Mengenai Saya

Foto saya

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untuk semuanya tanpa terkecuali. Perkenalkan Saya... Dengan Nama asli: Toso Wijaya. D.  Nama Lahir saya: Djaka Tolos. Dan Akrab di panggil Wong Edan Bagu atau WEB dalam dunia Spiritual Laku Ketuhanan. saya lahir di lereng gunung ciremai Cirebon jawa barat. Pada hari Rabu Pon, tgl 13/08/1959, Anak kedua dari empat bersaudara, yang lahir dari kedua orang tua, Bapak Bernama: Matsalim dan Ibu Bernaman Dewi Arimi.  Mulai dari Nenek moyang hingga ke bapak ibu sampai ke saya sendiri. Kami Suka Berspiritual. artinya... suka mempelajari hal-hal yang ga'ib. Tapi bukan sembarang Ghaib, karena Ghaib yang saya pelajari, adalah Ghaib-Nya Dzat Maha Suci Hidup (TUHAN). Bukan yang lain.  Karena itu Sejak usia 9 tahun, saya sudah mempelajari ilmu-ilmu katikjayan, kususnya ilmu kanuragan dan ilmu jaya kawijayan Warisan dari para leluhur saya di telatah tanah pasundan. Sebagai bekal untuk mengembara dalam melacak jejak Dzat Maha Suci yang Gha'ib.  

Dan setelah melalui berbagai macan dan banyak lika liku proses kehidupan. saya berhasil menemukan intisari pati Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sebenarnya, dari semua dan segalanya tentang Hidup dan Kehidupan BerTuhan... dan sejak itulah, saya berhenti mengembara dan berpetualang. Lalu menekuni secara Khusus/Istiqomah Laku Spiritual Hakikat Hidup. Yang pelajarannya saya dapatkan, dikala puasa ngebleng di goa singabarong pulau nusa kambangan cilacap jawa tengah,  yaitu,,. Wahyu Panca Laku. Cara untuk Mempraktekan Wahyu Panca Gha'ib, yang hanya mempelajari Hidup dan kehidupan serta Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya... disamping terus belajar dan belajar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya... Karena saya tidak suka Neko-neko. Saya membuka Pengobatan dan Konsultasi Alternatif Tradisional, mempraktekan ilmu pengobatan spesialist Stroke. Dengan Cara Terapi Pijat Urut dan Jamu Herbal Ramuan Sendiri. Yang pernah saya Pelajari dari beberapa orang Guru saya... Dan semoga, apa yang saya lakukan ini. bisa dan dapat bermanfaat pada diri saya sendiri dan buat semua saudara-saudari saya tanpa terkecuali..... Itulah sekelumit tentang saya dan mohon maklumnya jika terkesan berlebihan; Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian... _/!\_

Senin, 16 Juli 2018

Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji'un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kesatu:

Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji'un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kesatu:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di...
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 21:00. Hari Senin. Tanggal 16 Juli 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Pulang kerumah kesejatian dengan ringan dan riang adalah suatu  kebahagia'an yang tak tergambarkan indahnya.

Kebanyakan orang berpendapat banyak tentang kapan kematian datang menjelang, bahkan kitabnya pun, dibuat untuk membahas hal tersebut.

Pertama, kenapa harus repot-repot memikirkan kapan ajal menjemput...?!

Apa pentingnya...?!
Apa manfaatnya...?!

Jika kita bertanya pada para psikolog apa lagi orang awam pada umumnya, maka mereka akan selalu menyebut pikiran semacam itu, adalah sebagai kekhawatiran yang tidak wajar.

Kenapa harus repot-repot berpikir tentang kematian...?!

Hindari berpikir semacam itu, terus percayai bahwa kematian tidak akan datang, setidaknya tidak padamu, kematian selalu datang pada orang lain yang sedang sial/apes.

Kita telah melihat banyak orang mati, tetapi kau belum pernah melihat dirimu sendiri mati bukan...?!

Jadi...
Kenapa mesti takut...?!
Begitulah Jawaban Mereka.

He he he . . . Edan Tenan, oke,,, kita mungkin saja perkecualian yang tidak akan tersentuh oleh kematian, tetapi faktanya, tidak ada satu pun yang tidak tersentuh oleh kematian bukan...!!!

Bahkan kematian sudah terjadi sejak kelahiran manusia pada umumnya, jadi, tidak ada jalan bagi siapapun untuk menghindarinya.

Sekarang kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk kelahiran kita, ia berada di luar jangkauan kita, kelahiran kita sudah terjadi, tetapi kematian kita  belum terjadi.

Artinya kita masih bisa melakukan sesuatu untuk menghadapinya.

Semua agama yang ada di dunia ini, bergantung pada gagasan tentang kematian, karena kematian adalah sesuatu yang akan terjadi dan masih ada kemungkinan untuk menghadapinya dengan benar.

Jika kita tahu kapan kita akan mati sebelum ajal itu benar-benar menjemput kita, maka kematian akan memberikan sesuatu yang agung kepada kita.

Banyak pintu kehidupan yang indah terbuka bagi kita, dan kita  akan bisa menghadapi kematian itu dengan cara kita sendiri yang unik, dan lagi, kita tidak perlu terlahir kembali ke dunia ini. He he he Edan Tenan.

Itulah inti ajaran semua agama-agama dan kepercayaan yang ada di dunia ini, namun jalan dan caranya, tidak satupun agama dan kepercayaan bisa menemukannya.

Jadi...
Bagi peLaku Murni Menuju Suci, pemikiran tentang kematian,  bukanlah sebagai kekhawatiran yang berlebihan.

Namun bagi Para peLaku Murni Menuju Suci, pemikiran dan gagasan tentang kematian, justru sangatlah penting dan berharga.

Karena ketika kita bisa melihat kematian dengan jelas ada di sekitar kita, maka sungguh bodoh jika kita tidak berpikir dan merenung tentang kematian.

Kematian akan datang menjemputmu. Itu pasti.

Dan saya WEB, berani menegaskan, kita bisa mengetahui harinya, jamnya, menitny adan detik kematian kita sendiri, kapan waktunya ia datang.

Jika kita mengetahui kapan kita mati, maka kita akan bisa bersiap menyambutnya.

Kematian semestinya disambut sebagai seorang Tamu Agung, kematian bukanlah musuh, sebaliknya, ia adalah hadiah yang sangat berharga, ia adalah sebuah kesempatan yang mestinya tidak kita lewatkan.

Kematian bisa menjadi sebuah lompatan besar, jika kita bisa menghadapinya dengan penuh kesadaran, maka kita tidak perlu lagi untuk terlahir kembali di dunia ini, dan kita tak akan pernah tersentuh oleh kematian lagi.

Tapi jika kita melewatkan kesempatan itu, maka kita akan terlahir lagi dan lagi ke dunia ini sampai kita sepenuhnya memahami pelajaran yang diberikan oleh kematian tersebut.

Seluruh Kehidupan ini, pada hakekatnya, tidak lain dan tak bukan, adalah sebuah pembelajaran untuk menghadapi kematian dan sebuah persiapan untuk menghadapi kematian.

Itulah mengapa kematian datang di akhir hayat.

Karena ia merupakan puncak dan klimaksnya dari seluruh proses  perjalanan hidup.

Sebagai contoh nyata;
Disuatu ketika, saya pernah sampai, pada sebuah pengalaman, di dalam sebuah kegiatan seks, ketika saya berhasil mencapai sebuah puncak klimax dengan kesadaran penuh, sebuah orgasme agung yang benar-benar menyegarkan dan memberikan kepuasan yang begitu dalam, saya dapatkan dengan penuh kesadaran pula.

Setelah menikmati orgasme yang berhasil saya sadari itu, saya terbersihkan dan tersucikan, salah satu buktinya, saya menjadi muda kembali, menjadi segar kembali.

Semua debu-debu kerendahan di dalam diri saya, larut seolah-olah saya baru saja lahir dan mandi dengan menggunakan pancuran energi.

Tetapi para psikolog tersebut, terutama manusia-manusia awam  yang beranggapan kematian itu tidaklah penting, namun ketakutan akan mati mencekam mereka, mereka belum sampai pada pemahaman.

Bahwa;
Sesungguhnya, kepuasan yang bisa didapat dari kegiatan seks sadar semacam yang sudah saya contohkan diatas, adalah miniatur dari orgasme, yang bisa dirasakan saat kematian.

Kita bisa merasakan orgasme ilahi,  jika kita mati dalam keadaan hati kita penuh dengan kesadaran cinta kasih sayang Dzat Maha Suci Hidup.

Jadi...
Orgasme yang didapat dari kegiatan seks tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orgasme yang bisa kita dapat dari kematian, yang kita hadapi dengan penuh kesadaran, karena kematian merupakan orgasme terAgung yang bisa kita alami dalam sepanjang sejarah proses kehidupan di dunia ini.

Kematian adalah pengalaman yang begitu intens, yang membuat hampir semua orang pada umumnya kehilangan kesadaran saat menghadapinya.

Karena ketika kita berhadap-hadapan langsung dengan kematian, kamu begitu takut, begitu gelisah dan berusaha menghindari pengalaman tersebut,  sehingga kamu melewatkan pengalaman tersebut dalam ketidak-sadaran, sungguh meruginya orang-orang yang demikian itu.

Karena itu, saya WEB, berani katakan dengan tegas...!!!

Sembilan puluh sembilan persen,  manusia mati dalam ketidak-sadaran, mereka melewatkan kesempatan yang sangat berharga tersebut.

Mengatahui kapan kita akan mati, pada dasarnya hanyalah sebuah metode untuk membantu kita,  untuk bersiap, agar supaya saat kematian datang menjemput, kita dalam keadaan sepenuhnya sadar dan menikmati pengalaman yang agung tersebut.

Ketika kita sudah mampu menerima kematian dengan penuh kesadaran, maka tak akan ada lagi kelahiran kembali ke dunia ini, karena semua dan segalanya berHasil Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji'un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Sempurna.

Kita telah sepenuhnya berhasil  mengambil pelajaran hidup yang paling utama.

Jadi...
Kita tidak perlu kembali ke sekolah lagi, karena pada hakekatnya hidup ini adalah sebuah sekolahan, tempat untuk belajar tentang kematian. He he he . . . Edan Tenan.

Jadi inti...
Semua agama dan kepercayaan, adalah tentang bagaimana menghadapi kematian, jika ada agama atau kepercayaan yang tidak membicarakan tentang kematian, maka ia bukanlah agama atau kepercayaan "Bisa jadi itu adalah ilmu sosial, ilmu etika dan moralitas, atau bahkan mungkin politik, yang tidak pernah bisa disebut agama atau kepercayaan.

Agama dan kepercayaan pada hakikatnya adalah, sebuah usaha pencarian terhadap sesuatu yang “tak tersentuh oleh kematian”.

Akan tetapi yang tak tersentuh oleh kematian itu, hanya bisa diraih melalui kematian itu sendiri.

Namun jalan dan caranya, tidak perlu menyiksa raga atau melakukan ritual sesaji puja puji yang menghabiskan puluhan juta  uang.

Cukup Laku Murni Menuju Suci;
1. Patrap Semedi.
2. Kadhangan.
3. Darma Bakti.

1. Laku Pertama Patrap Semedi; Dengan melakukan Patrap Semedi,  kedua jenis karma, baik yang aktif maupun yang tidak aktif, atau pada pertanda maupun isyarat-isyarat yang kita lihat dalam kehidupan kita, maka waktu kematian akan bisa diprediksi dengan tepat dan sempurna.

Ada tiga jenis karma;
Jenis pertama disebut sanchita. Sanchita artinya keseluruhan, keseluruhan dari semua masa kehidupan yang pernah kita jalani.

Apapun yang pernah di lakukan, bagaimana cara kita bereaksi terhadap berbagai situasi yang kita  hadapi, apa yang pernah kita  pikirkan, inginkan, raih dan lewatkan, semuanya dan keseluruhan dari semua tindakan, pikiran, perasaan di masa kehidupan yang kita lalui disebut, itulah yang disebut Karma Sanchita, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji'un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Pertama yaitu Patrap Semedi.

Jenis kedua disebut prarabdha. Jenis karma kedua ini, adalah, bagian dari sanchita, yang harus kita alami dalam masa kelahiran kita kali ini, kita telah menjalani banyak masa kehidupan.

Dan kita telah mengumpulkan karma sangat banyak, ini dalam masa kelahiran kita kali ini, sebagian dari karma yang telah kita kumpulkan tersebut, harus kita  alami dan lewati.

Hanya sebagian dari keseluruhan, karena masa hidup ini terbatas, bisa tujuh puluh, delapan puluh atau mungkin seratus tahun.

Dalam masa seratus tahun, kita tidak bisa mengalami semua karma yang telah terkumpul dari semua kehidupan kita yang lalu, itulah yang disebut Karma prarabdha, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji'un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Kedua, yaitu Kekadhangan.

Dan jenis karma yang ketiga,  disebut kriyaman, ini adalah karma harian, yang pertama diatas, adalah karma keseluruhan masa kehidupan, kemudian bagian dari keselurahan yang mesti kita jalani dalam masa kelahiran kita kali ini.

Dan kemudian, yang lebih kecil dari itu, yakni karma yang mesti kita hadapi hari ini atau bahkan saat ini, yaitu Karma kriyaman, di karma ini, setiap saat kita selalu punya kesempatan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Misal Contoh;
Ada orang yang memaki kita dan kita marah, kita bereaksi, kita melakukan sesuatu, namun jika kita sadar dan kita bisa mengamati amarah kita, maka kita tidak akan marah.

Kita akan tetap tenang mengamati apa yang terjadi, kita tidak beraksi, kita tidak membalas, maka orang yang memaki kita itu, tidak bisa memberikan gangguan apa pun kepada kita.

Jika kita gusar dan beraksi dengan membalas, maka Karma Kriyaman akan masuk kedalam simpanan sanchita.

Maka, lagi-lagi kita mengumpulkan karma untuk masa kehidupan yang akan datang, tetapi jika kita tidak membalas, maka lunaslah karma kita terhadap orang yang memaki kita itu.

Kejadian itu terjadi, karena sudah pasti kita pernah memakinya di masa kehidupan yang lalu.

Dalam hal ini, orang yang sadar,  akan senang, karena dia tahu,  bahwa paling tidak hutang pituang karmanya dengan orang itu, sudah lunas, dia bisa menjadi sedikit lebih bebas, itulah yang di sebut Karma Kriyaman, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji'un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Ketiga, yaitu Darma Bakti.

Di Kisahkan;
Nabi Muhammad SWA, setiap kali masuk Masjid, selalu ada orang yang meludahi wajahnya, dan beliau berkata "Alhamdulillaah..."
orang yang meludahi itu heran, dan berkata "Dasar orang gila, di ludahi tiap kali masuk masjid, malah berkata Alhamdulillaah, Nabi Muhammad SWA menjawab "Ya, karena aku sudah lama menunggumu dengan kerinduan"

Di Kisahkan;
Sewaktu Yesus disalibkan, IA tidak hanya menanggung siksaan secara fisik, tapi batinNya juga terluka, hatinya tercabik-cabik. Betapa tdk, Yesus mengalami ejekan, olokan, hinaan, hujatan. Yesus diejek oleh para pemimpin  agama, Yesus juga diolok oleh para prajurit, bahkan Yesus sampai dihujat oleh penjahat yang ada di sebelahNya, maka lengkaplah sdh penderitaan Yesus.

Namun bagaimana sikap Yesus terhadap semua yang Dia alami...?! "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" Yesus berdoa utk mereka yg sudah mengejek, menghina, mengolok dan bahkan menghujatNya.

Di Kisahkan;
Romo Semono Sastrohadijoyo, di bully, di fitnah, bahkan di penjara karena di tuduh PKI, namun apa yang di lakukan olehNya...?!

Sekalipun beliau seorang yang sakti mandraguna, tiada hentinya Dia mengucapkan Matur Nuwun, dan terus menerus menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Hidup kepada semuanya tanpa terkecuali, termasuk orang-orang yang membully dan memfitnahnya.

Di Kisahkan;
Seseorang datang dan memaki-maki Buddha, Buddha tetap tenang dan mendengarkan makian orang tersebut dengan seksama dan Ia berkata, “Terimakasih” orang yang memaki-maki itu bingung dan ia berkata, “Apa kamu sudah gila? Aku memakimu, menyakitimu tapi kamu malah mengucapkan terimakasih” Buddha menjawab, “Ya, karena aku sudah lama menunggumu.

Aku pernah memakimu di masa kehidupan yang lalu, dan kini aku menunggumu, kalau kamu tidak datang, maka aku tidak akan bisa sepenuhnya bebas, kau adalah orang terakhir, kini lunas sudah semua hutang-piutang karmaku.

Terimakasih karena sudah datang untuk memakiku, kalau kamu tidak datang untuk memakiku, mungkin aku harus menunggumu sampai masa kehidupan yang akan datang, sekarang sudah selesai semuanya, aku tak akan menciptakan rantai karma lagi.

Dengan begitu, maka Karma Kriyaman atau Karma Harian, tidak akan masuk lagi kedalam lumbung penyimpanan karma dan tidak menambahkan karma apapun padanya.

Sehingga lumbung karma pun menjadi berkurang, begitu juga dengan prarabdha karma yang harus kita hadapi dalam masa kehidupan ini.

Jika kita terus bereaksi dan membalas terhadap segala situasi yang kita hadapi, maka lumbung karma kita akan semakin penuh, kitapun harus lahir lagi dan lagi untuk menghabiskannya, karena kita telah menciptakan terlalu banyak rantai karma dan itu yang akan membelenggu kita dalam siklus kelahiran dan kematian. He he he . . . Edan Tenan.

BERSAMBUNG KE;
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji'un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Jumat, 13 Juli 2018

"Diatas Langit Masih Ada Langit"

"Diatas Langit Masih Ada Langit"
(Artikel Khusus Untuk Para Sahabatku Seperguruanku Yang Masih Asyik dengan Dunia Kesaktian dan Belum Mau berTaubat dan berIman hanya kepada Dzat Maha Suci):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di...
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 19:00. Hari Jumat. Tanggal 13 Juli 2018.

Diatas Langit Masih Ada Langit, itulah istilah bahasa ilmu yang tidak ada ujung pangkalnya, jika di miliki, akan merasa tersaingi kalau ada orang lain yang lebih tinggi ilmu, lalu berguru lagi, dan tetap akan berguru lagi kalau masih bisa di kalahkan oleh ilmu orang lain.

Oke... Baiklah... Sekarang begini. Berbagai anak cabang ilmu telah kau kuasai, bahkan pusatnya ilmu telah kau kuasai, tetapi apakah kau bisa mendengar Dia yang tak terdengar...?!

Merasakan Dia yang melampaui segala macam rasa dan perasaan serta mengetahui Dia yang berada di atas segala macam pengetahuan...?!

Apakah ilmu itu pun telah kau kuasai...?!

Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauan mu, namun, segumpal tanah liat yang berada dalam jangkauan mu, sama sekali tidak kau jamah.

Padahal, dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan, secara utuh.

Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauan mu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau.

Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung dan lain sebagainya.

Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi intinya satu dan sama, yaitu tanah liat.

Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda.

Walau berbeda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama dan sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, yaitu tanah liat.

Contoh misalnya emas;
Kita menggunakannya untuk membuat berbagai macam perhiasan, setiap perhiasan beda bentuknya, beda pula sebutannya, namun bahan bakunya tetap satu dan sama.

Beda rupa dan nama adalah pemberian manusia, buatan manusia, nama dan rupa berasal dari manusia, bahan baku bersifat alami, nama dan rupa berbeda dan dapat berubah, bahan bakunya tetap sama, tidak ikut berubah.

Janganlah kau terjebak oleh lembaran kitab, pengetahuan yang kau peroleh dari kitab, hanyalah satu sisi dari Pengetahuan Sejati.

Keseluruhannya hanya untuk menyadarkan diri kita, bahwa masih ada yang jauh lebih tinggi, lebih penting, lebih mulia.

Yaitu sesuatu yang tak tertuliskan, tak terjelaskan lewat kata-kata.

Pengetahuan Sejati adalah Pengetahuan tentang Sifat yang Satu ini, segala sesuatu dalam alam ini, berasal dari Yang Satu Itu, untuk memahaminya, pelajarilah dirimu.

Gumpalan tanah liat itu adalah dirimu "Wong Urip" Manusia Hidup itulah dirimu.

Dengan mempelajari diri yang berada dalam jangkauan kita sendiri, kita akan dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu.

"Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang dapat menjamin jiwa ragamu-lahir bathinmu-hidup matimu-dunia akheratmu"

Caranya bagaimana...?!
1. Patrap Semedi.
2. Kedhangan.
3. Darma Bakti.

Selengkapnya, baca Artikel saya yang  berjudul; "Kesadaran Murni Adalah Cara Bahagia Seumur Hidup" Atau klik link dibawah ini.
https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=512796012499791&id=100013081895854&refid=17&_ft_=og_action_id.512796019166457%3Atop_level_post_id.512796012499791%3Atl_objid.512796012499791%3Athrowback_story_fbid.512796012499791%3Athid.100013081895854%3A306061129499414%3A2%3A0%3A1533106799%3A884373990014304797&__tn__=%2As-R

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Selasa, 10 Juli 2018

Mati adalah Pengalaman Orgasme Terindah Bagi Yang Berkesadaran Murni:

Mati adalah Pengalaman Orgasme Terindah Bagi Yang Berkesadaran Murni:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di...
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 20:00. Hari Selasa. Tanggal 10 Juli 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Perasa'an takut adalah bagian dari inteligensi kita sebagai manusia yang belum sadar,  tidak ada yang salah dengannya.

Perasa'an takut yang biasa dijangkiti manusia itu, biasanya adalah Kematian.

Kita takut mati, karena kita merasa tidak akan berada selamanya di sini, kita tidak abadi di sini, hidup tinggal beberapa hari lagi dan kita akan lenyap.

Dalam kenyata'annya, justru karena perasa'an takut inilah, manusia selalu berada dalam pencarian mendalam, tentang apa artinya menjadi religius/spiritual.

Jika tidak demikian, maka tidak akan ada tujuan yang akan dicapai.

Tidak ada binatang dan tumbuhan yang bersifat religius/spiritual, karena mereka tidak berada dalam ketakutan.

Tidak ada binatang dan tumbuhan  yang dapat menjadi religius/spiritual, karena tak ada binatang dan tumbuhan yang dapat menyadari tentang kematian.

Manusia menyadari kematian. Pada setiap momen, ada kematian di sana, mengepung kita dari segala penjuru.

Kita dapat lenyap dari dunia ini, kapan saja, hal inilah yang membuat kita menjadi takut.

Akan tetapi, lagi-lagi yang nanya Ego "EGO kita akan berkata" Oh...  Saya tidak takut, saya pemberani.

Kita berkata demikian, karena kita  malu dikatakan sebagai seorang pengecut.

Perasa'an takut bukanlah untuk pengecut, maka,,, terimalah perasa'an takut itu, karena dia adalah bagian dari kedirian kita sendiri.

Satu hal yang mesti dipahami, ketika di saat kita merasa ketakutan, timbul dalam diri kita, amatilah perasa'an takut itu, kemudian nikmatilah.

Rasakan dan Nikmatilah dengan kesadaran murni kita yang penuh cinta kasih sayang, dalam pengamatan itu, kita akan mentransendensinya.

Kita akan melihat tubuh (kita) bergetar karena perasa'an takut itu,  kita akan menyaksikan wujud pikiran kita yang merasa takut itu, akan tetapi, kita akan sampai untuk merasakan sebuah tujuan diri kita yang sesungguhnya.

Di sebuah pusat yang jauh dan  dalam, yang tetap tidak terpengaruh dan tidak berubah oleh badai yang berlalu.

Namun jauh dalam diri kita, terdapat sebuah pusat yang tak tersentuh, sebuah pusat dari angin badai/topan itu.

Biarkanlah perasa'an takut itu tetap  hadir, jangan memeranginya, tapi amatilah yang sedang terjadi dengan kesadaran murni kita, dan teruslah mengamatinya.

Ketika mata kesadaran murni kita sedang mengamati itu, semakin menembus dan semakin intens, sang tubuh akan bergetar semakin hebat, pikiran akan bergetar, tetapi jauh dalam diri kita, akan ada sebuah kesadaran murni yang merupakan sebuah kesaksian, yang hanya pengamatan-pengamatan, Ia tetap saja tidak tersentuh, seperti bunga lotus (teratai) dalam air.

Hanya ketika kita sampai pada itu, akan mencapai keadaan tanpa perasa'an takut (fearlessness).

Akan tetapi, keadaan tanpa perasa'an takut itu, bukan tanpa perasa'an takut, keadaan tanpa perasa'an takut itu, bukanlah keberanian.

Keada'an tanpa perasa'an takut itu,  adalah sebuah realisasi (pemahaman utuh) bahwa kita  terdiri dari dua bagian.

Sebuah bagian dari diri kita yang  akan mati dan bagian yang lain dari diri kita akan abadi.

Bagian yang akan mati selalu berada dalam keadaan takut, sedangkan bagian yang tidak akan mati, tetap abadi, karena itu, tidak ada gunanya perasa'an takut itu.

Kita dapat menggunakan perasa'an takut untuk bersemedi, gunakan semua yang kita miliki untuk Patrap Semedhi, sehingga kita  dapat melangkah sangat jauh.

Saya pernah bertanya ini kepada mendiang Guru Semedhi saya;
Guru...
Emosi paling kuat yang saya miliki adalah kebencian terhadap kematian. Saya ingin membunuh emosi ini, sekali dan untuk selamanya !!!!.

Guru saya menjawab pertanyaan saya ini;
Membenci kematian, sama dengan membenci kehidupan.

Keduanya tidak dalam keadaan terpisah dan keduanya tidak dapat dipisahkan.

Kematian dan kehidupan, eksis secara bersamaan, tidak ada cara untuk memisahkan keduanya.

Keterpisahan antara keduanya,  hanyalah abstraksi dalam pikiran manusia saja, sepenuhnya palsu.

Kehidupan mengimplikasikan kematian, kematian mengimplikasikan kehidupan.

Keduanya adalah dua kutub yang bertentangan, tetapi saling melengkapi satu sama lain.

Kematian adalah puncak kehidupan, jika kita membenci kematian, bagaimana mungkin kita  dapat mencintai kehidupan...?!

Kesalah pahaman inilah yang fatal.

Orang-orang yang berpikir bahwa mereka mencintai kehidupan, selalu membenci kematian, dan dengan membenci kematian, mereka tidak mampu untuk hidup.

Kemampuan untuk hidup, secara maksimal, akan muncul ketika kita telah siap untuk mati, dan sangat siap untuk mati, hal ini selalu bersifat proposional (sebanding).

Jika kita hidup setengah hati, kita  akan mati setengah hati pula, jika kita hidup dengan sangat intens, total, berani menempuh bahaya, kita juga akan mati dalam keadaan orgasme yang mendalam.

Kematian adalah sebuah “Cressendo” (istilah musik; peningkatan intens dan pasti secara bertahap dalam volume suara) dari awal kehidupan sampai ke puncaknya dalam kematian.

Orgasme yang kita kenal melalui Percinta'an Sex, tidak dapat dibandingkan dengan orgasme yang disediakan oleh kematian.

Semua kegembiraan hidup adalah kecil jika dibandingkan dengan kegembiraan yang dibawa oleh kematian.

Apa persisnya kematian itu...?! Kematian adalah lenyapnya sebuah entitas palsu dalam diri kita, sang ego.

Kematian juga berlangsung dalam cinta kasih sayang dalam skala yang lebih kecil, dalam sebuah cara terpisah, atas dasar ini, terdapat keindahan cinta kasih sayang yang nikmatnya tiadatara.

Untuk sesaat, kita mati, untuk sesaat kita lenyap, untuk sesaat, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, dan keutuhan (keseluruhan) menguasai diri kita.

Kita lenyap sebagai suatu bagian, kita bergerak secara ritmis dengan keseluruhan, kita tidak eksis sebagai riak-riak gelombang di samudra, kita eksis sebagai samudra itu sendiri.

Itulah mengapa seluruh pengalaman orgasme adalah pengalaman-pengalaman yang bersifat samudra, (dahsyat,luas,mendalam).

Hal yang sama terjadi dalam tidur nyenyak, dimana sang ego lenyap, pikiran tidak lagi berfungsi, kita jatuh dalam kegembiraan yang orisinal, akan tetapi, semua ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kematian.

Mereka semua ini adalah bagian-bagian yang parsial, tidur adalah suatu kematian kecil, setiap pagi, kita akan terbangun lagi.

Tetap saja, jika kita tidur sangat nyenyak, kegembiraan tetap menggelayuti seluruh hari, suatu kualitas tertentu dari ketenangan terus berlanjut di kedalaman hati kita, kita hidup secara sangat berbeda jika kita tertidur nyenyak.

Jika kita tidak dapat tertidur nyenyak, maka seluruh hari kita, esoknya, akan terganggu, kita merasa terganggu dan mudah tersinggung, tanpa ada alasan sama sekali.

Hal-hal kecil dan remeh menjadi gangguan besar, kitan marah,  bukan pada seseorang secara khusus, kita hanya sekedar marah, energi kita tidak berada di rumah, ia terganggu, kita tercerabut.

Kematian adalah tidur yang sangat istimewa, seluruh gejolak kehidupan, tujuh puluh, delapan puluh, atau sembilan puluh tahun gejolak kehidupan, dan semua penderitaan hidup, dan semua kegairahan dan gangguan dan kecemasan akan lenyap, mereka semua tidak lagi relevan.

Kita kembali ke dalam kesatuan eksistensi yang orisinal, kita  menjadi bagian dari bumi ini.

Tubuh kita lenyap ke dalam bumi, napas kita lenyap di udara, api kita kembali ke matahari, air kita  kembali ke samudra, dan langit batin kita bertemu dengan langit luar.

Inilah kematian. Jadi...
Bagaimana mungkin seseorang bisa membenci kematian...?!

Kita pasti membawa kesalah pahaman, kita pasti membawa sebuah ide bahwa kematian adalah musuh yang harus di singkirkan dan di lenyap kan.

Kematian itu bukan musuh, kematian adalah sahabat terbesar kita, kematian harus disambut dengan hangat, kematian harus dinanti dengan hati penuh cinta kasih sayang.

Jika kita memikirkan kematian sebagai musuh, kita akan mati.

Setiap orang akan mati, proses berpikir kita tidak akan membuat perbedaan apapun, bahkan kita  akan mati dengan menanggung rasa sakit dan kecewa yang sangat amat, karena kita  menolaknya, karena kita memeranginya.

Dalam penolakan itu, dalam upaya memerangi itu, kita telah  menghancurkan semua kegembiraan yang disediakan, yang hanya disediakan oleh kematian kepada kita.

Kematian yang dapat membawa kebahagiaan yang sangat mendalam, akan berubah menjadi rasa sakit (fisik dan mental) yang sangat tidak tertanggungkan.

Ketika rasa sakit yang tak tertanggungkan itu sedemikian parahnya, maka seseorang terjatuh dalam ketidaksadaran, terdapat sebuah batas yang dapat ditoleransi, seseorang hanya dapat menanggung sekian banyak rasa sakit.

Atas dasar ini, sembilan puluh sembilan persen dari seratus persen, akan mati dalam keadaan tidak sadar, mereka berjuang, mereka melawan (kematian) hingga detik-detik akhir.

Ketika ini tidak lagi mungkin untuk melawan, mereka meletakkan seluruh energi mereka dalam keadaan penuh resiko.

Mereka terjatuh ke dalam keadaan sejenis pingsan, mereka mengalami kematian yang tidak sadar.

Untuk mengalami kematian yang tidak sadar, merupakan sebuah bencana besar, karena kita tidak ingat apa yang telah terjadi, kita tidak akan ingat bahwa kematian adalah sebuah pintu Dzat, dan kita  akan dibawa melalui pintu itu, tetapi bagi seorang yang diusung tandu, yang tidak sadar, dia akan kehilangan peluang yang sangat bernilai.

Itulah mengapa kita terus-menerus melupakan tentang kehidupan di masa lalu kita, jika kita mati dalam keadaan sadar, kita tidak akan lupa, karena tidak akan ada jurang (kesenjangan) disana, akan ada kontinyuitas di sana.

Kita akan mengingat kehidupan masa lalu kita, dan untuk mengingat kehidupan masa lalu itu, adalah impor yang sangat penting dalam proses penyempurnaan hidup.

Jika kita dapat mengingat kehidupan masa lalu kita, kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali, jika kita melakukan kesalahan sekali lagi, maka kita akan terus bergerak dalam lingkaran salah itu, lingkaran yang sama, roda yang sama akan bergerak kembali, dan terus demikian.

Kita akan mengharap-harapkan ambisi-ambisi yang sama untuk kedua kalinya dan kita akan melakukan ketololan yang sama sekali lagi, karena kita akan berpikir bahwa ini adalah untuk pertama kalinya kita melakukan semua ini.

Sesungguhnya kita telah melakukan semua ini juta'an kali, tetapi setiap kita mati, sebuah jurang tampak menganga, karena kita dalam keadaan yang tidak sadar, kita menjadi terputus dengan masa lalu kita, kemudian, kehidupan mulai lagi dari ABC dan seterusnya.

Hal itulah mengapa kits tidak dapat berkembang menjadi Buddha, menjadi Yesus, menjadi Muhammad, menjadi Roh Suci lainnya, yang telah maju secara spiritual.

Evolusi kesempurnaan Hidup dan Mati, membutuhkan kesadaran murni yang terus-menerus akan masa lalu, sehingga kesalahan-kesalahan yang sama, tidak terulang kembali, secara perlahan-lahan, kesalahan-kesalahan akan lenyap, secara perlahan, kita  menjadi sadar akan lingkaran reinkarnasi ini, secara perlahan, kita menjadi mampu untuk keluar darinya, menjadi sempurna abadi.

Jika kita mati dalam keadaan tidak sadar, kita akan terlahir kembali dalam keadaan tidak sadar, karena kematian adalah satu sisi dari sebuah pintu dan kelahiran adalah sisi lain dari sebuah pintu yang sama.

Dari satu sisi, sang pintu akan berkata,”Kematian” dan pada sisi yang lain, ia berkata ”Kelahiran” Ia adalah pintu masuk, ia adalah pintu keluar, ia adalah pintu yang sama.

Itulah mengapa kita telah lahir kembali, tetapi tidak mengingatnya, kita tidak ingat bahwa selama sembilan bulan berada dalam kandungan, kita tidak ingat telah lewat melalui kanal (terusan) kelahiran, kita tidak ingat rasa sakit saat meninggalkan dunia ini, kita tidak ingat trauma kelahiran kita.

Trauma kelahiran itu terus mempengaruhi kita di sepanjang kehidupan kita di dunia ini, seluruh kehidupan kita akan tetap dibayang-bayangi oleh trauma kelahiran kita sendiri.

Trauma itu harus dipahami, tetapi satu-satunya cara untuk memahaminya "adalah" dengan mengingatnya "kesadaran"

Bagaimana cara mengingatnya...?! Kita begitu takut akan kematian, an kita begitu takut akan kelahiran, bahwa ketakutan yang sama, mencegah kita dari melangkah ke dalamnya.

Ketika kita berkata, “Emosi paling kuat yang saya miliki adalah membenci kematian”.

Hal ini adalah kebencian kita akan hidup kita sendiri, cintailah, kasihlah, sayangilah hidup kita dalam kehidupan ini, maka cinta kasih sayang alami pada kematian akan muncul, karena hidup di kehidupan inilah yang membawa kematian.

Kematian tidak dipertentangkan dengan kehidupan, kematian adalah proses mekarnya semua yang dikandung oleh kehidupan sebagai sebuah biji.

Kematian tidak datang dari langit, kematian tumbuh dalam diri kita. Inilah proses mekarnya kita, mengembangnya kita.

Apakah Para Kadhang pernah melihat manusia yang benar-benar meninggal...?!

Adalah sangat jarang untuk melihat manusia-manusia yang benar-benar akan meninggal, tetapi, jika kita pernah melihatnya, kita akan dibuat surprise, bahwa kematian membuat seseorang begitu indah.

Dia tidak pernah tampak begitu indah sebelumnya, tidak juga di masa kanak-kanaknya, karena kemudian, dia menjadi lalai, tidak juga di masa mudanya, karena kemudian gairahnya begitu kuat, emosinya juga kuat, dipenuhi kesenangan-kesenangan yang bergelora, akan tetapi, ketika kematian datang, semua menjadi relaks.

Ketololan dari masa kanak-kanak tidak terjadi di sana, dan kegilaan dari masa muda juga lenyap, penderitaan dari masa tua, penyakit dan keterbatasan di usia senja, juga telah lenyap.

Seorang menjadi terbebaskan dari sang tubuh, kegembiraan yang luar biasa muncul dari inti batin terdalam, menyebar ke seluruh penjuru.

Di mata orang yang benar-benar akan meninggal, kita dapat melihat kilatan cahaya yang bukan berasal dari dunia ini pada wajahnya, kita  dapat melihat kedahsyatan yang terkait dengan sesuatu yang melampaui dunia ini.

Kita dapat merasakan keheningan, keheningan yang tidak bersusah-payah, keheningan yang tidak menolak dari seorang yang bergerak perlahan, secara perlahan, menuju kematian, dengan rasa syukur yang mendalam dan sikap menerima sepenuhnya atas semua kehidupan yang telah diberikan kepadanya, dan atas semua yang eksistensi telah begitu bermurah hati, suatu rasa syukur telah melingkupi dia.

Kita akan menemukan suatu ruang yang berbeda sepenuhnya di sekitar dia, dia akan mati sebagaimana seseorang yang harus mati, dia akan melepaskan sejenis kebebasan di mana orang-orang yang berada dekat dengannya akan menjadi terpaku dan tercengang pada kebebasan itu, akan menjadi terpesona.

Di Timur, ini selalu menjadi peristiwa besar. Kapan saja bila seorang Master (guru spiritual) meninggal, ribuan, bahkan jutaan orang berkumpul bersama untuk menyaksikan fenomena agung ini.

Tinggal berada di sana dalam jarak dekat untuk melihat aroma yang sangat wangi dilepaskan, untuk melihat nyanyian terakhir yang dinyanyikan oleh sang Master, dan untuk melihat cahaya yang datang saat tubuh dan jiwa terpisah, hal ini sangat menakjubkan, sebuah pencahayaan yang sangat terang benderang.

Energi yang jauh lebih besar akan dilepaskan ketika sang tubuh dan jiwa dipisahkan, mereka (tubuh dan jiwa) telah berkumpul bersama selama jutaan tahun kehidupan, dan tiba-tiba ketika ajal menjemput, terjadi proses pemisahan yang mengakibatkan energi terlepas.

Energi yang dilepaskan itu dapat menjadi suatu gelombang yang sangat besar bagi siapa saja yang ingin untuk meluncur di atasnya, mereka akan mengalami pengalaman gembira yang sangat intens.

Wahai para Kadhang kinasih-ku sekalian, janganlah kau membenci kematian.

Saya tahu, ini bukan perkara mudah, namun percayalah, ini disebabkan karena kita selama ini, telah diajarkan filosofi yang salah kaprah.

Otak kita telah dijejalkan pendapat bahwa kematian itu bertentangan dengan kehidupan, padahal bukan demikian, selama ini kita selalu diajarkan bahwa kematian itu datang untuk menghancurkan kehidupan.

Semua itu adalah omong kosong. Kematian datang dan memenuhi kehidupan, jika kehidupan kita  indah, kematian akan memperindahnya lebih indah lagi.

Jika hidup kita adalah kehidupan cinta kasih sayang, maka kematian akan memberi kita pengalaman cinta kasih sayang yang maksimal.

Jika hidup kita penuh dengan Semedhi, maka kematian akan membawa kita pada kesadaran penuh dengan kemurnian.

Kematian hanya meningkatkan dan memperbesarkannya, tentu saja bila hidup kita adalah kehidupan yang tidak tepat, maka kematian akan mengembangkan hal itu juga.

Kematian adalah memperbesar nilai sesuatu, ia seperti cermin, yang bersifat memantulkan, kematian hanya memantulkan fenomena.

Jangan membenci kematian, jika kita membencinya, kita akan kehilangan kematian dan kita akan kehilangan kehidupan juga.

Jangan pernah berpikir negatif, pemikiran negatif akan mengarah ke mana-mana, jangan membenci kegelapan dan hanya mencintai cahaya, suatu hari nanti kita akan terkejut, dan kita akan menyadari bahwa kegelapan juga bagian dari cahaya itu sendiri, ia suatu fase dari cahaya, suatu cahaya yang sedang tidak aktif. He he he . . . Edan Tenan.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya