Membuka Pintu Hati:


http://wongedanbagu.blogspot.com
Membuka Pintu Hati ~ Sekelompok orang yang baru meninggal dunia, sedang antri didepan gerbnag akhirat. Sambil menunggu pengadilan Ilahi, mereka mulai bertanya tentang prilaku mereka di dunia. Apakah mereka orangtua yang baik, apakah mereka berhasil mencapai sesuatu yang berharga, apakah mereka rajin beribadah, dan apakah mereka cukup berderma kepada fakir miskin.

Tapi ketika sampai di gerbang, semua jiwa dihadapkan pada satu pertanyaan, “seberapa besar kamu dulu mengasihi sesama?”

Mengasihi orang lain adalah langkah pertama dari perjalanan panjang masuk ke dalam diri. Perjalanan dalam diri memang tidak mudah, banyak yang menyerah ketika akan memulainya. Kesibukan, sering menjadi alasan. Tapi penyebab utamanya adalah pintu hati yang tertutup dan terkunci. Ini membuat telinga dan  mata terutup. Kita tak akan bisa  memulainya tanpa menemukan kuncinya,  yaitu cinta dan kasih sayang. Tanpa cinta sesama, pintu-pintu gerbang menuju kesadaran terdalam tidak akan terbuka.

Agama-agama  besar punya pesan tunggal yaitu kasih sayang. Tuhan juga dilukiskan sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semua agama dalam bahasa yang berbeda mengatakan: sayangilah orang lain. Anda belum beriman, kalau belum menyayangi orang lain, seperti anda menyayangi diri anda sendiri. Pernyataan ini menjelaskan, ukuran kemajuah spiritual anda bukan hanya ditentukan oleh seberapa rajin anda beribadah, rukuk dan sujud, tapi juga pada  seberapa besar anda mengasihi orang lain. Belajar mengasihi adalah sasaran kehidupan spiritual

Kita bisa memulainya dengan mencintai diri kita sendiri, lalu orang-orang terdekat dan sekitar anda. Lihatlah mereka dengan hati anda. Bukankah orangtua anda rela mengorbankan hidupnya untuk anda, bukankan pasangna anda telah memilih untuk menyerahkan hidup untuk bersama anda, bukankah anak-anak anda mengidolakan anda dan merindukan waktu bersama anda, bukankah pembantu anda mengabdikan hidupnya untuk melayani anda.

Orang bijak berkata: 
“Ketika seseorang melihat dirinya tidak berbeda dengan orang lain, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, maka siapa yang bisa dia sakiti?”

Merasakan baru permulaan dari cinta. Cinta yang sebenarnya diwujdukan dengan memberi sesuatu, sekecil apapun itu. Ibu Theresa mengatakan,
“Yang penting bukan berapa besar yang kita perbuat, tapi sebeapa besar cinta kasih yang kita sertakan dalam perbuatan kita”. 

Membuka pintu hati sama halnya dengan mencintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Itulah hakikat membuka pintu hati.

Tidak ada komentar