Lebih Baik Hujan Emas di Negeri Sendiri daripada Hujan Batu di Negeri Orang

http://wongedanbagu.blogspot.com
Pepatah, falsafah hidup, peribahasa atau apapun namannya ungkapan seperti lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang, mangan ora mangan sing penting kumpul (jawa), right or wrong my country, biar lambat asal selamat, mikul dhuwur mendhem jeruh (jawa/agama), beramallah walaupun sedikit asal ikhlas (agama) adalah sebagaian dari ungkapan yang membawa kemunduran bangsa ini atau setidaknya tidak membuat orang maju.
Pepatah-pepatah itu sengaja diciptakan oleh kaum penjajah untuk memundurkan peradaban bangsa ini atau setidaknya meredam pemberontakan. Pepatah-pepatah tersebut sengaja diciptakan untuk melegitimasi kepemimpinan atas penderitaan rakyatnya. Seakan-akan kita diajak untuk bersabar atas keadaan dalam negeri (diri) dan mengamini kegagalan pemimpin dalam memajukan bangsanya.
Pepatah lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang telah membuat bangsa kita hanya berkaca mata kuda. Rasa nasionalisme ditinggi-tinggikan dengan segala kekurangannya. Bangsa yang menutup diri peluang emas di negeri orang dan bangga hasil bumi dikeruk bangsa asing sehingga tinggal makan batu. Seiring dengan pepatah tersebut kita sering mendengar orang yang lagi sial diungkapkan dengan ’ nah kena batunya lho” atau tindakan Nazarudin Suapudin diungkapakn sebagi lempar batu sembunyi tangan.
Serumpun dengan pepatah di atas adalah mangan ora mangan sing penting kumpul. Di jaman sekarang pilihannya cuman dua. Mangan tapi nggak kumpul atau kumpul tapi ora mangan. Pepatah ini banyak digunakan sebagai senjata ampuh untuk menolak program transmigrasi di era orde baru. Jaman sekarang makan dan kumpul dengan mertua saja susah, apalagi tidak makan terus kumpul mertua. Suer makan hati deh...! hehehe ...
Kedua pepatah tersebut adalah momok bagi TKI. Tidak jarang nyali TKI kendur dengan ungkapan tersebut sehingga peluang berkebun emas dan memanennya demi negeri pertiwi akhirnya tergantikan oleh batu-batu jahanam. Masyarakat kita masih senang menolok-ngolok TKI dengan kedua ungkapan tersebut. Mereka bangga korupsi dan menajdi oknum di dalam negeri daripada mencarai rejeki yang halalan dan thoyiban walaupun di negeri orang.
Right or wrong my country adalah lebih parah lagi. Ini pepatah jelas-jelas untuk kepetingan pemerintah. Apapun yang dilakukan pemerintah (negara) rakyat harus mengamini. Budaya mengkritis kebijakan pemerintah dianggap tabu atau menyebar kebencian. Bisa-bisa dicap anti-pemerintah, kelompok kiri atau kanan, extrimis, tidak nasionalisme dan sejumlah sentimen negatif. Setali tiga uang  adalah mikul dhuwur mendhem jeruh. menjunjung tinggi prestasi pemimpin dan mengubur segala dosa dan kesalahan para pemimpin. Itulah kenapa negeri ini tidak pernah belajar dari sejarah kesalahan para pendahulu kita.
Dengan falsafah tersebut Suharto langgeng menjarah kekayaan bangsa ini selama 32 tahun dan kroninya kaya raya hingga 13 turunan (7 turunan terlalu sedikit). Kalau para keturunan pinter berinvestasi maka bisa kaya raya 100 turunan. Kalau saja para turunan hanya membelanjakan 1 dollar perhari seperti penghasilan orang kismin maka kaya raya 10000000 turunan. Silahkan menambahkan nol sesukanya bila dirasa kurang memuaskan.
Ungkapan seperti ‘biar lambat asal selamat’ membuat bangsa ini selalu ketinggalan kereta. Bersabar dan mengelus dada karena proyek-proyek kepentingan publik yang tidak selesai-selesai. Bersabar segala problema bangsa yang tidak terselesaikan dan alhirnya terkubur ingatan rakyat yang pendek. Bagaimana kita mau patuh pada falsafah ini sedangkan para sopir metromini saja tidak mau menggunakan ungkapan ini. Selamat tapi tekor untuk apa?, Selamat tapi tidak dapat setoran dan beli BBM untuk apa?, selamat tapi tidak bisa memebri makan anak bini untuk apa? selamat tapi tidak punya uang untuk malam mingguan untuk apa?
Ada lagi pepatah agama yang menjadikan orang pelit yaitu ‘beramal sedikit asal ikhlas. Falsafah ini membuat banyak pembangunan tempat ibadah, rumah belajar terbengkalai, fakir miskin menderita, orang miskin tidak mampu berobat dan anak-anak miskin putus sekolah.
Menurut hemat saya beramal yang buanyak walaupun tidak ikhlas akan terasa manfaatnya daripada beramal sedikit tapi ikhlas. Soal keikhlasan itu urusan anda dengan Tuhan. Demi kemanusiaan bantuan yg nilai nominalnya banyak manfaatnya langsung terasa. Contohnya, kita beramal seribu dan ikhlas sementara ada orang yang beramal satu milyar walaupun tidak ikhlas karena hasil korupsi. Nah, pembangunan akan selesai dengan uang seribu perak atau satu milyar? Di sinilah pentingnya kenapa kita lebih baik beramal banyak dan ikhlas.


                                          Bukankah lebih baik kita mengungkapkan seperti:

* ‘Lebih baik hujan emas di negeri sendiri daripada hujan air di negeri orang. Yang
    biasa sajalah. Masak kita mendoakan suatu negeri hujan batu, nanti bisda
    benjol-benjol tuh kepala suatu kaum. Kalau hujan air paling-paling cuman banjir.

* ‘Biar cepat asal selamat’. Ini motto hidup yang harus dipegang. Kerja selamat
   dan cepat. Di era sekarang ini siapa sih yang mau lemot. Lemot akan tergerus
   oleh alam dengan sendirinya.

*’Right is my country and wrong is yours’. Tidak ada yang salah dengan negeriku,
   yang salah itu yang mengurus tidak mempunyai arah dan tujuan yang jelas.
   Tidak tegas menindak para tikus2 yang menggagalkan panen emas bangsa ini.

*Mangan, nyandang lan mapan tur tetep kumpul (satu)’. Ini adalah idaman setiap
  manusia. Bisa memenuhi kebutuhan primer dan sekunder dan tetap bersatu
  dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya.

*’Mikul dhuwur sing becik lan mitudui yang olo (memuji kebaikan dan
  memberitahu kejelekan)’. Tidak ada manusia yang tak benbut salah. Denagn
  mngubur kesalahan kita tidak pernah mampu belajar dan bangkit menjadi bangsa
  yang besar. Kesalahan terbesar bangsa ini adalah salah memilih pemimpin.

*’Lebih baik beramal besar dan ikhlas daripada kecil dan tidak ikhlas’. Ini
  maknanya cukup jelas.

Salam Rahayu.

Tidak ada komentar