunia tentrem adem guyub rukun langgeng seanak turun.

Oooo…gitu toh…wakakawakaka… “wong edan2x..” Edan Pancen Koe... WEB

Pantesan embah2 kita dulu meski terkenal abangan tapi jarang marah2 gara2 hal sepele. Enggak kaya sekarang,,, dimana2 kesenggol dikit marah, dikit2 tersinggung. Ga di kasih jatah Tumpakan semalam saja sama bojo... Marah, yang itulah yang inilah, padahal bisanya ngga di kasih itu karena lagi palang merah,,,, wakakakakakka.... Sensitivitas tinggi. Kalau parabola mending….lha ini, manusia jee...? wakawakaka……. Edan Tenan.

Kesimpulan :
Toleransi rendah,,, ego mencuat,,, adalah modal awal menghancurkan diri sendiri, keluarga, negara, bahkan dunia (WEB)

Ttd:
Wong Edan BaGu
Purbalingga Minggu: 23-03-2014

Tidak ada komentar