Merobohkan Doktrin:

“Syariat tanpa hakikat KAFIR, hakikat tanpa syariat SESAT” demikianlah doktrin yang dikeluarkan oleh para pendahulu kita , tanpa terasa doktrin yang sudah berumur ratusan tahun itu sudah mematerai di alam bawah sadar kita, seolah-olah adalah suatu yang mutlak tidak bisa diganggu gugat. Padahal, kalau lah belajar mengenal diri maka sebenarnya diri kita benar-benar mutlak terkonsen pada diri sejati kita sendiri, dengan kata lain sudah PERCAYA DIRI. Tidak ada lagi pendapat dari luar dirinya, termasuk dari segala jenis kitab suci yang ada. Sebenarnya doktrin di atas secara tidak langsung sudah menjadi BARRIER/ Tembok penghalang yang luar biasa terhadap laju kesadaran diri kita. Alangkah sia-sianya ummat islam belajar makrifatullah tapi pemikirannya masih terganjal oleh sesuatu doktrin atau dogma. Sehingga yang terjadi adalah perjalanan makrifat yang berputar-putar di tempat penuh ilusif semata.

Menurut pendapat saya pribadi yang dinamakan SYARIAT itu adalah sesuatu dalam diri kita yang bekerja, yang kita sebut dengan AKAL/ Logika berpikir. Sedangkan HAKIKAT itu adalah sesuatu dalam diri kita yang memberikan pertimbangan yaitu HATI. Jadi berspiritual bila hanya mengandalkan mutlak logika berpikir nya saja tanpa melibatkan hati maka yang terjadi adalah akan menganggap kebenaran Tuhan itu adalah sesuatu yang bersifat materi/ kebendaan dan fenomena, maka dari perjalanan ini lahirlah filsuf-filsuf ateis, para orientalis, ilmuwan-ilmuwan dll. Sedangkan bila hanya mengandalkan mutlak HATI/ perasaannya saja tanpa melibatkan logika berpikirnya yang menganggap kebenaran Tuhan itu adalah sesuatu yang mistis maka akan menghasilkan para agamis yang cenderung fundamentalis dan fanatik, paranormal, dukun dll. Keseimbangan syariat dan hakikat adalah KESELARASAN akal dan hati, lebih jauh adalah akal adalah wujud pertama kita ( jasad) dan hati adalah wujud kedua kita ( jiwa ). Keselarasan akal dan hati itulah KESEIMBANGAN, lebih jauh lagi saya menyebutkan adanya kebersatuan antara diri kita yang rendah dengan diri kita yang tinggi, atau kebersatuan dengan Tuhan, atau kebersatuan dalam AKU.

Jadi sangat rendah dan tidak berbobot bila kita selalu mendefinisikan makna syariat ke ritualitas agama, terjadinya degradasi makna syariat ini ke sesuatu yang sempit karena adalah faktor doktrin yang turun temurun sudah ada di dalam bawah sadarnya dan faktor lingkungan yang kaku. Untuk membebaskan kekakuan berpikir itu maka tak ada cara lain adalah memerdekakan kemerdekaan berpikir dan berpendapat tentang apa saja baik itu menyangkut dunia maupun akhirat. Hati yang terpenjara adalah sama saja dengan memenjarakan Tuhan, terpenjaranya hati karena kondisi kejiwaan diliputi perasaan TAKUT. Perasaan ketakutan itu timbul dari emosi yang rendah, coba cek saja sejauh mana kadar perasaan takut anda sekarang ? karena biasanya orang itu ketika menemukan sesuatu hal yang baru, yang terlintas pertama dalam hatinya adalah perasaan TAKUT. Takut karena dirinya tidak mau menjadi sesat, takut dirinya menjadi penghuni neraka, takut dirinya menjadi tidak waras, takut dirinya menjadi miskin, takut dirinya menjadi terkucil, takut dirinya menjadi bahan cemoohan masyarakat.

Bila kita ketakutan kita melanggar doktrin ” Syariat tanpa hakikat KAFIR, hakikat tanpa syariat SESAT ” ketika sedang melakukan perjalanan spiritual, maka perasaan itu lah yang akan menjadi BATU CADAS yang sulit dirobohkan, tak kan ada siapapun orang lain yang bisa membantu merobohkan batu cadas tersebut selain dirinya sendiri. Hidup di alam kebebasan itu adalah hidup tanpa sekat/ ikatan apapun di dunia ini, hidup yang bebas adalah berpemikiran bebas, berperilaku bebas, berkehendak bebas, berkeyakinan bebas..Namun kebebasan itu semuanya sudah ada dalam kebebasan yang natural, kebebasan yang tidak merugikan orang lain dan alam semesta, kebebasan yang berjalan dengan kasih sayang dalam wujud yang beraneka warna.

Mengenal diri itu adalah membebaskan diri
membebaskan diri itu adalah mampu mengatur dirinya sendiri
membebaskan diri itu adalah mempunyai visi misi yang abadi
membebaskan diri itu adalah melenyapkan diri
membebaskan diri itu adalah mewujudkan diri yang tertinggi
untuk menjadi pemimpin bagi diri nya sendiri
akhirnya menjadi DIRI SENDIRI yang SEJATI.


Tidak ada komentar